Ibu, Manajer Keluarga Handal (Matrikulasi Sesi#6)

*Resume Materi Matrikulasi Batch 2 SESI 6*

Selasa, 22 November 2016

Pemateri : Ibu Septi Peni Wulandani
Ketua Kelas : Nesri Baidani
Koordinator Minggu VI : Wastuwidyarini

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

IBU, MANAGER KELUARGA HANDAL

*Motivasi Bekerja Ibu*

Ibu rumah tangga adalah sebutan yang biasa kita dengar untuk ibu yang bekerja di ranah domestik. Sedangkan Ibu Bekerja adalah sebutan untuk ibu yang bekerja di ranah publik. Maka melihat definisi di atas, sejatinya semua ibu adalah *_ibu bekerja_* yang wajib professional menjalankan aktivitas di kedua ranah tersebut, baik domestik maupun publik.
Apapun ranah bekerja yang ibu pilih, memerlukan satu syarat yang sama, yaitu

*_kita harus “SELESAI” dengan management rumah tangga kita_*

Kita harus merasakan rumah kita itu lebih nyaman dibandingkan aktivitas dimanapun. Sehingga anda yang memilih sebagai ibu yang bekerja di ranah domestik, akan lebih professional mengerjakan pekerjaan di rumah bersama anak-anak. Anda yang Ibu Bekerja di ranah publik, tidak akan menjadikan bekerja di publik itu sebagai pelarian ketidakmampuan kita di ranah domestik.
Mari kita tanyakan pada diri sendiri, apakah motivasi kita bekerja ?

🍀Apakah masih *ASAL KERJA*, menggugurkan kewajiban saja?

🍀Apakah didasari sebuah *KOMPETISI* sehingga selalu ingin bersaing dengan orang/ keluarga lain?
🍀Apakah karena *PANGGILAN HATI* sehingga anda merasa ini bagian dari peran anda sebagai Khalifah?
Dasar motivasi tersebut akan sangat menentukan action kita dalam menangani urusan rumah tangga dan pekerjaan kita
.
🍀Kalau anda masih “ASAL KERJA” maka yang terjadi akan mengalami tingkat kejenuhan yang tinggi, anda menganggap pekerjaan ini sebagai beban, dan ingin segera lari dari kenyataan.
🍀Kalau anda didasari “KOMPETISI”, maka yang terjadi anda stress, tidak suka melihat keluarga lain sukses
🍀Kalau anda bekerja karena “PANGGILAN HATI” , maka yang terjadi anda sangat bergairah menjalankan tahap demi tahap pekerjaan yang ada. Setiap kali selesai satu tugas, akan mencari tugas berikutnya, tanpa _MENGELUH_.

*Ibu Manajer Keluarga*

Peran Ibu sejatinya adalah seorang manager keluarga, maka masukkan dulu di pikiran kita

*_Saya Manager Keluarga_*

kemudian bersikaplah, berpikirlah selayaknya seorang manager.

🍀Hargai diri anda sebagai manager keluarga, pakailah pakaian yang layak (rapi dan chic) saat menjalankan aktivitas anda sebagai manager keluarga.

🍀Rencanakan segala aktivitas yang akan anda kejakan baik di rumah maupun di ranah publik, patuhi
🍀Buatlah skala prioritas

🍀Bangun Komitmen dan konsistensi anda dalam menjalankannya.
*Menangani Kompleksitas Tantangan*

Semua ibu, pasti akan mengalami kompleksitas tantangan, baik di rumah maupun di tempat kerja/organisasi, maka ada beberapa hal yang perlu kita praktekkan yaitu :

*_a. PUT FIRST THINGS FIRST_*

Letakkan sesuatu yang utama menjadi yang pertama. Kalau buat kita yang utama dan pertama tentulah anak dan suami. – Buatlah perencanaan sesuai skala prioritas anda hari ini – aktifkan fitur gadget anda sebagai organizer dan reminder kegiatan kita.
*_b.ONE BITE AT A TIME_*

Apakah itu one bite at a time?
-Lakukan setahap demi setahap -Lakukan sekarang -Pantang menunda dan menumpuk pekerjaan

*_c. DELEGATING_*

Delegasikan tugas, yang bisa didelegasikan, entah itu ke anak-anak yang lebih besar atau ke asisten rumah tangga kita.

*Ingat anda adalah manager, bukan menyerahkan begitu saja tugas anda ke orang lain, tapi anda buat panduannya, anda latih, dan biarkan orang lain patuh pada aturan anda*

_Latih-percayakan-kerjakan-ditingkatkan-latihlagi-percayakan lagi-ditingkatkan lagi begitu seterusnya_

Karena pendidikan anak adalah dasar utama aktivitas seorang ibu, maka kalau anda memiliki pilihan untuk urusan delegasi pekerjaan ibu ini, usahakan pilihan untuk mendelegasikan pendidikan anak ke orang lain adalah pilihan paling akhir.

*Perkembangan Peran*

Kadang ada pertanyaan, sudah berapa lama jadi ibu? Kalau sudah melewati 10.000 jam terbang seharusnya kita sudah menjadi seorang ahli di bidang manajemen kerumahtanggaan. Tetapi mengapa tidak? Karena selama ini kita masih

*_SEKEDAR MENJADI IBU_*

Ada beberapa hal yang bisa bunda lakukan ketika ingin meningkatkan kualitas bunda agar tidak sekedar menjadi ibu lagi, antara lain:

🍀Mungkin saat ini kita adalah kasir keluarga, setiap suami gajian, terima uang, mencatat pengeluaran, dan pusing kalau uang sudah habis, tapi gajian bulan berikutnya masih panjang.

Maka tingkatkan ilmu di bidang perencanaan keuangan, sehingga sekarang bisa menjadi “managjer keuangan keluarga.
🍀Mungkin kita adalah seorang koki keluarga, tugasnya memasak keperluan makan keluarga. Dan masih sekedar menggugurkan kewajiban saja. Bahwa ibu itu ya sudah seharusnya masak. Sudah itu saja, hal ini membuat kita jenuh di dapur.

Mari kita cari ilmu tentang manajer gizi keluarga, dan terjadilah perubahan peran.
🍀Saat anak-anak memasuki dunia sekolah, mungkin kita adalah tukang antar jemput anak sekolah. Hal ini membuat kita tidak bertambah pintar di urusan pendidikan anak, karena ternyata aktivitas rutinnya justru banyak ngobrol tidak jelas sesama ibu –ibu yang seprofesi antar jemput anak sekolah.

Mari kita cari ilmu tentang pendidikan anak, sehingga meningkatkan peran saya menjadi “manajer pendidikan anak”.

Anak-anakpun semakin bahagia karena mereka bisa memilih berbagai jalur pendidikan tidak harus selalu di jalur formal.
🍀Cari peran apalagi, tingkatkan lagi…..dst

Jangan sampai kita terbelenggu dengan rutinitas baik di ranah publik maupun di ranah domestik, sehingga kita sampai lupa untuk meningkatkan kompetensi kita dari tahun ke tahun.

Akhirnya yang muncul adalah kita melakukan pengulangan aktivitas dari hari ke hari tanpa ada peningkatan kompetensi. Meskipun anda sudah menjalankan peran selama 10.000 jam lebih, tidak akan ada perubahan karena kita selalu mengulang hal-hal yang sama dari hari ke hari dan tahun ke tahun.

Hanya ada satu kata

*BERUBAH atau KALAH*

Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/
_SUMBER BACAAN_:

_Institut Ibu Profesional, Bunda Cekatan, sebuah antologi perkuliahan IIP, 2015_

_Hasil diskusi Nice Homework Matrikulasi IIP Batch #1, 2016_

_Irawati Istadi, Bunda Manajer Keluarga, halaman featuring, Success Mom’s Story: Zainab Yusuf As’ari, Amelia Naim, Septi Peni, Astri Ivo, Ratih Sanggarwati, Okky Asokawati,Fifi Aleyda Yahya, Oke Hatta Rajasa, Yoyoh Yusroh, Jackie Ambadar, Saraswati Chasanah, Oma Ary Ginanjar, Pustaka Inti, 2009_

Link

❓Tanya — Jawab ✅
🖊🖊🖊🖊🖊🖊🖊🖊

1⃣ Fiena_IIP bandung

Bu septi, bagaimana seandainya proses ‘selesai’ dengan diri sendiri itu masih ON Progress pada diri kita apakah, bisa dibarengi dengan menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga/ Ibu bekerja seutuhnya? Karena pd dasarnya selesai dengan urusan diri sendiri di masa lalu adalah hal yang paling menantang untuk saya bisa betul2 konsentrasi dalam rumah tangga…
1⃣ teh fiena, selesai dengan diri sendiri ini berkaitan dg diri kita pribadi, yg mengelola adalah diri kita sendiri, sdgkan menjalankan peran ibu rumah tangga, berkaitan dg banyak pihak lain. Maka sebaiknya selesaikan scr berbarengan dg cara

*put first thing first* secara berkala. Letakkan yg menjadi prioritas utama kita di urutan pertama dalam mengawali hari baru. Selesaikan dulu yg berkaitan dg pihak lain.

Setelah itu baru selesaikan urusan dg diri kita sendiri.

Selesaikan dengan “perubahan kecil” yg kontinyu dan berkesinambungan✅

2⃣ Prima_IIP Malang

Assalamualaikum Bu Septi. Saya baru 3th menikah, tahun kedua saya hamil anak pertama. Dan tahun ketiga, baru menjadi ibu yg sesungguhnya. Sekarang masih 16 bulan usia anak kami. Saat masih belum memiliki momongan, alhamdulillah saya bisa menerapkan manajemen keluarga dengan baik. Namun setelah memiliki bayi, fokus saya berubah haluan ke merawat si kecil hingga sekarang (16bln) dan manajemen keluarga saya ‘ruwet’ lagi. Saya merasa belum bisa berperan dengan baik di Program BunCek. Dan ingin memulainya lagi… seiring dengan perkembangan fisik, kognitif, dan kemandirian si kecil. Yg ingin saya tanyakan, bagaimana ya meng-combine program bunsay dan buncek ini dengan jam terbang yg sama? Saat ini proses buncek saya full teori yg hanya bisa saya peroleh ketika si kecil tidur, dengan berbagi waktu aneka macam job domestik yg td tdk bisa saya lakukan ketika bersama si kecil…
2⃣ Mbak Prima, tetapkan prioritas terlebih dahulu, dan lakukan secara bertahap sedikit demi sedikit. Saya berikan contoh yg saya lakukan saat enes ara kecil ( jarak mereka 15 bln) dan saya tanpa ART

Saya komunikasikan dulu ke pak dodik, mana kondisi dari ketiga hal ini yg paling membuat pak dodik bahagia, silakan diurutkan.

1⃣Anak terurus dengan sangat baik
2⃣Makanan terhidangkan fresh dari tangan saya
3⃣Rumah rapi

Ternyata pak dodik memilih urutan 1⃣3⃣2⃣ akhirnya saya minta waktu per 3 bulanan unt bisa belajar setahap demi setahap dan satu persatu.

Maka pahami kemampuan diri kita, komunikasikan dg orang sekeliling kita, terurama yg masuk di lingkaran 1 kita. ✅

3⃣ Ratna_IIPJogja
Assalamualaikum bu Septi.. Ada 2 hal yg ingin saya tanyakan.

📌 Bagaimana teknis menghitung 10.000 jam terbang dalam hal mendidik anak? Apakah ketika sya membersamai mereka antara jam 8-11 (misalnya), sudah bisa dikatakan melakukan 3 jam terbang pada hari itu? Atau bagaimana?
📌 Ketika saya merencanakan aktivitas harian, saya berusaha utk konsisten. Namun kadang anak2 saya yg saat ini HS, jam belajarnya suka tidak terjadwal (sudah pernah dijadwal tapi tidak enjoy). Jadinya kadang jadwalnya berbenturan. Bagaimana ya bu untuk mensiasatinya?

Terimakasih bu Septi…
3⃣ Mbak Ratna, yg perlu diingat dalam menambah jam terbang adalah “kesungguhan praktek” tidak hanya “sekedar praktek”.

Shg apabila kita 1-3 jam saja bersungguh-sungguh mengamati perkembangan anak kita. Bermain dg mereka shg bisa menambah *kompetensi* kita sebagai ibu, karena kita menjalankan peran kita sbg ibu, maka sdh masuk hitungan jam terbang.

Karena ada ibu yg bersama anaknya full berjam-jam tapi tidak menjalankan peran keibuannya.

🍀Jadwal yang kita buat harian itu dalam rangka kita melihat ” track” kita hari ini.

Maka ketika anak kita menjadi prioritas utama, usahakan jadwal kita yg menyesuaikan mereka.

Kemudian di sela waktu longgar kita, kembqli ke jadwal yg sdh kita susun.

Itu baru namanya flexible. Seperti lingkaran karet, ketika tracknya melingkar dg diameter tertentu, bisa kita regangkan dg diameter di luar track, tetapi habis itu bisa kembali lagi ke track semula.

Berbeda dengan lingkaran kawat, apabila kita bentangkan di luar track, tdk serta merta kembali ke bentuk semula. Bentuknya akan berubah dari track awal.

Semoga analog ini dipahami✅

4⃣ Lendy_IIP Bandung.

Bunda Septi,
Menjadi manager yang handal di berbagai bidang dalam satu waktu dan membutuhkan 10.000 jam terbang..

Saya jadi merasa kecil setelah mendengar pemaparan Ibu.

Saya salah satu Ibu yang motivasi menjadi Ibu-nya masih dibawah rata-rata.

Saya selalu menanti anak saya berangkat sekolah untuk bisa berangkat belajar juga.

Intinya,
Saya nyaman dengan gaya hidup saya yang sekarang.

Apakah dengan kenyamanan ini, saya harus meng-upgrade kemampuan diri ini..?

Menjadi seperti apa yaa, Bu?

😥
Saya merasa, hidup saya (kadang) sudah sangat ideal, Bu.

Terima kasih, Ibu Septi.⁠⁠⁠⁠
4⃣ Teh Lendy, ini pentingnya kita punya ROAD MAP dalam kehidupan kita masing-masing. Kalau track yang dilalui teh lendy dan keluarga merasa sudah sangat pas, kita nyaman, suami nyaman dan anak-anak nyaman, maka lanjutkan sesuai keyakinan kita, tanpa perlu tengak tengok tetangga kanan dan kiri 🙂
Dan yang pasti tidak boleh mengeluh atau bahkan menuntut orang di sekitar kita terutama anak dan suami, agar bisa sama dengan keluarga lain yang ROAD MAP nya berbeda.
Dan diri kita dan keluarga juga yang akan menentukan kita perlu BERUBAH atau TIDAK.
Selama teh lendy yakin, jalankan,
Apabila tidak yakin, ubah strategy✅

5⃣ Nur shauma A._IIP Papua

Assalamualaikum,
Mau tanya bunda.
Mnrt sy, suami sy itu tipe yg ringan tangan. Saat suami sdg di rumah sy tdk pernah mencuci pakaian, tdk jarang suami memasak untuk kami, bahkan kadang mencuci piring dan bersih2. Sy mengerjakan semua sendr hanya ketika suami sedang berdagang keluar daerah.
Kadang sy merasa tdk profesional ketika suami msh turun tangan tp sejujurnya sy senang ketika di bantu. Sy merasa di sayangi.
Yg ingin sy tanyakan.
Apa kh ketika suami turun tangan mengerjakan pekerjaan rumah, itu adl indikator bahwa istrinya blm profesional?
5⃣ Wa’alaykumsalam mbak Nur Shauma, Mungkin yang mbak maksud bukan ringan tangan ya, tetapi cepat kaki ringan tangan. Karena kalau sepemahaman saya ringan tangan = gampang memukul/main tangan. Semoga benar adanya.
Apabila suami senang membantu pekerjaan rumah kita, itu artinya dia sedang memuliakan kita sebagai partner hidup. Maka berperanlah lebih banyak lagi.
Hal ini saya latihkan ke Elan anak laki-laki saya. Sejak saya minta dia latihan melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Ketika dia tanya, untuk apa?
Saya jawab, agar engkau bisa lebih memuliakan istrimu kelak, karena istri yang engkau pilih itu adalah partner hidupmu, bukan perempuan yang bertugas mengerjakan semua pekerjaan rumahmu dan melayani semua urusan pribadimu.
Kalau kita memiliki tipe suami yang seperti ini, maka sebenarnya kita sedang diberi peluang banyak untuk lebih meningkatkan peran, maka gunakan peran itu sebaik mungkin dengan cara memuliakan suami kita pula✅

6⃣ Arin_IIP Bali
BuSepti, jika berkenan..saya ingin mengetahui bagaimana Ibu mengatur keuangan keluarga sewaktu anak-anak kecil ?!
💛Apakah menggunakan amplop u/ memilah per kebutuhan dan mencatat Debet/Kredit keuangan ?!
💛Apakah anak-anak juga diajarkan menabung ? Sejak usia berapakah ?
💛Bagaimana pula mengatur keuangan apabila ternyata anak-anak adalah “tukang jajan”. Misalkan sehari bisa menghabiskan 100,000 hanya untuk kesenangan (sesaat) anak-anak ?!

Maaf Bu jika pertanyaan dirasa sepele dan diluar konteks 🙏
6⃣ 🍀 Betul, saya dulu di awal mencatatnya dengan amplop banyak, menuliskan posnya satu persatu, kemudian mencatat pengeluaran satu persatu, sampai beli cabe kriting aja saya catat, dulu saya bener-bener kasir keluarga, tidak tahu apa yang harus saya lakukan, kalau jatah uang dari suami habis, pusiiiiiiiing hehehehe.
🍀Anak-anak dulu waktu kecil menabung di celengan tanah liat, persis mengulang cara saya waktu kecil dulu. Setelah saya belajar untuk mengupgrade diri saya di bidang manajemen keuangan, maka cara-cara lama itupun berubah agak lebh cerdas, dan anak-anakpun mulai belajar tentang cerdas finansial sejak dini, biar nggak kayak emaknya.

🍀Uang jajan lebih dari 100 rb perhari, dan tetap kita ijinkan, itu namanya pembiaran. Maka bukan keuangannya yang diatur, tapi anaknya yang diatur dan cara mendidik kita yang perlu diperbaiki.✅

7⃣ Ainun_IIP Surabaya

Assalamu’alaikum bu septi, sy dan suami tdk terbiasa dg rumah berantakan. Entah pekerjaan rumah spt tiada habisnya.

Nah permasalahannya, ketika sy membersamai si kecil (1,5 tahun) bermain fikiran sy sering krg fokus ke putri sy. Krn belum beres ini, blm beres itu. Pdhl sblm dia bangun, sy sdh berusaha membereskan pekerjaan rumah tangga sy.
Bagaimana cara menyiasatinya ya bu? Mohon pencerahannya. Terimakasih 🙏🏻
7⃣ Wa’alaykumsalam mbak ainun, jawaban saya hampir sama dengan pertanyaan mbak prima di atas, cobalah komunikasikan dengan suami terlebih dahulu, mana yang jadi prioritas ya✅

Saya tambahkan sedikit. Tahapannya ya yg sdh pernah saya lakukan.

Pak Dodik itu tipe suami yg ingin rumahnya rapi terus.

Waktu itu saya berikan pilihan, karena saya bukan wonder woman 💪

Beliau pilih anak diurutan pertama

Tapi setiap jam 7 malam rumah rapi ya

Saya penuhi hal tsb selama 3 bulan pertama

Setelah 3 bulan kedua, saya perpanjang jam rapi rumah demikian seterusnya ✅
Ini casenya :

Saya sdh menetapkan jadwal kemarin, saya ambil bagian sore saja ya :

16.00 – 18.00 = silaturahim ke eyang

18.00 – 19.00 = antar elan ke stasiun

19.00 – 20.00 = makan malam, menunggu kereta

20.00 – 21.00 = diskusi di grup ini.

Ternyata kondisi jalan menyebabkan jadwal meleset.

Maka saya kembali lihat 3 aktivitas penting saya malam itu :

1⃣Menemani Elan
2⃣Dinner bareng keluarga
3⃣Diskusi di Grup WA

Karena saya meletakkan keluarga pada urutan pertama dan utama, maka saya tunaikan 2 hal tsb di atas terlebih dahulu

Resikonya :
a. Saya akan menambah jam diskusi di luar jam normal
b. Saya harus minta ijin ke pejabat kelas dan anggota grup, krn mungkin mengecewakan
c. Saya harus ijin ke suami, untuk menambah jam online saya ketika sampai rumah.
Ini yg disebut flexibilitas mbak, bisa diulur kesana kemari dan tetap krmbali ke patron yg sdh dibuat

8⃣ Susi Firdausa
Berarti aktifitas penting harian bisa jadi berbeda tiap harinya ya bu..

👸Iya mbak namanya juga “aktivitas dinamis”, kalau yg sama dari hari ke hari namanya ” aktivitas rutinitas”

Pertanyaannya skrg aktivitas dinamis kita itu banyak menambah jam terbang atau tidak?

🙋Nggih bu… Analogi karet akan sy ingat terus 😘

👸Ini yg kadang misspersepsi,

“Mengapa harus buat jadwal, jadi orang itu yg flexible saja”

Maka saya pasti tanya dulu?

Apa yg dimaksud dg flexible?

Biasanya banyak yg menjawab :
” santai, mengalir tanpa rencana” dan yg sejenis.

Fleksibilitas adalah kemampuan untuk beradaptasi dan bekerja dengan efektif dalam situasi yang berbeda, dan dengan berbagai individu atau kelompok.

Kalau kemampuan itu kita lakukan tanpa kita punya ROAD MAP hidup, tanpa jadwal kegiatan penting hari ini, maka pasti hidup kita berantakan, mudah terbawa arus kemana angin berhembus.

*Pertanyaan tambahan*

*Fitriyani*
Jadi pengen bertanya saya bu, dulu jadwal kegiatan yg sudah rapi n kondusif hrs berubah ketika saya (sementara) ikut orang.tua lagi, 😊 dan kdg tggal dtempat mertua,
Bagaimana cara mensiasati hal sperti ini ya bu?

*Finny*
ibu, nhw6 ini benar2 akan menjadi challenge untuk saya. Suami saya type yg tidak suka merencanakan kegiatan, mengalir begitu saja d keseharian.. sedangkan keseharian beliau juga lebih banyak di rumah. Jadi,saya merasa hanya sendirian ketika merencanakan dan banyak yang miss dari rencana yang sudah dibuat 😢
Mohon pencerahannya bu

*Yessy*
Bu, prioritas saya mendidik anak:
1. Menemani anak
2. Membuat dokumentasi tumbang
3. Blm memilih

Pertanyaan saya bu, saya senang sekali beberesan ,bu. Menata sesuatu. Kalo bisa mau jadi seperti Marie Kondo Bu ☺ karena saat mengerjakannya sangat enjoy easy dan excellent. Tapi ngga sejalan dg jurusan ilmu yg saya pilih di NHW sebelumnya bu. Tapi seperti “mengubur” passion bu.
Itu gimana ya bu menyelaraskannya, saya sekarang merasa bersalah kalau sedang beberesan

💛💛

Apa pendapat teman-teman tentang video ini?

Ini bisa menjadi acuan untuk mengerjakan Nice Homework 6 😊😉
Diresume Oleh : Wastuwidyarini
🖊🖊🖊🖊🖊🖊🖊🖊

_NICE HOMEWORK #6_

*BELAJAR MENJADI MANAJER KELUARGA HANDAL*

Bunda, sekarang saatnya kita masuk dalam tahap “belajar menjadi manajer keluarga yang handal.

Mengapa? karena hal ini akan mempermudah bunda untuk menemukan peran hidup kita dan semoga mempermudah bunda mendampingi anak-anak menemukan peran hidupnya.

Ada hal-hal yang kadang mengganggu proses kita menemukan peran hidup yaitu

*_RUTINITAS_*

Menjalankan pekerjaan rutin yang tidak selesai, membuat kita _Merasa Sibuk_sehingga kadang tidak ada waktu lagi untuk proses menemukan diri.

Maka ikutilah tahapan-tahapan sbb :

1⃣ Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting

2⃣Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?

3⃣Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya ya, agar selaras.

4⃣Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time ( misal anda sudah menuliskan bahwa bersih-bersih rumah itu dari jam 05.00-06.00, maka patuhi waktu tersebut)

5⃣Jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian anda.

6⃣Setelah tahap di atas selesai anda tentukan. Buatlah jadwal harian yang paling mudah anda kerjakan. (Contoh kalau saya membuat jadwal rutin saya masukkan di subuh-jam 07.00 – jadwal dinamis ( memperbanyak jam terbang dari jam 7 pagi- 7 malam, setelah jam 7 malam kembali ke aktivitas rutin yang belum selesai, sehingga muncul program 7 to 7)

7⃣Amati selama satu minggu pertama, apakah terlaksana dengan baik?
kalau tidak segera revisi, kalau baik, lanjutkan sampai dengan 3 bulan.
_SELAMAT MENGERJAKAN_

Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/

_Review NHW #6_

🙋 *BELAJAR MENJADI MANAJER KELUARGA* 🙋
Bunda, terima kasih sudah membuat beberapa kategori tentang 3 hal aktivitas yang anda anggap penting dan tidak penting dalam hidup anda.

Dalam menjalankan peran sebagai manejer keluarga, *_manajemen waktu_* menjadi hal yang paling krusial.

Karena waktu bisa berperan ganda, memperkuat jam terbang kita, atau justru sebaliknya merampasnya. Tergantung bagaimana kita memperlakukannya.

Masih ingat istilah *_DEEP WORK_* dan *_SHALLOW WORK_*?

Dulu kita pernah membahas hal ini di awal-awal kelas. Tahapan-tahapan yang kita kerjakan kali ini adalah dalam rangka melihat lebih jelas bagaimana caranya shallow work kita ubah menjadi Deep Work.

Kita akan paham mana saja aktivitas yang memerlukan fokus, ketajaman berpikir sehingga membawa perubahan besar dalam hidup kita.

1⃣. *Refleksikan aktivitas dan kemampuan manajemen waktu kita selama ini*

Menurut Covey, Merrill and Merrill (1994) cara yang paling baik dalam menentukan kegiatan prioritas adalah dengan membagi kegiatan kita menjadi penting-mendesak, penting-tidak mendesak, tidak penting-mendesak dan tidak penting-tidak mendesak .Menurutnya, segala hal yang kita kerjakan dapat digolongkan kedalam salah satu dari empat kuadran tersebut.

Agar lebih jelas , silakan teman-teman belajar memasukkan aktivitas-aktivitas yang selama ini kita lakukan dalam kategori kuadaran di bawah ini.

2⃣ *Setelah aktivitas terpetakan, fokuslah pada hal-hal yang penting (baik mendesak atau tak mendesak) karena pada kegiatan yang penting inilah seharusnya kita mengalokasi paling banyak waktu yang kita miliki*

3⃣ *Rencanakan dengan baik semua aktivitas yang anda anggap penting*

Kita akan kehabisan waktu, tenaga dan sering gelisah jika kita sering melakukan kegiatan yang sifatnya penting dan mendesak.

Contoh : Mengumpulkan NHW matrikulasi itu anda masukkan kategori aktivitas Penting, karena kalau tidak mengumpulkan kita akan mendapatkan peluang tidak lulus.

Sudah ada deadline yang diberikan oleh fasilitator. Andaikata kita memasukkannya ke kuadran 2, artinya kita akan masukkan NHW dalam perencanaan mingguan kita, membuat hati lebih tenang. Tetapi kalau tidak kita rencanakan, NHW itu akan masuk ke aktivitas kuadran 1, dimana penting bertemu dengan genting (mendesak) paling sering membuat kita gelisah di saat detik-detik terakhir deadline pengumpulan.

Kalau ini berlangsung terus menerus, maka kita akan cepat capek dan stress yang berlebihan karena terlalu sering dibombardir oleh masalah dan krisis yang datang bertubi-tubi. Jika ini terjadi, secara naluriah, kita akan lari ke kuadran 4. yang sering kali tidak memberikan manfaat bagi kita.
Idealnya, semakin banyak waktu yang kita luangkan di kuadran 2, secara otomatis akan mengurangi waktu kita di kuadran 1 dan 3, apalagi kuadran 4, karena dengan perencanaan dan persiapan yang matang, banyak masalah dan krisis yang akan timbul dikemudian hari dapat dihindari.
4⃣ *Membuat kandang waktu ( time blocking) untuk setiap aktivitas yang harus anda kerjakan*

Membuat agenda mingguan dan harian dengan mengaplikasikan teori *_time blocking_*dan *_cut off time_*KIta bisa membagi secara rinci aktivitas harian dalam hitungan jam atau menit agar waktu tidak terbuang sia-sia
5⃣ *Unduh Aplikasi atau buku catatan untuk membantu kita mengorganized semua jadwal kita*

Saat ini ada banyak aplikasi organizer yang bisa membantu dan mengingatkan kita setiap saat.
Sampai disini mungkin ada diantara kita yang bertipe “unorganized” ( menyukai ketidakteraturan, termasuk waktu )

Sehingga muncul pertanyaan,

“Mengapa sih harus repot-repot dan sangat detail dengan manajemen waktu?”

Kalau menurut teori Cal Newport,
Semakin detail manajemen waktu anda, semakin bagus pula kualitasnya.

Semakin bagus kontrolnya, semakin bagus pula efeknya.

Sekarang tinggal dipilih anda mau tipe yang organized shg menggunakan *_TIME BASED ORGANIZATION_* atau tipe yang unorganized dan menggunakan *_RESULT BASED ORGANIZATION_*

Kalau time based artinya kita akan patuh dengan jadwal waktu yang sudah kita tulis. Dan komitmen menerima segala konsekuensi apabila melanggarnya.

Apabila RESULT BASED ORGANIZATION anda perlu membuat pengelompokan kegiatan saja. Boleh dikerjakan kapanpun, selama Komitmen terhadap target/hasil yang sudah dicanangkan, bisa terpenuhi dengan baik.

Apapun tipe anda dan keluarga KOMITMEN tetap nomor satu.

Di Ibu Profesional, manajemen waktu ini wajib dikuasai dan diamalkan oleh para ibu sebelum masuk ke tahap bunda produktif.
Kita perlu menekankan pentingnya membuat rencana kerja untuk setiap minggu dan setiap hari, dengan memprioritaskan aktifitas yang penting.

Dengan demikian diharapkan kita dapat menjadi lebih produktif tanpa lelah dan stress yang berlebihan.
*_Demi masa,semoga kita semua tidak termasuk golongan orang yang menyia-nyiakan waktu_*
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/
_Sumber Bacaan_ :

_Materi Matrikulasi IIP batch #2 sesi #6, Ibu Manajer Keluarga handal, 2016_

_Hasil NHW#6, Peserta Matrikulasi IIP, 2016_

_Malcolm Galdwell, Outliers, Jakarta, 2008_

_Steven Covey, the seven habits, Jakarta, 1994_

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s