Bring Your Kids To Work Day by Bu Sarra Risman

Melibatkan anak dalam seluruh aktifitas anda sehari2 itu semi-wajib, apakah itu dalam kegiatan sehari2 (seperti mencuci piring sndiri, merapihkan tempat tdr), ibadah (dari yang wajib sampai yg sunnah) berbicara, berpakaian, dan lain sebagainya, ataupun hal-hal yg tdk bisa anda libatkan setiap harinya.

Salah satu cara unik yang baru saja akhir2 ini saya lakukan adalah melibatkan anak2 untuk..ikut bekerja dengan ayah. Jaman saya sekolah dulu, ada hari yang namanya ‘bring-your-kids-to-work day’. Itu adalah hari dimana (teman2 yg pernah tinggal di luar jg pasti pada tahu) anak2 boleh bolos dan ikut ke ‘kantor’ ibu dan ayahnya seharian. Dan semua kantor2 dan perusahaan2 jg sdh di informasikan bahwa hari tersebut akan banyak anak2 yang akan ikut ayah dan ibunya ke kantor. Mulai dari CEO perusahaan ternama sampai tukang cuci kamar mandi sekolah. Apa yang dilakukan anak? melakukan apa yang ayah/ibunya lakukan sepanjang hari. yang dokter ya bantu periksa pasien, yang tentara ya latihan menembak mungkin, yang pembersih wc ya ikut membersihkan wc, dan seterusnya.. sepanjang hari.

Apa yang di pelajari anak dari proses ini?

1. Hidup itu susah.

Uang tdk turun dari langit hanya dengan ongkang-ongkang kaki. Yang ayahnya direktur ya harus rapat pakai otak, memanage bawahannya yg mungkin ribuan, menangani masalah yang berat-berat, presentasi dan menjalin kerjasama dengan perusahaan lain. Dr situ anak belajar strategic planning, problem solving, keberanian utk tampil di dpn org dan negosiasi. Yang ayahnya tukang sampah tahu bahwa ayahnya membanting tulang, bergumul dengan buangan orang lain, dengan tenaga, menahan bau, sepanjang hari, lebih dari 300 hari setahun, selama..berapa..30th?? Dari situ anak belajar kebersihan, daur ulang, dan adversitas. belum yang ayahnya tentara, ibunya waitress di restoran, ayahnya pilot dan ibunya dokter, bayangkan betapa banyak yg bisa anak pelajari?

2. Malas bukan pilihan.

yang ibunya guru, anaknya bs lihat ibunya berdiri di depan kelas berjam-jam, mengoreksi soal setelah murid-murid pulang dan menyiapkan utk pelajaran esok hari. Yang ibunya buka catering, anak bs lihat bahwa tangan ibu yang luka-luka itu karena tangannya terpotong pisau dan terpercik minyak panas. Dan setelah memasak, ibu msh harus menaruh makanan tsb ke tempat2nya, dan mengantarnya ke masing2 pelanggan. Utk bisa hidup, orang harus bekerja. Ada proses yang harus dilalui, dan malas bukan pilihan.

3. Syukur.

Ini konsep abstrak yang paling penting. karena selama ini konsep ini umumnya tdk di miliki anak2. Mereka tidur di ruangan ber-ac. Gk tahu-menahu yang beli ac pake keringet siapa, yang bayar listrik ac tersebut pake lelahnya siapa. Bangun, makan pagi, tau-tau nya sdh tersedia semua diatas meja. Yang bayar roti, nasi, dan gas yang memasaknya, terima jadi. Sekolah di tempat yang terbaik yang orgtuanya bisa bayar (yg kdg sebetulnya gk bisa bayar, cm krn anaknya minta disitu, di paksa2in bisa). Di antar jemput, yang bayar bensin jg gk perduli siapa. Pulang, main tab, mandi, makan lagi, semua dilakukan tanpa rasa syukur. Mereka pikir hidup enak amat, krn hidup itu enak bagi mereka. Mereka tahu bapak (dan ibunya) kerja, tp mereka tidak tahu sekeras apa bapak harus bekerja utk hidup mereka yang enak itu

Dulu, di hari ‘bring-your-kids-to-work day’, krn ayah saya tdk bekerja krn beliau sedang mengejar pendidikan s3nya, saya jadi ikut ibu saya yang kadang menjadi babysitter dr hampir 10 anak2 dari bayi 2 minggu sampai anak kelas 3SD, atau menjadi ‘pembantu pulang-pergi’ dari seorang super kaya yg ada di kota kami itu. Jadi saya ikut menjaga anak2, menceboki dan menyuapi anak-anak itu dan membantu motong2 bahan makanan sambil ibu saya mempersiapkan makan malam utk org kaya tapi baik hati. Luar biasa apa yang saya bisa pelajari dari pengalaman tersebut yang menjadikan saya orang seperti saya sekarang ini.

Berbekal pengalaman itu namun karena saya belum di kasih kesempatan oleh Allah untuk membesarkan anak-anak saya di luar negri, saya harus cari jalan agar anak-anak saya memiliki pengalaman yang sama. Tapi karena kantor suami saya super ketat pengamanannya, jadi saya pikir kami hanya akan bisa sampai kedepan gedungnya saja.

Hampir setiap hari ayahnya bercerita tentang betapa penuhnya kereta api disaat dia pulang dan pergi bekerja. Saya pikir, “haa…! Anak2 harus tahu bagaimana perjuangan ayahnya stiap hari”. So pergilah kami ke stasiun sudimara suatu pagi pas liburan tengah semester kemarin. Malamnya sdh saya jelaskan apa yang akan kita lakukan esok hari dan kenapa. Sesampainya di peron, saya menjelaskan lagi apa yg akan kita hadapi. Sepasang suami istri yang mendengarkan penjelasan saya kepada anak saya, senyum2 sendiri, mgkn saking anehnya ‘kejadian’ ini. Awal masuk kereta saja, sdh luarbiasa penuhnya, tp lumayanlah, masih bisa bernafas. Si kecil yg berusia 2th digendong ayahnya, yg sulung usia 6.5, bersama saya. Dari 1 stasiun ke stasiun lainnya smakin padat dan akhirnya anak saya, yg sebtulnya persis di dpn saya,sampai tdk tampak saking tenggelamnya di arus org2 dewasa yg sdh tdk manusiawi itu. Orang2 yg di sekitar kami sdh berteriak2 mengatakan “ada anak kecil,jangan dorong’, tapi arus yang masuk mana perduli kan?

Tadinya saya berpikir bisa membuat ‘pagar tangan’ utk melindungi anak saya dr gencetan manusia, ternyata bayangan saya tentang ‘penuh’nya kereta spt yg suami saya ceritakan, berbeda dg kenyataannya. Mau saya gendong, tdk bisa jg, krn slain anak saya pastinya sdh sangat berat, keadaan sdh tdk memungkinkan. Akhirnya 2 org bapak2 berbaik hati berdiri dari kursinya dan memberikan kami duduk. Ayah menyodorkan si kecil utk ikut duduk dan lama2 tdk tampak lg oleh kami, terdesak entah kemana diantara kerumunan banyaknya manusia.

Lima stasiun setelah itu, di tujuan akhir tanah abang, akhirnya semuanya keluar dan kami kembali bertemu dengan ayah. Rencana awalnya kita jg mau ikut sm ayahnya naik angkot, (biar anak2 tahu bahwa ‘penderitaan’ ayahnya belum berakhir di tanah abang), cm melihat keadaan anak-anak, saya rasa itu sdh tdk bijak. Akhirnya kami memutuskan utk pulang dan say bye2 sm ayah yg akan meneruskan ‘perjalanan jihad’nya.

Perjalanan pulang jauh lbih lapang. Sesampainya di rmh, dan semuanya telah cukup beristirahat, saya bilang sm anak saya yg sulung bahwa yg kita lewati itu baru “satu step dari perjalanan yg biasanya ayah tempuh dan lihat bagaimana susahnya. Ayah begitu setiaapppp hari nak, 5x seminggu, bertahun-tahun-tahun. Banyak step yg kita tdk jalani yg biasa ayah lewati. Jalan dr rmh smp depan komplek, naik angkot ke sudimara, ngelewatin sesak spt td, naik angkot lagi smp ke kantornya. Di kantor kerja smp jm 5. Pulang melalui proses yg sama. Hidup itu nak ..susah. Uang tdk jatuh dr langit, hrs pake usaha,keringat dan nggak pake malas”, saya bilang.

Bensin, sekolah, ac, listrik, makanan dan kenikmatan2 lain yg kamu nikmati, semua krn ayah melewati proses itu. Setiap hari. 5x seminggu. Bertahun-tahun-tahun. Jadi kita kita harus bersyukur. Bersyukur sama allah sdh memberikan ayah pekerjaan. Dan berterima kasih sm ayah yang mau melakukan itu utk kita, biar kita bisa makan, sekolah dan hidup enak.

Tentunya kata-kata saya sdh tidak perlu lagi, karena dia sudah melewati sndiri prosesnya. Dia tahu betul bagaimana dia kegencet begitu rupa. Sekarang, mrk jd jauh lbh menghargai ayahnya. Kalau ayah pulang, di ksh air minum dan lain sebagainya.

Saya tahu, jutaan ayah lain mgkn bekerja lebih keras, tp utk anak saya, itu sdh cukup ‘keras’ dibanding kehidupannya yg nyaman setiap hari.

Saya berencana melakukan ini setiap kali liburan tiba, apalagi anak saya kedua-duanya laki2. Proses ini sekalian memberikan gambaran bahwa laki-laki harus bekerja, utk istri dan anaknya. Semoga proses ngantor (dan kehidupan) mereka kelak jauh lebih nyaman dr ayahnya. Tp konsep konsep yg mereka pelajari dr proses ini tetap saya anggap penting utk menjadikan mereka laki-laki dewasa yang baik dan bertanggung jawab.

Saya sangat berharap suatu hari pemerintah Indonesia menggalakkan program yg sama. Karena saya lihat proses ini banyak manfaatnya. Tapi jangan tunggu pemerintah, go ahead .. and bring your kids to work!

#sarrarisman

*jika di rasa manfaat, tdk perlu izin utk membagikan artikel ini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s