Wajah Dalam Cermin

WAJAH DALAM CERMIN

Wajahku cantik bak artis Korea. Ya! Bukan hanya aku yang menyadari, tapi baik orang yang sudah kenal maupun yang baru bertemu kerap berkata demikian. Wajahku berbentuk oval cenderung bulat, ini karena pipiku yang sedikit tembem. Hidungku mungkin tak terlalu mancung, tapi terbayar dengan alis indahku yang menaungi mata yang tidak terlalu besar dan sepasang bola mata yang sepekat tinta hitam sehingga memiliki tatapan yang tajam. Beberapa orang menganalogikan senyuman seperti bulan sabit. Berbentuk lengkung atau setengah lingkaran. Aku tak percaya, karena saat ini aku sedang bercermin, dan tersenyum. Tidak ada garis lengkung, yang ada hanyalah garis lurus, mendatar.‎

Aku suka mematut diri di cermin dan menatap wajahku sepuasnya. Setiap sudut di rumahku kupasangi cermin. Bahkan kemana- mana aku selalu membawa cermin di dalam tasku.  ‎Aku bercermin pagi ini dan mendapati satu bintik di dagu sebelah kanan. Rupanya akan tumbuh menjadi tahi lalat. Aku bersorak riang dalam hati. Banyak orang yang bilang kalau tahi lalat itu mampu menjadi pemanis wajah seseorang, dan kini aku percaya. Kutatap wajahku, aku bertambah manis beberapa tingkat. Aku tersenyum tersipu, membuat pipiku berwarna merah jambu.

Sore menjelang. Bintik di wajahku kini tak hanya satu, tapi sepuluh! Merembet di leher. Kulihat tanganku, ada! Kubuka kancing bajuku, dadaku juga. Dan setelah kuamati bintik- bintik itu berupa benjolan kecil. Aku mulai panik. Kutelfon suamiku yang masih di kantor. Ada nada sambung, tapi tak kunjung diangkat. Mataku mulai basah oleh air mata. Tanpa pikir panjang, kuambil tas selempangku dan kunci mobil yang berada di laci lemari dekat TV. Kukendarai mobil menuju Rumah Sakit yang terdekat. Setelah sampai di Rumah Sakit, aku bergegas menuju ruang UGD, sekilas kutatap diriku di pantulan pintu kaca yang mulai terbuka, baru kusadari aku masih mengenakan daster dan slipper. Ah sudahlah, pikirku.

Sudah dua jam aku berbaring di ruang UGD, badanku terasa sakit semua seperti habis dipukuli. Terasa nyeri di seluruh persendian tubuh. Tadi seorang suster memeriksa temperatur tubuhku, katanya 39 derajat celcius. Aku demam. Dengan sisa tenaga kukabarkan melalui whatsapp pada suamiku dimana aku saat ini. Kurogoh cermin dari dalam tasku. Bintik yang kini berupa benjolan menjadi semakin banyak. Jika tak sadar ini di ruang UGD dimana ada banyak orang, sudah kulempar cermin sakuku ini ke tembok samping kananku. Frustasi, kumasukkan lagi cermin sakuku ke dalam tas. ‎Tak seberapa lama, suamiku datang. Setelah berbicara dengan dokter yang tadi menanganiku, suamiku menghampiri dan memelukku. Aku diajak olehnya pulang, tadi dokter sampaikan aku boleh berobat jalan, tidak harus opname. Dokter sudah meresepkan obat-obatan, termasuk salep untuk benjolan- benjolan kecil yang terasa semakin panas dan gatal.‎

Kusampaikan pada suamiku, bahwa aku mau pulang kerumah, asal semua cermin di dalam rumah ditutup dengan kain. Kurasa aku tidak sanggup melihat wajahku dengan benjolan- benjolan ini. Aku tidak mau bercermin, tidak! Tidak sampai aku sembuh total dan bekas benjolan kecil ini menghilang tak berbekas. Benjolan Cacar Air.

img_20161129_173053_065000
By Vivi Ermawati


On a lighter note :‎
*kisah ini terinspirasi oleh Sara Rosalinda yang sedang terkena cacar air. Cepat sembuh ya sayang :* أَسْأَلُ اللهَ العَظِيْمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ أَنْ يَشْفِيَكَ

#eventmenuliscerpen5paragraf #cerpen5paragraf #menuliscerpen5paragraf ‎#tantanganmenuliscerpen5paragraf ‎#rumbelmenulisIIPjakarta2016 #writingchallenge

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s