Free Your Innerchild

img_20161128_155059_479000

By Vivi Erma

” Pusing liat rumah berantakan???
Kini ada solusinya…‎
1. Tariiiikk nafaaaassshh, hempaskaann..
2. Pura2 g liat
3. Lupain umur dan tugas negara beresin cucian
4. Hepi2 ajaahh
5. Jikalau hati masih emosi, ulangi langkah pertama 😀

Rumah yang 1x24jam rapih terus dan sepi, pertanda:
A. Anak sedang sakit
B. Emaknya kayak singa
C. Belum punya anak
D. Mudik “‎

Ibu-ibu pasti familiar dengan tulisan pembuka saya yang akhir- akhir ini sliweran di media sosial :D‎

Menjadi istri sekaligus ibu bukanlah hal yang mudah. Disatu sisi, sebagai istri bagaimana supaya bisa membuat suami betah dirumah, salah satunya ya menjamin kerapian rumah. Bisa dibayangkan kan jika suami pulang kerja, capek, lalu liat rumah berantakan. Di sisi lain, sebagai ibu dari balita, apalagi yang berbilang, tidak bisa selalu mengakomodir kondisi rumah rapi tersebut.
Mau selalu menemani anak bermain juga susah, baruuu saja ditinggal sebentar sudah chaos‎ , yang tadinya mewarnai di kertas gambar yang disediakan, tahu- tahu saja di lantai sudah banyak coretan. Familiar ya sama kondisi ini? Hehe
Ya, seperti yang kita sering dengar, perempuan dianugerahkan kemampuan mengerjakan beberapa hal sekaligus atau istilah kerennya MultiTasking, kitanya jadi semangat ’45 untuk sempurna dalam banyak hal dirumah. Tapi ada fakta menarik sekaligus berbahaya tentang multitasking ini, selain berpengaruh pada kecerdasan, kebiasaan multitasking yang terus menerus juga bisa merusak susunan otak kita. Nah lo!
Seperti yang saya kutip dari blog.kampus.id, Ketika para peneliti di Universitas Sussex yang membandingkan bentuk otak orang- orang yang terbiasa bekerja secara multitask dengan mereka yang fokus pada satu pekerjaan dalam satu waktu, ditemukan perbedaan pada tingkat kepadatan  dalam anterior cingulate cortex, bagian otak yang mengontrol empati, kemampuan kognitif dan emosi. (lengkapnya ibu-ibu bisa googling sendiri ya).
Dampak negatif multitasking pada wanita antara lain:
1. Daya ingat menurun dan lelah yang berlebihan (Haaa that’s explain!)
2. Hasil yang tidak maksimal
3. Stress

Jadi ya begitulah, dalam hidup memang harus ada dan dibuat skala prioritas. Dan dalam hal ini suami -istri harus seia sekata. Jika prioritas utama adalah kebahagiaan anak-anak, ya apa boleh buat. Pekerjaan rumah yang lain bisa menunggu. Anak yang bahagia adalah anak yang bebas berkreatifitas, daaaannn orangtua yang baik tidak boleh membatasi kreatifitas anaknya kan yaaaa? *kekepin buku parenting.
Nanti pada waktunya, anak-anak juga bisa insyaAllah kita libatkan dalam hal beberes rumah. Saya juga sudah mulai mengajarkan pada anak sedikit demi sedikit, minimal membereskan mainannya sendiri.
So, Moms, don’t worry be happy!
Yang akan diingat anak- anak bukanlah kepiawaian kita membuat rumah tetap bersih, tapi bagaimana kita meluangkan waktu untuk bermain bersama mereka, bukan sekedar mengawasi mereka bermain, tapi betul- betul terjun dalam aktivitas. Yuk, Mari ciptakan kenangan indah anak- anak tentang kita. Karena untuk menjadi anak yang bahagia, anak kita membutuhkan orangtua yang bahagia. FREE YOUR INNERCHILD.

Rumbel Menulis IIP Jakarta, Day #1

#parenting #parenthood #motherhood #parentingwin #creativewriting #writingchallenge #RumbelMenulisIIPJakarta #Oktober2015 #ntms‎

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s