Adab Menuntut Ilmu (Matrikulasi Sesi#1)

​💕Resume Matrikulasi Ibu Profesional sesi #1💕

Narsum : Ibu Septi Peni Wulandani

Notulen : Lela Qodriyah 
📚ADAB MENUNTUT ILMU

Disusun oleh Tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

OVERVIEW

ADAB MENUNTUT ILMU

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan. Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.

*Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU*

*_ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya_*

Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.

Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?

*Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan*

Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik dari Ibunya

ADAB PADA DIRI SENDIRI

a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk

Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.

b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.

c.Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.

d.Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.

e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.

ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)

a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.

b. Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.

c. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.

ADAB TERHADAP SUMBER ILMU

a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.

b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.

c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.

d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat “copas dari grup sebelah” tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.

e. Dalam dunia online, harus menerapkan “sceptical thinking” dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.

Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, shg mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat.

Referensi :

Turnomo Raharjo,

Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.

Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis), Jakarta: Amzah, 2014, hlm. 5

Muhammad bin sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015

❓❓❓❓❓❓❓❓❓❓

Sesi tanya-jawab :

1. Ratih-IIP Bandung

mohon info dan kisi-kisi untuk materi matrikulasinya supaya bisa maksimal HNW nya

1⃣MATERI MATRIKULASI IBU PROFESIONAL BATCH #2

Buat yang masih penasaran, apa saja sih yang dipelajari di program Matrikulasi Ibu Profesional, berikut beberapa materi yang akan menjadi bahan diskusi kita selama 8 minggu 

Prolog : Adab Menuntut Ilmu  ( Senin, 17 Oktober 2016)

#1 [Overview Ibu Profesional] Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga (Senin, 24 Oktober 2016)

#2 [Bunda Sayang] Membangun Peradaban dari dalam Rumah (Senin, 31 Oktober 2016)

#3 [Bunda Sayang] Mendidik dengan Fitrah, berbasis Hati Nurani (Senin, 7 November  2016)

#4 [Bunda Cekatan] Ibu Manajer Keluarga (Senin, 14 November 2016)

#5 [Bunda Cekatan] Belajar Bagaimana Caranya Belajar (Senin, 21 November  2016)

#6 [Bunda Produktif] Rejeki itu Pasti, Kemuliaan harus dicari (Senin, 28 November  2016)

#7 [Bunda Produktif] Menemukan misi spesifik hidup (Senin, 5 Desember 2016)

#8 [Bunda Shaleha] Ibu sebagai Agen Perubahan (Senin, 12 Desember  2016)

Untuk koordinator ada tambahan dua materi lagi tentang membangun komunitas.

Pengumuman Kelulusan tanggal 22 Desember 2016
2. Sukeng-Iip Salatiga

Bun, jika guru anak kita ternyata berakhlaq kurang baik. Misal suka berkata kasar, pilih kasih thd murid(hanya memperhatikan murid yang sering memberi sesuatu ke gurunya),budaya amplop ketika terima raport,dll. Apa yang harus kita lakukan? Apa kita harus memindahkan sekolahnya krn akhlaq nya ga sejalan? Atau tidak kita pindahkan sekolahnya tapi diberi pengertian dan supaya anak bisa membedakan contoh baik dan buruk secara nyata?

2⃣ Dalam pendidikan anak-anak kita memahami satu konsep ini 

*Anak-anak mungkin bisa salah memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy*

Sehingga orang dewasa di sekitar anak adalah orang-orang yg akan dicontoh oleh anak. Dengan kasus tersebut apabila anak-anak masih usia 0-7 th, saya memilih untuk memindahkannya.

Kalau anak usia 7-12 th, saya akan berikan fakta mana yang baik dan yang buruk, kemudian anak diberikan pilihan alternatif terbaik.

Anak usia 12-14 th ke atas, hargai penilaian dan keputusan anak, apapun pilihannya, kemudian dampingi.

Anak usia 14 th ke atas, ajari untuk mengatasi segala macam tantangan di depannya menjadi sebuah soluai bersama✅
3. Dita-IIP Bandung

Assalamu’alaikum bu Septi

Bagaimana etikanya ketika dlm diskusi online (dlm WAG mis.)kita ingin menjelaskan sesuatu dg mengutip isi buku dg cara memfotonya? Krn pada saat mengirim foto tsb kita msh bisa menyertakan sumber bukunya, ttp jika foto tsb dishare/diforward lg, keterangan sumber yg mnyertainya mnjd tdk terbawa.

Terimakasih

3⃣ Teh dita, apabila kita ingin share foto, mohon keterangannya tidak di caption, melainkan ditulis di chat tersendiri, sehingga kita bisa memberikan footnote, apabila ingin share mohon dishare scr utuh. Dan ada baiknya menyertakan sanadnya ( ini istilah hadist)

Contoh :

Sumber : info dari teh dita based on……

Dilanjutkan oleh @lelaqodry oleh @nesri dst.✅
4. Wiwik-IIP-Bandung

Agar cahaya ilmu masuk, maka salah satu adab mencari ilmu adalah mensucikan jiwa, bagaimana tahapan tazkiyatun nafs ini bu?

4⃣ Teh wik, tazkiyatun nafs dalam mencari ilmu itu antara lain :

a. Bersihkan niat, semata-mata untuk meningkatkan derajat  kemuliaan hidup. 

b. Ilmu itu unt sebuah kemuliaan, maka carilah dg cara-cara yg mulia. Misal tidak menyakiti org yg menjadi sumber ilmunya, tidak membajak karyanya, tidak mengakui tulisannya sbg tulisan kita dll.

c.Kosongkan kepala dg ilmu yg sdh pernah kita dapatkan dan penuhi dengan rasa ingin tahu. Sehingga kita tidak jadi orang yg sok tahu

d. Belajar mendengarkan dengan sepenuh hati, ketika ilmu disampaikan.

e. Hilangkan dendam dan luka lama, sehingga kita tulus dalam menuntut ilmu, krn untuk kerahmatan bagi semesta, bukan krn kepentingan ttt✅
5. Prima-Iip Malang

Bagaimana cara-cara untuk mengamalkan ilmu agar bermanfaat bagi diri sendiri dan sekitarnya? Apakah hanya dengan berbagi saja? Kalau iya harus berbagi, ilmu yg seperti apa yg boleh kita bagikan? Apakah yg sudah kita aplikasikan dan berhasil? Apakah yg hanya kita baca, belum kita aplikasikan lalu share? Atau bagaimana jika saat kita sudah baca, aplikasikan namun belum berhasil lantas kita share?

Terimakasih bu septi. ☺ terimakasih mba lela. ☺

5⃣Mbak Prima, sebuah ilmu itu kalau disampaikan dari hati, akan masuk ke hati, indikatornya akan menjadi amalan bagi yg mendapatkannya.

Tapi kalau disampaikan lewat mulut maka hanya akan sampai ke telinga,  dan menjadi sebatas pengetahuan saja tanpa amalan.

Agar ilmu bisa disampaikan dengan hati, maka harus diamalkan terlebih dahulu.

Sehingga yg paling afdhol adalah sampaikan apa yang sudah kita kerjakan, karena Allah akan meletakkan ilmu itu di lidah kita saat diucapkan, sehingga penuh dengan ruh, dan terkadang kita sendiri dapat ilmu baru saat menyampaikannya. 

Itu namanya ilmu yg berkah, insya Allah ✅
6. Shofi-IIP Bandung

Salah satu adab dari menuntut ilmu adalah ikhlas dan membersihkan diri/tazkiyatun nafs. Tapi ada kalanya hati kits sedang kotor, sedang mals. Apa yg harus dilakukan terlebih dahulu? Membersihkan diri dulu baru mengikuti majelis ilmu? Atau bolehkah memaksakan diri untuk ikut, dengan harapan ketika berkumpul dengan org2 yg berilmu/ orang2 yg sholeh maka kita akan tertular semangatnya/nilai2 kebaikannya?

6⃣ Teh shofi, kita analogkan dg orang yg mau makan, tapi tangannya kotor, maka bisa dua-duanya, langsung makan tanpa cuci tangan dengan resiko sakit perut. Atau menunda nafsu makannya dulu, untuk mencuci tangan sebentar, baru makan.

Menuntut ilmu juga sama, ketika pikiran sdg penat,  sdg malas, maka lebih baik,  SWITCH terlebih dahulu ke pikiran jernih, dan semangat, baru menuntut ilmu. 

Jangan sampai menuntut ilmu dijadikan pelampiasan rasa, jadinya kita tidak dapat apa-apa selain rasa yg sesaat hilang

Prinsipnya Alirkan rasa terlebih dahulu, baru menuntut ilmu ✅
7. Dyas-IIP Depok

Terkait dgn ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU), pada point:

a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati,…

Tanya:

Selama ini, yg saya ketahui di komunitas IIP, apresiasi terhadap narasumber -yang ingin berinfak ilmu- berupa hasil karya ibu2 di IIP setempat.

-cmiiw-.

Sedangkan, narasumber pada umumnya diberikan apresiasi berupa uang.

Dalam rangka mencari ridho guru, bagaimana adab kita -iip- terhadap narasumber yg bersedia mengisi offline, 

Mohon penjelasannya bu septi, selama ini bentuk apresiasi dari iip pusat terhadap narasumber yg berkenan hadir di salatiga seperti apa? 

apakah diperkenankan utk memberi apresiasi berupa  uang ?

Terima kasih

7⃣ Mbak Dyas, “Keridhaan guru” adalah yg utama, maka biasanya kami menanyakan terlebih dahulu ke narasumber, ridhanya seperti apa. Apakah dihargai secara profesional? Kalau iya berapa? Apa saja yg harua kami penuhi? Kemudian tanyakan pada diri kita, sanggup atai tidak.

Apabila ridha nya guru mengatakan ” saya ikhlas ” untuk komunitaa free, maka sebaiknya transpot dan akomodasi kita yang tanggung. Kemudian diberikan apreaiasi berupa penulisan ilmu beliau di berbagai sosmed yg kita miliki.

Prinsipnya “DON’T ASSUME” harus CLEAR and CLARIFY ✅
8. Vita-IIP Jakarta

Bu Septi, pd jaman skrg, arus informasi & canggihnya teknologi sangat memudahkan sekali untuk mendapatkan berbagai ilmu yg diinginkan. Terkadang kemudahan ini menurut saya justru dpt membuat terlalu byk ilmu yg masuk tetapi dlm pengaplikasian menjadi krg maksimal jika tdk dibatasi. Menurut ibu, bagaimanakah batasan atau kiat2 dalam menimba ilmu pd kondisi spt ini?

8⃣ Mbak Vita, yang pertama tentukan terlebih dahulu, mata kuliah apa yg akan kita ambil di universitas kehidupan ini. Setelah ketemu, FOKUS di bidang tersebut. Maka gunakan prinsip :

*Menarik tapi TIDAK tertarik* 

untuk godaan ilmu yang lain.

Totalitas dalam mencari ilmu di jurusan ilmu kita. Setiap info yang masuk gunakan sceptical thinking terlebih dahulu. 

Default jawaban di otak kita selalu “TIDAK PERCAYA” sebelum mendapatkan dari sumber yang valid.

Caro sumber validnya. Sehingga ilmu tsb baik dan benar.

Setelah itu amalkan

Setiap selesai mendapatkan sebuah ilmu baru, saya dan pak dodik segera menuliskan, apa perubahan yg harua kita lakukan mulai esok hari berkaitan dg ilmu tsb ✅
9. Andini_IIP Bekasi

Izin bertanya bu Septi… 

1. Adab terhadap guru pd poin B. Bagaimana teknisnya utk kelas online matrikulasi ? 

2. Adab thd sumber ilmu di poin a,

Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari. Maksudnya bagaimana ya ? Misalkan saya dokumentasikan materi matrikulasi dalam S note saya.. apakah termasuk yg tidak diperbolehkan ? Atau misalnya suatu saat saya ingin nge print materi matrikulasi utk materi parenting paud kami dan utk memudahkan membaca apakah diijinkan ? Terima kasih.  🙏

9⃣Mbak Andini, adab terhadap guru di kelas online matrikulasi ini tidak berbeda jauh dg kelas offline. Kita perlu menyimak dengan seksama ketika sebuah ilmu sdg disampaikan, kemudian komitmen menjalankan tugas yg diberikan dan yg terakhir meminta “keridhaan” narasumber thd materi tsb.

2. Maksudnya poin a, tidak meletakkan sembarangan sebuah sumber ilmu dalam bentuk buku dg aembarangan adalah sbb :

a. Buku tidak diletakkan dalam posisi yg mudah terinjak secara langsung.

b.Buku yg sdg dipelajari dilipat-dilipat halamannya.

c. Dan banyak lagi perbuatan lain yg selayaknya tidak kita lakukan thd sumber ilmu.

Bagi yg beragama Islam, pernah dapat ilmu kan unt tdk memperlakukan Al Qur’an dg sembarangan. Nah sejatinya di adab menuntut ilmu, hampir semua sumber ilmu harus diperlakukan dg bijak. Silakan dirasakan kalau kita pernah menulis sebuah buku, kmd buku tsb diperlakukan seenaknya oleh orang yg membacanya, pasti rasanya sakit. 

Apakah materi matrikulasi boleh diprint kmd dibukukan dan dibagi di acara parenting?

Program matrikulasi ini program berkelanjutan dg sistem pendampingan. 

🍀materi matrikulasi boleh di tulis secara runtut di blog/web pribadi kita masing-masing kemudian di share ke publik.

⛔Yang tidak boleh adalah langsung share materi ke salah satu/beberapa grup WA tanpa pendampingan fasilitator.  Karena ini program berkelanjutan, tidak boleh diterima sepotong-potong dengan sistem broadcasting ke sosmed messager ( seperti WA, line, telegram dll). 

Kalau di wall fb, blog, web masih bisa ditelusuri satu persatu

🍀apakah di printout, kmd dibagikan boleh? Boleh diprint out, akan lebih baik tidak dibuka kelas sendiri atau dibagikan kecuali mb andini sdh lulus matrikulasi batch#2 dan menjadi fasilitator matrikulasi. Kemudian memandu kelas matrikulasi ini secara offline. Dan dilaporkan ke IIP Pusat. Karena program matrik ini kita lakukan serentak se nasional per 3 bln sekali baik offline maupun online.✅
10. Mylfa-IIP Jakarta

ketika kita sudah menerapkan skeptical thinking tp malah di bully atau diejek, apa yang sebaiknya dilakukan?

1⃣0⃣ mbak mylfa, mungkin kita perlu menata bahasanya terlebih dahulu. Prinsip sceptical thinking adalah sbb :

a. Tidak mudah percaya 100% thd berita yg masuk, baik itu berita baik maupun buruk. 

*Karena yg baik/buruk belum tentu benar*

b.Menanyakan kebenaran sebuah berita dg sumber yg valid.

Ingat

*menanyakan BUKAN mempertanyakan*

Ini bedanya :

” Mohon maaf, infonya menarik banget mbak, kalau boleh tahu sumber berita ini darimana ya mbak?”

➡ Menanyakan

“Beneran mbak berita ini? Emang sumbernya mana?” “Yakin?”, “masak iya sih?”➡ mempertanyakan

Apabila sdh menanyakan dengan baik dan anda justru do bully, berarti jelas mbak sudah salah masuk komunitas, maka lebih baik left grup.

Karena mereka yg senengnya asal kirim berita baik belum tenti benar, juga tidak akan tahan di IIP, karena akan ditanyakan terus menerus sumber berita dari semua member ✅
11. Ismi – IIP Pekanbaru

Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk

Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk kedalam hati.

hal-hal buruk di sini contoh konkritnya seperti apa, bu?

1⃣1⃣ Mbak Ismi, hal – hal buruk ini berkaitan dengan hati. Dalam menuntut ilmu ini niat kita berangkat dari rasa iri, dengki, hasad, hasud, ingin memata-matai, ingin menjadi plagiator ilmu demi kepentingan pribadi dll.

Misal ada seseorang yg ikut program matrikulasi ini karena sebuah niatan ingin mencuri ilmunya saja unt diterapkan di komunitas lain tanpa ijin, ini namanya TIDAK BERADAB, keberkahan tidak ada. Dan masih banyak contoh kasus lain. ✅
12. Yani-IIP JATIM Selatan

Dalam arti menuntut ilmu apabila kita menemukan suatu kasus guru kita ternyata ada sedikit cacat akhlaq, misal keluarganya berantakan, dan anak2nya banyak yg berkasus dan terkadang apa yg beliau lakukan tidak sesuai dengan yang kita pelajari, apa yg harus kita lakukan?

1⃣2⃣ mbak yani. Kalau saya pribadi, tidak akan berguru dg yg berakhlak seperti di atas. Ada sebuah kisah, seorang ibu akan mengirim anaknya menuntut ilmu, maka pesan beliau hanya satu

*Berangkatlah dan pelajari akhlak dan adab gurumu dulu, sebelum kamu menuntut ilmunya*

Kalau saya jangankan untuk menuntut ilmu , untuk menjalin kerjasama bisnispun, saya selalu lihat adab dan akhlak anaknya terlebih dahulu. Karena itu cermin dari adab dan akhlak ortunya. 

Pernah ada bantahan, kalau ortunya akhlaknya baik, tapi qadarullah akhlak anaknya buruk krn lingkungan bgm? 

Saya tanya, “kemana saja ortunya selama ini yg berakhlak dan beradab baik? Mengapa tidak sempat menularkan untuk anak-anaknya? Artinya ada miss manajemen prioritas dalam hidupnya.✅
13. henny – iip sulsel

A. bismillah, bu Septi, apakah disetiap kali pertama bertemu dengan peserta didik, kita harus menjelaskan adab menuntut ilmu?

B. menurut ibu, adab menuntut ilmu diberikan ke anak usia berapa?

1⃣3⃣ iya mbak henny, sdh saya jelaskan di atas bahwa ‘ADAB sebelum ILMU” dan ” ILMU sebelum AMAL”

Sejak anak sdh bisa diajak bicara, ajarkan adab✅
14. Izza-IIP Jepara

Bgaimana klo kta serumah dg saudara yg akhlakny kurang baik dalam berkata pdhl anak2 kta sedang masanya meniru atau msh berumur 0-7th?

1⃣4⃣ mbak izza, kl sanggup unt mendidik anak tersebut didiklah, ini ladang amal, kalau tidak sanggup pindah rumahlah.✅
15. Putri-IIP Malang

Assalamualaikum.

Bu Septi, dalam mengkaji semua ilmu kemungkinan kita akan menemukan “pembanding”. Sedangkan ada sebuah kutipan “kosongkan gelasnya dulu, agar air bisa masuk”.

Bagaimana kita menyikapi hal ini?

Bagaimana pula agar kita dapat keberkahan ilmu, jika masing² mengklaim bahwa yg dia bawa dan dia terapkan adalah hal yg benar dan yg lain kurang benar?

Dan bagaimana agar terhindar dari sikap fanatik terhadap tokoh tertentu dlm mengkaji ilmu.?

Terima kasih bu

1⃣5⃣ Mbak Putri, wa’alaykumsalam wr.wb begini strateginya:

a. Pra menuntut ilmu cari berbagai referensi seputar ilmu tsb. Agar kita tdk mudah terombang-ambing.

b. Saat menuntut ilmu, terima ilmu tsb dengan tulus, apabila ada hal-hal yg menurut kita betentangan, langsung tulis di kertas, jangan simpan di otak. Karena penolakan itu akan menutup masuknya ilmu lain yg mungkin baik dan benar.

c. Post menuntut ilmu, langsung tanyakan ke narasumber hal-hal yg bertolak belakang dg apa yg sdh kita ketahui. Cari referensi pembanding sbg bahan diskusi anda mempertahankan sebuah ilmu.

Bagaimana dg mereka yg fanatik dg satu guru? Ini SALAH, 

*Karena kebenaran mutlak itu hanya milik Allah*

Manusia itu tempat salah dan lupa. Maka sebaiknya tidak menaruh harap dan bersandar pada manusia. Pasti anda akan kecewa. 

Bersandar, fanatik, berharaplah hanya pada DIA✅
16. Yulia-IIP KALSEL

 Assalammualaikum Bu, semisal kita berada dlm sebuah Majelis Ilmu..trs kita menanyakan tentang dalil nya dari hal yang disampaikan Guru apakah itu termasuk tidak beadab dlm menuntut ilmu? Saya juga pernah mendengar ttg menyampaikan pendapat yang berbeda dari 2 org tentang satu hal yang sama, jadi seolah kita seperti membandingkan pendapat dari 2 guru,tapi kita bicarakan hanya dgn slh satu dari guru itu..katanya yang seperti itu juga tdk boleh dilakukan murid kepada gurunya..jadi sebatas apakah kita boleh menyampaikan sesuatu kepada Guru?

1⃣6⃣ mbak yulia, dalam proses berpikir ilmiah, meminta sumber ilmu itu penting. Kl di agama, disebut dalil. Maka gibakan bahasa yg benar, shg guru yg ditanya tdk tersinggung.

kemudian jangan menyebut nama guru lain, di depan guru yg kita tanya kl ybs tidak bersama kita. Itu namanya mengadu dan membandingkan.

lakukan tabayyun kedua belah pihak andaikata kita masih ragu✅
17. Novy – IIP Cirebon

Apa maksud kalimat ini Bu Septi?

“Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan”

Apakah ADAB bila tidak bisa diajarkan, berarti tidak bisa dipelajari?

1⃣7⃣ mbak Novy, dalam mendidik anak, lama-lama kita akan paham bahwa 

*Anak-anak mungkin bisa salah memahami perkataan kita, namun mereka tidak pernah salah meng-copy*

Di tahap awal anak-anak  0-7 th hanya akan bisa mengcopy apa yg mereka lihat, maka akhlak dan Adab dari orang dewasa di sekitarnya akan lebih kuat ditularkan daripada diajarkan.

Usia 7-14, anak-anak mulai mencerna dari apa yg pernah diajarkan oleh orang dewasa di sekitarnya tentang adab dan akhlak dengan apa yg mau dia contoh. Shg kalau guru menyampaikan ilmu adab yg baik tapi adabnya dia sendiri kurang baik, anak-anak usia ini tdk akan menghormati✅
18. Ainun-IIP Surabaya 

Assalamu’alaikum wr.wb bu septi, seandainya dlm sebuah kelas belajar kita bertemu dg teman sekelas yg banyak mengomentari guru, berbicara (sering vokals) tdk terarah dan cukup mengganggu. Apa yg sebaiknya dilakukan? Terimakasih 🙏🏻

1⃣8⃣ wa’alaykumsalam wr.wb mb Ainun kl bertemu dengan teman yg tipenya seperti itu, maka ucapkan “alhamdulillah” berarti ini ladang amal unt mb ainun. Maka yg hrs dilakukan :

a. Tegur dengan baik

b. Berikan solusi dg alternatif pilihan yg baik.

c. Kalau tetap tdk berubah, sebaiknya kita yg menjauh.✅
19. Maya

Assalamualaikum wr wb

Bagaimana cara kita ‘memaksa’ diri untuk menerapkan dan mengamalkan ilmu yang sudah didapat bu?

Terkadang terlalu banyak ilmu yang didapat lalu terjadi tsunami ilmu, dan bingung harus memulai dari mana dulu akhirnya ilmu yang sudah didapat memuai entah kemana

Terima kasih bu 😊

1⃣9⃣ mbak maya yg pertama tetapkan jurusan yg akan kita ambil, dan bangun prinsip hidup, setelah itu jadikan ilmu yg bertebaran menjadi referensi saja, jgn ditelan mentah-mentah.

Perkuat dg buku dan literatur, jangan percaya broadcast

Ikutlah program pembelajaran terstruktur spt matrikulasi ini 😄👍✅
20. Wahyu – Iip Solo

Bagaimana bu agar semangat menuntut ilmu ttp terjaga, tdk hanya di awal saja tp smpai selesai dan bisa mengamalkannya.

2⃣0⃣ mbak wahyu, pertama kali, carilah alasan terkuat mengapa kita harus belajar ilmu tsb. Hal ini sering disebut sbg

 *start from the finish line*

Setelah itu buat milestone nya, shg kita paham perjln menuntut ilmu kita ini sdh sampai dimana. 

Memang tidak mudah, tapi kita bisa membuatnya menyenangkan dan penuh semangat✅
21. Mz yuli-Padang

sampaikan apa yang sudah kita kerjakan, karena Allah akan meletakkan ilmu itu di lidah kita saat diucapkan, sehingga penuh dengan ruh, dan terkadang kita sendiri dapat ilmu baru saat menyampaikannya. ➡➡ lalu bagaimana kalo selama ini kita belajar sambil menyampaikan apa yg sedang kita pelajari & yg sedang kerjakan kepada orang lain bu?

Apa sebaiknya berhenti dulu sampai kita merasa sukses dgn apa yg kita pelajari bu?😊

2⃣1⃣ Mz Yuli, kuncinya saat dapat suatu ilmu segera praktekkan, tidak perlu harus nunggu sukses, melainkan proses yg berharga ini yg harus di sampaikan.

Misal saya baru saja dapat ilmu komunikasi produktif dari ibu profesional, isi materinya spt ini bla…bla…

Yg sdh saya praktekkan bla…bla..bla..

Learning point yg saya dapatkan bla…bla…

Jadi kita tidak sekedar omdo aja ✅
22. Wayan

Bismillaah…

Bu Septi…

Bagaimana caranya agar kita tetap bersungguh-sungguh dlam mnuntut ilmu dan bisa  mngerjakan tugas?

Karena kadang rasa malas datang, dan mulailah hilang semangat.

Kl d ikutin rasa malas ini, apalagi seorang yg bekerja dan  ibu rumah tangga yg pkerjaan shari2 yg bersambung trus…😊 plus kadang kl anak2 bkin ksal, minat blajar pun ga ada.

Ada niat saja untukt belajar, tp tetap malas.

Blum bisa membagi waktu….. mohon pecerahan nya ibu…

Terimkasihhh…

2⃣2⃣ mbak wayan, ini urusan manajemen waktu yg harus dibenahi. Bagi waktu kita antara :

a. Mendidik anak

b. Pengembangan diri

c. Sosial masyarakat/bekerja

Selama 24 jam, gunakan masa transisi antar waktu tsb untuk mengembalikan energi kita.

Misal saat anak2 sdh tidur ke pengembangan diri, bersiap sepenuh hati, dg cara memberdihkan diri, ganti lokasi dan suasana 

Masa transisi dari bekerja ke rumah mendidik anak, maka panggil suasana bahagia, percantik diri. Krn saat berangkat kerja kita cantik maka pulang harus lebih cantik. Berangkat kerja kita sabar, pulang harus lebih sabar.

*sejatinya hanya anak dan suami kita yg paling berhak mendapatkan kondisi terbaik kita. Jangan dibalik*

Dengan menerapkan hal tsb yg saya rasakan Allah memberikan bonus energi luar biasa unt kita

Prinsipnya

*jangan pernah menuntut apa yg seharusnya kita dapatkan, tapi pikirkanlah apa yg bisa kita berikan*✅

23. Vaya-IIP Bandung

Assalamualaikum wr wb

Bu Septi, jika kita menghadapi keadaan:

1. Beberapa hal yg kita alami menuntut banyak “bekal ilmu dan ketrampilan” yang saat itu kita belum/kurang siap bekal tersebut…

Karena kurang “bekal” jadilah kita menghadapi segala tantangan tsb dengan “sikap yg tidak tepat/hati yg masih kotor”

2. Sementara disisi lain, kt harus segera menyelesaikannya…yg butuh menuntut ilmu yg kita butuhkan ..

3. Bagaimana menghdapi hal tsb? 

Trimakasih bu

2⃣3⃣ mbak vaya, selama ini kita merasa “banyak” yg harus dikejar karena kita tidak menuliskannya dengan rinci. Shg justru jadi beban.

Yang saya lakukan dulu di awal menikah adalah menawarkan ke pakdodik beberapa tahapan pilihan berikut ini dalam periode 3 bulanan.

a. Anak terdidik dengan baik.

b. Rumah Rapi terus

c. Masakan fresh setiap saat.

Saya bilang bahwa saya bukan wonder woman yg bisa semuanya dg sempurna.

Maka pak dodik bilang, didik anak dg baik dulu, belajar tahapan itu dulu selama 90 hari baru masuk tahap berikutnya.

Maka saya pilih prioritaas

a. Belajar ilmu mendidik anak 90 hari pertama

b. Belajar ilmu mendidik anak + memasak di 90 hari kedua

c. Belajar ilmu mendidik anak + memasak + merapikan rumah di 90 hari ketiga✅
24. Ismi – IIP Pekanbaru

“kosongkan kepala dg ilmi yg sdh pernah kita dapatkan dan penuhi dengan rasa ingin tahu. Sehingga kita tidak jadi orang yg sok tahu.”

Ini menjadi agak sulit bu.. krn apa yg sudah kita dapat tentunya menjadi referensi dlm otak kita utk meng”counter” ilmu pengetahuan baru yg kita dapat. Bagaimana tips mengosongkan kepala dr ibu?

2⃣4⃣ lihat jawaban saya di pertanyasn no 15 ya mb ismi, itu cara saya.✅

Review NHW #1 

📚ADAB SEBELUM ILMU📚

Disusun oleh  Tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Apa kabar bunda dan calon bunda peserta Matrikulasi IIP Batch #2? 

Tidak terasa sudah 1 pekan kita bersama dalam forum belajar ini. Terima kasih untuk seluruh peserta yang sudah “berjibaku” dengan berbagai cara agar dapat memenuhi “Nice Homework” kita. Mulai dari yang bingung mau ditulis dimana, belum tahu caranya posting  sampai dengan hebohnya dikejar deadline:). Insya Allah kehebohan di tahap awal ini, akan membuat kita semua banyak belajar hal baru, dan terus semangat sampai akhir program.

Di NHW#1 ini, tidak ada jawaban yang benar dan salah, karena kita hanya diminta untuk fokus pada ilmu-ilmu yang memang akan kita tekuni di Universitas Kehidupan ini. Yang diperlukan hanya dua yaitu *FOKUS* dan *PERCAYA DIRI*. Jangan sampai saat kuliah dulu kita salah jurusan, bekerja salah profesi, sekarang mengulang cara yang sama saat menapaki kuliah di universitas  kehidupan, tapi mengaharapkan hasil yang berbeda. Kalau pak Einstein menamakan hal ini sebagai “INSANITY”

*INSANITY : DOING THE SAME THINGS OVER AND OVER AGAIN,AND EXPECTING DIFFERENT RESULT – Albert Einstein*

Setelah kami cermati , ada beberapa peserta yang langsung menemukan jawabannya karena memang sehari-hari sudah menggeluti hal tersebut. Ada juga yang masih mencari-cari, karena menganggap semua ilmu itu penting. 

Banyak diantara kita menganggap semua ilmu itu penting tapi lupa menentukan prioritas. Hal inilah yang menyebabkan hidup kita tidak fokus, semua ilmu ingin dipelajari, dan berhenti pada sebuah “kegalauan” karena terkena “tsunami informasi”. Yang lebih parah lagi adalah munculnya penyakit “FOMO” (Fear of Missing Out), yaitu penyakit ketakutan ketinggalan informasi. Penyakit ini juga membuat penderitanya merasa ingin terus mengetahui apa yang dilakukan orang lain di media sosial. FOMO ini  biasanya menimbulkan penyakit berikutnya yaitu”NOMOFOBIA”, rasa takut berlebihan apabila kehilangan atau hidup tanpa telepon seluler pintar kita.

Matrikulasi IIP batch#2 ini akan mengajak para bunda untuk kembali sehat menanggapi sebuah informasi online. Karena sebenarnya sebagai peserta kita hanya perlu komitmen waktu 2-4 jam per minggu saja, yaitu saat diskusi materi dan pembahasan review,  setelah itu segera kerjakan NHW anda, posting dan selesai, cepatlah beralih ke kegiatan offline lagi tanpa ponsel atau kembali ke kegiatan online dimana kita fokus pada informasi seputar jurusan ilmu yang kita ambil. Hal tersebut harus diniatkan sebagai investasi waktu dan ilmu dalam rangka menambah jam terbang kita. 

Katakan pada godaan ilmu/informasi yang lain yang tidak selaras dengan jurusan yang kita ambil, dengan kalimat sakti ini :

*MENARIK, TAPI TIDAK TERTARIK*

Apa pentingnya menentukan jurusan ilmu dalam universitas kehidupan ini?

*JURUSAN ILMU YANG KITA TENTUKAN DENGAN SEBUAH KESADARAN TINGGI DI UNIVERSITAS KEHIDUPAN INI, AKAN MENDORONG KITA UNTUK MENEMUKAN PERAN HIDUP DI MUKA BUMI INI*

Sebuah alasan kuat yang sudah kita tuliskan  kepada pilihan ilmu tersebut, jadikanlah sebagai bahan bakar semangat kita dalam menyelesaikan proses pembelajaran kita di kehidupan ini. 

Sedangkan strategi yang sudah kita susun untuk mencapai ilmu tersebut adalah cara/kendaraan yang akan kita gunakan untuk mempermudah kita sampai pada tujuan pencapaian hidup dengan ilmu tersebut.

Sejatinya,

*SEMAKIN KITA GIAT MENUNTUT ILMU, SEMAKIN DEKAT KITA KEPADA SUMBER DARI SEGALA SUMBER ILMU, YAITU “DIA” YANG MAHA MEMILIKI ILMU*

Indikator orang yang menuntut ilmu dengan benar adalah terjadi perubahan dalam dirinya menuju ke arah yang lebih baik.  

Tetapi di  Institut Ibu Profesional ini, kita bisa memulai perubahan justru sebelum proses menuntut ilmu. Kita yang dulu sekedar menuntut ilmu, bahkan menggunakan berbagai cara kurang tepat, maka sekarang berubah ke Adab menuntut ilmu yang baik dan benar, agar keberkahan ilmu tersebut mewarnai perjalanan hidup kita.

*MENUNTUT ILMU ADALAH PROSES KITA UNTUK MENINGKATKAN KEMULIAAN HIDUP, MAKA CARILAH DENGAN CARA-CARA YANG MULIA*

Salam Ibu Profesional,
/Septi Peni Wulandani/
Sumber Bacaan :

Hasil Penelitian “the stress and wellbeing” secure Envoy, Kompas, Jakarta, 2015 

Materi “ADAB MENUNTUT ILMU” program Matrikulasi IIP, batch #2, 2016

Hasil Nice Home Work #1, peserta program Matrikulasi IIP batch #2, 2016

●●●●●

⚜ *Resume #Review_NHW1* ⚜

@ 24 Oktober 2016

Fasilitator               : Septi Peni Wulandani

Ketua Kelas           : Nesri Baidani

Koord. Mingguan : Hani Khaerunnisa

☘🍀🌾☘🍀🌾☘🍀🌾☘🍀🌾☘🍀🌾☘🍀🌾

1⃣ Bisakah meminta tipsnya supaya kita bisa KONSISTEN dengan jadwal dan rencana yg sudah kita buat?

_Finny–Bogor_

➡ Mbak Finny, agar bisa konsisten mulailah dengan satu komitmen terlebih dahulu, latih selama 30 hari pertama, konsisten atau tidak, kemudian lanjut di 30 hari kedua, dan tambahkan di 30 hari ketiga. Apabila sudah terjadi selama 90 hari konsisten, baru tambah dengan komitmen berikutnya, kalau istilah kerennya *”ONE BITE at A TIME”* (setiap satu gigitan, telan dulu, jangan buru-buru gigit makanan lagi)✅
2⃣Saya mau tanya Bu, bagaimana kalau kita memiliki 2 jurusan ilmu yang ingin ditekuni?

_Sukma–Pekanbaru_

➡ Nggak apa-apa mbak Sukma, selama kita bisa konsisten mempelajarinya. Seiring berjalannya waktu bakal banyak ilmu-ilmu pendukung yang harus kita pelajari. Tapi bisa menentukan satu jurusan ilmu, sudah setengah dari keberhasilan menemukan jalan hidup kita ✅
3⃣Apakah memungkinkan untuk mempelajari keduanya secara bersamaan atau lebih baik fokus ke salah satu ilmu dulu ya Bu?

_unknown_

➡ Fokus itu akan jauh lebih baik hasilnya✅
4⃣Bagaimana jika kemudian dalam perjalanan memainkan fungsi dan peran kita sebagai Ibu, kita menemukan bahwa ternyata ada ilmu lainnya yang kemudian sangat kita butuhkan justru melebihi dari ilmu yang sekarang kita geluti. Apakah memungkinkan untuk beralih secara sadar atau kita bahkan secara bersamaan melakoninya? Karena hemat saya setiap ilmu itu tenyata beririsan satu sama lain….

_Raudhah–Sulsel_

➡ Mbak Raudhah, tidak ada ilmu yang sia-sia, semua pasti memiliki saling keterkaitan dalam kebermanfaatan, maka istilah *”connecting the dot”* akan bekerja di ranah ilmu ini. Yang penting MULAI, jangan terlalu lama BERHENTI dan GALAU✅
5⃣Bagaimana agar percaya diri itu tetap ada dan kita yakin bahwa jurusan yang kita pilih itu memang jurusan yang benar, dan tidak mengulang kesalahan yg sama? Karena terkadang keraguan masih saja datang.

_Risa_

➡ Mbak Risa, just DO IT, hanya itu, lakukan saja, bagaimana kita bisa tahu yang benar, kalau kita tidak pernah merasakan salah. Karena sejatinya tidak ada kata gagal, yang ada hanyalah hasil yang berbeda, maka kita harus siap mengubah strategi saja, tidak diam dan berhenti.✅
6⃣Bu Septi, saya pernah membuat mind map akhir tahun lalu, aktivitas belajar manajemen rumah tangga, dan aktivitas sosial yaitu kuliah parenting dengan tetangga kompleks.

Namun jadi tidak bisa fokus krn masa transisi mau resign kerja dan pindah rumah, terutama dalam hubungan sosial bertetangga. Karena lingkungan di rumah yg dulu tidak membawa manfaat (pertemuan ghibah dll) sehingga saya tidak ikut acara² dikompleks.

Setelah resign kerja dan  pindah ke Yogya, yg tetangga pd guyub srg acara sosial disekitar rumah, saya jadi canggung mau memulai karena terbiasa berteman scr online.

Bagaimana mengatasinya bu?

_unknown_

➡ Kuncinya hanya satu mbak, HADAPI, jangan pernah lari dari kenyataan. Karena dimana kita ditempatkan, disitulah sebenarnya Allah sedang memberikan peluang untuk melakukan berbagai peran hidup kita. Antara online dan offline itu sebenarnya memiliki kesamaan pola, pelajari dan praktekkan✅
7⃣ Bolehkah kita mempelajari beberapa ilmu yg ingin dipelajari? karena sy pikir ketiganya saling berkaitan, diantaranya ilmu tentang Adab Islami; ilmu parenting ala nabi; ilmu tentang do’a di dalam Al-qur’an.

_unknown_

➡ Boleh banget mbak, justru saling berkaitan kan✅
8⃣Bagaimana supaya terhindar dari penyakit FOMO, saya sudah mulai fokus pada jurusan yg saya ambil, tapi susah menghindari FOMO, takut dibilang gak gaul, takut dibilang gaptek, jadi nulis nya keteteran terus.

_Siti–Cianjur_

➡ Bunda Siti, mulailah dengan memanage waktu dengan benar, dan keraslah pada diri sendiri untuk mematuhi hal tersebut. Pengalaman saya dulu untuk update info, saya keras dengan “hanya 15 menit” sehari, tapi dilaksanakan dengan kontinyu. Dan setelah itu lakukan waktu kita untuk hal lain, dan lupakan Hape. 

Kuncinya, “apabila kita keras pada diri sendiri, maka lingkunganlah yang akan lunak kepada hidup kita, demikian juga sebaliknya”

Maka komitmen dengan “gadget hour ” kita, jangan mau kita diperbudak gadget, gadgetlah yang harus bekerja untuk kita✅
9⃣Bunda Septi,

Dalam menentukan 1 jurusan ilmu dalam hidup, bolehkah hal tsb bersifat target dengan jangka waktu tertentu lalu beralih ke ilmu lain? Ataukah tetap bergelut dg ilmu tsb? Mengingat dalam hidup banyak sekali amanah dan tentunya banyak ilmu yg perlu dikaji. Jika ilmu yg ingin dipelajari terlalu umum konteks nya, saya khawatir tidak dapat fokus dan malah tidak bisa mencapai tujuan² yg diinginkan..

_Tri_

➡ Bunda Tri, mulailah dari hal yang spesifik dulu, berdasarkan aktivitas yang kita suka dan bisa, maka dari sana muncul ilmu yang akan kita tekuni. Setelah muncul satu ilmu, akan muncul lagi turunan ilmu berikutnya. 

Contoh mengambil jurusan ilmu “rekonstruksi sejarah” karena kita memang senang mempelajari masa lalu untuk masa depan, maka dari perjalanan waktu, muncullah ilmu videografi untuk mendokumentasikan perjalanan kita lintas sejarah, ilmu menulis untuk menerjemahkan  pengalaman kita, dan masih banyak ilmu yang lain✅
🔟 Bunda Septi,

Ilmu yg ingin fokus saya pelajari saat ini adalah “Family Management” lalu di dalamnya menyangkut ilmu parenting, management keuangan, management menu, produktivitas sbg istri dan ibu, dll. Apakah itu artinya saya tidak fokus? Apakah saya harus fokus ke salah satu anak-anak ilmunya (parenting saja misalnya)…?

_Prima–IIP Malang_

➡ Mbak prima , kalau di Ibu Profesional itu masuk kategori ilmu-ilmu di bunda cekatan, isisnya tentang “family management”, maka fokus dulu di berbagai pola-pola management seputar keluarga, seperti management menu, management keuangan, management belajar, management pendidikan anak, management resiko dll. Kemudian praktekkan dulu dan buat polanya. Sehingga ilmu-ilmu ini nanti akan memudahkan kita menapaki ilmu berikutnya seputar pendidikan anak ( di program bunda sayang) dan menjadi produktif ( di program bunda produktif). Semua ada di Ibu Profesional, Maka tuntaskan program matrikulasi ini sampai akhir✅
1⃣1⃣Ibu septi  mau bertanya bagaimana dengan seorang entrepreneur kadang harus mempelajari banyak pada saat memulai dan mencari usaha yang pas.terimakasih.

_Mina–IIP Jakarta_

➡ Mbak Mina, ilmu enterpreneur adalah ilmu yang kaya, banyak variannya dan saling berkaitan. maka di awal justru kita harus menemukan siapa kita dan ingin usaha di bidang apakah kita. Fokus disana, kemudian seiring berjalannya waktu muncul banyak ilmu yang ingin kita pelajari karena untuk mendukung “hal fokus’ yang sudah kita tentukan. 

kalau di pembelajaran persis sama ketika kita memakai konsep “project Based Learning”, tentukan dulu projectnya apa, setelah itu muncul turunan ilmu yang harus kita pelajari untuk mendukung project.

Selama ini kita sekolah, selalu ikut program paket . Kelas 1, 2, 3 materi pelajarannya sudah ditentukan apa saja, pelajari semuanya, akhirnya kita bingung mau digunakan untuk apa. ✅
1⃣2⃣ bu septi, bagaimanakah adab kita dlm menuntut ilmu, dikarenakan saat ini sangat mudah untuk googling saat ada sesuatu yang ingin kita ketahui . Padahal bisa jadi info yang kita baca di internet sumbernya bisa benar bisa salah.

_Tika–IIP Karawang_

➡ mbak Tika, gunakan *sceptical thinking*, prinsipnya semua info yang ada di internet dan di broadcast message pertama kali yang ada di kepala kita adalah satu kalimat ini dulu “TIDAK PERCAYA”. Agar kita tidak dengan mudah menelannya bahkan membagikannya ke banyak orang. karena berita baik belum tentu benar.

*Ada berita baik ➡ cari sumbernya➡ valid➡ pakai dan boleh disebar*

*Ada berita baik ➡ tidak ketemu sumbernya ➡ simpan untuk diri sendiri saja, tidak perlu disebarkan* ✅
1⃣3⃣  Bagaimana sekiranya setelah kita menentukan spesifikasi ilmu utk universitas kehidupan kita namun kita ingin mengembangkannya ke tahapan berikutnya agar lebh berkembang dan bermanfaat besar. Contoh saya mengelola paud selama 8 th sehingga ilmu parenting jg selain sy butuhkan utk mendidik anak sndiri tp jg berharap bs diaplikasikan pd lembaga paud kami. Dlm perjalananny kami jg menyelenggarakan program lain msh dlm kontek parenting yg ditujukan sbagai social responsibelity kpd masyarakat dan menyelenggarakan dgn lebh terbuka yg akhirnya kami melihat kok kami bergerak ke arah konsep socialpreneurship dengan tujuan memberikan dampak dan manfaat ke masyarakat. Apakah hal tersebut masih bisa ditoleransi jika kmudian juga belajar ttg socialpreneurship?

_Lita Andini_

➡ masih bisa mbak Lita, hanya prinsipnya jangan dibalik, keluargalah yang utama terlebih dahulu, baru hasil kesungguhan di keluarga digunakan untuk masyarakat. Contoh yang saya lakukan sbb :

a. Saya mendidik anak 1 dan 2 selama 8 th full di rumah➡ saya lakukan penelitian bersama anak-anak➡keluar konsep berbagai tools pelajaran untuk anak yang mudah dan menyenangkan ➡ muncul social enterpreneur di bidang pendidikan untuk masyarakat

b. Pengalaman mendidik diri sendiri agar menjadi ibu kebanggan keluarga ➡ muncul konsep Ibu Profesional

c. Pengalaman menjadi manajer pendidikan anak-anak di rumah  selama 14 th ➡ muncul konsep School of Life Lebah Putih ✅
1⃣4⃣ Ibu Septi, saya ingin bertanya,,kalau saya perhatikan perjalanan hidup saya sampai usia 33 tahun ini, saya termasuk pembosan, cepat merasa tertarik, bersemangat, tp ditengah perjalanan kemudian merasa bosan, akhirnya tidak tuntas proses menuntut ilmu nya.. apa ya bu yg seharusnya saya lakukan? Karena saya ingin, di usia produktif saya skrg ini, saya menemukan ssuatu yg bisa benar2 saya jalani, tanpa terbentur pola yg sama dan akhirnya berlalu begitu saja. Hatur nuhun ibu 😊😊

_Heny–IIP Bekasi_

➡ kuncinya temukan peran hidup mbak Heny, kemudian bekerjalah sesuai panggilan peran hidup tersebut. Matrikulasi ini akan membantu mbak Heny menemukan peran hidupnya insya Allah. Maka sekarang belajar dulu, bisa tidak fokus belajar matrikulasi ini dari awal sampai akhir, kalau bisa, pasti yang lain juga bisa✅
1⃣5⃣ Bu Septi, saya itu selalu bersemangat menuntut ilmu tapi diawal saja, tdk bisa istiqomah,  dan misal lingkungan tempat belajar kurang mendukung, saya lsg mundur teratur, mohon masukannya bu septi,biar bisa istiqomah?

Dan misal kita menuntut ilmu di suatu lembaga dan ternyata guru yang mengajar mempunyai karakter yang tidak baik, dari gaya bicara dan dari mimik wajah seakan mengajak berantem, setiap kita mengajukan pertanyaan, beliau menjawab dengan sinis dan selalu menyalahkan, adab kita sebagai murid harus bagaimana? Apakah kita menegur atau bagaimana?

_Rini–IIP Karawang_

➡ mbak Rini, untuk bisa istiqomah, latihan di matrikulasi ini dulu ya. kemudian untuk sang guru. Kalau ilmu yang beliau sampaikan bermanfaat untuk peran hidup mbak. Maka tetaplah takzim, jangan hiraukan sikap guru tersebut kepada mbak, tapi lihatlah ilmunya, Siapa tahu memang karakter beliau seperti itu. tetapi kalau hanya kepada mbak heny beliau seperti itu, mohon tabayyun, tanya langsung ke yang bersangkutan✅

☘🍀🌾☘🍀🌾☘🍀🌾☘🍀🌾☘🍀🌾☘🍀🌾

Alhamdulillah selesai, semoga bermanfaat untuk menguatkan materi adab menuntut ilmu kita pekan kemarin. Tinggal praktek ya sekarang dan belajar konsisten dengan mengerjakan NHW. ❣❣❣

*@Team Matrikulasi IIP Pusat 2016*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s