Program Menjauh Dari Gadget by Bu Wina Risman

​Handphone
Mendekatkan yang jauh

Menjauhkan yang dekat
Tulisan ini berfungsi sebagai himbauan diri, untuk hamba yang dhaif dan masih berusaha mengejar ridhoNYA dengan bergantinya hari. 
Beberapa minggu yang lalu, ketika saya mengisi seminar yang banyak dihadiri oleh orang tua-orang tua pekerja, saya bertanya pada mereka : Dari 24 jam yang kita miliki, sebagai ibu bapak yang bekerja, berapa jam ibu/bapak mengalokasikan waktu untuk anak?
Jawaban paling tinggi yang saya dengar adalah 2 jam! Lebih dari itu juga menurut saya kurang masuk akal. 
Lalu, saya melanjutkan pertanyaan dengan ‘dari waktu yang dialokasikan untuk anak, berapa lama yang sbetulnya bapak/ibu benar-benar konsentrasi untuk main sama anak tanpa pegang hape dan atau menyambi hal lainnya?’
Saya mendengar bapak ibu sudah mulai memelankan suaranya, menyebutkan jumlah yang mungkin memang adanya yang diluangkan untuk buah hati tercinta tanpa gangguan, setiap harinya. 
Lalu saya akhiri dengan pertanyaan..

‘Waktu yang sekian tersebut, berapa persen dari 24 jam???’
Terdiam. Terhenyak.
Lalu saya tanya, ‘cukup kah? Anak dikasih segitu sehari, menurut bapak/ibu, cukup?’
Tidak saya sangka, pertanyaan ini justru menampar keras diri saya sendiri. 
Saya yang notabene ibu rumah tangga, harus bisa jujur sama diri sendiri. Memang saya di rumah, ada, kelihatan, setiap harinya oleh anak-anak saya. Membantunya dengan ini itu, menjawab pertanyaan, menyuapi makanan dlsb. 

Tapi berapa sebenarnya waktu yang saya benar2 luangkan untuk mereka? Untuk sekedar duduk dan mendengarkan penjelasan tentang bangunan legonya?

Untuk mendengarkan secara seksama cerita harinya dan atau meneliti secara perlahan hasil dari testnya daripada hanya sekedar menoleh beberapa detik dan mengucapkan ‘WOW! hebat!!’
Tentu mereka tahu, itu hanya lipsync saya saja. Tapi mereka maklum, mungkin cukup sekian perhatian yang mereka bisa dapatkan dari saya. 
Sisanya?
Ya diantara mengurusi rumah tangga, antar jemput yang kerja dan sekolah, pengajian dlsb…yang paling banyak menyita perhatian saya adalaaahhhh..
Handphone saya!!!
Hhhhhhh…
Berapa jam sehari?
Bagaimana kalau tidak buka 3 jam saja? Pasti mata dan tangan gatel…
Tidak, tulisan ini tidak mengajak untuk mengingat mati dan meminimalisir waktu berselancar di dunia maya. Mungkin lain kali. Artikel ini, sekedar menyapa untuk mengingatkan, berapa banyak waktu yang ‘dicuri’ oleh handphone dari waktu yang seyoganya milik anak kita?
Pernahkah, oh bukan. Seberapa seringkah kita menyiapkan, menemani bermain, anaka anak kita, layaknya seorang guru tk atau guru-guru lainnya?? Persiapkan materi, fokus bermain atau mengajari, tanpa sambilan barang lain atau jenguk handphone barang sekali-kali?
Bukankah, jika kita guru yang dibayar, kita  ngak akan berani jawabin pelanggan online shop kita, atau sekedar ganti status, saat bekerja?? Takut kena pecat! Kenapa? Nanti penghasilan berkurang drastis. Jadi.. kita relakan handphone dilihat pada jam istirahat nanti. Apapun, tidak ada yang lebih penting dari anak yg didepan kita dan kurikulum yang harus diajarkan sekarang ini.
Bagaimana jika kita ‘hanya’ seorang ibu rumah tangga biasa?

Bukankah kontrak kerja kita sama Tuhan YME?

Bukan kah jelas, bayarannya syurga?

Kurang???
Kenapa masih disambi? Kenapa ngak bisa fokus barang sejam dua? Banyak sekali kah sejam itu? Jika dibayangkan dengan nonton drama korea dan atau sinetron turki, pasti ngak ada apa-apanya!
Saya pun terhenyak. Menilai diri. 
Sadar saja, tidak cukup. 

Mari membuat schedule untuk ibu.

Jangan cuma anak yang punya schedule, mentang-mentang ibu sudah tahu tanggung jawabnya. Tapi, ayoo ngakuuu, sering ‘kepeleset’ juga kan?

Toh jadwal ini dari kita untuk diri sendiri. 

Jadi kita yang tahu bagaimana bertegas dengan diri. Sisipkan waktu bermain dengan anak, waktu membaca untuk diri sendiri dlsb dlsb. 
Semog waktu kita semakin barokah. 

Bukankah didalam tanah nanti, yang kita harapkan doanya mengucur deras adalah dari anak yang shalih? 

Bukan dari mp3 download yang ada di hp?
Jangan merasa semua bisa di sub-kontrakkan, mentang mentang anak sudah disekolahkan, merasa di rumah sudah tinggal sedikit yang perlu diajari. Salah!

Kebalik. 
Kalau semua sudah diselesaikan disekolah, enak bener. Tinggal bayar, terima ja

Perlunya ada orang tua apa dong? Atau cukup jadi ‘pendamping pengasuhan’ saja?
Reminder diri. 

Bismillah 
Dari hamba yang dhaif ini.
#programmenjauhdrgadget

#winathethinkingcoach

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s