Waktunya Tukar Sepatu by Ustadz Faisal Sundani

​Waktunya Tukar Sepatu 
Ketika saya menulis tentang pentingnya ayah pulang cepat, bermain dengan anak-anak, kontan banyak ibu-ibu mentag suami mereka. Atau bahkan banyak yang mulai mempertanyakan kenapa suami mereka jarang terlibat, ngobrol,  atau bermain dengan anak-anak?. Lalu jika ada masalah dengan anak-anak mulailah  naluri judgment ibu-ibu mengarah ke suami mereka yang dianggap tidak terlibat banyak dalam pengasuhan. 
Atau mungkin beberapa kali kita mendapatkan anak-anak kita yang hampir gadis atau bujang melakukan tindakan yang mengesalkan kita, seperti selalu terlambat shalat, tidak mendengar, atau mungkin malah mendebat atau melawan kita?. 

Terkadang mungkin harus “tukar sepatu”, pakai sepatu pasangan hidup atau anak-anak masing-masing. Perlu sesekali kita keluar dari diri kita, untuk mengenakan sepatu pasangan atau anak kita. 

Mungkin saja si bapak agak malas pulang ke rumah karena kurangnya pengkondisian, kurang kenyamanan, atau kurang motivasi untuk pulang, atau mungkin si bapak inginkan sedikit ketenangan sebelum “ditodong”  kerjaan rumah,  atau mendengar keluhan, atau ngobrol dengan anak-anak. Apalagi untuk urusan ngobrol,  si bapak perlu untuk sedikit “menambah” kouta bicara yang mungkin sudah habis di tempat kerja. 

Adapun untuk anak-anak, khususnya yang menjelang bujang atau gadis yang mulai malas malasan, atau bahkan agak melawan, baik kiranya berhenti sejenak,  duduk bersama pasangan hidup,  bayangkan jika kita adalah anak-anak kita, mungkin kita bisa melihat kekurangan kita dalam mengasuh anak-anak. Mungkin gaya komunikasi kita, diksi yang tak kena, atau mungkin keengganan kita untuk mendengar menjadi hal yang sangat tidak disukai anak-anak. 
Terkadang kita bisa menjaga hati dengan orang lain yang tidak ada hubungan famili apapun dengan kita, tapi terlalu “take it for granted” bahwa kita telah memperlakukan pasangan maupun anak-anak kita dengan baik dan semestinya.  Tanpa pernah merasa harus bertukar sepatu dengan pasangan atau anak-anak kita, untuk melihat diri kita dari sisi mereka. 

Ingat Rasulullah mengingatkan bahwa kesempurnaan keimanan kita terlihat ketika kita menginginkan yang baik bagi saudara kita seiman sebagaimana kita menginginkannya untuk diri sendiri (Bukhari dan Muslim dari Anas Bin Malik Radhiyallahu anhu).  Ya.. Jika untuk saudara seiman yang bukan sanak famili saja kita harus memperlakukan sebaik kita memperlakukan diri sendiri, bagaimana dengan pasangan kita?, dan anak-anak kita?.

Cobalah… Mungkin saatnya anda bertukar sepatu.. 
#Fatherhood #TarbiyahPubertas

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s