Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga (Matrikulasi Sesi#2)

⚜ *Diskusi Materi Matrikulasi #Sesi2 — Menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga* ⚜

@ 25 Oktober 2016

Fasilitator               : Septi Peni Wulandani

Ketua Kelas            : Nesri Baidani

Koord. Mingguan  : Hani Khaerunnisa

☘🍀🌾☘🍀🌾☘🍀🌾☘🍀🌾☘🍀🌾☘🍀🌾☘🍀🌾☘🍀🌾☘🍀

Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #2

🙋 *MENJADI IBU PROFESIONAL, KEBANGGAAN KELUARGA* 🙋

Apa kabar bunda dan calon bunda peserta matrikulasi IIP Batch #2? Pekan ini kita akan belajar bersama,

a. Apa Itu Ibu Profesional?

b. Apa itu Komunitas Ibu Profesional?

c. Bagaimana tahapan-tahapan untuk menjadi Ibu Profesional?

d. Apa saja indikator keberhasilan seorang Ibu Profesional?

***********

🍀APA ITU IBU PROFESIONAL?

Kita mulai dulu dengan mengenal kata IBU ya. Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia Ibu itu memiliki makna 1 perempuan yang telah melahirkan seseorang; 2 sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami;3 panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum; 4 bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): — jari; 5 yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: — negeri; — kota;

Sedangkan kata PROFESIONAL, memiliki makna 1 bersangkutan dengan profesi; 2 memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya: ia seorang juru masak –;
Berdasarkan dua makna tersebut di atas, maka IBU PROFESIONAL adalah seorang perempuan yang :

a. Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.

b.Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh –sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

🍀APA ITU KOMUNITAS IBU PROFESIONAL?

Adalah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu.

🍀MISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

1.Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi

guru utama dan pertama bagi anaknya.

2. Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya

sehingga menjadi keluarga yang unggul.

3. .Meningkatkan rasa percaya diri  ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga  ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya

4. Meningkatkan peran ibu menjadi “change agent” (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.

🍀VISI KOMUNITAS IBU PROFESIONAL

Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga.

🍀BAGAIMANA TAHAPAN-TAHAPAN MENJADI IBU PROFESIONAL?

Ada 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional yaitu :

a. Bunda Sayang

Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya

b. Bunda Cekatan

Ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.

c. Bunda Produktif

Ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri  ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga  ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya

d. Bunda Shaleha

Ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.

🍀APA INDIKATOR KEBERHASILAN IBU PROFESIONAL?

*“Menjadi KEBANGGAAN KELUARGA”*

Kalimat di atas adalah satu indikator utama keberhasilan seorang Ibu Profesional. Karena  anak-anak dan suami kitalah yang paling berhak pertama kali mendapatkan ibu dan istri yang terbaik di mata mereka.

Maka yang perlu ditanyakan adalah sbb :

*_BUNDA SAYANG_*

a. Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?

b. Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi?

c. Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?

d. Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak-anak?

*_BUNDA CEKATAN_*

a. Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?

b.Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir” keluarga sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”.

c.Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?

d.Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga

*_BUNDA PRODUKTIF_*

a. Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?

b. Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut?

c. Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?

d. Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?

*_BUNDA SHALEHA_*

a. Nilai-nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?

b. Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?

c. Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?

d. Apakah kita merasa bahagia dengan program tersebut?

Selamat berproses menjadi Ibu Profesional, dan nikmatilah tahapan-tahapan belajar yang bunda dan calon bunda rasakan selama mengikuti program pendidikan di Ibu Profesional ini dengan segenap kesungguhan

Seperti pesan pak Dodik ke saya untuk meyakinkan beliau tentang pentingnya kesungguhan menjadi seorang Ibu sbb:

“Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik” -Dodik Mariyanto
_Salam Ibu Profesional_,

/Septi Peni dan Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

***********

📚SUMBER BACAAN:

Kamus Besar Bahas Indonesia, Edisi keempat, Balai Pustaka, Jakarta, 2008

Hei, Ini Aku Ibu Profesional, Leutikaprio, cetakan 1, 2012

Bunda Sayang, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2013

Bunda Cekatan, Seri Ibu Profesional, Gaza Media, cetakan 1, 2014

Bunda Produktif, Catatan Ikhtiar Menjemput Rizki, Seri Ibu Profesional, J&J Publishing, cetakan 1, 2015

☘🍀🌾☘🍀🌾☘🍀🌾☘🍀🌾☘🍀🌾☘🍀🌾☘🍀🌾☘🍀🌾☘🍀

*Pertanyaan*

1⃣ Assalamualaikum Bu Septi.

Kedua ortu suami adalah guru. Salah satunya adalah guru TK. Terkadang ada perkataan seperti harapan “nanti si kakak sekolah di sini saja ya, di TK nya kakung seperti ayah (suami) dulu”. Kami berdua sebagai ortunya sepakat tetap menyekolahkan kakak di tempat sekarang kami domisili.

Bagaimana penjelasan alasan yang pas dan tepat ya Bu, agar ortu mengerti dan tidak kecewa jika harapannya tidak terpenuhi.

Terimakasih Ibu 😊

_Arin–IIP Bali_

➡ Mbak Arin, yang pertama kita harus menghormati usul atau pendapat ortu kita dengan “senyum” dulu, kemudian ajak anak untuk belajar memilih dari awal mana yang cocok dengan dirinya. latih untuk bicara langsung dengan kakungnya dengan cara anak tersebut. setelah itu baru kita bicara antar orang dewasa, dengan memberikan berbagai penguat mengapa memilih sekolah yang sekarang, tanpa harus menjelekkan sekolah kakungnya. Ini urusan komunikasi  saja✅
2⃣ Bu, kalau kurikulumnya tidak berurutan (bunsay dulu baru buncek misalnya), bagaimana penyesuaiannya? Ini juga yang saya hadapi di RB Bisnis. Permasalahan ibu-ibu di RB tsb adalah manajemen waktu tapi disisi lain butuh memiliki penghasilan (salah satu poin di bunpro dan bunsha). Mohon masukannya.

_Ratih–IIP Bandung_

➡ Teh Ratih, karena ini adalah pijakan, maka idealnya memang berurutan. Untuk perempuan yang sudah berkeluarga maka, pijakannya adalah sbb :

Bunsay – Buncek – Bunpro – Bunshal

Sedangkan untuk perempuan yang belum berkeluarga atau sudah berkeluarga belum punya anak, maka bisa diubah ke :

buncek – bunpro – bunshal – bunsay

Bagaimana dengan para perempuan yang sudah berkeluarga tapi karena kondisi ekonomi harus masuk bunpro terlebih dahulu. Maka harus menginvestasikan waktu lebih banyak untuk menguatkan bunsay dan buncek. Karena Bunda Produktif yang tidak didasari ilmu bunda sayang dan bunda cekatan, biasanya akan timpang dan terjadi ketidakseimbangan dalam hidupnya. Maka penuhi dulu ilmunya , Allahlah yang akan memahamkan kita, seiring berjalannya waktu✅
3⃣ Bu Septi:

● bagaimana langkah-langkah menemukan misi spesifik hidup?

● Apa saja pokok ilmu yang mendukung manajamen keluarga?

_Prima–IIP Malang2_

➡ Mbak Prima, bersabar ya, itu ada di materi matrikulasi berikutnya tentang proses menemukan misi spesifik hidup, dan Ibu sebagai Manager keluarga. Terus semangat mengikuti ilmu ini setahap demi setahap✅
4⃣ Assalamualaikum bu septi..

Saya senang sekali bisa tergabung dalam komunitas ini,,

Materi kali ini banyak yang saya tanyakan :

1. Berkaitan dgn bunda sayang : dalam kaitannya mendidik anak, ilmu apa saja yg seharusnya dimiliki seorang ibu?

➡ banyak, mulai dari komunikasi produktif , mendidik kemandirian anak, sampai dengan keluarga multimedia ( kurikulum bunda sayang)

2. Berkaitan dgn bunda cekatan : seringkali sy masih keteteran dlm membereskan rumah,kadang klo sy fokus ke rumah,anak2 jadi terbengkalai. ketika sy fokus ke anak, rumah jadi berantakan.. apa ini karena sy yg belum bisa memanage waktu ya? bagaimana solusinya?

➡ Ada ilmunya bun, ilmu ini ada di kurikulum bunda cekatan. Bagaimana menata rumah dengan konsep 5 R, kemudian bagaimana menentukan prioritas dalam pekerjaan-pekerjaan rumah kita.  Mulai dari mendidik anak dikuatkan prosesnya terlebih dahulu, kemudian baru tambah menata rumah, memasak makanan sehat atau yang lainnya. Prioritas ini beda antar ibu yang satu dengan ibu yang lain. Tidak ada benar dan salah, yang ada hanya beda prinsip hidup, dan itu sah-sah saja

3. Berkaitan dgn bunda produktif :

Sekarang ini saya selain menjadi ibu,juga bekerja sbg guru freelance di lembaga bimbingan belajar, selain itu biasanya saya juga menjadi penulis lepas,, tapi akhir-akhir ini sering tdk produktif dlm menghasulkan tulisan,, bagaiman cara bisa tetap produktif dengan mengasuh dua balita.➡ Kuncinya hanya satu belajar MANAJEMEN WAKTU kemudian melatih diri untuk menentukan KOMITMEN sesuai kemampuan kita ( jangan semuanya disanggupin) dan KONSISTEN dengan pilihan kita✅

_Dian K–IIP Surabaya Raya_
5⃣ Saya ingin menguatkan ranah bunda sayang karena dgn 4 anak umur msh sangat muda, 7th 5th 2th 3bulan..

Bgm cara memotivasi dan mengarahkan kreatifitas mereka diusia mereka masing2?

Utk kk nomor 1 yg menyenangi melukis,apakah sy all out mendorong kesukaannya dan tdk perlu memperlihatkan hal lain?

Utk kk nomor 2 yg blm jelas kesukaannya,bgm sy menandai apa yg dia sukai?

Terimakasih utk jawabannya bu.

_Asty–IIP Sulsel_

➡ Untuk anak-anak usia 2-7 th saatnya mereka mengkayakan wawasannya, maka perbanyak dulu wawasan anak dengan berbagai aktivitas di semua bidang. Ijinkan mencicipi satu persatu. Bagaimana anak bisa bilang suka A dan tidak suka B, kalau sama-sama belum pernah merasakan aktivitas A dan B.

Setelah kaya wawasan, masuk tahap kaya aktivitas, artinya anak merasakan satu persatu. di tahap ini ijinkan bergonta-ganti. karena itu artinya NORMAL. Kitalah yang harus pintar mensiasati hati agar tidak ikut mematikan keinginan anak-anak.

Tahap berikutnya kaya gagasan, beri ruang anak untuk memilih aktivitas yang dia suka dan bisa, kemudian beri tantangan untuk sampai selesai di setiap tahap belajarnya. jangan karena ada yang tidak dia sukai , langsung minta ganti lagi.✅
6⃣ Bu mau tanya ketika kita sudah mantap dengan menjadi Full Home mommy yang InsyaAlloh ingin menjadi profesional, namun terkadang masih suka terdengar nada-nada sumbang dari keluarga dan lingkungan sekitar mengenai ibu yang Full home… Bagaimana cara meyakinkan diri bahwa ini adalah pilihan yang sudah dibuat dan kita bisa ajeg dengan pilihan kita?

_Fiena–IIP Bandung_

➡ Teh Fiena, kalau saya dulu berusaha untuk menutup mata dan telinga sekenceng-kencengnya, kemudian mengafirmasi diri, bahwa ini pilihan terbaik, dan saya akan menghargai pilihan saya. Karena kadangkita minta orang lain menghargai profesi/ pilihan hidup yang kita ambil, diri kita sendiri justru tidak menghargainya. Apa contohnya?

Dulu saya selalu pakai daster all day, ini adalah bukti bahwa diri saya sendiri saja tidak menghargai pilihan profesi yang saya ambil.

Maka prinsipnya adalah

*”For THINGS to CHANGE, I must CHANGE FIRST”*

mulailah berubah dari diri kita sendiri, setelah itu saya gunakan prinsip selanjutnya

“Selama ALLAH dan RASULNYA” tidak MURKA, maka saya akan jalan terus”✅
7⃣ Untuk menjadi ibu profesional apakah tahapan2 tersebut harus dilaksanakan fokus secara bertahap, bisakah unt semua tahapan tsb dilakukan secara bersamaan, terutama unt tahapan ibu produktif bisakah sambil kita lakukan unt aktualisasi diri dan membantu ekonomi keluarga? Makasih bu

_Nurhalita–IIP Tangerang_

➡ Mbak Nurhalita, silakan lihat jawaban saya di pertanyaan teh Ratih di atas ya 👆, mirip soalnya✅
8⃣ Bunda, saya punya 5 anak dan ayah mereka sudah meninggal 5 tahun yang lalu. Saya mantan ibu guru pernah mengajar di TK dan SD. 3 anak saya sekolah formal sambil pesantren, alhmdllh fitrah2 sudah muncul dan saya lanjutkan untuk membmbingnya terus.

Dua putra saya usia 7&5 th hati kecil saya ingin meng HS kan mereka tapi mereka lbh suka masuk sekolah formal, selama masa sekolah ini banyak hal yang kontra dgn mindset saya, sehingga justru saya merasa khawatir thd mereka, saya jadi kurang percaya pada sekolah, mereka juga jadi sering bolos sekolah, saya harus bagaimana bun, mohon pencerahan terima kasih!

_Siti–IIP Cianjur_

➡ Mbak Siti, ajak anak-anak untuk mengenal berbagai pilihan cara belajar sebanyak-banyaknya. Sekolah itu memang salah satu cara, dan HS itu juga salah satu cara. Keduanya tidak bisa dipaksakan, dan tidak bisa dinilai bahwa yang  sekolah lebih baik dari HS atau sebaliknya. Yang ada hanyalah anak diberikan wawasan alternatif kemudian diberikan ruang untuk memilih. Seberapa galau orangtuanya, tetap tidak boleh menggiring anak untuk memilih salah satu cara belajar tersebut, apalagi mendiktekannya ke anak ✅
9⃣ Bu, bagaimana utk para ibu yang bekerja?saya terkadang suka galau sebagai ibu. Tp saya bersyukur dg pekerjaan saya selain membantu perekonomian keluarga, jam kerja saya tidak ada sehingga sy masih bs urus rumah. Dalam sebulan sy keluar kotabsekita 3-8 hari tp setelah itu sy full dirumah karna selebihnya pekerjaan bs dikerjakan dirumah. Tp kalo sy sudah keluar kota disitu perasaan sy mulai berkecamuk. Anak sy titipkan ke Mbahnya. Karna tidak memungkinkan membawa anak saya dalm perjalanan jauh. Dan sy jg tetap ingin menjadi sosok ibu profesional. Bagaimana saran ibu septi?karna jujur saja, sy masih harus bekerja karna utk membantu suami saya karna kami harus membiayai adik2 dr kami berdua sekolah utk membantu ortw kami msg2.terimankasih.

_Lisa–IIP Kalteng-Kalbar_

➡ Mbak Lisa  di Ibu Profesional semua ibu adalah ibu bekerja, yaitu ibu yg bekerja di ranah publik dan ibu yg memilih bekerja di ranah domestik, dua-duanya harus dikerjakan dg sungguh2.

Karena Allah tidak pernah pilih kasih dalam menitipkan anak-anak di rahim perempuan, semua perempuan berhak mendapatkan amanah tsb baik yg bekerja di ranah publik maupun domestik.

Sehingga Allah sudah menempatkan masing-masing ujian dalam mendidik anak sesuai dengan kemampuannya.

Maka belajar dengan sungguh-sungguh, agar kita bisa menjadi orang yg dipercaya di mata Allah dalam mengemban amanahNya.

Saya berikan testimoni dari fasilitator matrikulasi yang memilih bekerja di ranah publik ya, biar pas, karena saya dari awal bekerja di ranah domestik

_Jawaban Nio-Depok:_

Sedih itu sangat manusiawi dan wajar. Namun kemudian kita harus mengevaluasi, apakah niat dan misi kita bekerja di ranah publik? Seurgent apa bagi keluarga kita. Jawaban akan terpulang pada kondisi keluarga kita sendiri. Jika bekerja diluar merupakan ikhtiar dalam menjemput rizki bagi keluarga dan sifatnya sangat urgent maka bungkus keberangkatan kita bekerja dengan niat mencari rezeki mulia sekaligus meningkatkan jam terbang misi di ranah publik. InsyaAllah kesedihan kita terarah menjadi lebih produktif dan doakan anak anak kita selalu dalam penjagaan Allah ketika kita tidak bersama mereka.

Satu hari 24 jam, bekerja di ranah publik 8-9 jam kerja maka pos waktu berikutnya adalah mengejar ketertinggalan waktu kualitas bersama anak. Pulang kerja harus diniatkan untuk mengisi energi baru membersamai anak anak sambut kegirangannya dengan senyum lebar dan pelukan sehangat mentari, obrolan seharian, dongeng dsb. Tentunya jika ibu butuh waktu untuk menyiapkan diri (mandi, makan) maka mintalah waktu pada anak anak untuk itu, kemudian kembali kepada mereka.

Dalam jelang tidurnya saat kondisi RASA maka bisikkan kalimat positif bahwa bunda mengajak anak anak untuk ikhlas dan berdoa untuk bunda supaya kualitas kerja bunda baik dan efisien sehingga bisa tepat waktu pulang, berikan penguatan kita akan bercengkrama lagi selepas bunda di rumah dan saat weekend adalah saat saat yang amat sangat dinanti. Paginya katakan kepadanya, Nak bersama Opung ya, semangat ya nak, maem yang baik main yang asik jangan lupa istirahat dll nabti sore kita jumpa lagi… dengan lembut dan yakin ..Sehingga bila memungkinkan besok2 jika sudah terbiasa anak anak akan mengantarkan bunda dengan salim hangat, senyuman dab lambaian tangan, bunda hati hati ya, semangat kerjanya, semoga sukses ya Bunda

Terapkan walau anak masih balita dan belum bisa memberikan feedback melalui kalimat. Karena gesturenya dan binar matanya nanti yang akan berbicara. ✅
🔟  Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh,bu Septi yth,mohon maaf saya banyak mendapat pertanyaan dr luar IIP yg melihat bahwa IIP hanya program2 antara ibu dan anak,tetapi tidak melibatkan hubungan ibu dengan ayah dan ibu dg mertua atau orangtua,mohon maaf sebelumnya,dan terimakasih.

_Watie–Bogor_

➡ Mbak Watie, semua perlu tahapan mbak. Dan kita baru mulai langkah-langkah awal pembelajaran. Saat ini memperkuat diri kita sebagai ibu, istri dan perempuan dengan berbagai ilmu yang harus dipraktekkan. Setelah diri kita kuat, maka hubugan dengan pihak lain akan makin mudah. Kalau IIP ini ibarat gajah, teman-teman di luar IIP baru lihat kakinya saja, dan itupun baru satu kaki, belum bisa melihat secara utuh. Ada grand designnya, maka koordinator kota yang harus bersabar mengamalkan ilmu setahap demi setahap di Ibu Profesional. ✅
1⃣1⃣ Assalamualaikum Ibu…

1. Bagaimana cara yg tepat mendidik anak dengan karakter pemimpin?

Anak sya tidak mau langsung ya kl di panggil atau di mintain tolong….

Tapi ketika dia mengingin kan sesuatu itu harus,dan  dominan dia mengatur.

Bgmn baiknya ibuu..

➡Berikan peran untuk mengatur dan menjadi decision maker. Misal kak kita mau jalan-jalan, kakak yang tentukan ya kita mau jalan kemana. Kak , menurutmu yang baik untuk ibu yang mana ya? . Intinya berikan peran sebanyak-banyaknya ke anak untuk memimpin.
2. Bagaimana cara memotifasi diri sendiri untuk tetap bersungguh2, dan semangt dlm menuntut ilmu dan menjadi  ibu profesional, karena terkadang suka ada perasaan ‘saya sendirian’ tidak ada teman, sedangkan teman seperjuangan sudah sukses dengan karirnya masing2 di luar rumah… mhon pencerahan nya…

➡ Mbak Wayan gunakan prinsip ini

Andaikata ada seribu ibu yang bersemangat menuntut ilmu demi keluarganya, maka salah satunya itu adalah saya.

Andaikata ada seratus ibu yang bersemangat,maka salah satunya adalah saya

Andaikata hanya ada SATU saja ibu yang bersemangat di dunia ini, ITULAH SAYA

Jadilah bukti, jangan menunggu orang lain memberikan bukti.

_Wayan–IIP Bekasi_
1⃣2⃣ Bu Septi,apakah tahapan untuk menjadi ibu profesional itu harus urut dari bunda sayang,cekatan,produktif & sholeha? atau bisakah dilakukan bersamaan?terima kasih

_Eva–IIP Jepara_

➡  Lihat jawaban-jawaban di atas ya mbak✅
1⃣3⃣  Bu septi yg terhormat mau tanya

1.Bagaimana melatih kemandirian anak umur 7 th dan 4 th?

2.Bagaimana pola mendidik anak yg karakternya berbeda?.

_Fitriyati–IIP Jepara_

➡ mbak fitri, untuk kemandirian, ibunya harus jadi RATU TEGA. di ilmu melatih kemandirian anak, saya sudah berikan tahapan-tahapannya. Silakan mbak Fitri buka lagi buku bunda sayang atau bersabar mengikuti tahapan belajar di Ibu Profesional.

karena disana saya tuliskan, tahapan per usia. kalau saya tulis disini jadi panjang sekali. Selamat belajar ya mbak.

Anak dengan karakter yang berbeda, maka kita perlu memahami dulu ciri-ciri karakter tersebut dan memberikan penangan yang tepat. Misal anak dengan karakter pemimpin, maka harus diberi peran menjadi pemimpin yang baik. Anak dengan karakter follower juga harus diberi peran agar bisa menjadi follower yang baik. Semua ada porsinya dan ada perannya. Tidak pernah ada yang salah, hanya tidak pas ditempatkannya saja. ✅

*#HK*

☘🍀🌾☘🍀🌾☘🍀🌾☘🍀🌾☘🍀🌾☘🍀🌾☘🍀🌾☘🍀🌾☘🍀

📚NICE HOME WORK #2📚

Bunda, setelah memahami tahap awal menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga. Pekan ini kita akan belajar membuat

📝✅“CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN”✅📝

a. Sebagai individu

b. Sebagai istri

c. Sebagai ibu

Buatlah indikator yg kita sendiri bisa menjalankannya. Buat anda yang sudah berkeluarga, tanyakan kepada suami, indikator istri semacam apa sebenarnya yang bisa membuat dirinya bahagia, tanyakan kepada anak-anak, indikator ibu semacam apa sebenarnya yang bisa membuat mereka bahagia.Jadikanlah jawaban-jawaban mereka sebagai referensi pembuatan checklist kita.

Buat anda yang masih sendiri, maka buatlah indikator diri dan pakailah permainan “andaikata aku menjadi istri” apa yang harus aku lakukan, “andaikata kelak aku menjadi ibu”, apa yang harus aku lakukan.

Kita belajar membuat “Indikator” untuk diri sendiri.

Kunci dari membuat Indikator kita singkat menjadi SMART yaitu:

– SPECIFIK (unik/detil)

– MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)

– ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)

– REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)

– TIMEBOND ( Berikan batas waktu)

● Review Nice Home Work #2 ●

✅📝CHECKLIST PEREMPUAN PROFESIONAL📝✅

Pertama yang akan kami katakan adalah SALUT untuk para bunda dan calon bunda peserta matrikulasi Ibu Profesional yang berhasil mengalahkan “rasa” berat untuk mengerjakan nice homework#2 ini. Kalau di Jawa ada pepatah  yang mengatakan _Ojo kalah karo wegah_” (Jangan mau kalah dengan rasa malas).  Karena sebenarnya kalau urusan membuat checklist profesionalisme ini bukan *_MAMPU_* atau *_TIDAK MAMPU_* melainkan *_MAU_*atau *_TIDAK MAU_* .

Terbukti teman-teman bisa melakukannya di tengah kesibukan yang luar biasa.

Kami sangat menghargai proses teman-teman membuat checklist profesionalisme ini. Mulai dari menanti-nanti jawaban dari suami dan anak bagi yang sudah berkeluarga, maupun melakukan kesungguhan bermain “andaikata aku menjadi istri dan ibu” bagi yang sedang dalam proses memantaskan diri membangun keluarga. Ada yang terkaget-kaget dengan banyaknya list jawaban dari suami dan anak-anak, ada juga yang bingung dengan jawaban dari para suami dan anak, karena terlalu sederhananya keinginan mereka terhadap kita, demi sebuah kebahagiaan.

*KOMITMEN DAN KONSISTEN*

Dua kata itulah yang akan menjadi kunci keberhasilan kita dalam membuat checklist profesionalisme ini. Buatlah komitmen setahap demi setahap, sesuai dengan kemampuan kita, kemudian belajar istiqomah, konsisten menjalankannya.

Konsistensi kita terhadap sebuah komitmen yang indikatornya kita susun sendiri, akan menjadi pondasi kita dalam menyusun *_DEEP HABIT_*yaitu kebiasaan-kebiasaan yang dibangun secara terus menerus untuk mendukung aktivitas yang membutuhkan fokus, ketajaman berpikir dan benar-benar krusial untuk hidup kita.

Selama ini disadari atau tidak banyak diantara kita memaknai aktivitas sehari-hari mendidik anak dan mengelola keluarga sebagai aktivitas  *_Shallow Work_*yaitu aktivitas yang dangkal, tidak fokus, penuh distraksi (gangguan-gangguan) sehingga tidak memunculkan perubahan besar dalam hidup kita, bahkan banyak yang cenderung bosan dengan kesehariannya.

Selama ini status-status dangkal yang terus mengalir di sosial media seperti Facebook (FB) ditambah puluhan notifikasi whatsapp (WA) sering membuat kita terjebak dalam *_shallow activities_*, kelihatan sibuk menghabiskan waktu, tetapi sebenarnya tidak memberikan hasil nyata bagi perubahan hidup kita.

Harapan kami dengan adanya Checklist Profesionalisme Perempuan ini, teman-teman akan lebih fokus dalam proses “peningkatan kualitas diri” kita sebagai perempuan, istri dan ibu.

Meski kita menggunakan media WA dan FB sebagai kendaraan belajar kita, tetapi kita bisa mengubah aktivitas yang dulunya masuk kategori *_SHALLOW WORK_*menjadi *_DEEP WORK_* (aktivitas yang memerlukan fokus, ketajaman berpikir sehingga membawa perubahan besar dalam hidup kita).

Untuk itu mari kita lihat kembali Checklist kita :

🍀1.Apakah kalimat-kalimat di checklist itu sudah spesifik? misal kalimat “akan mengurangi aktivitas gadget selama di rumah” akan lebih baik anda ganti dengan, setiap hari akan menentukan Gadget hours selama 2 jam.

🍀2.Apakah kalimat-kalimat di checklist  sudah terukur? misal “Menyelenggarakan aktivitas ngobrol di keluarga”, akan lebih baik kalau diganti dengan ” Sehari minimal menyelenggarakan 1 x family forum (ngobrol) di rumah bersama keluarga”

🍀3.Apakah checklist yang kita tulis mudah dikerjakan dengan tambahan sedikit usaha? Misal sehari akan membaca 2 buah buku tentang pendidikan? ukur diri kita apakah mungkin? karena selama ini sehari-harinya kita hanya bisa membaca paling banyak 10 halaman. Maka akan lebih baik kalau anda ganti. Membaca 15 lembar buku parenting setiap harinya.

Sesuatu yang terlalu susah diraih itu akan membuat kita stress dan akhirnya tidak mengerjakan apa-apa, tetapi sesuatu yang sangat mudah diraih itu akan membuat kita menyepelekan.

Kembali ke istilah jawa ini namanya _gayuk…gayuk tuna_ (contoh kasus, kita mau ambil mangga di pohon yang posisinya tidak terlalu tinggi, tetapi cukup berusaha dengan satu lompatan, mangga itu akan bisa teraih. Tidak juga terlalu pendek, sambil jalan aja kita bisa memetik mangga tersebut. Biasanya jadi tidak menghargai proses)

🍀4. Apakah tantangan yang kita tulis di checklist ini merupakan tantangan-tantangan yang kita hadapi sehari-hari? misal anda adalah orang yang susah disiplin selama ini. maka sangat pas kalau di checklist anda tulis, akan berusaha tepat waktu di setiap mendatangi acara IIP baik offline maupun online. Jadi jelas memang akan menyelesaikan tantangan yang ada selama ini.

🍀5. Berikan batas waktu pada proses latihan ini di checklist. Misal akan membaca satu buku satu minggu selama bulan November. Akan belajar tepat waktu selama 1 bulan pertama mulai November 2016.

Kelima hal tersebut di atas akan memudahkan kita pada proses evaluasi nantinya.

Silakan teman-teman  lihat  kembali checklist masing-masing. Kita akan mulai melihat seberapa bekerjanya checklist itu untuk perkembangan diri kita.

Silakan di print out, dan ditempel di tempat yang kita lihat setiap hari.

Ijinkan suami dan anak-anak memberikan penilaian sesuai dengan yang kita tentukan. Andaikata tidak ada yang mau menilai, maka diri andalah yang paling berhak menilai perkembangan kita.

Berusaha JUJUR kepada diri sendiri.
Salam Ibu Profesional,
/Septi Peni Wulandani/
Sumber Bacaan :

_Deep Work, Cal Newport, E book, akses 30 Oktober 2016_

_Materi “MENJADI IBU PROFESIONAL” program Matrikulasi IIP, batch #2, 2016_

_Hasil Nice Home Work #2, peserta program Matrikulasi IIP batch #2, 2016_

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s