Belajar Bagaimana Caranya Belajar (Matrikulasi Sesi#5)

*Resume Diskusi Materi Matrikulasi Sesi 5*

*Selasa, 15 November 2016*

Fasilitator : Septi Peni Wulandani
Ketua Kelas : Nesri Baidani
Koordinator Minggu V : Ahdiyati Marwa

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
*Materi Matrikulasi IIP Batch #2 sesi #5*

*📝BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR📝*
Bunda dan calon bunda yang selalu semangat belajar,

Bagaimana sudah makin mantap dengan jurusan ilmu yang dipilih? kalau sudah, sekarang mari kita belajar bagaimana caranya belajar. Hal ini akan sangat bermanfaat untuk lebih membumikan kurikulum yang teman-teman buat. Sehingga ketika teman-teman membuat kurikulum unik (customized curriculum) untuk anak-anak, makin bisa menerjemahkan secara setahap demi setahap karena kita sudah melakukannya. Inilah tujuan kita belajar.
Sebagaimana yang sudah kita pelajari di materi sebelumnya, bahwa semua manusia memiliki fitrah belajar sejak lahir. Tetapi mengapa sekarang ada orang  yg senang belajar dan ada yang tidak suka belajar.
Suatu pelajaran yang menurut kita berat jika dilakukan dengan senang hati maka pelajaran  yang berat itu akan terasa ringan, dan sebaliknya pelajaran yang ringan atau mudah jika dilakukan dengan terpaksa maka akan terasa berat atau sulit.
Jadi suka atau tidaknya kita pada suatu pelajaran itu bukan bergantung pada berat atau ringannya suatu pelajaran. Lebih kepada rasa.

*_Membuat BISA itu mudah, tapi membuatnya SUKA itu baru tantangan_*
Melihat perkembangan dunia yang semakin canggih dapat kita rasakan bahwa dunia sudah berubah dan dunia masih terus berubah.
Perubahan ini semakin hari semakin cepat sekali.

Anak kita sudah tentu akan hidup di jaman yang berbeda dengan jaman kita. Maka teruslah mengupdate diri, agar kita tidak membawa anak kita mundur beberapa langkah dari jamannya.
Apa yang perlu kita persiapkan untuk kita dan anak kita ?
Kita dan anak-anak perlu belajar tiga hal :

1⃣Belajar hal berbeda
2⃣ Cara belajar yang berbeda

3⃣Semangat Belajar yang berbeda
🍀 *Belajar Hal Berbeda*

Apa saja yang perlu di pelajari ?

yaitu dengan belajar apa saja yang bisa:

🍎Menguatkan Iman,
ini adalah dasar yang amat penting bagi anak-anak kita untuk meraih masa depannya

🍎Menumbuhkan karakter yang baik.

🍎Menemukan passionnya (panggilan hatinya)
*Cara Belajar Berbeda*

Jika dulu  kita dilatih untuk terampil menjawab, maka latihlah anak kita untuk terampil bertanya Keterampilan bertanya ini akan dapat membangun kreatifitas anak dan pemahaman terhadap diri dan dunianya.
Kita dapat menggunakan jari tangan kita sebagai salah satu cara untuk melatih keterampilan anak2 kita untuk bertanya.

Misalnya :

👍Ibu jari : How

👆Jari telunjuk : Where

✋Jari tengah : What

✋Jari manis : When

✋Jari kelingking : Who

👐Kedua telapak tangan di buka : Why

👏Tangan kanan kemudian diikuti tangan kiri di buka : Which one.
Jika dulu kita hanya menghafal materi, maka sekarang ajak anak kita untuk mengembangkan struktur berfikir. Anak tidak hanya sekedar menghafal akan tetapi perlu juga dilatih untuk mengembangkan struktur berfikirnya
Jika dulu kita hanya pasif mendengarkan, maka latih anak kita dg aktif mencari. Untuk mendapatkan informasi tidak sulit hanya butuh kemauan saja.
Jika dulu kita hanya menelan informasi dr guru bulat-bulat, maka ajarkan anak untuk berpikir skeptik

_Apa itu berpikir skeptik ?_

Berpikir Skeptik yaitu tidak sekedar menelan informasi yang didapat bulat-bulat. Akan tetapi senantiasa mengkroscek kembali kebenarannya dengan melihat sumber-sumber yang lebih valid.
*Semangat Belajar Yang berbeda*

Semangat belajar  yang perlu ditumbuhkan pada anak kita adalah :
🍀Tidak hanya sekedar mengejar nilai rapor akan tetapi memahami subjek atau topik belajarnya.

🍀Tidak sekedar meraih ijazah/gelar tapi kita ingin meraih sebuah tujuan atau cita-cita.
Ketika kita mempunyai sebuah tujuan yang jelas maka pada saat berada ditempat pendidikan kita sudah siap dengan sejumlah pertanyaan-pertanyaan. Maka pada akhirnya kita tidak sekedar sekolah tapi kita berangkat untuk belajar (menuntut ilmu).
Yang harus dipahami,

*_Menuntut Ilmu bukan hanya saat sekolah, tetapi dapat dilakukan sepanjang hayat kita_*
Bagaimanakah dengan Strategi Belajarnya?
• Strategi belajar nya adalah dengan menggunakan

*_Strategi Meninggikan Gunung bukan meratakan lembah_*
Maksudnya adalah dengan menggali kesukaan, hobby, passion, kelebihan, dan kecintaan anak-anak kita terhadap hal2 yg mereka minati dan kita sebagai orangtuanya mensupportnya semaksimal mungkin.
Misalnya jika anak suka bola maka mendorongnya dengan memasukkannya pada club bola, maka dengan sendirinya anak akan melakukan proses belajar dengan gembira.

🚫 *_Sebaliknya jangan meratakan lembah_*

yaitu dengan menutupi kekurangannya,

Misalnya apabila anak kita tidak pandai matematika justru kita berusaha menjadikannya untuk menjadi pandai matematika dengan menambah porsi belajar matematikanya lebih sering (memberi les misalnya).
Ini akan menjadikan anak menjadi semakin stress.
Jadi ketika yang kita dorong pada anak-anak kita adalah keunggulan / kelebihannya maka anak-anak kita akan melakukan proses belajar dengan gembira.
Orang tua tidak perlu lagi mengajar atau menyuruh-nyuruh anak untuk belajar akan tetapi anak akan belajar dan mengejar sendiri terhadap informasi yang ingin dia ketahui dan dapatkan. Inilah yang membuat anak belajar atas kemauan sendiri, hingga ia melakukannya dengan senang hati.

Bagaimanakah membuat anak menjadi anak yang suka belajar ?
Caranya adalah :

1⃣ Mengetahui apa yang anak-anak mau / minati

2⃣Mengetahui tujuannya, cita-citanya

3⃣Mengetahui passionnya
Jika sudah mengerjakan itu semua maka anak kita akan meninggikan gunungnya dan akan melakukannya dengan senang hati.
*_Good is not enough anymore we have to be different_*
Baik saja itu tidak cukup,tetapi kita juga harus punya nilai lebih (yang membedakan kita dengan orang lain).
Peran kita sebagai orang tua :

👨‍👩‍👧‍👧Sebaga pemandu : usia 0-8 tahun.

👨‍👩‍👧‍👧Sebagai teman bermain anak-anak kita : usia 9-16 tahun.

kalau tidak maka anak-anak akan menjauhi kita dan anak akan lebih dekat/percaya dengan temannya

👨‍👩‍👧‍👧sebagai sahabat yang siap mendengarkan anak-anak kita : usia 17 tahun keatas.

Cara mengetahui passion anak adalah :

1⃣ _Observation_ ( pengamatan)

2⃣ _engage_(terlibat)

3⃣ _watch and listen_ ( lihat dan dengarkan suara anak)
Perbanyak ragam kegiatan anak, olah raga, seni dan lain-lain.

Belajar untuk telaten mengamati, dengan melihat dan mencermati terhadap hal-hal yang disukai anak kita dan apakah konsisten dari waktu ke waktu.
Diajak diskusi tentang kesenangan anak, kalau memang suka maka kita dorong.

Cara mengolah kemampuan berfikir Anak dengan :
1⃣Melatih anak untuk belajar bertanya,

Caranya: dengan menyusun pertanyaan sebanyak-banyaknya mengenai suatu obyek.

2⃣Belajar menuliskan hasil pengamatannya Belajar untuk mencari alternatif solusi atas masalahnya

3⃣Presentasi yaitu mengungkapkan akan apa yang telah didapatkan/dipelajari

4⃣Kemampuan berfikir pada balita bisa ditumbuhkan dengan cara aktif bertanya pada si anak.

Selamat belajar dan menjadi teman belajar anak-anak kita,

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/

Sumber bacaan :

_Dodik Mariyanto, Learning How to Learn, materi workshop, 2014_

_Joseph D Novak, Learning how to learn, e book, 2009_

♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦

❓Tanya ➖Jawab ❗

1⃣ Siti Aisah – IIP Cianjur
Assalamualaikum bu.
Bagaimana caranya menciptakan suasana belajar yang menyenangkan di rumah, dua putra saya yang kecil 7&5 tahun sangat aktif beda dengan 3 kakaknya yang lebih kalem ❤ Terima kasih✅
♦1⃣ Bunda Siti Aisah, pertama harus pahami dulu gaya belajar anak-anak kita itu tipe apa? Kemudian apa yg diminati oleh masing-masing anak kita? Setelah kita “profiling” masing-masing anak kita, maka mulai membuat “desain pembelajaran” 😁unt masing2 anak. Setelah itu pelajari yg namanya manajemen kelas. Sehingga pengelolaan aktivitas harian kita bersama anak-anak bisa memenuhi domimansi gaya belajar mereka masing2✅

2⃣ Anonim
Assalamu’alaikum bu septi.
1. Apakah stimulasi yang sama terus menerus pada anak menciptakan karakter tersebut pada anak?
Misal, saat bersama yangkung dan utinya setiap malam putri saya (19 bulan) suka sekali dinyanyikan lagu anak-anak. Karena rumah kami nyambung bersebelahan. Akhirnya sedikit-sedikit putri saya meminta saya menyanyikan lagu-lagu tersebut ketika bersama saya. Dan putri saya menikmatinya. Sebetulnya saya pribadi kurang setuju karena terkadang nyanyian-nyanyian jawa agak kasar yang liriknya kurang pas didengar balita saya.

2. Sejujurnya saya bukan orang yang pandai berkomunikasi dengan bapak ibu mertua perihal perbedaan pengasuhan anak maupun intervensi terhadap rumah tangga kami. Akhirnya selama ini saya hanya bisa dongkol dalam hati jika ada yang tidak berkenan di hati saya. Seperti gunung es. Saya sampaikan pada suami. Suami bantu sedikit-sedikit menyampaikan tetapi tidak pernah tuntas. Kami hampir tidak memiliki pilihan berpisah. Bagaimana tips memulai komunikasinya ya bu septi? Dalam hati sesungguhnya saya ingin merawat rumah tangga dan anak-anak sendiri (hingga ketika mengandung putri saya, saya resign) tetapi intervensi dari mertua sungguh luar biasa. Kalo sedang marah, saya hanya diam terhadap mereka. Takut saya muntab marah. Biasanya muntab nya sy keluarkan pada suami. Kasihan juga sebetulnya.

Terimakasih bu mohon pencerahan.

Tambahan: ketika saya berupaya memaafkan bapak ibu mertua, hati sedang berproses lapang menerima. Ada dan ada lagi yang tidak berkenan di hati saya. Karena itu tadi intervensinya luar biasa. Beliau berdua memang ingin selalu terlibat dan berpandangan bahwa orangtua pasti mengintervensi rumah tangga anaknya✅
♦2⃣ Bunda, dari 2 tantangan yg bunda kemukakan, kuncinya hanya satu ” berdamailah dengan kondisi kita saat ini “. Terima dengan ikhlas, kl memang tdk bisa pindah rumah.

Setelah itu amati karakter mertua, kira2 gaya komunikasi apa yg paling tepat kita terapkan. Apakah mertua senang hadiah, senang dipuji atau senang disayang dengan sentuhan. Cobalah memahami mertua, dari sana nanti bunda bisa membuka komunikasi yg enak. Dan urusan anak menjadi lebih ringan, termasuk stimulus yg diberikan berulang dan karakter yg terbentuk✅

3⃣ Ety – IIP SulSel
Alhamdulillah… jazakillah khoir atas materi pagi ini.
Ibu mohon diberi contoh kasus menerapkan belajar cara berbeda :
1. Keterampilan jari jempol = how dst
2. Struktur berfikir
3. Anak aktif mencari

♦3⃣ Bunda Ety, kalau kita perhatikan di NHW #5 ini bunda sedang praktek “Cara belajar yg berbeda”. Ada topik ” desain pembelajaran”

Mulailah semua heboh, mulai dari apa itu desain pembelajaran ( 5W +1 H) mulai bermunculan.

Kemudian saya tidak buru2 memberikann jawaban justru kembali bertanya. Sehingga membuat teman-teman aktif mencari sumber. Aktif berdiskusi dll.

Saat ini kita sedang mengasah “struktur berpikir” bunda semua. Apakah mulai terlihat jelas, struktur berpikir itu apa? 😁 Let’s find out ….✅

4⃣ Hanni – IIP Bogor
Bu septi, terkait penyataan ‘meninggikan gunung’ bukan ‘meratakan lembah’. Bagaimana halnya dengan seorang pengajar/guru bimbel. Sebagian besar orang tua mengikutsertakan anak mereka bimbel karena anak2 mereka lemah & memperoleh nilai kurang memuaskan di mata pelajaran tersebut. Apakah ini berarti si ‘pengajar tersebut sedang ‘meratakan lembah?’
Rasanya terbebani sekali jika berhadapan dengan anak didik seperti itu. Mereka sebenarnya memang tidak menyukai mata pelajaran tersebut. Namun, karena tuntutan target nilai di sekolah akhirnya mereka ikut les. Apakah solusi yang dapat dilakukan, bu? Terima kasih✅
♦4⃣ Betul mbak hani, bermunculannya les pelajaran, ini indikator buruknya pendidikan di negeri ini.

guru les tersebut secara tidak langsung sdg menjadi “pembunuh bayaran” 😭, yang dibunuh adalah potensi anak-anak, yg membayar adalah orangtua mereka.

Maka kalau saya dulu di jarimatika hanya menerima murid yang berminat di bidang matematika saja. Kalau yg tidak berminat, hanya karena ingin nilainya bagus di sekolah, saya tolak✅

5⃣ Vita – IIP Jakarta
Assalamu’alaikum Bu Septi yang baik & menginspirasi 😊, berikut pertanyaan saya :
1. “Kita dapat menggunakan jari tangan kita sebagai salah satu cara untuk melatih keterampilan anak2 kita untuk bertanya.”
👆🏻👆🏻👆🏻
Teknis menggunakan jari tangan ini seperti apa bu? Apa hanya sebagai simbol saja? Misal ketika saya bertanya dengan kata “how” maka saya sembari mengacungkan jempol ke anak?

2. Terkait strategi *Meninggikan Gunung bukan Meratakan Lembah*, saya merasa bahwa manusia adalah makhluk yang majemuk dengan kompleksitas tinggi, tidak sederhana. Lalu saya terbayang beberapa keadaan :

🤔Bagaimana jika ada seorang anak yang kuat sisi otak kanannya? Haruskah dia diasah pada sisi tersebut? Tidakkah akan terjadi kepincangan fungsionalitas antara otak kanan dan otak kiri? Padahal, bukankah keduanya seharusnya saling melengkapi?

🤔Jika ada anak tipikal introvert, suka detil, suka belajar dan “nggethu” menyendiri, akhirnya menjadi anak yang lemah dalam bersosialisasi. Bagaimana dan kapan menyeimbangkan antara kelebihan dia yang fokus saat menyendiri dengan tuntutan bahwa dia pun seharusnya bisa bersosialisasi?

Pertanyaan saya :
Kapan kah kita fokus _”Meninggikan Gunung buka Meratakan Lembah”_ dan kapan kita fokus sebaliknya? Mungkin istilah saya, _”Meratakan Lembah untuk Mendukung Gunung yang Tinggi”_

Terima kasih Ibu, semoga pertanyaan saya tidak membingungkan. 🙏🏻

♦5⃣ Mbak Vita, saya selalu menjalani “permainan” bertanya dg menggunakan simbol jari tersebut. Misal saya ambil kasus ttg ” Banjir”. Segera saya mainkan jari saya dan anak2 membuat pertanyaan sebanyak-banyaknya dg kalimat tanya pembuka sesuai jari yg keluar.
Misal : jari jempol = how

” Bagaimana proses terjadinya banjir?”

” Bagaimana cara mengatasi banjir di bandung?” dll.

Kemudian untuk strategi meninggikan gunung, bukan meratakan lembah adalah “Fokus pada kekuatan anak saja”, dan ” Mensiasati segala kekurangannya”. Strategi mensiasati kekurangan ini bisa bermacam2, mulai dari berkolaborasi dg teman yg karakternya saling komplemen, sampai dengan mengasah diri. Yang tidak saya lakukan adalah memaksakan apa yg tidak ada dan tidak mampu di diri anak✅

6⃣ Prima – IIP Malang
Assalamualaikum bu septi, tentang perkembangan bahasa anak… Apakah masih termasuk konsep inside out? Bagaimana jika orang tua menginginkan bilingual? Sejak usia berapa anak di bolehkan belajar bilingual dan cara yang tepat seperti apa agar tetap inside out?✅
♦6⃣ Wa’alaykumsalam mbak prima, tugas kita adalah menstimulus anak, mengenalkan sebanyak-banyaknya cara belajar, tapi tidak mendikte dan memaksanya sesuai kehendak kita. Kebutuhan bahasa ini akan muncuk seiring dengan passion anak.

Contoh Elan, tidak pernah sekolah dan tidak pernah les. Ketika masuk ke passion “bongkar pasang” maka dia belajar sendiri bahasa inggris scr otodidak, krn tutorial robot banyaknya berbahasa inggris. Sama juga dg anak yg suka game, suka nyanyi, suka film, biasanya akan muncul perkembangan bahasa secara inside out.✅

7⃣ Nesri – IIP Bogor
Seberapa pentingkah chores activity untuk anak? Terkait dengan minat, karena anak saya menolak melakukan daily chores dengan alasan ‘Bukan minatku’✅
♦7⃣ Mbak nesri, daily chores ini adalah untuk melatih “tanggung jawab” bukan untuk minat, meskipun di lebah putih ada anak yg sangat suka menjalankan “daily chores” sebagai manager toilet, krn bercita2 ingin jadi “juragan toilet”.

Maka apabila anak kita tdk berminat di daily chores jadikan aktivitas tsb sebagai latihan mini ” project based learning”. Maka kreativitas kitalah yg dituntut agar anak memiliki project2 kecil menarik yg berkaitan dengan aktivitaa sehari-hari. Shg bukan lagi dianggap sbg tugas/beban✅

8⃣ Dwi Indah – IIP Bandung
Bu Septi yang baik, saya sangat setuju sekali dengan yang Ibu Septi sampaikan. Bahwa belajar/menuntut itu terus dilakukan sampai akhir hayat, dan yang terpenting adalah melaksanakan apa yang dipelajari dan tetap fokus.

Saya ada pertanyaan untuk materi ke 5 kali ini, yaitu:
1. Tentang mengetahui passion anak. Setelah kita mengetahui passion anak, dengan terlihat anak itu gembira melakukannya dan sangat menikmati suatu hal tersebut. Disisi lain, kita sebagai orang tua yang membersamainya melihat juga, sebenarnya si anak ini mempunyai potensi yang lain yang juga bagus. Mungkin karena selama ini kita sebagai orang tuanya belum meng-eksplore potensi tersebut secara optimal, sehingga si anak belum menyadari potensinya tersebut. Bagaimana menurut Ibu Septi, apa yang harus dilakukan agar si anak ini juga bisa melihat potensinya yang luar biasa tersebut tanpa memadamkan apa yang sudah menjadi passionnya?

2. Tentang meninggikan gunung. Kadang kala dalam proses meninggikan gunung ini timbul kebosanan, bagaimanakah cara yang efektif untuk mengatasi rasa bosan yang muncul, walaupun proses yang dilakukan sudah sesuai passionnya.

3. Tentang tidak meratakan lembah, sejauh mana usaha kita agar kita tidak terjebak dalam kondisi yang “meratakan lembah” baik bagi diri kita sendiri maupun bagi anak kita…karena yang ditakutkan adalah…lembah itu terlalu “curam/dalam”, sehingga nantinya terlalu menikmati kenyamanan berada di lembah yang terlalu “curam/dalam” tersebut. Mohon pencerahannya.

Terima kasih atas Penjelasan dari Bu Septi.👍🏻😊✅
♦8⃣ Mbak dwi indah, masuklah dg passion yg sdh ditemukan anak terlebih dahulu, sebelum kita menstimulus dengan passion yg “kita pikir/rasakan” ada di diri anak-anak. Tidak perlu dipaksakan.

Karena apabila anak masuk dg passionnya, biasanya akan muncul turunan ilmu yg luar biasa dan tidak terduga

2. Manajemen mengelola kebosanan itu ilmu penting. Maka biasanya unt anak yg sdh menemukan passion di usia 10 th ke atas. Saya selalu tanyakan “apakah sudah mulai bosan?” Kalau sudah, maka saya hanya bilang “keren, skrg bunda mau lihat caramu menangani kebosanan itu” .

Tahapannya tonton dulu, setelah itu baru tuntun.

3. Tentang meratakan lembah, kalau bisa jangan dilakukan, krn hanya akan menghabiskan energi. Aktivitas ini yg selalu saya hindari ke anak-anak ✅

9⃣ Sapta Handayani – IIP Semarang
Belajar bagaimana caranya belajar yang diterangkan Bu Septi apakah itu bisa di terapkan ke orang dewasa ? Mohon contohnya juga. Terimakasih✅
♦9⃣ Bu sapta, saat ini kita sdg melakukannya untuk orang dewasa 😍, silakan diamati ya bu ✅

1⃣0⃣ Desty – IIP Bekasi
Mulai usia berapa kah bakat anak mulai terlihat? Karena anak saya usia 4 tahun cepat sekali bosan kalau belajar mewarnai, tapi kalau aktifitas di luar dia senang sekali, misal lari-lari, lempar tangkap bola. Apa hal tersebut masih bisa berubah? Makasih bu septi✅
♦1⃣0⃣ Mba desty, mulailah tour de talents dulu sampai usia anak 7 th an. Setelah itu akan berganti2 mencoba satu persatu ✅

1⃣1⃣ Asty – IIP SulSel
Bu Septi,saya ulang-ulang terus materi 3poin, dan berusaha menyinkronkan dengan keadaan keluarga saya dan akhirnya timbul pertanyaan…
1. Bagaimana menyemangati belajar anak pertama yang lebih menyukai menggambar/melukis, hingga terlihat malas untuk belajar hal lain seperti perhitungan ataupun hapalan. Sedangkan disekolah sekarang mengharuskan untuk berhitung dan menghapal.
2. Bagaimana mengetahui kesukaan anak 5 tahun yang masih mengekor apa yang kakak lakukan. Padahal sepenglihatan saya, adek tidak terlalu menyukai apa yang kakak lakukan, contoh menggambar. Tapi saya pun masih bingung dengan apa yang adek sukai.
3. Mengenai cara belajar. Apakah harus dipisahkan jam belajar kakak yang SD dengan adik-adiknya yang TK bahkan belum sekolah? Karena kuatir akan terpengaruh sehingga menjadi gangguan fokus.
Terimakasih untuk jawabannya. Maaf kalau membingungkan.✅
♦1⃣1⃣ 1. Mbak Asty, apabila anak-anak kita suka menggambar maka jadikanlah gambar itu sebagai jalan masuk unt pelajaran yg lain.
Contoh kita akan mengajarkan perkalian lewat gambar, bahasa lewat gambar dll.

2. Posisi adik biasanya memang ikut kakaknya, biarkan jangan dipisah dulu, kita sbg ortu hanya tarik ulur saja. Misal tanyakan ke adiknya,
“Adik, kita mau makan di luar, kali ini adik yg memutuskan kita mau makan dimana?”

Latih terus dg hal2 kecil yg menuntut dia sbg decision maker

3. Unt belajar tidak perlu dipisahkan. Nanti mbak asty bisa belajar bagaimana caranya mengelola kelas “majemuk”✅

1⃣2⃣ Karina – IIP Babel
Setelah baca materi#5 ini jadi teringat jawaban ibu tentang home based education…

Alhamdulillah, saat ini.. kami di amanahi anak laki-laki (6thn) dan perempuan(4thn).. Rasanya tinggal sebentar fase memandunya…
Dalam proses memandunya nanti, hal apa saja yang perlu di perhatikan, mengingat karakter anak-anak laki-laki dan perempuan yang berbeda? Supaya bisa optimal dalam mendidik anak-anak generasi yang akan datang ini. Selain itu, struktur otak laki-laki dan perempuan yang berbeda, dan hal-hal lainnya..

Sekalian Bu, share positif nya dalam memandu anak-anak ibu.. 😉✅
♦1⃣2⃣ Mbak karina, anak perempuan dan laki2 scr fitrah tdk ada banyak perbedaan kecuali di fitrah seksualitas/gender saja. Krn scr fitrah anak laki disiapkan jadi imam kel dan anak perempuan jadi ibu manajer keluarga.

Maka didik anak-anak itu sesuai fitrahnya saja. ✅

1⃣3⃣ Maharani – IIP Garut
Assalamualaikum bu. Saya mengajar di kelas 3. Ada 3 anak pindahan yang masih belum bisa membaca dari sekolah terdahulu memang ada beberapa catatan. Namun ada beberapa kelebihan yang saya temukan yaitu kepedulian yang tinggi dan juga kemampuan bidang olahraga. Mereka juga menyukai hal-hal yang tidak mengharuskan berpikir keras. Beberapa strategi sudah saya coba. Namun belum berhasil. Mereka tampak putus asa kalau mulai saya ajak membaca walaupun dalam bentuk permainan. Menurut ibu apa yang sebaiknya saya lakukan? Terimakasih✅
♦1⃣3⃣ Wa’alaykumsalam mba maharani, anak2 itu akan muncul PD nya dengan melalui satu pintu potensi. Tugas kita adalah menemukan pintu tersebut dan membiarkan anak berproses menemukan kuncinya.

Kl belum bisa membaca tapi sdh bisa bicara, maka biarkan anak2 tsb belajar dan menjawab soal dg suaranya. Ini kami lakukan anak2 di SD lebah putih.

Krn scr fitrah anak yg bisa bicara pasti bisa membaca, tinggal tunggu titik ledaknya saja✅

Diresume oleh : Ahdiyati Marwa
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

_NICE HOMEWORK #5_
_MATRIKULASI INSTITUT IBU PROFESIONAL BATCH #2_

📝 *BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR*📝 (Learning How to Learn)

Setelah malam ini kita mempelajari tentang “Learning How to Learn” maka kali ini kita akan praktek membuat *Design Pembelajaran* ala kita.

Saya tidak akan memandu banyak, mulailah mempraktekkan “learning how to learn” dalam membuat NHW #5.

Munculkan rasa ingin tahu bunda semua tentang apa itu design pembelajaran.

Bukan hasil sempurna yg kami harapkan, melainkan “proses” anda dalam mengerjakan NHW #5 ini yg perlu anda share kan ke teman-teman yg lain.

Selamat Berpikir, dan selamat menemukan hal baru dari proses belajar anda di NHW #5 ini.

Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/

Personalized Curriculum using Design Thinking

Ada teman teman orangtua dan pendidik yang bertanya, apa yang dimaksud personalized curriculum?

________

Personalized curriculum adalah kurikulum yang dirancang dari kebutuhan pengembangan potensi fitrah yang khas untuk setiap anak. Mengapa perlu kurikulum terpersonalisasi, itu karena tiap anak unik, tiap keluarga unik, tiap daerah juga unik, alam dan masyarakat serta kearifannya juga unik.

Tidak ada kurikulum seragam yang bisa berlaku untuk tiap anak, kecuali kita ingin menyamaratakan dan menyeragamkan sekehendak mau kita. Secara manfaat dan impact tentu kurikulum berbasis pabrik tentu berbeda dengan kurikulum berbasis potensi fitrah.

Fitrah itu ibarat benih tanaman, maka semakin sesuai program menumbuhkan dengan kebutuhan benih maka akan semakin bagus dan banyaklah buah dan manfaatnya. Di Jepang ada pohon tomat yang buahnya mencapai 20000 butir satu pohon tanpa rekayasa apapun dan pupuk apapun, hanya karena ditemukan bahwa akar tomat sebenarnya cocok di air bukan di tanah.

Begitulah ketika sebuah kurikulum menumbuhkan potensi fitrah sesuai dengan kebutuhan dan keunikan anak maka insyaAllah akan memberikan manfaat yang banyak.

Lalu bagaimana membuat atau merancang personalized curriculum?

Biasanya kami menggunakan teknik “design thinking”, sebuah teknik atau proses kreatif yang dulu biasa digunakan para arsitek dalam merancang produk atau solusi kreatif yang berangkat dari menggali kebutuhan user/anak.

Bayangkan seorang arsitek merancang secara kreatif sebuah rumah sesuai dengan kebutuhan dan mimpi user, nah begitulah seorang pendidik atau orangtua merancang secara kreatif kurikulum terpersonalisasi untuk kebutuhan tiap anaknya. Ibarat benih tanaman, maka semakin sesuai program menumbuhkan dengan kebutuhan benih maka akan semakin bagus dan banyaklah buah dan manfaatnya.

Kini design thinking digunakan dalam beragam bidang termasuk pendidikan.

Tahap 1: emphatize. Melakukan pemetaan atas seluruh potensi fitrah melalui observasi dan intervew, tentu dengan penuh empati. Semua informasi yang didapat akan menampilkan persona yang utuh tentang anak kita.

Tahap 2: define. Dari semua informasi persona kemudian ditarik benang merah kebutuhan dan hikmah. Orangtua dapat mendefinisikan kebutuhan anak secara komprehensif dalam sudut pandang menyeluruh (point of view) lalu menuangkan dalam scope of work atau scope of development statement (potency& problem statement)

Tahap 3. Ideate. Secara bersama, orangtua atau pendidik melakukan brainstorming utk menggali idea2 kreatif untuk pengembangan potensi fitrah. Bisa juga mendatangi atau mengundang pakar sebagai nara sumber. Lalu menseleksi mana idea yang paling feasible dan bagus untuk dijalankan.

Tahap 4. prototype. Menyusun prototipe proses kegiatan atau aktifitas yang akan dilakukan sesuai idea idea yang dipilih. Meminta feedback dan masukan dari anak atau pakar.

Tahap 5. test n feedback . Ini eksekusi dan evaluasi , bisa bolak balik dengan tahap 4. Ketika dieksekusi maka untuk evaluasi bisa mengulang ke langkah 1 lagi.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

❤❤❤❤❤❤❤

*EMISOL – Empati, Imajinasi, Solusi*

Kita semua bersimpati, tetapi sangat baik jika berEMPATI. Barangkali kita sudah lama gagal berempati karena memang terbiasa menilai sesuatu secara instan dan penuh obsesi. Barangkali akibat terlalu lama bersekolah, menjawab pertanyaan dengan pilihan ganda, bukan pilihan hati dan makna.

BerEMPATI adalah melihat dengan mata, dengan telinga, dengan hati, dengan kaki sehingga mampu menyerap lebih dalam dan lebih bermakna apa sesungguhnya yang terjadi. Tahan untuk tidak “ghurur” atau tergesa menilai, berbicara dan merespon. Apalagi jika kelak malu mengakui kesalahan. Turunkan ego serendah rendahnya agar Allah bukakan dan curahkan hikmah yang banyak.

Hampir semua masalah bisa selesai karena banyak berEMPATI pada awalnya, dan banyak masalah menjadi tambah parah gara gara gagal berEMPATI dan tergesa meloncat kepada solusi instan.

Nabi SAW mencontohkan bagaimana beliau berempati, mendengarkan dengan telinga hati, melihat dengan mata hati walau terhadap orang yang panjang lebar mencelanya sehingga dengan baik mampu memberi jawaban dan penilaian penuh hikmah.

Setelah berEMPATI menyerap dengan baik, lalu cobalah DEFINISIkan dengan baik atau buat “point of view” . Tuliskan apa sesungguhnya yang terjadi tanpa pretensi, nafsu, obsesi. Kita akan melihat kebutuhan atau arah kemauan sesungguhnya dari peristiwa ini, mana sasaran antara dan mana sasaran inti.

Petakan masalahnya dengan presisi, lihat yang tak mampu terlihat, temukan apa yang ada di belakang ini semua, temukan aktor aktor yang berperan, temukan inti kebutuhan sesungguhnya dan tuliskan. Gali dan temukan hal hal lain yang bisa jadi inti masalah yang mengejutkan. Tanyalah terus menerus “bagaimana jika” begini dan begitu untuk menemukannya.

Jika sudah jelas definisi masalah dan potensinya, lalu IMAJINASIKAN idea idea hebat atau idea berani untuk mengembangkan solusi dan potensinya. Tuangkan dalam bentuk “coretan” idea, diagram atau sketch yang menjelaskan kebutuhan dan idea hebat. Mulailah menulis solusi sederhana namun feasible atau layak.

Akhirnya tuliskan SOLUSI final yang kita anggap paling baik. Jalankan solusi itu kepada siapa yang membutuhkannya. Sajikanlah juga solusi kita kepada PUBLIK dengan sebaik baiknya agar dunia semakin indah dan inspiratif.

Biasakanlah untuk selalu demikian, ulangi proses EMISOL agar kelak makin tajam solusinya. Kelak di akhirat kita tidak disebut sebagai orang orang yang fasik dan lalai, hanya menelan informasi lalu menjalankannya atau menyebarkannya tanpa berEMPATI, berIMAJINASI untuk idea hebat dan melahirkan SOLUSI.

Pesan Nabi SAW “Barangsiapa yang Beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaknya berkata yang baik atau diam”.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

*Harry Santosa*

*Resume Review Nice Homework 5*
Kelas Matrikulasi IIP #Batch2

Senin, 21 November 2016
Pemateri : Ibu Septi Peni Wulandani
Notulen : Wastuwidyarini

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

_Review Nice Homework sesi #5_

📝 *BELAJAR CARA BELAJAR* 📝( _Learning how to Learn_)

Bunda dan calon bunda yang selalu semangat belajar, bagaimana rasanya mengerjakan Nice Homework di sesi #5 ini? Melihat reaksi para peserta matrikulasi ini yang rata ada di semua grup adalah
a. Bingung, ini maksudnya apa?
b. Bertanya-tanya pada diri sendiri dan mendiskusikannya ke pihak lain, entah itu suami atau teman satu grup
c. Mencari berbagai referensi yang mendukung hasil pemikiran kita semua
d. Masih ada yang merasakan hal lain?

Maka kalau teman-teman merasakan semua hal tersebut di atas, kami ucapkan *SELAMAT*, karena teman-teman sudah memasuki tahap *_belajar cara belajar_*.

Nice Homework #5 ini adalah tugas yang paling sederhana, tidak banyak panduan dan ketentuan. Prinsip dari tugas kali ini adalah

*_Semua Boleh, kecuali yang tidak boleh_*

Yang tidak boleh hanya satu, yaitu diam tidak bergerak dan tidak berusaha apapun.

Selama ini sebagian besar dari kita hampir memiliki pengalaman belajar yang sama, yaitu *OUTSIDE IN* informasi yang masuk bukan karena proses “rasa ingin tahu” dari dalam diri kita melainkan karena keperluan sebuah kurikulum yang harus tuntas disampaikan dalam kurun waktu tertentu. Sehingga belajar menjadi proses penjejalan sebuah informasi. Sehingga wajar kalau banyak diantara kita menjadi tidak suka “belajar”, akibat dari pengalaman tersebut.

Di Institut Ibu Profesional ini kita belajar bagaimana membuat desain pembelajaran yang ala kita sendiri, diukur dari *_rasa ingin tahu kita_* terhadap sesuatu, membuat *_road map_* perjalanannya, mencari *_support system_* untuk hal tersebut, dan menentukan *_exit procedure_*andaikata di tengah perjalanan ternyata kita mau ganti haluan.

Ketika ada salah seorang peserta matrikulasi yangbertanya, apakah Nice Homework #5 kali ini ada hubungannya dengan materi-materi sebelumnya? *TENTU IYA*

Tetapi kami memang tidak memberikan panduan apapun. Kalau teman-teman amati, bagaimana cara fasilitator memandu Nice Homework #5 kali ini?

🍀Ketika peserta bertanya, tidak buru-buru menjawab, justru kadang balik bertanya.

🍀Ketika peserta bingung, tidak buru-buru memberikan arah jalan, hanya memberikan clue saja.

🍀Fasilitator banyak diam andaikata tidak ada yang bertanya, karena memberikan ruang berpikir dan kesempatan saling berinteraksi antar peserta.

Itulah salah satu tugas kita sebagai pendidik anak-anak. Tidak buru-buru memberikan jawaban, karena justru hal tersebut mematikan rasa ingin tahu anak.

Membaca sekilas hasil Nice Homework #5 kali ini ada beberapa kategori sbb :
a. Memberikan teori tentang desain pembelajaran
b. Membuat desain pembelajaran untuk diri kita sendiri
c. Menghubungkannya dengan NHW-NHW berikutnya, sehingga tersusunlah road map pembelajaran kita di jurusan ilmu yang kita inginkan.
d. Ada yang menggunakan ketiga hal tersebut di atas untuk membuat desain pembelajaran masing-masing anaknya.

tidak ada BENAR-SALAH dalam mengerjakan Nice homework#5 kali ini, yang ada seberapa besar hal tersebut memicu rasa ingin tahu teman-teman terhadap proses belajar yang sedang anda amati di keluarga.

Semangat belajar ini tidak boleh putus selama misi hidup kita di dunia ini belum selesai. Karena sejatinya belajar adalah proses untuk membaca alam beserta tanda-tandaNya sebagai amunisi kita menjalankan peran sebagai khalifah di muka bumi ini.

Setelah bunda menemukan pola belajar masing-masing, segera fokus dan praktekkan kemampuan tersebut. Setelah itu jangan lupa buka kembali materi awal tentang ADAB mencari ilmu. Karena sejatinya

‘ADAB itu sebelum ILMU’

Belajar ilmu itu mempunyai 3 tingkatan:

1) Barangsiapa yang sampai ke tingkatan pertama, dia akan menjadi seorang yang sombong

Yaitu mereka yang katanya telah mengetahui segala sesuatu, merasa angkuh akan ilmu yang dimiliki. Tak mau menerima nasehat orang lain karena dia telah merasa lebih tinggi. Bahkan dia juga menganggap pendapat orang yang memberikan nasehat kepadanya, disalahkannya. Selalu mau menang sendiri, tidak mau mengalah meskipun pendapat orang lain itu benar dan pendapatnya yang salah. Terkadang mengatakan sudah berpengalaman karena usianya yang lebih lama namun sikapnya masih seperti kekanak-kanakan. Terkadang ada yang berpendidikan tinggi, namun tak mengerti akan ilmu yang dia miliki. Dia malah semakin menyombongkan diri, congkak di hadapan orang banyak. Merasa dia yang paling pintar dan ingin diakui kepintarannya oleh manusia. Hanya nafsu yang diutamakan sehingga emosi tak dapat dikendalikan maka ucapannyapun mengandung kekejian.

2) Barangsiapa yang sampai ke tingkatan kedua, dia akan menjadi seorang yang tawadhu`

tingkatan yang membuat semua orang mencintanya karena pribadinya yang mulia meski telah banyak ilmu yang tersimpan di dalam dadanya, ia tetap merendah hati tiada meninggi. Semakin dia rendah hati, semakin tinggi derajat kemuliaan yang dia peroleh. Sesungguhnya karena ilmu yang banyak itulah yang mampu menjadikannya faham akan hakikat dirinya. Dia tak mudah merendahkan orang lain. Senantiasa santun dan ramah, bijaksana dalam menentukan keputusan suatu perkara. Dia dengan semuanya itu membuatnya semakin dicinta manusia dan insya Allah, Allah pun mencintainya.

3) Barangsiapa yang sampai ke tingkatan ketiga, dia akan merasakan bahwa dia tidak tahu apa-apa (stay foolish, stay hungry)

Tingkatan terakhir adalah yang teristimewa. Selalu merasa dirinya haus ilmu tetap tidak mengetahui apa-apa (stay foolish, stay hungry) meskipun ilmu yang dimilikinya telah memenuhi tiap ruang di dalam dadanya. Karena dia telah mengetahui hakikat ilmu dengan sempurna, semakin jelas di hadapan mata dan hatinya. Semakin banyak pintu dan jendela ilmu yang dibuka, semakin banyak didapati pintu dan jendela ilmu yang belum dibuka. Justru, dia bukan hanya tawadhu`, bahkan lebih mulia dari itu. Dia selalu merasakan tidak tahu apa-apa, mereka bisa tak berdaya di dalamnya lantaran terlalu luasnya ilmu.

Sampai dimanakah posisi kita? Hanya anda yang tahu.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

_Sumber Bacaan_ :

_Hasil Nice Homework #5, Peserta matrikulasi IIP Batch #2,2016_

_Materi Matrikulasi IIPbatch #2, Belajar cara Belajar, 2016_

_Materi Matrikulasi IIP batch #2, Adab Menuntut Ilmu, 2016_

🌸🌸🌸🌸
Tanggapan review
💛 Manda
Terimakasih reviewnya bu Septi…
Betul sekali bu, sya mengalami reaksi seperti yg ibu ceritakan. Bingung – browsing sana sini – bertanya kepada suami – bingung lagi – menyimak sharing teman2 di grup – berusaha fokus ke keunikan sendiri – menuliskan apa yg saya pahami.
Jadilah NHW 5 dengan segala kekurangan ☺☺☺

💛Finny
Teringat sebuah hadits
أربع لا يشبعن من أربع: أرض من مطر وعين من نظر و أنثى من ذكر وعالم من علم
Diantara 4 hal yg tidak pernah “kenyang” dari 4 lainnya poin terakhir adalah ‘seorang yang berilmu akan ilmu’ seorang yang berilmu selalu haus akan ilmu, tidak pernah merasa cukup karena semakin menemukan ilmu semakin menemukan apa yang belum diketahui, wallahua’lam..
#hadits diambil dari kitab mukhtarul hadita

1⃣ Etty
Ibu, afwan klo yg tingkat 3 itu mmg haus ilmu, benar2 merasa msh bodoh. Lalu bgmn dg rasa berbagi / berdakwah ?? Bgmn sikap org2 yg berada di tingkat 3 tsb ??

✳Sikap orang-orang yang berada di tingakatan 3 ini justru semangat berbaginya sangat tinggi, semangat belajarnya sangat tinggi. Karena selalu ingin membagi apa yang dia miliki, dengan harapan ketika membagikannya justru dia akan mendapatkan banyak ilmu lagi, berbasis rasa ingin tahu. akan banyak mendengarkan, tidak banyak menggurui ucapannya mungkin sedikit tapi dalam banget✅

▶ Etty
Spt para shahabiyah dan ulama hadis gitu ya bu. Yg selalu bersemangat mencari ilmu hingga ke penjuru negeri ?
Pijakan utk teladan anak

2⃣ Rinda
Bu, sy sangat senang bisa berbagi ilmu dg yg lain. Tp dsisi lain saya msh miskin ilmu. Kadang mrasa takut krn kurangnya ilmu tetapa “sok” ngajari org lain. Merasa bagai teko kosong tp kepedean mau menuangkan isi… 🙏 bgmn mengatasi dilema ini ya bu?

✳praktekkan ilmu itu mbak rinda, walau masih sedikit, dan sampaikan apa yang sudah kita lakukan walau masih sedikit. Biasanya akan punya ruh untuk menggetarkan hati yang lain.✅

3⃣ Heny
Ibu bagaimana jika ilmu yg didapat trnyata masih dangkal, masih belum luas, belum banyak, dan merasa tidak tahu apa2, tetapi setiap kita mendapat satu ayat, di hayati, lalu karena semangat berbagi, akhirnya menyampaikan nya..masuk ke tingkatan mana ini bu? 😊

✳ada yang terlewat mbak heni, dapat satu ayat, dihayati, DIAMALKAN, dibagi✅
▶Ah iya bu, diamalkan 😍😍

4⃣ Fitrah
Kalau yang tingkatan 1 contoh sikapnya seperti apa ya bu Septi ?

4⃣ilmunya masih sangat sedikit, tapi sok tahu, banyak omong dan kadang tidak berdasar. Kalau debat ya debat kusir.
merasa angkuh akan ilmu yang dimiliki.
Tak mau menerima nasehat orang lain karena dia telah merasa lebih tinggi.
Bahkan dia juga menganggap pendapat orang yang memberikan nasehat kepadanya, disalahkannya.
Selalu mau menang sendiri, tidak mau mengalah meskipun pendapat orang lain itu benar dan pendapatnya yang salah.✅
▶Jazaakillah bu jawabannya..
Berarti kalau ngomong kita harus ada dasar ilmu nya ya bu… Noted📝

5⃣. Yulia
Kalau pengantar utk bicara mslh ilmu kpd org lain, kita lebih baik awalnya mendengarkan dulu atau bercerita bu? Maksudnya pengantar itu memulai pembicaraan bu,kalo kita bicara ttg apa trs bilang ini begini seperti yang disampai kan ibu ini..bpk itu..itu boleh kah bu?
5⃣ Mbak Yulia, kalau pengalaman saya, yang sering saya sampaikan ke ibu-ibu adalah saya membukanya dengan *SATE SUPER* (SAya TEringat SUatu PERistiwa), entah itu seminar, workshop, diskusi, kelas matrikulasi, atau bahkan share pengalaman ketika membaca buku yang ditulis oleh ibu X atau bapak Y.

SATE SUPER ini menunjukkan hal yang valid bahwa kita melakukannya tidak hanya sekedar copas info dari bertebarannya informasi di messenger.

Sedangkan pengalaman kita mempraktekkan ilmu yang kita dapatkan itu akan lebih menguatkan pembicaraan kita, tidak ada yangmenyangkal, karena kita menjalankannya.

Contoh : Saya teringat hal tersebut ketika ikut kelas matrikulasi IIP, di sana bu Septi menuliskan bahwa bla…bla…bla…. Nah pengalaman saya ketika mempraktekkan hal tersebut ternyata bla…bla…bla..✅

6⃣ Nanei
Tidak apakah menunda praktek pd ilmu tsb sampai tiba saatnya dilakukan bu?
6⃣ Mbak nanei, kalau yang paling baik adalah *TIDAK MENUNDA*nya, karena kalau menunda itu biasanya akan cenderung *LUPA* atau *TIDAK PERNAH DIJALANKAN*. Kalau yang kami lakukan berdua dengan pak Dodik, setiap kali selesai dengan aktivitas belajar, entah ikut seminar, workshop atau baca buku, selalu menuliskan di malam harinya menjelang tidur adalah

*_HAL-HAL APA SAJA YANG BAIK_* dari isi belajar kita hari ini, *_YANG BISA KITA KERJAKAN/MEMBUAT KITA BISA BERUBAH MULAI ESOK HARI_*

Hal tersebut membuat kami berdua selalu bisa melakukan perubahan kecil yang dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan dari hasil proses mencari ilmu.

Karena ilmu itu identik dengan amal. Apabila Ilmu sudah banyak tapi amalnya kurang, artinya ada yang salah dengan proses menuntut ilmu kita✅

7⃣. Ismi
apa yang menyebabkan seseorang naik ke tingkat ke dua dan ke tiga? karena sepertinya bukan dr faktor kualitas atau kuantitas ilmu yg diserapnya ya, bu?
7⃣ Mbak Ismi, yang mempengaruhi seseorang naik dari tingkatan ke tingkatan berikutnya adalah *_amalan ilmu_*dan *_asas kebermanfaatan_* ilmu tersebut bagi kerahmatan alam semesta.

Kualitas dan kuantitas ilmu tidak akan berpengaruh banyak apabila “tidak diamalkan” dan “tidak memberikan manfaat” bagi alam semesta.

Karena

*_sejatinya orang yang berilmu akan semakin mendekatkan dirinya kepada sumber ilmu ( DIA yang MAHA berilmu)_*

sehingga dirinya makin merasa tidak ada apa-apanya, senantiasa ingin mencari ilmu terus menerus.

Dan janjiNya pasti

_Aku akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat_

Maka ilmu itu merupakan petunjuk untuk *_meningkatkan keimanan_* dan petunjuk untuk *_beramal_*

Apabila kita selalu menuntut ilmu tetapi dua hal tersebut tidak pernah naik, maka ada yang harus kita perbaiki, entah “kebersihan jiwa dan diri kita dalam menuntut ilmu” atau “keberkahan ilmu itu sendiri”.

Maka

*_ADAB itu sebelum ILMU, dan ILMU sebelum AMAL_* Semoga makin jelas tergambarkan sekarang✅

8⃣ PrimaDona
Dalam mengamalkan ilmu, biasanya saya kendor di ilmu lama ketika ada ilmu baru yang menguras fokus. Bagaimana ya Bu Septi meng akal inya, biar ilmu lama ttp konsist, dan ilmu yg masih di pelajari ttp bisa fokus?
8⃣ Mbak Prima, caranya jangan ditumpuk terus menerus, segera catat hal-hal baik apa yang bisa kita lakukan saat selesai menuntut ilmu tersebut.

*Just DO it*

kalau hati kecil mbak mengatakan ini bagus, nggak perlu banyak mikir.

*_Lakukanlah walau belum paham, karena Allahlah yang akan memahamkan kita lewat laku kehidupan_*

Sehingga ilmu baru itu akan menguatkan ilmu lama kita. ✅

9⃣ Dee kusumawardhani
Bagaimana kalau ternata saya juga belajar beberapa materi sekaligus? misalnya ada yang tidak sesuai milestone?
9⃣ Mbak Dee, tidak ada salahnya mempelajari beberapa ilmu sekaligus, selama mbak Dee sudah memiliki jurusan ilmu dasar yang akan diambil. Sehingga ilmu-ilmu lain itu sebagai referensi penguat ilmu yang sedang menjadi menu belajar utama kita. kalau dulu saat kuliah kan kita bebas mengambil mata kuliah pilihan yang kadang berseberangan dengan jurusan ilmu yang kita ambil.

kalau saya hal tersebut saya tujukan untuk _benchmarking_,

Apa itu bencmarking? Saya kutipkan sebentar ya, Benchmarking adalah suatu proses mengidentifikasikan “praktek terbaik” terhadap dua produk dan proses produksinya hingga produk tersebut dikirimkan.

Benchmarking memberikan wawasan yang diperlukan untuk membantu manajemen dalam memahami proses dan produknya baik dengan cara membandingkannya dengan Industri yang serupa maupun dengan Industri yang berbeda. Benchmarking dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan Tolok Ukur atau Patokan.

Tujuan utama dari Benchmarking adalah untuk memahami dan mengevaluasi proses ataupun produk saat ini sehingga menemukan cara atau “Praktek Terbaik” untuk meningkatkan proses maupun kualitas produk. Benchmarking dapat dilakukan untuk proses produksi, produk, jasa maupun sistem dalam suatu organisasi.

_sumber : http://ilmumanajemenindustri.com/pengertian-benchmarking-tolok-ukur-jenisnya/_

kalau kita telusuri lebih lanjut benchmarking ini ada di manajemen industri bukan di manajemen pendidikan. maka saya mempelajarinya untuk menguatkan ilmu yang sudah saya tekuni.

Contoh:
saya belajar tentang ilmu baru tentang 5 S yang sudah dijalankan di beberapa “pabrik di jepang” maka saya sedang melakukan proses benchmarking, untuk mempolakan hal tersebut di jurusan ilmu yang sedang saya tekuni yaitu ilmu tentang kerumahtanggaan, maka muncullah pola baru “Manajemen Mengelola Rumah Tangga: Menata Rumah dengan konsep 5 R”✅

1⃣0⃣ Sharing antara mbak Prima dan mbak Noni

*Prima* Yang di maksud menambah jam terbang itu menambah ilmu sekaligus prakteknya kan?
*Noni* Iyaa mba prima jam terbang itu prakteknya…
Aplikasi dari teori…
Contoh pilot pesawat terbang…selama di bangku sekolah pilot ia merupakan teorinya… Tapi ketika si pilot membawa pesawat terbang secara langsung itulah jam terbang… Berama lama ia membawa pesawat dari jakarta ke surabaya itu nilai jam terbangnya… Daann terua bertambah seiring si pilot terus membawa pesawat ke segala penjuru mengantarkan penumpang… Makin sering bawa pesawat… Makin banyak jam terbangnya…
Iyaa mba kalo ga oernah bawa pesawat terbang beneran… Belum bisa di bilang jam terbang… Kalo cuma pake pesawat simulator mah masih teori
Karna akan berbeda ketika membawa pesawat simulator dengan membawa pesawat beneran…

Nanti akan ketemu sama yang namanya ujian yang ada di teori… Misal teori ketika terbang membawa pesawat dan pesawat menabrak seekor burung..ada panduannya dalam buku penerbangan… Tapi pada kenyataannya ketika di atas langit pesawat menabrak burung… Belum tentu teori di buku “kepake” semua… Adakala si pilot menemukan solusinya langsung yg tidak ada di panduan penerbangan…

*Prima* Hehe, oh iya yaaa. Siappp. Jd proses ngelmuny tdk bisa di masukkan ke jam terbang mbak?
*Noni* Proses ngelmu bisa jadi jam terbang ketika di hadapkan dengan situasi aslinya…

Pilot masih sekolah pilot bum lulus tapi dia membeli jam terbang dengan menerbangkan pesawat secara langsung meski tidak berpenumpang itu di anggap jam terbang…
Ngelmu yang bisa jadi jam terbang…

Contoh lain… Guru…
Ketika sang guru mempraktekkan ilmu keguruannya meski bukan dalam mengajar di sebuah sekolah resmi… Maka bisa jadi mengajar di tempat “tidak resmi” menjadi bgelmu yang punya jam terbang

1⃣0⃣ Saya review Sharing session ya : Mbak Prima dan Mbak Noni, terima kasih sudah membuka dialog sharing session dengan sangat menarik tentang jam terbang. Analog mbak Noni benar, jadi jam terbang itu identik dengan praktek. apabila menumpuk ilmu saja tanpa mempraktekkannnya maka tidak bisa disebut sebagai jam terbang.

Saya kutipkan tulisan Malcom Gladwel dalam bukunya “outliers”:

_The Beatles ended up traveling to Hamburg five times between 1960 and the end of 1962. On the first trip, they played 106 nights, five or more hours a night. On their second trip, they played 92 times. On their third trip, they played 48 times, for a total of 172 hours on stage. The last two Hamburg gigs, in November and December of 1962, involved another 90 hours of performing. All told, they performed for 270 nights in just over a year and a half. By the time they had their first burst of success in 1964, in fact, they had performed live an estimated twelve hundred times_

Lihatlah bagaimana the Beatles berjuang dari bawah. Bayangkan 270 kali manggung dalam satu setengah tahun.

Dengan melihat kasus the beatles tsb, kitq belajar pola benchmarking skrg.

Sudah berapa tahun bunda menjalankan peran menjadi ibu? menjadi guru? menjadi bankers? dll, mengapa kita tidak menjadi ahli di dalamnya? jangan -jangan selama ini kita hanya _sekedar menjalankan peran itu saja_ sehingga kompetensi kita tidak naik

yang lebih parah lagi jangan-jangan selama ini kita hanya mengulang

_kemampuan/hal yang sama terus menerus selama 10.000 jam_

sehingga kita hari ini dengan kita 4 tahun yang lalu tidaklah banyak berbeda.✅

1⃣1⃣. Melly
Apabila kita merasakan ingin tahu tentang suatu ilmu dan setelah tahu, seringkali menimbulkan pertanyaan baru merasa tidak puas, itu gejala apa ya bu?
Kadang saya suka malu kalo di majelis ilmu. Maksud hati ingin mengajukan hanya 1 pertanyaan, setelah dijawab pertanyaan jadi beranak pinak. Dan karena malu khawatir yang lain tidak kebagian akhirnya terpaksa di anggap puas. 😬
Apa saya termasuk orang yang ora mudeng terus ya bu? 🙈🙈
1⃣1⃣Mbak Melly, itu tandanya *_Intellectual Curiosity_*kita sedang berjalan dengan baik. kalau di forum perlu berhati-hati, karena antara *_bertanya_* dan *_mempertanyakan_* itu akan berdampak respon yang berbeda. Maka sebaiknya kalau sudah bertanya satu hal di forum dan belum puas, tanyakan kembali di balik forum, saat forum selesai segera temui pembicara untuk diskusi 4 mata. Hal ini akan lebih menjaga adab.✅

1⃣2⃣ Etty Sulsel. Road map itu = milestone gitu ya ?

Support system yg sy tangkap pedoman ilmu tsb tdk melenceng dg Al Quran dan hadis, berarti harus selalu berguru/bertanya pd ulama ttg ilmu yg dipelajari. Betul begitu bu ?

Exit procedure artinya kita hrs membuat alternatif lain ?
1⃣2⃣ Mbak Etty, kita kilas balik NHW-NHW sebelumnya yuk

di saat Nhw #1 saya meminta teman-teman jurusan apa yang akan diambil di universitas kehidupan ini, ini adalah proses yang bernama

*_START FROM THE FINISH LINE_*

Nanti saat memandu anak-anak juga ditanyakan hal tersebut.

Kemudian di tahap berikutnya mau berapa lama ditempuhnya? maka kita menentukan *_milestone_* berapa lama durasi waktu yang akan kita tempuh? kecepatan kita dalam melangkah, hingga apa saja tahapan yang perlu kita lalui.

Setelah milestone jadi, supaya menunjang kelancaran proses belajar, kita sebaiknya memiliki *_support system_*yang memadai. Misal perlu bergabung dengan komunitas, perlu mencari sang ahli untuk berdiskusi, perlu mencari tools/alat penunjang belajar untuk hal tersebut. Perlu suami untuk saling mengingatkan dsb.

*_Exit Procedure_* adalah bagian dari system yang harus kita ketahui sebelum memasuki sebuah system. Sebelum masuk kita harus tahu cara keluarnya. Kalau dalam pembelajaran. Misal di tengah jalan ternyata kita ingin pindah haluan, maka kita akan tahu tahap-tahapananya apa saja? kemudian apa resiko yang akan kita hadapi?

Contoh : di kelas matrikulasi IIP ini,
START from THE FINISH LINEnya,
para peserta akan memahami dan bisa memaknai ilmu-ilmu dasar apa saja yang diperlukan dalam pembelajaran di IIP

MILESTONE
Mulai dari prolog tentang adab – bunda shaleha.

SUPPORT SYSTEM
Smartphone yang ada aplikasi WA
Jaringan internet yang memadai
Fasilitator
materi dan NHW
Referensi buku
Waktu dan komitmen

EXIT PROCEDURE
Andaikata saya ditengah-tengah akan keluar dari program matrikulasi ini maka :
Ijin ke ketua kelas dan Fasilitator
menyampaikan alasan
mengulang kembali matrikulasi Batch #3
mengisi form remidial matrikulasi.

resiko:
Waktu belajar lebih lama
Teman-teman satu angkatan sudah melaju ke tahap kelas berikutnya

Serangkaian point-point itulah yang disebut *_ROAD MAP_* pembelajran kita.

Seperti Nahkoda yang akan berlayar, bentangkan peta, siapkan kompas dan tentukan arah, kalau salah arah, silakan berbalik sesuai exit procedure yang sudah kita tentukan.

Contoh yg lebih ekstrem lagi yg kami lakukan berdua sbg fasilitator Homeeducator anak2 kami adalah sbb :

kalau kita (ortu) meninggal saat anak-anak masih pre aqil baligh, siapa yang akan menangani pola pendidikan anak-anak selanjutnya?

Action plan : harus kita didik orang-orang yang akan memegang tongkat estafet pendidikan anak-anak kita mulai dari sekarang.

Kalau dulu kami berdua menyiapkannya sejak awal. Sehingga anak-anak tidak panik, siap dengan segala kondisi yang mereka hadapi, krn anak2 skrg sdh aqil baligh semua, maka kami mengompori teman-teman yg melakukan HE/HS untuk membuat komunitas CBE, shg exit procedure akan lebih mudah, krn anak-anak memiliki banyak ibu dan bapak ideologis yang memiliki visi yang sama✅

1⃣3⃣ Dwi Indah

Ibu Septi menanggapi pertanyaan mbak Heni : *ada yang terlewat mbak Heni, dapat satu ayat, dihayati, DIAMALKAN, dibagi*

Yg dimaksud Ibu Septi membagi ilmu itu seperti apa? Apa artinya harus menjadi pembicara di sebuah forum? Ataukah ada cara lain? Atau bagaimana?
1⃣3⃣ Mbak Dwi, berbagi ilmu tdk harus di forum mbak, dengan satu orang suami kita saja, atau adik kita saja, itu namanya juga sdh berbagi.

Apalagi di jaman digital ini dengan cara menulis di blog atau update status juga sudah berbagi ilmu.

Maka harus kuat adabnya baik sharing ilmu offline maupun online,

Karena walau hanya bisa share satu hal saja. Dilandasi adab yg benar, akan menjadi amalan yg berkualitas✅

1⃣4⃣ *Sharing antar peserta*

👱‍♀ Chika krachma
7. bagaimana cara mengenalkan kembali “belajar” itu asyik.. misalkan anak sudah mempunyai pengalaman “belajar” itu tidak menyenangkan dan Apakah ada kata ganti utk belajar?

👩🏼 Noni
Hihihi bermain mba chika…Kata ganti belajar

👱‍♀ Chika krachma
Kl misal utk anak yg uda gedean yg uda bs ngerti beda main dan belajar?🤔

👸 Fitrah
Iya mba chika bener anak saya juga sepertinya sangat menghindari kata “belajar.” saya pernah mengalami.. Waktu itu kegiatan workshop membuat gambar animasi,sy jd teringat sebelumnya anak sy sering bilang mah aq pengen bgt bisa bikin film kartun, saya ajak anak saya yg berumur 7 tahun, kak mau ikutan bikin kartun ga sama temen mama acara nya hari sabtu depan… Anak sy lsg jawab mau, sy lsg daftar tuh acara workshop itu. Nah pada saat hari H nya tiba pagi hari saya bangunkan anak saya, “kak bangun, katanya mau ikut belajar gambar animasi”
Anak sy jawab : “lho kok belajar sih?” “aq ga mau mah klo belajar”
Saya terus berusaha jelaskan memberi pemahaman kegiatan nya itu nti bikin kartun yg bisa bergerak dan lain sebagainya…sampai panjang lebar.. Tapi anak tetap bilang ga mau deh mah.
Lho saya jadi bingung.. Dan mikirin..
Knp ya.. Apa ada yg salah dengan kata belajar?

👩🏼 Noni
Iyaa mba fitrah karna kebanyakan anak2 belajar seperti di sekolah itu membosankan dan ga manarik… Karna anak di paksa bisa…
Saya aja dulu juga ga suka sekolah… Kalo dulu boleh milih saya milih ga sekolah…😊 lebih baik ikut kakek saya memahat ukiran kayu…

👧 Tri Putri
Mbak Noni,
Ada yg berpendapat belajar sambil bermain tidak tepat. Karena para sahabat belajar dg keseriusan, dan salah satu adab belajar adalah serius.

Tepat g kalau kita ganti jd bermain?

Kebetulan beberapa hari mikirin ini, saya mah gpp dg konsep fub learning selama sesuai masanya.. toh dg bermain pun buka. Berarti kita menjatuhkan adab² menuntut ilmu

👩🏼 Noni
Karna kita konotasinya belajar itu membaca buku… Belajar itu duduk manis… Belajar itu seperti cara konvensional di sekolah…
Padahal…
Dalam bermain ada ilmu dan pengetahuan…

Contoh… Misal kita mau ajak anak untuk belajar tema tentang ikan…
Bisa ajak anak wisata memancing sambil memancing bangkitkan rasa ingin tahunya..bahwa memancing itu kita belajar ttg rezeqi Allah yang mengatur… Karna setiap orang yang memancing hasilnya ga selalu sama…bahkan ada yg ga dapet ikan… Memancing ikan belajar sabar menunggu dengan tekhnik mancing kan ga boleh kail di goyang2 di mainin dsb, memancing jadi tahu jenis ikan apa aja yang ada di tambak air tawar atau ikan yang ada di bagan pinggir laut… Jadi tahu bahwa beda henis ikan maka beda perawatan dan pengelolan tambak/bagan ikannya… Dan sebagainya…
Atau pergi wisata ke ragunan sepanjang perjalanan itu banyak juga ilmu dan pengetahuan… Dari tentang rambu2 lalu lintas… Jenis2 mobil yang ada… Sampai bangunan2 yang kita lewatin merupakan ilmu pengetahuan…
Utamanya seperti bu Septi bilang… Bangkitkan rasa ingin tahunya…

👧Tri Putri
https://ourlittlenotes.wordpress.com/2016/10/29/belajar-sambil-bermain-haruskah/

👩🏼 Noni
Saya lebih suka Bermain sambil belajar…
Bukan kebalikannya
Belajar sambil bermain…
Nabi ngajarin anak kecil sepengetahuan saya dengan bermain…
Nabi ajak anak2 bermain, berkisah mengendong, lomba lari, dikebun kurma
Sambil bermain ada keseriusan belajar
Karna kan ini untuk anak2 yaa… Kalo anak yang sudah aqil baligh tentu metode belajarnya sudah bukan bermain lagi
Karna anak yang sudah aqil baligh sudah memikul tanggung jawab pribadi keluarha serta sosial… Maka tidak bisa main2
Kalo buat anak2 yang belum aqil baligh saya rasa bermain sambil belajar cara yang cukup cerdas yaa… Di sini kan kita membangkitkan minat belajarnya kelak ketika sudah aqil baligh anak ganperlu lagi di suruh belajar tapi anak akan mencari tahu sendiri karna kebutuhan dan keingintahuannya…
Nabi pun mengajarkan para sahabat dan keluarganya yang sudah aqil baligh dengan cara yang berbeda bukan dengan bermain lagi… Tapi lebih di fokuskan kepada minat dan bakatnya sahabat…
Contoh… Ada sahabat nabi… Afwan..saya lupa nih namanya…
(Zaid bin Tsabit)
Ketika terjadi suatu perang dan nabi serta kaum muslimin hendak berjihad ada seorang ibu yang mendatangi Rasulullah Saw karna si anak meminta ikut berjihad.. Tapi aama nabi ga dikabulkan…karna nabi melihat potensi yang lain…yaitu ia cerdas dalam menghafal wahyu… Maka nabi memerintahkan anak tersebut untuk menhafal dan di kemudian hari beliaulah sahabat Rasul yang mengumpulkan potongan2 wahyu menjadi alquran yang utuh…

1⃣4⃣ Mbak Chika, apabila anak-anak sudah ada traumatik dengan kata “belajar” sebaiknya memang tidak dipakai kata itu lagi. ubahlah dengan kata lain misalkan

Daripada

” _yuk nak kita belajar aritmatika_ ”

akan lebih nyaman buat anak kalau kita ganti dengan

” _Yuk nak kita bermain angka dan bilangan_ ”

Ada yang sepaham bahwa anak-anak itu belajar melalui bermain dan ada yang tidak sepaham. Tidak perlu diributkan, karena itu urusan kita dana anak-anak. Selama pola yang kita pakai tidak berseberangan dengan *_Core Values_* keluarga yang sudah kita tentukan, maka tidak perlu lihat pola tetangga sebelah, yang mungkin cocok dengan “core values” keluarga mereka.

Permasalahannya sekarang, sudahkan anda memiliki “core values” keluarga?✅

1⃣5⃣ Karina
Alhamdulillah jazakillah khairan katsira Bu Septi… Baarakallahu fiik..
Apa benar kalo laki-laki lebih suka konsep bermain dalam hal belajar dan perempuan lebih suka dengan bercerita dalam belajar.. ? (Hasil obrolan dengan suami)
Bagaimana pengalaman ibu mendidik anak-anak ibu berkaitan dengan pertanyaan saya😊
1⃣5⃣ Mbak karina, curious banget ya dg perbedaan gender, kalau saya dan p dodik tidak terlalu mempermasalahkan gender di fitrah belajarnya. Hanya urusan fitrah seksualitas saja yg kami tekankan, bahwa anak laki akan jadi imam kel. Dan anak perempuan akan menjadi ibu manajer keluarga. ✅
▶ Efek kemarin melihat video perbedaan otak laki-laki dan perempuan😁😊
Jadi sempat kepikiran aja gitu Bu.. He he😊. Kebetulan anak anak saya laki-laki dan perempuan.. Dan ternyata sedikit berbeda dengan pemaparan dr. Aisha Dahlan..
Anak laki-laki cenderung perasaaaaa dan harus dilatih keberanian nya..
Dan adiknya yang perempuan lebih berani, dan
Lebih merasa tertantang bila ada hal hal baru..😎
Link‬: https://youtu.be/cJgoGmRL5vs

1⃣6⃣ Arma
Saya bertanya ya bu..

Bunda septi, bagaimana jika kita dihadapkan dalam sebuah ujian.
Diberi anugerah sakit berat, sementara disisi lain juga tetap ingin belajar, mengupdate dan upgrade diri, agar jam terbang 10.000km bs tercapai.

Proses belajar menjadi sedikit terhambat dan kurang optimal, krn prioritas saat ini proses pengobatan.
Dalam proses pengobatan dan segala usaha utk kesembuhan, selalu muncul keinginan utk tetap belajar.
Sementara proses pengobatan ini seolah berpacu dengan waktu..

Bgmana agar bisa seimbang?
Mohon pencerahannya bu.
Mohon maaf juga jadinya mengalirkan rasa..
1⃣6⃣ Mbak Arma, Allah itu memberikan kita ujian bisa dalam bentuk kesenangan bisa juga sebaliknya dalam bentuk sakit.

Sehingga inilah titik kita untuk belajar menerima segala karunia yg DIA berikan, walau dalam bentuk sakit.

Pakai prinsip
One bite at a time

Selesaikan satu urusan demi satu urusan. Jangan ditumpuk2,

Mungkin Allah berkehendak unt menguatkan kita agar tahan menjalankan misi berikutnya lewat sakit kita.

Maka bersabarlah, mungkin rahmat Allah sdh hampir dekat dg kita menerima sakit ini.

Yang kuat yg mbak arma✅

1⃣7⃣ Arin
Pertanyaan saya hampir mirip bu,

Apakah laki-laki harus diasah lebih ke motorik kasar ? Sedang perempuan lebih diarahkan ke kegiatan tipe motorik halus ?!
1⃣7⃣Tidak harus, enes itu suka menjahit San memasak ternyata jago juga dalam setir mobil dan membetulkan kerusakan di rumah.

Ara mahir setir mobil dan strategi jago juga urusan pernak pernik menata rumah.

Elan jago main sepeda, mahir juga di urusan masak.

Itu yg saya latihkan ke mereka.

Elan harus belajar urusan pekerjaan rumah, pesan saya agar kelak ia mau menghargai bahwa istri adalah partner hidup, bukan perempuan yg diminta unt mengerjakan semua kebutihan pribadinya, maka muliakan istrimu✅

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s