Mengajarkan Adab Berpakaian pada Balita

Tema : Mengajarkan adab kepada anak

Judul : Mengajarkan adab berpakaian pada balita

Oleh : Deun

Memiliki buah hati yang sehat, lucu dan membuat sejuk saat mata memandang akan menjadi dambaan setiap keluarga. Apalagi di usia 5 tahun pertamanya, kepolosan tingkah laku mereka menjadi pengobat rindu dan lelah bagi orang tua. Kelucuan anak kian menggemaskan lagi saat didandani pakaian berwarna warni dengan berbagai model terkini. Tidak heran dalam dunia fashion, model baju anak mulai dilirik para desainer ternama demi memenuhi permintaan pasar dan variasi dalam line produksinya. Model seperti rok mini, baju ketat dan topless dengan warna-warna cerah untuk anak perempuan dianggap menggemaskan. Sedangkan anak lelaki didandani dengan pakaian ala bintang Kpop atau boyband demi tak kalah mengikuti tren.  Belum lagi  baju-baju bergambar tokoh karakter fiksi yang sering luput dari pengawasan orangtua, dengan  ilustrasi seksi atau aksi kekerasan. Sementara alasan dari kebanyakan orangtua  membeli pakaian anaknya tak lain agar terlihat  gaya, lucu dan trendy.
Karena anak balita masih sangat tergantung  keputusan orangtuanya dalam berpakaian maka sudahkah dalam keputusan tersebut orangtua menyertakan adabnya? Mengingat aurat wajib ditutup ketika anak kelak memasuki usia baligh. Lalu mulai kapan anak sebaiknya diajarkan adab berpakaian?
Dalam buku Minhajul Muslim Anak, terbitan Arafah disebutkan adab berpakaian dalam agama Islam, mengatur dengan rinci bagi laki laki dan perempuan, antara lain : 
1. Bagi laki laki dilarang mengenakan sutera
Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَلْبَسُوا الْحَرِيرَ فَإِنَّهُ مَنْ لَبِسَهُ فِى الدُّنْيَا لَمْ يَلْبَسْهُ فِى الآخِرَةِ
“Janganlah kalian memakai sutera karena siapa yang mengenakannya di dunia, maka ia tidak mengenakannya di akhirat.” (HR. Bukhari no. 5633 dan Muslim no. 2069)

2. Bagi laki laki tidak memanjangkan baju, celana, dan setelan hingga melebihi dua mata kaki, Abu Hurairah  menyampaikan dari Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam  :
 
مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ
“Bagian yang di bawah mata kaki dari sarung, tempatnya di neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 5787)
 
3. Bagi laki laki mengutamakan pakaian yang berwarna putih (sunnah), meskipun tetap diperbolehkan mengenakan pakaian dengan warna apa saja.
Dalam lafazh An Nasai disebutkan ,
الْبَسُوا مِنْ ثِيَابِكُمْ الْبَيَاضَ فَإِنَّهَا أَطْهَرُ وَأَطْيَبُ وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ
“Pakailah pakaian putih karena pakaian seperti itu lebih bersih dan lebih baik. Dan kafanilah pula mayit dengan kain putih.” (HR. An Nasai no. 5324, hadits shahih)
4. Bagi laki laki tidak mengenakan cincin yang terbuat dari emas
sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  sebagaimana dinukilkan oleh Abu Musa Al-Asy’ari :
حُرِّمَ لِبَاسُ الْحَرِيْرِ وَالذَّهَبِ عَلَى ذُكُوْرِ أُمَّتِي وَأُحِلَّ لِإِنَاثِهِمْ
“Diharamkan memakai sutera dan emas bagi kalangan laki-laki dari umatku dan dihalalkan bagi kalangan wanitanya.” (HR. At-Tirmidzi no. 1720, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)
5. Mengenakan pakaian dimulai dari anggota tubuh sebelah kanan
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِى تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِى شَأْنِهِ كُلِّهِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai mendahulukan yang kanan ketika memakai sendal, ketika menyisir rambut dan ketika bersuci, juga dalam setiap perkara (yang baik-baik).” (HR. Bukhari no. 186 dan Muslim no. 268)
 
6. Membaca doa saat berpakaian
Demikian yang biasa dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri z:
كَانَ رَسُولُ اللهِ n إِذَا اسْتَجَدَّ ثَوْبًا سَمَّاهُ بِاسْمِهِ، إِمَّا قَمِيْصًا أَوْ عِمَامَةً، ثُمَّ يَقُوْلُ: اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ، أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila memakai pakaian baru berupa jenis pakaian apa saja, baik berupa gamis ataupun surban, beliau biasa mengucapkan, ‘Ya Allah, segala pujian hanyalah milik-Mu, Engkaulah yang memberiku pakaian ini, aku memohon kebaikan pakaian ini dan kebaikan tujuan dibuatnya pakaian ini, dan aku memohon perlindungan-Mu dari kejelekan pakaian ini dan kejelekan tujuan dibuatnya pakaian ini.” (HR. Abu Dawud no. 4020, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
 
7. Bagi perempuan harus memanjangkan bajunya sampai menutupi kedua telapak kakinya, demikian juga kerudungnya haruslah menutupi betul bagian kepala, tengkuk, leher, serta dadanya, sebagaimana diterangkan dalam ayat berikut ;
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)
8. Jangan sampai seorang laki laki mengenakan pakaian perempuan dan seorang perempuan mengenakan pakaian laki laki.
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammelaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Bukhari, no. 5885)

Lalu bagaimana agar anak balita bisa  memahaminya? Mari kita tinjau dari ilmu neuroscience, bahwa dikarenakan pada 7 tahun pertama otak anak yang bekerja adalah sistem limbik atau pusat perasaannya maka mengajarkan adab apapun pada mereka bukanlah dengan cara mendeskripsikan. Terlebih karena otak  balita  masih konkrit (hanya menerima apa yang dilihat sebagai input otaknya), mereka belum bisa mengerti konsekuensi agamis dari apa yang diajarkan. Maka tugas orangtualah mencontohkan dan menerapkan adab  dengan baik dan benar sesuai agama  dengan cara yang mudah diterima dan menyenangkan. Bagaimana caranya? Yaitu dengan membiasakan menjaga aurat mereka bahkan sejak dari bayi.  Contohnya ketika mengganti diapers, tidak dilakukan  sembarangan di depan orang.  Bisa sambil mengatakan,
“ Ganti diapers nya dulu ya sayang, tutupin ya, malu jika terlihat orang lain.”                                                                                                       (sebagai awal pembiasaan menjaga aurat) 
“maaf ya nak, mama bersihkan kemaluannya/penisnya/vaginanya.”                               (sebagai pembiasaan bahwa kemaluan anak berharga dan tidak boleh sembarang orang menyentuhnya)
Membiasakan mereka berpakaian rapi dan sopan sesuai tuntunan Islam  saat memasuki usia balita, contohnya anak lelaki dikenakan celana yang tidak lebih pendek dari lututnya, sederhana tapi rapi.
“Kalau celana yang ini sopan atau tidak nak?”
“Kalau kelihatan lututnya malu atau tidak nak?”                        
(Agar memahami batas aurat yang harus dijaga).
Begitupun bagi anak perempuan meski belum wajib berhijab, kenakan baju panjang yang menutupi tubuhnya dengan benar. Kenalkan jenis pakaian untuk berbagai situasi berbeda, seperti pakaian di dalam rumah, pakaian tidur, pakaian acara formal dan lainnya.
“Kalau baju yang ini pantas atau tidak  dipakai mengaji nak?”
(Kenalkan kriteria pakaian mengaji seperti apa).

Tidak kalah penting melatih anak agar bisa berpikir, memilih dan memutuskan lewat cara menentukan pakaiannya sendiri, mulai dari perpaduan warna, jenis pakaian, atau model. Dari pembiasaan berulang maka akan terekam dalam ingatan mereka bagaimana adab berpakaian yang baik dan benar secara agamis. Tentunya pada usia yang sudah cukup yaitu setelah 7 tahun harus ditambahkan  pengertian dan pemahaman secara benar sesuai aturan dan dalil yang berlaku. Karena itu peran orangtua sangat penting dalam mengajarkan adab berpakaian yang kelak akan dilakukannya anak seumur hidupnya. Orangtua  adalah role model atau contoh dalam mengajarkan berbagai adab pada anak. Bukankah sebuah tindakan akan jauh lebih baik daripada seribu kata? Ingin anak dapat menjaga kehormatannya? santun dalam berpakaian? Maka tidak ada cara lain, biasakan dan jadilah role model terbaik bagi mereka sejak dini. Perlu diingat juga bahwa di era digital ini orangtua harus lebih waspada terhadap ancaman kejahatan tindakan kekerasan seksual pada anak akibat kerusakan otak karena paparan pornografi. Maraknya berita tindak kejahatan seksual pada anak yang ditayangkan di berbagai media saat ini sudah sepantasnya membuat orangtua  berpikir bahwa tanpa disengaja pemilihan pakaian pada anak bisa memicu adanya tindak kejahatan tersebut. Apalagi kebiasaan mempublikasi foto-foto anak di media sosial dalam pose menggemaskan, dikemas dengan pakaian terbuka yang dianggap keren nan trendy, tanpa sadar orang tua menjadi pemberi akses bagi kejahatan semacam itu. 

Maka dari itu jangan sampai ayah bunda berpikir selalu ingin memenuhi tren model pakaian anak saja, namun bayangkanlah jika adab pakaian masa kecil mereka terbawa sampai kelak ia dewasa.
Wallahu’alam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s