Mendidik Dengan Kekuatan Fitrah (Matrikulasi Sesi#4)

PROGRAM MATRIKULASI IBU PROFESIONAL SESI #4
Selasa, 8 November 2016

Fasilitator : Septi Peni Wulandani
Ketua Kelas : Nesri Baidani
Koordinator mingguan : Saroh Darojah

*MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FITRAH*

Bunda, setelah kita memamahi bahwa salah satu alasan kita melahirkan generasi adalah untuk membangun kembali peradaban dari dalam rumah kita, maka semakin jelas di depan mata kita, ilmu-ilmu apa saja yang perlu kita kuasai seiring dengan misi hidup kita di muka bumi ini. Minimal sekarang anda akan memiliki prioritas ilmu-ilmu apa saja yang harus anda kuasai di tahap awal, dan segera jalankan, setelah itu tambah ilmu baru lagi. Bukan saya, sebagai teman belajar anda di IIP selama ini, maupun para ahli parenting lain yang akan menentukan tahapan ilmu yang harus anda kuasai, melainkan *_DIRI ANDA SENDIRI_*

Apakah mudah? TIDAK. Tapi yakinlah bahwa kita bisa membuatnya menyenangkan. Jadilah diri anda sendiri, jangan hiraukan pendapat orang lain. Jangan silau terhadap kesuksesan orang lain. Mereka semua selalu berjalan dari KM 0, maka mulai tentukan KM 0 perjalanan anda tanpa rasa “galau”.

Inilah sumber kegalauan diri kita menjalankan hidup, kita tidak berusaha memahami terlebih dahulu apa“misi hidup” kita sebagai individu dan apa “misi keluarga” kita sebagai sebuah komunitas terkecil. Sehingga semua ilmu kita pelajari dengan membabi buta dan tidak ada yang dipraktekkan sama sekali. Semua seminar dan majelis ilmu offline maupun online kita ikuti, karena kekhawatiran tingkat tinggi akan ketertinggalan ilmu kekinian, tapi tidak ada satupun yang membekas menjadi jejak sejarah perjalanan hidup anda.

Check List harian sudah anda buat dengan rapi di Nice Homework#2, surat cinta sudah anda buat dengan sepenuh hati di Nice Homework #3. Bagi yg sudah menemukan misi hidup dan misi keluarga, Misi tersebut sudah kita tulis besar-besar di dinding kamar, tapi anda biarkan jadi pajangan saja. Maka “tsunami informasilah” yang anda dapatkan, dan ini menambah semakin tidak yakinnya kita kepada “kemampuan fitrah” kita dalam mendidik anak-anak.

“ *Just DO It*”,
_lakukan saja meskipun anda belum paham, karena Allah lah yang akan memahamkan anda lewat laku kehidupan kita_.

Demikian juga dengan pendidikan anak-anak. Selama ini kita heboh pada _Apa yang harus dipelajari anak-anak kita_, bukan pada _Untuk apa anak-anak mempelajari hal tersebut_ Sehingga banyak ibu-ibu yang bingung memberikan muatan-muatan pelajaran ke anak-anaknya tanpa tahu untuk apa anak-anak ini harus melakukannya.

Ada satu kurikulum pendidikan yang tidak akan pernah berubah hingga akhir jaman, yaitu

PENDIDIKAN ANAK DENGAN KEKUATAN FITRAH

Tahap yang harus anda jalankan adalah sbb:

a.Bersihkan hati nurani anda, karena ini faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan anda.

b. Gunakan Mata Hati untuk melihat setiap perkembangan fitrah anak-anak. Karena sejatinya sejak lahir anak-anak sudah memiliki misi spesifik hidupnya, tugas kita adalah membantu menemukannya sehingga anak-anak tidaka kan menjadi seperti kita, yang telat menemukan misi spesifik hidupnya.

c. Pahami Fitrah yang dibawa anak sejak lahir itu apa saja. Mulai dari fitrah Ilahiyah, Fitrah Belajar, Fitrah Bakat, Fitrah Perkembangan, Fitrah Seksualitas dll.

d. Upayakan proses mendidik yang sealamiah mungkin sesuai dengan sunatullah tahap perkembangan manusia. Analogkan diri anda dengan seorang petani organik.

e. Selanjutnya tugas kita adalah MENEMANI, sebagaimana induk ayam mengerami telurnya dengan merendahkan tubuh dan sayapnya, seperti petani menemani tanamannya. Bersyukur atas potensi dan bersabar atas proses.

Semua riset tentang pendidikan ternyata menunjukkan bahwa semakin berobsesi mengendalikan, bernafsu mengintervensi, bersikukuh mendominasi dsbnya hanya akan membuat proses pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak anak kita rusak.

f. Manfaatkan momen bersama anak-anak, bedakan antara WAKTU BERSAMA ANAK dan WAKTU DENGAN ANAK. Bersama anak itu anda dan anak berinteraksi mulai dari hati, fisik dan pikiran bersama dalam satu lokasi. Waktu dengan anak, anda dan anak secara fisik berada dalam lokasi yang sama, tapi hati dan pikiran kita entah kemana.

g. Rancang program yang khas bersama anak, sesuai dengan tahap perkembangannya, karena anak anda “very limited special edition”

Bunda, mendidik bukanlah menjejalkan, mengajarkan, mengisi dsbnya. Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitkan, menyadarkan, menguatkan fitrah anak kita sendiri.

Lebih penting mana membuat anak bergairah belajar dan bernalar atau menguasai banyak pelajaran, lebih penting mana membuat mereka cinta buku atau menggegas untuk bisa membaca.

Jika mereka sudah cinta, ridha, bergairah maka mereka akan belajar mandiri sepanjang hidupnya.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

Sumber bacaan :

_Irawati Istadi, Mendidik dengan Cinta, Jogjakarta, 2013_

_Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016_

_Antologi, Komunitas Ibu Profesional, Bunda Sayang, Surakarta, 2014_

_Materi Matrikulasi sesi #3, Membangun Peradaban dari Dalam Rumah, 2016_

******************************************************************************************

1⃣Prima–IIP Malang

Assalamualaikum Bu Septi yang baik. Saya menyadari sesuatu, bahwa sejak lahir anak memiliki fitrah yang sangat baik. Kemudian seiring bertambahnya usia, anak akan mengcopy apa yang orang sekitarnya lakukan, mengcopy habits yg dilakukan orang sekitarnya pula. Jika lingkungan luar yg kurang baik, mungkin kita bisa menghindarinya. Namun bagaimana jika yg kurang baik habits/sikap/sifatnya adalah lingkungan dalam rumah yg tidak mungkin kita hindari? Jawaban² dari beberapa kulwap / materi letak yg harus di perbaiki adalah komunikasi produktif. Partner tinggal kami, bukan tipe pendengar yang baik, sulit menerima kritik/saran, dan kekeuh/fanatik dengan pemikiran yg di sukainya sekalipun itu kurang baik. Saya sudah kibar bendera putih untuk situasi ini…

Apakah memungkinkan jika saya membangun karakter si kecil tanpa komunikasi produktif dengan partner kami ini? Apa yang harus saya lakukan agar habits kurang baik tidak mencemari anak kami, dan kami tetap mendidik si kecil sesuai fitrah tanpa pengaruh habits kurang baik tersebut? Anak kami 15 bulan, kami ingin mencegah habits kurang baik sedini mungkin.

➡ Wa’alaykumsalam wr.wb mbak Prima, apabila yang anda sebut partner adalah suami kita sendiri, sebaiknya segera diselesaikan proses komunikasi dan karakter yang diinginkan. Apabila yang kita sebut partner adalah orang dewasa di luar keluarga inti ( kita dan suami) maka, silakan dipilih mana yang lebih rasional. Apakah kita melatih mereka untuk mengubah perilakunya atau justru kita yang harus berpindah jauh dari sisi geografis, sehingga anak-anak tidak akan terpengaruh.✅

2⃣ Desty IIP Bekasi
Sy menjadwalkan waktu menemani anak belajar dan bermain dari pagi smpe siang(duhur). Siang utk istirahat anak2. Tp yg nomer 1 sudah jarang tdr siang usia 4.3thn. Dia meminta sy menemani sy belajar, bermain, keluar. Rasanya badan sy sudah capek. Hhe. Akhirnya sy putar video yutub, sambil sy lipet2 ato selonjoran. Sambil qt berkomunikasi tentunya ttg video yg dilihat. Apakah di situasi tsb sy tidak membersamai anak dgn full bu? Kdg sy jg suka kebingungan mw belajar apa lagi ya bsk.
Terima kasih
Desty. Bekasi

➡Mbak Desty membersamai anak-anak itu adalah menghadirkan fisik, pikiran dan hati kita di satu lokasi. Sangat normal kalau kadang kita merasakan capek, tetapi capek fisik saja, hati dan pikiran kita tetap bersama anak-anak. Luangkan waktu sejenak mbak desty, untuk menata kegiatan-kegiatan apa saja yang ingin kita kerjakan ke anak-anak dalam satu bulan ke depan, 2-3 bulan ke depan ✅

3⃣Chikakrachma IIP Solo
Assalamualaikum.. bu septi bagaimana cara mengetahui minat bakat anak.. kan anak masih kecil..blm tau smua n ilmu yg ada.. apakah dg ini kita mengenalkan satu2 dlu kemudian lihat ketertarik anak.. (misal kita ajak belajar atau melihat berkuda, musik, robot, dll kemuadian minta anak memilih) atau bagaimana?
➡ Mbak Chika, di saat anak-anak masih usia 2 – 7 th maka ajaklah untuk “tour de taents” mengenal sebanyak-banyaknya aktivitas di muka bumi ini. kemudian usia 7-10 tahun anak-anak mulai mencoba satu persatu-satu dan boleh berganti-ganti. Usia 10-14 th latih anak untuk selesai akan pilihannya, jangan cepet-cepet ganti. Boleh diganti saat tahapannya selesai. Usia 14 th ke atas, anak sudah mulai menemukan apa yang akan dia pelajari dengan fokus✅

4⃣Fitrah IIP Bogor
#tanyaNHW4
Cara memahami bawaan fitrah ilahiyah, fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah perkembangan, fitrah seksualitas anak2 itu bagaimana ya bu? Apakah ada tahapan sesuai umurnya?
Jika anak berumur 4 tahun dan 7 tahun bagaimana bu?
Mohon penjelasannya..

Fitrah_Bogor.
4⃣ Mbak Fitrah, bisa lihat tahapan yang saya kerjakan untuk anak-anak di atas ya. kalau ada yang belum paham silakan ditanyakan lagi✅

5⃣Dwi Indah_IIP Bandung
Ibu Septi yang baik, saya ada beberapa pertanyaan.
1. Sebagai manusia, sangatlah mungkin terkadang hati kita ini “berdebu”, kurang bersih dan butuh dibersihkan. Salah satu caranya membersihkan adalah tentu saja dengan meminta pertolongan Allah yang Maha Penolong. Selanjutnya mungkin bisa dengan membaca buku-buku parenting maupun dari pengalaman orang lain. Pertanyaan saya, Seberapa jauhkah peranan teori-teori parenting dan pengalaman orang lain tersebut dapat mendukung kita dalam melihat fitrah anak kita?

2. Dijelaskan salah satu tahapan mendidik anak sesuai fitrah yaitu Mendidik sealamiah mungkin…apakah artinya setiap keluarga mempunyai standar pendidikan alamiah masing-masing sesuai keadaan keluarganya? Atau bagimana?

3. Untuk merancang program yang khas bersama anak…apakah ada periode waktu yang ideal menurut Ibu Septi untuk merancang program khas ini? Misalnya program khas dibuat setahun sekali, atau bagaiamana?

Terima kasih atas penjelasan Ibu Septi.🙏🏻😊

Dwi Indah_Bandung.
5⃣ Teh Dwi Indah
1. Peranan teori-teori parenting dan pengalaman orang lain jadikan “referensi ” saja tetapi tidak boleh dijadikan patokan. Karena setiap keluarga itu unik, tidak bisa disamakan. Kalau kita melihat orang-orang yang sudah berhasil mendidik anak-anaknya, maka pelajari apa “kunci keberhasilannya”, kemudian tetapkan sendiri pola keluarga kita, dan TIDAK HARUS SERAGAM.

2. Betul mbak, setiap keluarga akan menentukan indikator keberhasilan suksesnya masing-masing, begitu juga kadar alamiah atau tidaknya pendidikan yang dijalankan. Yang kita tidak boleh adalah menyalahkan cara keluarga tersebut hanya karena tidak sama dengan cara kita. maka cukup bandingkan keluarga kita sekarang dengan keluarga kita satu tahun yang lalu, BUKAN dibandingkan dengan keluarga yang lain

3. masing-masing keluarga boleh beda mbak, kalau yang kami lakukan memang setiap 1 tahun sekali di evaluasi, apakah mau tetap lanjut dengan program kemarin atau akan ganti dengan kekhasan yang ingin kita ajalankan tahun depan✅

6⃣ Ratna IIP Jogja
_Assalamualaikum_ bu Septi…

Memang tidak mudah ya bu menentukan prioritas ilmu yang harus dipelajari. Rasanya ingin semua dipelajari dan semua tau.
Yang ingin saya tanyakan,
💟 Bagaimanakah caranya membuat proses ini menyenangkan?
💟 Harus mulai dari manakah sya menentukan prioritas ilmu yg sya cari, mengingat corcern saya sekarang adalah menemani anak2 dalam proses belajar di rumah (baca : HS). Apakah prioritas ilmu itu runtut terperinci atau secara garis besar saja?

Terimakasih
6⃣ Mbak Ratna, wa’alaykumsalam wr.wb, proses menuntut ilmu ini harus kita sadari dengan sebuah kegairahan hidup. Ada hal-hal yang ingin kita tuju. Maka carilah ilmu yang memang berdasarkan rasa ingin tahu kita. nanti di NHW #4 mbak akan bisa lihat tahapannya seperti apa. Lama kelamaan mbak akan merasakan perlu seberapa dalam untuk menguasai ilmu tersebut. Selama rasa ingin tahu kita belum mati, biasanya akan muncul sebuah kedalaman ilmu✅

7⃣ Vita IIP Jakarta
Assalamu’alaikum Ibu Septi ysh, tentang ” Pendidikan Anak berbasis Fitrah” :

1. Bagaimana membaca fitrah anak yang sedang berkembang dilihat dr kesehariannya? Tanda-tanda seperti apakah contohnya?
2. Mohon contoh teknis ibu mendidik fitrah keimanan, fitrah belajar dan fitrah bakat anak-anak ibu diusia balita. apakah antara laki2 dan perempuan berbeda?

Terima kasih ibu atas jawabannya 🙏🏻
7⃣ Mbak Vita, tanda -tanda fitrah itu berkembang adalah munculnya sebuah keseimbangan hidup anak tersebut. Tidak ada yang timpang. Contohnya adalah munculnya aqil dan baligh secara bersamaan. Selama ini kita lihat banyak anak secara fisik sudah baligh tetapi aqilnya belum berkembang, sehingga banyak anak-anak yang sudah aqil baligh justru bikin geregetan orangtuanya.

Contoh saya mendidik anak, bisa dilihat di bagan di atas, tidak ada yang harus saya bedakan dari sisi gendr untuk pendidikan fitrah ini. Kecuali di bidang fitrah perkembangan dan seksualitas. Anak perempuan akan memahami fitrahnya sebagai ibu dan anak laki akan memamhi fitrahnya sebagai bapak./imam keluarga.

Untuk fitrah seksualitas, biasanya di saat usia anak 10-14 th, saya mendekatkan anak perempuan ke ayahnya, dan anak laki ke bapaknya. Agar kebutuhan psikis untuk dekat dengan lawan jenis terpenuhi di diri orangtuanya. Sehingga hal ini membuat anak tidak lagi ingin pacaran di usia remajanya.

Kalau dulu saya dididik oleh ibu yang single parent, maka di usia tersebut, saya didekatkan ke kakak laki-laki ibu saya (pakdhe)✅

8⃣ Lita Andini II Bekasi
#tanyanhw4
Bunda septi bgimana mengamati tumbuh kembang anak diusia dibawah 2 th krn pd usia tersebut anak mayoritas sdg aktif namun seiring waktu jiwa pemberaninya bisa hilang..bgm cara efektif mengarahkan sesuai fitrahnya. Sekaligus meredam potensi negatif anak yg masih dominan misal sejak kecil terlihat tidak sabar dan suka berteriak teriak. Terimakasih masukannya.
8⃣Mbak Lita Andini, sepertinya saya sudah pernah memberikan cara melihat tumbuh kembang anak dengan checklist-checklist ya, mohon dilihat lagi. Mengenalkan bahasa ibu dan bermain bersama alam adalah cara yang paling tepat untuk menumbuhkan semangat belajarnya. Anak-anak dengan usia 2 th itu masih bisa kita amati naik turunnya emosi, kitalah yang harus bisa mengendalikana nak-anak tersebut.

Contoh, kalau anak tersebut minta sesuatu dengan teriak-teriak dan menangis, maka kita tidak akan menurutinya. Kecuali bicara baik-baik✅

🔟 Wayan IIP Bekasi
🙋🏼assalamualaikum bu septi maaf mau tanya

Bagaimana cara kita utk bsa mensosialisasikan kpd lingkungan tetangga kita utk cara mendidik anak yg sesuai fitrah, krn walaupun teknologi smkn maju, msh bnyk ibu yg blm bs mengakses program pembelajaran seperti ini apalagi harus membaca dr literatur buku bu, apakah akan ada pengaruh thdp pola pikir orng tua dlm mendidik jika kita yg memfasilitasi tmpt anaknya menuntut ilmu semisal les dg pola yg sesuai fitrah,, tapi terkadang tdk mudah ngajak mereka belajar bareng…. sya bingung cara komunikasi nya bagaimna ya bu, agar tdk menyinggung persaan merka…saya bisanya cuma kasi contoh aja bu seperti managemant waktunya anak saya…

Trimakasih
🔟 Mbak Wayan, tidak perlu mensosialisasikan, tugas kita hanya satu MENJALANKANnya dengan sungguh-sungguh, sehingga orang lain akan tertarik dengan pola pendidikan anak-anak di keluarga kita. Jadilah BUKTI dan biarkan orang lain menunggu BUKTI dari kita.

Tugas kita tidak untuk membahagiakan banyak orang, karena nanti akan capek sendiri, dan keluarga kita akan terbengkalai. Bahagiakan amanah kita dengan cinta, maka orang lain akan merasakan sebaran cinta tersebut.✅

1⃣1⃣ Fini IIP Bogor
Assalamu’alaikum warahmatullah.. bu Septi yang drahmati Allah, saya sebelumnya type ibu yang “memaksakan” kehendak 🙈😢 saya suka memaksa putri saya (skarang 7thn) untuk shalat.. sekarang baru faham sebenernya sbelum dsuruh shalat seharusnya dkuatkan dulu fitrah ilahiyahnya. Akhirnya sekarang klo shalat seperti yang terpaksa, dan terburu-buru. Mohon pencerahannya ya bu..
Mbak Fini, tugas awal kita adalah mengajak anak-anak untuk menumbuhkan rasa CINTA kepadaNya yang dulu pernah mereka persaksikan sebelum lahir. Orang yang sudah cinta, tidak perlu lagi dipaksa-paksa untuk menemui Dzat yang dicintainya. Bahkan akan menanti-nanti waktu untuk bisa senantiasa berduaan secara mesra denganNya. Buktikan dulu dengan diri kita mbak, baru kita bisa mengajak anak-anak ke hal tersebut✅

1⃣2⃣ Watie IIP Bogor
Assalamu’alaykum ibu Septi Peni,akhir2 ini banyak kita baca banyak perceraian terjadi di masyarakat kita,pertanyaan saya,bagaimana cara kita u memberikan support kpd sahabat kita yg tertimpa musibah tersebut dan bagaimana cara u mengembalikan kepercayaan diri mereka,juga bagaimana cara membangkitkan fitrah anak2 hasil perceraian tersebut.mohon maaf dan terimakasih. Watie IIP Bogor
Mbak Watie, yakinkan bahwa teman kita adalah perempuan kuat yang bisa menghadapi segala macam tantangan hidup secara simultan. Maka selsaikan luka batin terhadap mantan suaminya, tetapi tetap hormat dengan “bapaknya anak-anak”. Ini yang harus dibedakan. Karena secara fitrah ada mantan suami, tetapi tidak ada mantan bapak. Dengan cara menghormati bapaknya anak-anak, maka sang ibu sedang berproses untuk menaikkan rasa percaya diri anak-anak. Dengan demikian rasa percaya diri ibu akan naik seiring makin mantapnya rasa percaya diri anak-anak tersebut✅

1⃣3⃣ Karina IIP Babel
Bismillah..
ibu.. sy ingin menanyakan perihal sekolah dan home schooling..
1. apakah anak anak ibu pernah merasakan fase sekolah dasar seperti pada umum nya anak anak?
2. pendidikan seperti apa yang terbaik untuk anak kita? apakah sekolah seperti pada umumnya atau homeschooling?
1. Mbak Karina, anak-anak pernah SD untuk Ara dan Enes, tetapi untuk Elan hanya di bangku TK selama 1 bulan saja.

2. Pendidikan yang terbaik adalah yang paling cocok dengan karakter anak kita. Saya tidak pernah memaksakan anak-anak dengan pilihan pendidikan yang terbaik menurut kami berdua. Tetapi kami memberikan pilihan ke anak-anak, dengan cara memilih beberapa sekolah formal yang cocok dengan VALUES keluarga kami, dan memberikan pilihan ke anak-anak

mau sekolah A, sekolah B, sekolah C atau Homeschooling bersama bapak ibu. Jadi apapun pilihan anak-anak akan kita terima, dan nak-anak beajar untuk menerima segala konsekuensinya pilihannya.

Yang penting kuatkan Home Based Education keluarga kita , Schooling dan HS itu hanya kendaraan yang bisa dipilih✅

1⃣4⃣ Heny IIP Sulsel
Bismillah, Bu Septi mohon penjelasannya pada poin berikut : “Semua riset tentang pendidikan ternyata menunjukkan bahwa semakin berobsesi mengendalikan, bernafsu mengintervensi, bersikukuh mendominasi dsbnya hanya akan membuat proses pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak anak kita rusak.” _disini maksudnya kita ga usah terlalu mendominasi, terlalu berlebihan dalam proses pendidikan? _henny-IIP Sulsel_
Betul mbak Henny, ini penyakit orangtua, tidak mau MENEMANI perkembangan anaknya apalagi MENGAMATINYA. Tapi justru buru-buru mencekoki anak-anak kita dengan ilmu-ilmu yang kita anggap akan baik untuk anak-anak. Padahal belum tentu cocok dengan fitrah dan peran hidup anak-anak kita. ✅

1⃣5⃣ iLva IIP Semarang
Assalamualaikum
Bu Septi,selama kurang lebih setahun ini saya maraton mengikuti segala seminar dan workshop yg mana pembicaranya Bu Septi,Abah Rama,dan Ust. Harry Santosa. Sejak pertama kali ikut seminar ibu di awal tahun kemarin saya penasaran mengenai HS,HBE,CBE,dan FBE. Akhirnya saya menemukan titik terang mengenai kesemuanya itu. Yang mau saya tanyakan bagaimana jika dalam fitrah 0-7 thn itu ada beberapa yg belum kami sebagai orangtua ajarkan kepada anak,mengingat usia anak kami saat ini sudah 8thn?

Kemudian jujur saya dan suami sudah memiliki pilihan untuk mencabut anak kami dr lembaga institusi formal. Namun,saya pribadi masih ‘galau’ dan tidak PD akan kemampuan saya dalam membersamai anak sebagai fasilitator juga katalisator. Saya merasa tidak kompeten di ranah pendidikan. Saya takut apa yang menjadi keputusan kami untuk mendidik anak kami dg metode HS malah tidak berjalan dg baik dan semestinya. Apakah yang pertama-tama harus kami lakukan untuk start memulainya? Bekal dan ilmu apa yg harus kami miliki dan kuasai?

Terimakasih ibu sebelumnya 🙏🙏
Tidak ada kata terlambat mbak Ilva, teruslah berjalan, yang tidak boleh adalah BERHENTI berproses.

Jangan pernah ragu, Allah sudah menginstalkan Kemampuan fitrah kita mendidik anak seiring dengan dititipkannya janin itu di rahim kita. Kalau anda tidak sanggup , pasti Allah akan menitipkan anak tersebut di rahim Ibu yang lain. Karena Allah sudah memilih kita, maka kitalah perempuan terpilih tersebut. Yang ada selama ini kita tidak mau bersungguh-sungguh menjalankan “kehormatan” kita sebagai perempuan terpilih. Sehingga selama ini perkaranya bukan BISA tau TIDAK BISA, melainkan MAU atau TIDAK MAU. Kalau kita sudah MAU belajar untuk anak kita, pasti Allah akan memberikan banyak kepahaman lewat laku kita✅

1⃣6⃣ Dila IIP Pati
Bu septi yang saya hormati,
Apakah yang sebaiknya kami lakukan,jika kam i terlambat,membarsamai fitran ank kami?terutama utk ank 1.
1⃣6⃣ Mbak Dila, mohon maaf ke anak pertama kita, kemudian minta ampunan ke Allah ya mbak, karena kita sudah menyia-nyiakan amanahNya selama ini dengan ilmu yang sekedarnya. Minta petunjukNya apa yang harus kita lakukan. Dan lihat tanda-tandanya mbak. pasti akan terlihat dengan jelas. Ikuti kata hati itu ya mbak✅

📚NICE HOME WORK #4

🍀MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FIITRAH 🍀

Bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP, masih semangat belajar?

Kali ini kita akan masuk tahap #4 dari proses belajar kita. Setelah bunda berdiskusi seru seputar mendidik anak dengan kekuatan fitrah , maka sekarang kita akan mulai mempraktekkan ilmu tersebut satu persatu.

a. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?

b. Mari kita lihat Nice Homework #2, sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.

b.Baca dan renungkan kembali Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.
Contoh :
Seorang Ibu setiap kali beraktivitas selalu memberikan inspirasi banyak ibu-ibu yang lain. Bidang pelajaran yang paling membuatnya berbinar-binar adalah “Pendidikan Ibu dan Anak”. Lama kelamaan sang ibu ini memahami peran hidupnya di muka bumi ini adalah sebagai inspirator.
Misi Hidup : memberikan inspirasi ke orang lain
Bidang : Pendidikan Ibu dan Anak
Peran : Inspirator

c. Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.

Contoh : Untuk bisa menjadi ahli di bidang Pendidikan Ibu dan Anak maka Ibu tersebut menetapkan tahapan ilmu yang harus dikuasai oleh sebagai berikut :

1. Bunda Sayang : Ilmu-ilmu seputar pengasuhan anak
2. Bunda Cekatan : Ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga
3. Bunda Produktif : Ilmu-ilmu seputar minat dan bakat, kemandirian finansial dll.
4. Bunda Shaleha : Ilmu tentang berbagi manfaat kepada banyak orang

d. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup

contoh : Ibu tersebut menetapkan KM 0 pada usia 21 th, kemudian berkomitmen tinggi akan mencapai 10.000 (sepuluh ribu ) jam terbang di satu bidang tersebut, agar lebih mantap menjalankan misi hidup. Sejak saat itu setiap hari sang ibu mendedikasikan 8 jam waktunya untuk mencari ilmu, mempraktekkan, menuliskannya bersama dengan anak-anak. Sehingga dalam jangka waktu kurang lebih 4 tahun, sudah akan terlihat hasilnya.
Milestone yang ditetapkan oleh ibu tersebut adalah sbb :
KM 0 – KM 1 ( tahun 1 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Sayang
KM 1 – KM 2 (tahun 2 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Cekatan
KM 2 – KM 3 (tahun 3 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Produktif
KM 3 – KM 4 ( tahun 4) : Menguasai Ilmu seputar Bunda shaleha

e. Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.

f. Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan

Sang Ibu di contoh di atas adalah perjalanan sejarah hidup Saya, sehingga menghadirkan kurikulum Institut Ibu Profesional, yang program awal matrikulasinya sedang kita jalankan bersama saat ini.

Sekarang buatlah sejarah anda sendiri.

Karena perjalanan ribuan mil selalu dimulai oleh langkah pertama, segera tetapkan KM 0 anda.
Salam Ibu Profesional,
/Septi Peni Wulandani/

*Resume Review Nice HomeWork #4*
*Matrikulasi IIP Batch #2*
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Senin, 14 November 2016
Pemateri : Septi Peni Wulandani
Notulen : Ahdiyati Marwa

_Matrikulasi IIP Batch #2_
*REVIEW NICE HOMEWORK #4*

*MEMBUAT KURIKULUM YANG “GUE BANGET”*

Bunda, membaca satu demi satu nice homework #4 kali ini, membuat kami makin yakin bahwa akan makin banyak anak-anak Indonesia yang memiliki Ibu-Ibu tangguh, yang paham akan dirinya dan mampu *_Memberi Teladan_* kepada anak-anaknya, bahwa seperti inilah cara belajar di Universitas Kehidupan.

Tantangan dalam mengerjakan Nice Homework#4 ini bukan di urusan hasil pencapaian, tetapi justru di urusan *_kesungguhan_*bunda untuk menemukan diri. Proses ini memang tidak mudah, tetapi kalau kita tidak memulainya maka kita tidak akan pernah tahu. Maka efek berikutnya kita tidak bisa memandu anak-anak kita dalam menemukan peran hidupnya. Ketika merasa tidak bisa dan tidak mau belajar efek berikutnya adalah kita *_sub kontrakkan_* pendidikan anak kita ke orang lain, yang belum tentu paham akan sisi keunikan anak kita. Inilah yang menjadi sumber awal munculnya penyakit *_kemandulan_* dalam mendidik anak-anak. Menggerus kekuatan fitrah kita dalam mendidik anak-anak sehingga menyatakan dirinya _tidak mampu lagi_

Untuk itu kami akan membantu bunda dan calon bunda semuanya menemukan misi hidup ini setahap demi setahap.

🍀Bagi anda yang belum menemukan “jurusan” ilmu apa yang harus ditekuni dengan fokus, maka bersabarlah, tuliskan apa adanya di NHW#4 ini bahwa anda memang belum ketemu sama sekali. Kemudian silakan lihat kembali ke belakang, faktor-faktor apa saja yang membuat anda sampai usia sekarang belum bisa menemukannya.

Tulislah dengan jujur, kemudian lihatlah kondisi sekarang, bagaimana anda mengenal diri anda?

Aktivitas apa saja yang membuat anda SUKA dan BISA, tulis semuanya.

Apa sisi kekuatan diri anda? Silakan tulis semuanya.

Pernyataan-pernyataan ini sudah SAH untuk menggugurkan NHW #4 anda.

Semoga dengan melihat hal ini, bunda semuanya menjadi lebih SABAR, ketika melihat anak-anak kita yang masih galau tidak paham arah hidupnya. Jangankan mereka, kita yang sudah puluhan tahun hidup saja ternyata juga belum paham. Bisa jadi anak-anak kita memang punya pengalaman yang sama dengan kita dulu dan sekarang kita didik mereka dengan pola yang sama dengan cara orangtua kita mendidik kita dulu.

Kembali ke fase titik nol dan segera bergerak.

” *_Jangan pernah berdiam di ruang rasa, sehingga titik nol membekukan hidup anda_* ”

🍀Bagi anda yang sudah menemukan “jurusan”ilmu apa yang harus ditekuni dengan fokus, maka silakan ikuti simulasi secara setahap demi setahap di bawah ini :

1⃣Tulislah Jurusan Ilmu secara Global, misal : Pendidikan Anak dan Keluarga

2⃣Tentukan KM 0 nya mau anda tempuh mulai kapan? Atau apakah saat ini sudah dalam proses berjalan di tahap 1? Maka tulislah kapan anda memulai KM 0.

3⃣Kita ambil satu hasil penelitian _Malcolm Gladwell_dalam bukunya yang berjudul Outliers (2008) pernah mengemukakan sebuah teori yang menarik, 10.000 hours of practice. Menurutnya, jika seseorang melatih sebuah skill tertentu selama minimal 10.000 jam, maka hampir bisa dipastikan orang itu akan “jago” dalam bidang tersebut. *_They will master the skill_* kata Gladwell.

Darimana ia bisa yakin? Konon Gladwell mengembangkan teori ini dari hasil penelitian terhadap para pemain biola selama puluhan tahun. Dari penelitian itu, para pemain biola yang berlatih minimal 2 jam sehari selama 12 tahun (kurang lebih 10.000 jam) semuanya menjadi para maestro biola. Orang yang di pertengahan berlatih di antara 5.000 hingga 8.000 jam, sementara pemain biola yang gagal berlatih di bawah 3000 jam.

4⃣Silakan ukur kemampuan teman-teman, dalam sehari kira-kira sanggup menginvestasikan waktu nya berapa jam, untuk menekuni jurusan ilmu tersebut. Katakanlah kita ambil yang paling pendek hanya 2 jam per hari.

Mari kita berhitung :
10.000 jam : 2 jam = 5000 hari
Apabila setahun katakanlah hanya kita ambil 250 hari efektif saja, maka

5000 hari : 250 = 20 tahun

Inilah periode waktu yang harus anda tempuh untuk bisa menjadi master di bidang anda.

5⃣Silakan bagi 20 tahun tersebut dalam KM perjalanan yang akan anda tempuh, misal

KM 0 – KM 1 = Bunda Sayang ( 5 tahun)

KM 1 – KM 2 = Bunda Cekatan (5 tahun)

KM 3 – KM 4 = Bunda Produktif ( 5 tahun)

KM 4 – KM 5 = Bunda Shaleha ( 5 tahun)

Tidak ada patokan khusus dalam menentukan rentang waktu, silakan anda buat sendiri sesuai dengan kemmapuan kita.

6⃣Uraikan kira-kira mata pelajaran apa saja yang harus kita pelajari satu-satu di mata kuliah pokok Bunda Sayang, Bunda Cekatan dsb.

7⃣Cari sumber belajarnya ada dimana saja dan KONSISTEN menjalankannya.

*AKSELERASI*

Apabila ternyata dalam belajar di jurusan ini mata anda makin berbinar, semangat anda tak pernah pudar, bisa jadi yang harusnya hanya investasi 2 jam/hari secara alamiah akan menjadi lebih dari 2 jam. Maka pilihlah aktivitas harian, waktu yang paling banyak menghabiskan hari-hari anda, adalah aktivitas yang memperbanyak
*_JAM TERBANG_*

Kalau sudah seperti ini Allah sedang menghendaki anda untuk masuk program “AKSELERASI”

Ada dua cara akselerasi yaitu :

🍀Menambah Jam terbang harian

🍀Membeli Jam terbang
Bagaimana caranya membeli? Dengan mendatangi para ahli yang sesuai dengan bidang kita, belajar banyak dari beliau. Pelajari jatuh bangunnya seperti apa, sehingga kita bisa “jump starting” dengan tidak perlu mengulang kesalahan yang pernah dilakukan oleh para ahli tersebut. Sejatinya dengan mengikuti program matrikulasi ini, anda sedang membeli jam terbang.

🍀Carilah mentor hidup anda yang bersedia memandu dengan konsisten agar anda mencapai sukses dengan lebih cepat lagi.

Dengan belajar bersungguh-sungguh di NHW #4 ini, teman-teman akan dengan mudah menyusun

*_customized curriculum_*

untuk anak-anak kita masing-masing.silakan mulai dari diri bunda dulu untuk bisa merasakannya. Karena kalau bundanya sudah bisa, maka kita akan mendapatkan bonus kemampuan menyusun kurikulum bagi anak-anak kita.

Kuncinya hanya dua

*_FOKUS dan KONSISTEN _*

Jadilah yang terhebat di bidang Anda masing-masing. Jangan pernah menyerah.

*_If today is a bad day, tomorrow maybe worst, but the day after tomorrow is the best day in your life. You know what? Most people die tomorrow evening!_* – Jack Ma

Selamat menempuh 10.000 jam terbang anda

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

Sumber Bacaan :

_Malcolm Galdwell, Outliers, Jakarta, 2008_

_Materi Matrikulasi IIP Sesi #4, Mendidik dengan Kekuatan Fitrah, 2016_

_Hasil Nice Homework #4 para peserta matrikulasi IIP batch #2_

🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
*Tanya Jawab* :

1⃣ Lela – IIP Bandung
Di nhw4 ini sesungguhnya saya masih merasa belum 100% dengan jurusan yang sudah saya pilih, langsung ke case nya aja ya.
Saya pilih jurusan bidang pendidikan karena dulu saya ingat-ingat lagi aktifitas saya lebih banyak mentransfer ilmu meski hanya lewat mengajar tpa, memandu anak mesjid dalam kaderisasi, mengisi training-training pengembangan diri remaja dll.
Saat ini kondisi saya menjadi seorang istri juga ibu dan saya tertarik untuk mendalami pendidikan ibu dan anak karena itu sebuah kebutuhan bagi saya, tapi disisi lain apa yang saya kerjakan saat ini lebih banyak berkaitan dengan menginspirasi orang untuk menghafal quran karena merasa hal ini saya butuhkan juga, sehingga terbentuklah komunitas menghafal quran yang saya dan teman buat.

1. Nah apa bisa dua hal ini jadi pilihan yang di kerjakan bersama sedangkan keduanya berbeda urusannya meski bidangnya masih seputar pendidikan?

2. Bagaimana mem-breakdown ilmu apa saja yang dibutuhkan dari bidang tersebut?
Jazakumullah khoir✅
🔹1⃣ Teh Lela, ke depannya kita akan belajar tentang PERAN dan BIDANG.
Selama ini kita lebih sering memikirkan BIDANG, baik ke diri kita maupun ke anak-anak, sibuk dengan hal tersebut, kadang sampai tidak menemukan peran hidup kita, Contoh : Pendidikan anak dan keluarga, Hafalan Quran itu adalah BIDANG. Bolehkah dua-duanya dilakukan? Sangat boleh karena keduanya masih inline, minimal ada irisan antara pendidikan dan hafalan Qur’an.

Tapi kalau kita nanti melihat peran, bisa jadi bidangnya berganti-ganti tetapi peran sebagai Inspirator itulah yang membuat semuanya terhubung. Perlahan belajarnya ya teh, pasti kita sampai disini.

Untuk membreakdown ilmu Hafalan Qur’an tanyakan ke ahlinya ya teh✅

2⃣Yani – IIP Jogja
Saya sedang belajar dan menerapkan bunsay sekarang. Tapi kondisi rumah tangga, menyebabkan saya harus mengambil alih peran untuk mencari nafkah.
Secara otomatis saya harus mempelajari bunprof.
Terimakasih😘

🙋Pertanyaannya,
Apakah maksimal jika saya mempelajari keduanya, sementara anak2 masih balita yang membutuhkan pendampingan saya bu..?✅
🔹2⃣ Mbak Yani, apabila kondisi membuat kita harus masuk ke ranah bunda produktif, segera masuk, dan pelajari dengan sungguh-sungguh. Sebagai penghubung kedua mata pelajaran di Bunsay dan Bunprod adalah buncek. Maka saran saya mbak belajar juga bunda cekatan. Akhirnya nanti akan muncul yang namanya manajemen belajar yang sangat keren. Patuhi saja waktu yang telah mbak Yani buat. Dan jangan ada yang ditunda-tunda, karena akan membuat kita Stress tinggi, dengan load aktivitas yang sangat banyak. Semangaaat ya mbak.✅

3⃣ Prima – IIP Malang
Bu septi, apakah yg di maksud dengan ‘fitrah sebagai orang tua’? Membimbing, menjaga, merawat, mendidik seperti itukah? Bagaimana contoh kongkritnya? Kalau iya, merawat, membimbing, menjaga, dan mendidik yang seperti apa agar kita bisa kembali ke fitrah orang tua? Terimakasih✅
🔹3⃣ Mbak Prima, Allah itu Maha Sayang, memberikan amanah ke kita tidak hanya sekedar titip saja, melainkan sudah satu paket dengan “kemampuan fitrah mendidik” dan “pundi-pundi rejeki” anak tersebut. Tugas kita tinggal mengasah terus senjata “fitrah mendidik” ini dengan baik setiap hari. Salah satu caranya adalah dengan MENEMANI anak-anak bertumbuh, Membangkitkan kembali fitrah anak-anak yang dibawa sejak lahir. Sering-seringlah minta petunjuk Allah, pola pendidikan seperti apa yang paling tepat untuk anak-anak kita, karena tidak sama anatara anak yang satu dengan anak yang lainnya.

Kemudian jemput rejeki mereka tanpa kita harus meninggalkan amanahnya. Karena itu tugas utama kita✅

4⃣Vita – IIP Jakarta
Bu Septi, semoga badan Ibu segera sehat & kuat untuk beraktifitas lagi 😊

Ibu, pada contoh perjalanan hidup Bu Septi, dalam 10.000 jam terbang, Ibu memisahkan setiap pilar antara BunSay, BunCek, BunProd dan BunShol dengan masing-masing dialokasikan fokus selama 1 tahun untuk belajar, menuliskan dan mempraktekannya. Mungkin untuk BunProd dan BunShol menurut saya masih bisa dipisah, tetapi untuk BunSay dan BunCek bagi saya adalah dua hal yang dihadapi setiap harinya secara bersamaan.

Pertanyaan saya :
Bagaimana teknis Ibu memisahkan proses belajar untuk fokus satu per satu diantara keduanya (BunSay dan BunCek)?
Apakah di tahun BunSay, hal-hal terkait BunCek dibiarkan seadanya saja? ✅
🔹4⃣ Mbak Vita, BUNDA SAYANG-BUNDA CEKATAN itu bagi saya adalah mata pelajaran pokok, maka tahap selanjutnya adalah saya menurunkan mata pelajaran apa saja yang harus dipelajari di setiap mata pelajaran pokok tersebut. Maka hal tersebut menjadi “menu utama ” belajar saya selama 1 tahun. Apakah boleh masuk ke ilmu BUNCEK saat mata pelajaran pokoknya masih BUNSAY, boleh banget. tapi tidak jadi menu utama, melainkan jadi ilmu pengayaan (enrichment program). Yang tidak boleh adalah berganti-ganti terus dan tidak FOKUS, sehingga nggak lulus semua mata pelajaran 😭✅

5⃣ Raudhah – IIP SulSel
NHW4 mengarahkan kita untuk kemudian merenungkan apa yang kemudian sudah kita jalani selama selama ini… Saya akhirnya bingung karena jurusan yang kemudian saya ambil waktu kuliah adalah jurusan Teknologi Pangan karena memang minat… dan sama sekali tidak terpikir kemudian kalau itu tidak akan manfaat jika menikah nanti….

Saat ini setelah menikah dan dikaruniai 2 putri, saya merasa bahwa ilmu yang dulu saya tekuni dan sekarang menjadi bidang garapan saya dalam pekerjaan di luar rumah dan juga di dalam rumah… karena urusannya masak2… ternyata membutuhkan ilmu2 yang lain…dalam mengelola rumah tangga…

Pertanyaan saya kemudian adalah dengan ilmu yang sudah saya tekuni sekian tahun kemarin, bukan berarti kemudian mubazir khan Bu… tetapi final questionnya adalah bagaimana saya melakukan sinkronisasi ilmu yang sudah saya tekuni dengan ilmu-ilmu lain seperti yang saya sebutkan dalam NHW4 saya… karena ternyata butuh banyak ilmu yang harus di pelajari dan hemat saya kita tidak harus mengkotak-kotakkan ilmu yang harus kita pelajari dan apakah dengan milestone yang kita pancangkan itu, kita kemudian tidak boleh berpindah dari 1 milestone ke milestone yang lain… ataukah justru malah bisa menjadikannya simultan sebagai satu kesatuan…

Semoga tidak bingung dengan pertanyaan ini Bunda Septi… maaf buat Bunda puyeng…..😔✅
🔹5⃣Mbak Raudhah, saya ilmu dari Elan (anak saya no 3) tentang “The Connection”. Hal tersebut dilontarkan Elan, ketika saya bilang hampir 87 % mahasiswa Indonesia itu salah jurusan, termasuk saya. Elan langsung membantahnya. Tidak ada sebenarnya salah jurusan itu bu, semua memang sudah diatur olehNya. Kemudian Elan mulai memandu saya agar menyebutkan apa saja yang saya pelajari ketika kuliah? Apa saja yang didapatkan waktu itu di luar jam-jam kuliah. Kemudian saya diminta untuk memerinci lebih dalam lagi apa yang saya kerjakan saat ini untuk memperkuat peran hidup saya saat ini. Setelah saya perinci semuanya saling berhubungan erat satu sama lain. Semua akan saling bersimultan sebagai satu kesatuan.

KM-KM yang kita tetapkan itu bukan untuk mengevaluasi apakah kita sudah TUNTAS/BELUM TUNTAS, melainkan sebagai road map kita agar kita bisa mengevaluasinya sebagai perjalanan yang ON TRACK atau OFF TRACK✅

6⃣Pipit – IIP Pekanbaru
Assalamualaikum bu septi, saya sadar 0 Km yang harus di mulai dari memantaskan diri saya sebagai seorang hamba, istri dan ibu dengan berusaha maksimal menguasai ilmu yang berkaitan dengan itu… Namun kondisi keluarga menuntut hal lain.✅
🔹6⃣ Wa’alaykumsalam mbak Pipit, seperti yang sudah saya katakan di review bahwa kembali lagi fase titik nol itu bukanlah hal tabu, lebih baik kembali ke fase titik nol dan setelah itu bergerak. Tapi jangan terlalu lama berdiam di ruang rasa, karena kelamaan di fase titik nol dan berhenti hanya akan membekukan hidup kita. Hadapi tantangan mbak Pipit, agar bisa segera bergerak✅

7⃣Savira – IIP Tangerang
Assalamu’alaikum, Bu Septi yang saya rindukan.
Dalam mengerjakan NHW 4 kemarin saya sudah menuliskan sejujur-jujurnya, apa adanya, termasuk kebingungan saya menentukan misi hidup yang spesifik serta bidang ilmu yang ingin ditekuni.
Kalau boleh saya share, saya ingin bermanfaat bagi lingkungan dengan cara mengajar bahasa inggris (sesuai dengan kemampuan dan keilmuan yang cukup saya ampu) untuk anak-anak for free dan membuat perpustakaan mini untuk mereka. Jadi, peran yang saya ambil sebagai educator. Namun, untuk bidang ilmu, saya ingin menekuni “Pendidikan Anak dan Keluarga” dengan alasan utama sebagai bekal dalam menciptakan keluarga tangguh yang kontributif. Selain itu, harapannya juga bisa menjadi inspirasi bagi ibu-ibu lain, terutama di lingkungan sekitar, dalam mendidik anak. Nah, kalau kondisinya semacam itu, apakah bisa dikatakan sinkron antara misi hidup, bidang ilmu, dan peran? Mohon pencerahannya, Bu. Terima kasih. 🙏🏼🙂✅
🔹7⃣ Wa’alaykumsalam mbak Savira, Sangat sinkron mbak. Peran hidup : educator, bidang : pendidikan anak dan keluarga, kendaraan yang mbak paki bermerk “bahasa inggris”. Seperti saya dulu ketika memulai menekuni ilmu bidang pendidikan anak dan keluarga , menjalankan peran inspirator, ternyata Allah memberikan kendaraannya dengan merk “jarimatika”✅

8⃣ Dian K – IIP Surabaya Raya
Assalamualaikum bu,, nhw4 benar-benar memberi banyak pelajaran ke saya, bahwa sebagai ibu masih banyak yang harus saya pelajari dan kuasai dalam mendidik anak,, makanya saya memilih ilmu parenting sebagai ilmu yang saya pelajari di universitas kehidupan. Pertanyaan saya bu,, bagaimana cara menyesuaikan pendidikan anak di rumah dengan di sekolah,, anak pertama saya baru berusia 3,5 tahun,,tapi dia sudah sekolah, di playgroup. Untuk sekolah ini memang dia yang minta sendiri,, dia ingin bermain bersama teman-teman. ✅
🔹8⃣ Mbak Dian, Wa’alaykumsalam wr.wb. Saya pakai analog ya mbak biar lebih mudah. Anggap saja pendidikan anak itu rumah makan, anak sebagai pelanggan kita, dan kita sebagai chef nya. Maka kita buat menu makan pagi sendiri (menu belajar mulai dari bangun tidur – mau sekolah), kemudian siangnya kita titip ke resto sebelah, dengan memilih terlebih dahulu dan meyakinkan diri kita bahwa apa yang dimasak di resto sebelah itu memiliki “values” dan “prinsip yang sama dengan resto kita. Saat pulang sekolah kita sudah siap menu malam (menu belajar dari pulang sekolah – anak-anak tidur). Sehingga kalau nanti suatu saat anak protes, bu menu makan siangnya sudah tidak sehat lagi karena bla…bla…bla… Anak pengin ibunya sendiri yang memasak untuk menu makan siangnya, kita sudah siap, karena sudah terbiasa dengan menu makan pagi dan malam✅

9⃣ Yessy Liana – IIP Sumut
Assalamualaikum wr. wb 😊
Semoga lekas sembuh ya Bu 😘

Bu, di NHW #4 saya sudah memantapkan hati untuk menjadi fasilitator, spesifiknya bagi anak saya sendiri bu.

Sebagai informasi Bu, saya dan suami membentuk suatu yayasan. Pada awalnya, untuk membangun sekolah AUD, tapi dalam perjalanan waktu kami belajar, kami memutuskan untuk pindah haluan menjadikan yayasan tersebut wadah untuk memfasilitasi para orangtua seperti kami untuk belajar tentang parenting dan pendidikan anak dengan cara seminar, kelas dll.

Sekarang, ada permintaan untuk saya mengisi acara parenting di sekolah dll. Saya tolak secara halus. Jujur saya takut berbicara apa yang tidak saya lakukan Bu. Dan itu tidak sejalan dengan tahapan KM yang sudah saya susun.
Namun, ada juga yang memberikan masukan bahwa saya sebaiknya tidak seperti itu. Sesedikit apapun ilmu harus dibagi. Tidak boleh sombong 😅, harus keluar dari zona nyaman dll.

Mohon pencerahannya Bu 🙏🏻😊✅
🔹9⃣ Mbak Yessi, Wa’alaykumsalam wr.wb jangan pernah menolak jam terbang mbak, itu kehendakNya untuk mbak Yessi bisa akselerasi. Maka sampaikan hal-hal yang sudah pernah mbak yessi lakukan. Sebagai contoh dulu saya dulu diminta ngisi seminar tentang “Baby Led Weaning”, saya tidak mau karena saya memang tidak melakukannya untuk ketiga anak saya. Kalau harus menyampaikan materi tersebut, maka saya harus hamil lagi hehehe. Tapi kalau diminta menyampaikan topik tentang melatih kemandirian anak sejak usia 1 tahun, meski saat itu Enes dan Ara baru berusia 2-3 th, saya mau berbagi, karena saya sudah melakukannya.✅

🔟 Yensi Hafni – IIP Sumut
Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Syafakillah ya buk

Buk..saya memutuskan berhenti bekerja 3 tahun yang lalu di karenakan saya melahirkan anak ke-2 .. Awalnya saya berhenti karena ketidakpuasan saya dengan pengalaman mensubkontrakan pengasuhan anak pertama saya kepada orang lain..

Bekerja 8 tahun membuat saya berpikir pada saat itu. Kalau saya jadi ibu rumah tangga khawatir bosan dengan rutinitas pekerjaan rumah sehingga saya ikut berorganisasi di AIMI Sumut (asosiasi ibu menyusui indonesia) dan ikut pelatihan konselor menyusui dan akhirnya saya jadi konselor laktASI dan memang atas dasar pengalaman yang tidak menyenangkan juga yang saya rasakan pada saat berjuang menyusui mendorong saya bergabung dengan organisasi ini dengan harapan ilmu yang saya dapatkan bisa saya share kepada ibu-ibu yang membutuhkan informasi seputar menyusui.
Nah seiring waktu ternyata apa yang saya khawatirkan sangat jauh berbeda dengan yang saya pikirkan, rutinitas pekerjaan rumah dan mengurus anak-anak sudah menyita waktu seharian.. Sehingga saya merasa tidak optimal di AIMI namun saya masih menyempatkan waktu untuk mengikuti kegiatannya jika memungkinkan.

Bergabung di IIP bener-bener membuka mata, hati dan pemikiran saya betapa pentingnya mendidik anak-anak saya dengan ilmu parenting.. Ternyata banyak hal-hal yang selama ini saya lakukan menyakiti perasaan anak-anak saya dan mulai saat itu saya berjanji akan menjadi ibu yang lebih baik lagi.

Nah di matrikulasi ini saya menetapkan ilmu parenting sebagai universitas yang ingin saya pelajari saat ini karena saya benar-benar merasa sangat banyak kekurangan disana sini dalam mengasuh dan mendidik anak-anak saya dimana saya sering tidak memahami perasaan anak-anak saya ..dan masih marah-marah jika saya tidak bisa membaca perasaannya.
Dan KM O saya di mulai pada saat saya mengikuti matrikulasi ini.
Saya hanya bercita-cita mengantarkan anak saya menjadi anak-anak yang sholeh .. Sukses dunia dan akhiratnya.

Pada saat berhenti bekerja saya pernah berjanji kepada diri saya untuk mendedikasikan sisa umur saya untuk mengedukasi ibu-ibu untuk menyusui bayi-bayinya agar pengalaman pahit saya memperjuangkan anak saya pada saat menyusui tidak banyak di rasakan oleh ibu-ibu lainnya.

Namun saat ini saya belum maksimal untuk janji saya ini karena ada prioritas lain yang sudah saya tetapkan yaitu ilmu parenting.
Untuk pembekalan anak-anak saya.

Bagaimana pendapat ibu? Karena saya tidak maksimal di aimi karena sudah menetapkan ilmu baru yang ingin saya pelajari untuk anak-anak saya.

Jazakallah khayr bunda✅
🔹🔟 Mbak Yensi Hanif, Wa’alaykumsalam wr.wb, apa yang sudah mbak lakukan itu tidak akan saling bertentangan. Antara AIMI dan pendidikan parenting itu sejalan. Selama ini mungkin yang membuatnya tidak sejalan adalah “aktifnya” kita di organisasi tersebut menyita banyak waktu urusan kita di dunia mendidik anak-anak. Maka kuncinya sekarang adalah di manajemen waktu. Atur dengan sangat rapi tentang waktu untuk pendidikan anak-anak, organisasi dan pengembangan diri. Indikatornya kalau ketiga hal tersebut bisa menambah jam terbang kita di urusan ilmu yang kita ambil, ya lanjutkan. Kalau tidak hentikan✅

1⃣1⃣ Desty Nurul
Bu septi mulai kapan jadi bunda produktif? Apa itu sudah sesuai milestone ibu?✅
🔹1⃣1⃣ Mba desty sebelum buat milestone saya terkungkung di aktivitas momong anak dan urusan rumah yang sekedarnya selama 8 tahun. Setelah itu saya remidial hehehe, dengan menetapkan tahapan, alhamdulillah karena remidial jadi lebih mudah. Kalau saya bener-bener ingin pijakan masing-masing tahapan itu kuat terlebih dahulu. sehingga masuk tahun 2005-2006 saya baru ke bunda produktif (saya nikah tahun 1995)✅

1⃣2⃣ Maula Ayesha
Berarti bila pilihan ilmu saling berkaitan dan kita sanggup untuk melaksanakan nya bisa terus dilanjutkan ya Bu?✅
🔹1⃣2⃣kalau di kuliah itu namanya “DOBLE DEGREE” mbak, titelnya banyaaak. ✅

1⃣3⃣Lendy Kurnia – IIP Bandung
🙋🏻Bu Septi,
Sampai sejauh mana kita menuntut ilmu yang dirasa perlu..?
Karena saya suka ini perlu, itu juga perlu.
Tapi prakteknya, masih tidak fokus.

Bagaimana yaa Bu..?✅
🔹1⃣3⃣Sampai usia kita berakhir, Belajar semua ilmu boleh banget, yang nggak boleh adalah TIDAK DIPRAKTEKKAN dan TIDAK PERNAH FOKUS✅

1⃣4⃣Maula Ayesha
Oya Bu tambahan pertanyaan lagi dong.. Bagaimana menjaga semangat agar tetap semangat? 😅
*edisi curcol… Karena suami sedang ada agenda di luar kota sambil merenung betapa hebatnya para Ibu single fighter😍✅
🔹1⃣4⃣Orang yang menjalankan misi hidup itu selalu memiliki bahan bakar semangat yang nggak pernah habis. Makanya kalau diibaratkan mobil, Allah itu menyiapkan perempuan sekelas mobil yang punya dobel gardan. Tahan dengan medan apapun. Makanya ayoooo kejar fitrah kita.✅

Tanggapan :
Jadi.. Sambil flash back perjalanan pernikahan dan peran di istana sendiri yaa Bu.. 😬✅
🔹betul mbak✅

1⃣5⃣Rina Octavia
Bu Septi, bicara km 0-10,000
Apakah kita juga perlu menetapkan kriteria capaian di tiap-tiap km nya, supaya bisa mudah saat melakukan evaluasi✅
🔹1⃣5⃣Iya perlu, itu lebih detil di perkuliahan non matrikulasi, tentang INDIKATOR dan PENILAIAN.✅

1⃣6⃣Lendy Kurnia – IIP Bandung
Belajar itu harus sampai dalam kalau memang perlu, tapi kalau gak perlu…hanya tahu kulitnya saja…
Bolehkah begitu, Bu..?✅
🔹betul teh✅

Salam Ibu Profesional

Diresume oleh Ahdiyati Marwa
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s