Dimana Bumi Dipijak, Di situ Langit Menyesuaikan by Bu Sarra Risman

Sering sekali kita hidup dibawah prinsip ‘dimana bumi di pijak, di situ langit di junjung’.. atau ‘di kandang kambing mengembik, di kandang singa mengaum’. Sampai titik tertentu, mungkin ini bisa jadi pedoman, secara kan tidak mungkin juga kita keukeuh memakai bahasa Indonesia ketika tinggal di Brazil. Tapi untuk saya yang berpindah tempat tinggal lebih dari 10x seumur hidup saya, kalau saya berpatok plek-plek dengan pepatah-pepatah itu, mungkin saya sudah mengalami kebingungan mental yang berat, karena saya berpindah-pindah kota, negara dan benua, yang bukan hanya orangnya, agamanya dan bahasanya saja yang berbeda, cuacanya pun beragam rupa. 
Sebagai orang yang hidupnya nomaden, sulit sekali jika kita tidak punya pijakan kokoh yang jelas dan satu. budaya yang saya temui jelas tidak bisa dijadikan pegangan, karena kalau saya menyesuaikan diri dan hidup sesuai dengan budaya dimana saya tinggal, sebentar-bentar saya akan berubah-ubah, Karena budayanya berbeda-beda, bahkan kadang bersebrangan. Oleh sebab itu, orang tua saya memutuskan untuk membesarkan kami agar dapat hidup benar secara agama, sehingga dimana pun kami di bawa oleh angin kehidupan, fisiknya saja yang ada disana, imannya tetep intact dalam jiwa. Tidak perduli saya berteman dan bersekolah dimana, di cemplung dalam lingkungan seperti apa, allah saya tetap ada bersama saya dimanapun saya berada.
Beranjak tua dan memiliki anak-anak saya sendiri, saya lihat di sekeliling saya, “pijakan kokoh yg jelas dan satu” itu semakin samar dan menjelang pudar, terutama pada anak-anak remaja kita sekarang ini. Mereka tampak persis seperti hadist Rasulullah yang ‘banyak tapi seperti buih’, ringan mengikuti alur budaya trend yang ada. Lagi trendnya A, semuaaaaa pake A. trend pindah ke J, semuaaaaa ikutan juga. Si X ciuman dan foto kemesraannya dan di posting di medsos, kini anak-anak muda kita pun tidak berpikir 2x untuk mengikutinya. Tidak perlu menunjukkan jari dan mencari kambing putih dan berpikir siapa yang salah sehingga anak remaja kita seperti ini, yang perlu kita pikirkan itu APA yg salah dan BAGAIMANA solusinya.
Kalau menurut analisa otak saya yg mungil ini, ya itu tadi, yang hilang adalah pijakan kokoh yg jelas dan satu. kalau pun ada, hanya sekedar kikis atas nya saja, sekedar bisa ibadah, tidak ada penghayatan yg mendalam ke jiwa, mungkin juga karena yang mereka lihat di sekeliling mereka, kawan sebaya atau pun orang dewasa, pada hidup benar secara budaya… bukan agama. Sehingga ketika pindah tempat tinggal, atau budaya bergeser, pakaian, gaya hidup dan mindset itu berubah pula. Tidak sedikit teman-teman saya yang ketika S2 keluar negeri, melepas jilbabnya, karena di negara tempat ia belajar, jilbab bukan lagi.. “budaya”. Seakan mereka berpikir Allah ga bisa liat dia di ostrali karena Allah ketinggalan di Indonesia. 
Pijakan yg orgtua sy tanamkan ini yang membuat saya berjilbab di tahun 1996 ketika kami masih di Amerika sana. Di sengkat, di tarik jilbabnya, di lempar batu, adalah makanan sehari-hari, karena islam belum se-booming di Amerika seperti sekarang ini. Pijakan kokoh ini pula yang mendorong kami untuk menghadap ke kepala sekolah untuk meminta izin pulang 10 menit lebih awal dari jam pulang sekolah normal untuk shalat dzuhur, Karena kalau menunggu sampai rumah, walaupun sempat, tapi shalat nya jadi di akhir waktu menjelang ashr. Kalau dibiarkan, mau berapa tahun demikian? Bukan hanya minta special pass untuk pulang lebih cepat, kami juga minta ruangan khusus, yang kecil dan tertutup, dimana kami bisa menggelar sajadah dan shalat. Dan hampir di setiap sekolah, Allah Maha Rahman, kami di berikan ruangan yang besar dan nyaman untuk shalat. Kepala sekolah juga langsung menyetujui ketika saya menghadapnya menjelaskan bahwa saya ingin berhijab dan kenapa saya harus melakukannya.
Pengasuhan itu diturunkan tanpa sadar dan sengaja. Kini, walaupun untuk urusan yang berbeda, saya kembali menghadap guru setiap tahun meminta ‘special pass’ untuk Raia agar dia di perbolehkan mandi sendiri setelah waktu renangnya berakhir. Karena sekolahnya sekolah umum, kami juga mohon kerjasamanya untuk memaklumi bila Raia tidak lagi bersalaman dengan guru-guru perempuan di usia menjelang baligh nya ini dan cukup menangkupkan tangannya seperti pengantin ketika harus bersalaman. Allah Maha Rahman, baru beberapa hari yang lalu, raia dengan senang bercerita bagaimana sekarang semua teman-temannya berbaris menunggu dengan sabar sampai raia kelar dan keluar dari ruang ganti baru mereka masuk. Dan para ibu guru sudah terlebih dahulu menangkupkan tangannya ketika giliran Raia harus bersalaman dengan mereka.

 

Anak yang memiliki pijakan kokoh dan jelas akan tampak (dan merasa) berbeda dengan yang lain di lingkungannya, seperti hadits ‘ghuraba’ yang banyak kita dengar itu, karena memang mereka seperti orang aneh dan asing. Tapi tujuannya bukan saja membuat anak berani menjadi asing, tapi bertahan dan bangga dengan ke’asing’annya yang benar. Targetnya adalah bukan hanya anak yang sanggup memegang ‘bara api’, tapi nyaman dengan ‘bara’ yang di pegangnya. Sehingga dia bisa berjalan dengan jilbab panjangnya diantara kerumunan teman-temannya yang tidak berjilbab seakan itu cape superhero nya dengan dagu terangkat dan tau bahwa perbedaannya membuat dia special di mata Allahnya. Dan hafalan qurannya sama kerennya dengan kemahiran temannya bermain bola atau biola. Anak yang memiliki pijakan kokoh dan jelas tidak mudah ikut arus, terwarnai lingkungan, terpengaruhi teman. syukur2 malah bisa mempengaruhi.
Kita tak tahu anak kita akan tertiup kemana oleh angin kehidupan, pastikan anak anda memiliki pijakan agama yang kokoh, jelas dan menyatu dalam darah dagingnya dimanapun ia berada, sehingga dimana saja tanah tempat ia berpijak, langitnya yang akan menyesuaikan diri 🙂 
#sarrarisman

*jika dirasa manfaat, tidak perlu izin untuk membagikan artikel ini

**Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda, “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing”

***“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s