How to Start a Book : A Peek Inside One’s Writer Process

KulWapp RB Menulis IIP bersama Dewi “Dee” Lestari (Penulis Mega Best Seller : Supernova)

Jum’at, 25 Nov 2016
Pk.11.00
Host: mbak Fita
Cohost: mbak Fitri Restiana

•• How to Start a Book : A Peek Inside One’s Writer Process •••


1. Apa yg mb dee lakukan pertama kali sblm menulis cerita/buku? Memikirkan alur, klimaks, ending terlebih dahulu atau langsung menulis ide cerita yg kita mau, yang lain dipikir sambil jalan?

1. Tahap pertama biasanya berurusan dengan ide: tema, bayangan konflik, bayangan karakter dan segala sifatnya, bayangan ending, bayangan twist, dll. Jadi lebih ke proses membayangkan hingga saya merasa ide tersebut cukup matang untuk dieksekusi. Riset juga biasanya sudah berjalan di tahap ini, karena bayangan2 tsb bisa semakin jelas dengan bertambahnya informasi yang kita miliki ttg topik yg ingin kita tulis. Tahap berikutnya adalah teknis. Saya menentukan perkiraan volume cerita (sesuai dg materi yg sudah saya kumpulkan dan bayangkan), setelah itu saya hitung target hariannya, hingga saya menemukan tanggal deadline kapan cerita itu selesai. Setelah deadline saya kunci, barulah saya memulai menulis.

2. Tips menjaga konsistensi karakter dlm sebuah cerita?

2. Kita harus benar-benar memahami karakter kita. Karakter yang berhasil adalah karakter yang mampu terlihat alami menggerakkan cerita, membuat pembaca lupa bahwa cerita itu “disusun” oleh penulis. Untuk itu semua yang tokoh fiktif kita lakukan, pikirkan, dan rasakan, harus sejalan dengan sifat, karakteristik, maupun kepentingannya. Butuh ketelitian dan juga jam terbang untuk bisa peka akan konsistensi karakter.

2a. Karakter yang baik juga adalah karakter yang unik. Mereka harus tampil ibarat warna-warna yang berbeda di sebuah kanvas. Jadi kita harus memikirkan keunikan tiap karakter, meski itu karakter numpang lewat sekalipun. Harus ada cirinya, entah itu dari fisik, gaya bicara, pilihan kata-kata, dsb. Apalagi kalau kita membuat cerita dengan jumlah karakter yang banyak. Jangan sampai semua karakter kita terdengar sama. Warna-warna itu harus kontras agar “lukisan” kita jelas.

3. Adakah aturan tertentu agar tulisan layak jadi sebuah buku?

3. Karena saya mengawali karier kepenulisan saya lewat self-publishing, saya nggak gitu punya pengalaman cukup untuk menembus penerbit. Kalau saat ini, karena penerbit sudah tahu karakter tulisan saya seperti apa, jadi saya nggak harus lagi memperjuangkan tulisan saya supaya nembus redaksi. Yang saya tahu, penerbit akan sangat menghargai tulisan yang rapi, minim typo dan kesalahan EYD. Kedua, cerita kita harus memikat sejak awal. Kalau novel mungkin sekitar 10 halaman pertama sudah harus bisa mengikat pembaca. Bayangkan, seorang redaktur harus membaca sekian banyak naskah per harinya, agar efisien tentu dia tidak akan menghabiskan waktu untuk membaca naskah hingga keseluruhan dengan detail. Jadi 10-15 halaman pertama sangatlah menentukan.

4. Apa kesulitan terbesar mba dee dalam menulis buku?

4. Kesulitan terbesar biasanya adalah komitmen waktu. Menulis itu bagian terbesarnya bukan ide, menurut saya. Melainkan stamina untuk mengeksekusi ide tsb. Dan menulis buku membutuhkan waktu yang panjang. Kadang kecepatan punya ide baru tidak seimbang dengan komitmen waktu yang bisa saya kasih. Kecepatan menulis saya rata2 1,5 tahun per buku. Jadi sampai hari ini banyak sekali ide2 yang mengantre untuk dieksekusi. Sekalinya saya berkomitmen kepada satu project, saya nggak bisa lagi menyambi dengan yang lain-lain. So, it’s all about time and time management.

5. Gimana cara menanggulangi jika tetiba ada ide baru di pertengahan penulisan? Apakah rombak cerita, abaikan, atau disimpan untuk naskah selanjutnya?

5. Tergantung ide baru itu masih sejalan dengan cerita yang kita sedang bikin (memperkaya) atau sama sekali lain. Karena itu saya selalu menyarankan kita membuat semacam outline (kasar juga nggak apa2, minimal ada pegangan) dari ide cerita kita. Menyusunnya dalam struktur drama 3 babak (3 Act Structure — ini pedoman yang sangat umum, bisa di-google). Kalau ada ide baru, yang mana hal ini nggak bisa dihindarkan dalam berproses kreatif, ya kita bisa cek struktur kita, bisa dimasukkan atau tidak. Kalau ide tsb adalah untuk cerita yang sama sekali lain, tuliskan saja agar konkret, lalu simpan. Biasanya letupan ide yang tahapnya cuma lewat di kepala begitu ditulis akan terlihat sendiri “muka asli”-nya. Kadang kita merasa terdistraksi, atau merasa ide baru itu lebih hebat, padahal kalau ditulis mungkin biasa-biasa saja. Nggak lebih dari celotehan yang lewat. Jadi penting bagi kita untuk memahami bahwa proses kreatif adalah proses yang dinamis. Letupan ide baru, dsb, adalah hal yang biasa. Nggak usah jadi berharap bahwa 100% kita bisa patuh pada outline, tapi kalau outline sama sekali nggak ada, penulis cenderung tersesat dalam proses penulisan karena nggak ada patokan.

6. Tips ngatasin gagap ide? (Idenya tersendat2) 😊

6. Banyak problem dalam proses menulis yang rasanya kayak bermacam-macam tapi solusinya sebenarnya satu. DEADLINE. Mau gagap ide, mau stuck, mau bosan, dsb, kalau kita memang berkomitmen, dan paham bahwa tidak setiap hari proses menulis kita lancar — ibarat cuaca yang kadang cerah kadang mendung — kita akan jalan terus. Gagap ide bisa jadi karena riset kita kurang, bisa jadi karena kita belum punya materi cukup, bisa jadi karena distraksi, dan seribu satu alasan lainnya. Tapi kalau kita memang berkomitmen untuk selesai, kita juga akan menemukan seribu satu solusi untuk itu.

7. Pengembangan diri apa yang dilakukan untuk menjadi penulis profesional?

7. Tingkatkan jam terbang dan pertajam skill. Menulis adalah otot yang harus dilatih. Mau otot menulisnya kuat? Ya latihanlah dengan rutin dan sering. Untuk mempertajam skill, kita bisa belajar dari berbagai sumber. Membaca buku-buku bermutu adalah salah satu cara. Membaca bukan hanya untuk terhibur, tapi dengan itikad untuk belajar. Bagaimana seorang penulis menyusun plotnya, membangun karakternya, pelajari itu. Kita juga bisa membaca buku2 teknis tentang menulis atau, yang lebih tepat guna, membaca buku2 tentang proses kreatif seorang penulis (mis On WritingStephen King). Ikut seminar, workshop, dll (yang sampai sekarang juga masih saya ikuti). Intinya, kita harus terus menumbuhkan semangat belajar dan ingin tahu. Menulis adalah lifetime skill.

8. Bagaimana tips kalau ada beberapa ide cerita tapi bingung untuk merangkai menjadi satu?

8. Susun jadi outline. Kebingungan seringkali terjadi karena semua itu dibiarkan jadi abstrak di kepala. Begitu dia dikonkretkan, dalam bentuk tulisan, akan kelihatan sendiri mana ide yang bisa dipakai dan tidak. Jadi segala macam ide yang kita miliki harus melalui proses uji coba, dengan cara: ditulis. Mau bikin mind map, diagram, dsb, itu terserah masing-masing.

9. Dari mana biasanya mbak dee mendapatkan inspirasi?

9. Dari mana-mana. Kita tidak mencari inspirasi. Inspirasi yang menemukan kita. Yang bisa kita lakukan hanyalah menjadi perseptif dan peka terhadap ketukan inspirasi. To be blunt, idea is cheap, being open to ideas is silver, but the commitment to work on the idea is the gold.

10. Apa karya (buku/film) yang paling menginspirasi mbak dee sampai saat ini?

10. Saya nggak punya “pegangan” buku atau film yang selamanya menjadi semacam primbon. I outgrow book and movie pretty fast.

11. Menurut Mba Dee, apa yang membuat novel mba dee disukai (best seller)?

11. Hmm. Saya tidak tahu pasti. Saya tipe penulis yang menuliskan buku yang ingin ia baca. Waktu tahun 2000, misalnya, saya sangat tertarik pada spiritualitas dan sains, saya ingin mencari buku yang bisa menggabungkan keduanya dalam fiksi, dan tidak saya temukan. Akhirnya saya menuliskannya sendiri dan jadilah Supernova. Waktu Perahu Kertas, saya ingin sekali menemukan kisah cinta yang sesuai dengan selera saya; humoris, tapi juga emosional, dengan tipe2 karakter yang saya sukai. Saya merasa tidak menemukannya. Akhirnya saya menuliskannya sendiri. Ketika ada orang lain yang suka, bagi saya itu bonus. Saya bersyukur ketika buku saya dibaca banyak orang berarti mungkin ada orang-orang yang memiliki kebutuhan atau ketertarikan seperti saya, dan akhirnya kami “bersinergi”, berjumpa lewat karya-karya yang saya tulis. Tidak ada formula pasti kenapa sebuah buku bisa menjadi best-seller. Tapi setiap buku yang laku biasanya karena konten buku tersebut bisa beresonansi dengan banyak orang.

12. Apa 3 unsur paling kuat yang selalu ada didalam tulisan Mba Dee?

12. Sejujurnya, saya merasa pertanyaan tsb lebih tepat diajukan ke pembaca ketimbang kepada saya. Tapi saya akan berusaha jawab; 1). Humor 2). Pengetahuan 3). Emosi

13. Apa quote favorit yang mengubah hidup Mba Dee?

13. Nggak ada sih yang sampai sekuat itu.

14. Mengenai self publishing, ada tips dan triknya g mb? Kelebihan dan kekurangan?

14. Kelebihannya: penulis benar-benar bebas, baik dari segi konten maupun marketing. Kekurangannya: harus punya SDM yang kuat, kalo nggak kewalahan sendiri.

15. Apa motivasi mb dee awalnya hingga bisa terjun sebagai penulis?

15. Menulis memang passion saya sejak kecil. Sejak umur 9 tahun saya sudah mencita-citakan satu hari nanti akan melihat buku saya dijual di toko buku. Tapi memang karier saya di musik jalurnya terbuka lebih dulu, jadi orang baru tahu saya suka menulis belakangan.

16. Siapa penulis favorit mba dee yang menginspirasi hingga sekarang?

16. Saya pembaca buku yang rajin, tapi bukan pembaca fiksi yang terlalu setia. Buku saya kebanyakan nonfiksi, karena ketika membaca saya memang lebih mencari ilmu/informasi ketimbang hiburan. Jadi sulit bagi saya untuk memiliki penulis fiksi yang saya ikuti terus karyanya.

17. Mba Dee punya waktu khusus kah untuk menulis? Misalnya di jam tertentu setiap harinya?

17. Saya sudah pernah mencoba berbagai ritme menulis. Dari mulai malam, larut malam, dini hari, pagi hari, dsb. Pada akhirnya saya menyimpulkan saat ini saya bisa menulis kapan saja. Yang penting saya diberi space untuk tidak diganggu (diajak ngobrol, balas telepon, dsb). Terakhir waktu nulis IEP saya biasanya menulis pagi hari. Tapi kadang2, sesuai dengan kondisi hari itu, saya bisa menyesuaikan ke siang atau sore. Tapi intinya sebelum malam hari. Karena malam hari adalah waktu saya dengan keluarga.

18. Mencoba memikat pembaca dari 10-15 lembar pertama dari sebuah buku seperti mencoba membubuhkan bubuk mesiu dalam tulisan biar bukunya meledak. Apakah mesti ide cerita pertama yg terlintas atau ada tips lain?

18. Ide cerita yang muncul pertama, atau kedua, atau ketiga,  tidak ada hubungannya dengan kualitas. Membuat cerita yang mengikat adalah perkara teknis. Kita harus paham struktur cerita yang baik itu seperti apa. Kita juga harus paham yang membuat cerita menarik itu apa. Salah satu tips adalah mulailah membangun sedekat mungkin dengan konflik. Atau sesuatu yang membangkitkan rasa ingin tahu. Kalau kita bertele-tele menggambarkan karakter kita bangun pagi, sarapannya apa, mandinya pakai sabun apa, lalu basa-basi selamat pagi dengan keluarganya, dsb, apakah hal tsb menarik? Tentu tidak. Sebuah cerita bergulir karena konflik, bukan karena rangkaian deskripsi demi deskripsi. Jadi kita harus cermat menempatkan trigger tsb.

Profil Narsum:

Dewi Lestari, yang dikenal dengan nama pena Dee Lestari, lahir pada tanggal 20 Januari 1976 di Kota Bandung, Jawa Barat, dari pasangan Yohan Simangunsong dan Tiurlan Siagian. Ia adalah anak keempat dari lima bersaudara. Tiga saudara perempuannya juga aktif di bidang seni. Kakak perempuannya, Key Mangunsong, adalah seorang sutradara dan penulis skenario. Kakak perempuan keduanya, Imelda Rosalin adalah seorang pianis dan penyanyi jazz. Adik perempuannya, Arina Ephipania, adalah seorang penyanyi dan merupakan vokalis band Mocca.

Dee bersekolah di SDN Banjarsari III Bandung, SMPN 2 Bandung, SMAN 2 Bandung, lulus tahun 1998 sebagai Sarjana Ilmu Politik dari FISIP Universitas Parahyangan Bandung jurusan Hubungan Internasional.

Pada tahun 2003, Dee menikah dengan penyanyi Marcell Siahaan dan dikaruniai seorang putra bernama Keenan Avalokita Kirana. Setelah lima tahun menikah, pasangan tersebut akhirnya berpisah. Setelah itu, Dee berkeluarga dengan Reza Gunawan, seorang praktisi kesehatan holistik. Mereka memiliki seorang putri bernama Atisha Prajna Tiara. Kini, Dee tinggal di kawasan Tangerang Selatan bersama Reza dan kedua anaknya, Keenan dan Atisha.

📝Karir menulis:

Menulis adalah hobi yang dilakoni Dee sejak kecil. Sejak umur 9 tahun, ia sudah berkhayal satu saat nanti pergi ke toko buku dan menemukan buku yang ditulisnya sendiri. Ia lalu membeli buku tulis dan mengisinya penuh, membayangkan bahwa itulah buku pertamanya. Judul cerita tersebut Rumahku Indah Sekali, kisah tentang seorang gadis cilik bernama Fluegel yang mendamba kuda poni.

Beranjak SMP, Dee mulai mencoba menulis cerpen remaja, mengirimkan ke majalah dan tidak berhasil, begitu juga ketika beberapa kali mengikuti lomba. Dee sempat frustrasi mencoba jalur media karena apa yang ia tulis selalu kepanjangan atau kependekan dari kriteria yang diminta. Akhirnya, hobi menulis ia jalani diam-diam. Hanya menunjukkannya ke orang-orang terdekat.

Dari honor menyanyi, ia membeli laptop pertamanya. Perahu Kertas, Filosofi Kopi, Rico de Coro, adalah beberapa contoh karya yang ia tulis semasa di bangku kuliah dan baru diterbitkan lebih dari sepuluh tahun kemudian. Tahun 1993, Dee tergerak ikut lomba menulis artikel yang diadakan majalah Gadis. Karena tidak percaya diri, ia memakai nama adiknya. Artikel tersebut berhasil menjadi pemenang lomba. Beberapa tahun kemudian, kakak Dee, Key Mangunsong, yang berkawan dengan Hilman Hariwijaya (Lupus), menunjukkan cerpen Rico de Coro. Hilman lalu menembuskannya ke majalah remaja Mode. Rico de Coro mendapat samimg_20161126_125619.jpgbutan hangat dari pembaca saat itu.

Akan tetapi, baru pada tahun 2000 Dee menulis sebuah manuskrip yang ia rasa layak menjadi buku pertamanya, yakni Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh (KPBJ).Karena tidak yakin naskahnya bisa menembus penerbit, plus ada tenggat waktu yang ingin ia penuhi, Dee lalu menerbitkan bukunya sendiri di bawah label Truedee Books. Buku tersebut tidak pernah ia bayangkan akan terjual laris. Ia cuma ingat cita-cita masa kecilnya untuk memiliki buku sendiri dan bertekad menunaikannya pada ulang tahunnya yang ke-25. Pada bulan Januari 2001, Supernova KPBJ terbit, dan di luar dugaan memecahkan rekor buku terlaris dalam waktu singkat. Tujuh ribu buku habis dalam waktu 14 hari.

Setelah terbitnya Supernova KPBJ, Dee semakin dikenal sebagai penulis. Aktivitasnya sebagai penyanyi terus berkurang, hingga pada tahun 2003 akhirnya Dee keluar dari Rida Sita Dewi. Episode kedua Supernova: Akar menyusul pada tahun 2002, laluSupernova: Petir (2004). Setelah itu Dee menerbitkan antologi pertamanya, Filosofi Kopi, yang merupakan kumpulan karyanya dari tahun 1995 – 2005. Filosofi Kopi berhasil menjadi Karya Sastra Terbaik 2006 versi majalah Tempo dan menjadi 5 Besar Khatulistiwa Literary Award.

Sesuai cita-citanya untuk menjadi penulis multigenre yang tidak terkurung dalam satu jenis tulisan saja, Dee lalu menulis fiksi populer berjudul Perahu Kertas yang segmennya lebih mengarah ke remaja dewasa. Cerita yang aslinya dibuat pada tahun 1996 itu ia tulis ulang dan diterbitkan perdana sebagai novel digital pertama di Indonesia pada tahun 2008, bekerja sama dengan provider selular XL dan pengada konten Hypermind. Versi cetak Perahu Kertasbaru terbit setahun kemudian, yang juga menjadi kerja sama pertamanya dengan Bentang Pustaka. Hingga kini, Perahu Kertasmenjadi salah satu karya Dee yang paling laris.

Kerinduan Dee bermusik terpenuhi ketika buku berikutnya, Rectoverso, hadir pada tahun 2009. Sebelas cerpen yang bertandem dengan sebelas lagu menjadi karya hibrida sastra-musik pertama di Indonesia.Rectoverso adalah sebuah buku dengan pengalaman audio (musik), visual (ilustrasi), dan tentunya, sastra. Diproduseri Tommy Utomo dan Ruzie Firuzie, album Rectoversomenggandeng Magenta Orchestra dengan dua arranger utama yakni Andi Rianto dan Ricky Lionardi. Ilustrasi dalam bukuRectoverso digarap oleh Fahmi Ilmansyah, desainer kover buku Dee sejak tahun 2002.

Karya berikut Dee adalah antologi berjudulMadre yang merupakan kompilasi karyanya dari tahun 2007 sampai 2011. Berisikan tiga belas cerpen dan puisi, Madre mendapat Penghargaan Sastra Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dari Kementrian Pendidikan & Kebudayaan Indonesia.

Setelah delapan tahun ditunggu pembaca, episode Supernova kembali terbit pada tahun 2012 dengan judul Supernova: Partikel. Hari rilisnya yang menghebohkan (salah satunya karena menghadirkan alien di toko-toko buku) menjadikan #Partikel sebagai trending topicdunia. Partikel mendapat ulasan positif dari kritikus sastra. Bahkan Goenawan Mohamad membuat satu Catatan Pinggir dengan judulZarah, yang merupakan tokoh utama dalamPartikel.

Selain menerbitkan sendiri, Dee pernah bekerja sama dengan beberapa penerbit antara lain Bark, Akoer, Gagas Media,Goodfaith Production, hingga akhirnya kini semua bukunya berada di bawah bendera Bentang Pustaka. Episode kelimaSupernova: Gelombang terbit pada bulan Oktober 2014. Pada Anugerah Pembaca Indonesia 2015, Dee dan Gelombang berhasil meraih predikat Penulis Fiksi Favorit Pembaca dan Buku Fiksi Favorit Pembaca.

Serial Supernova akhirnya ditutup dengan episode keenam, Inteligensi Embun Pagi (IEP),yang terbit pada bulan Februari 2016. Melalui program pre-order, IEP terjual 10.000 eksemplar bahkan sebelum tanggal rilisnya di toko buku.

©RUMBEL MENULIS IIP JAKARTA
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s