Memasukkan Anak ke PAUD, Perlukah?

​Harry Santosa, wrote:

Memasukan Anak ke PAUD Perlukah?
Ada sebuah buku yang berjudul “better late than

early” , buku ini memberikan pandangan banyak

pakar dari berbagai macam sudut pandang dan

menyimpulkan serta menganjurkan untuk menunda

memasukkan anak ke sekolah bahkan sampai usia

8 -10 tahun.
Para psikolog pun seperti bu Elly Risman atau ust

Adriano Aad Rusfi atau praktisi seperti bunda Septi

Peni Wulandani pun sama, menganjurkan untuk

menunda selama mungkin anak usia dini untuk di

“sekolah” kan.
Dalam pandangan pendidikan berbasis fitrah pun

sama, tidak berlaku kaidah bahwa makin cepat

makin baik, makin banyak makin hebat. Segala

sesuatu sebaiknya sesuai tahapannya.

Perlu dipahami bahwa pendidikan usia dini adalah

agar anak anak usia dini tumbuh paripurna sesuai

tahap perkembangan usia dininya. Jadi bukan

calistung untuk persiapan masuk SD. Juga ketika

mengajarkan sesuatu maka prinsipnya adalah bukan

apakah anak mampu, tetapi apakah yang anak

butuhkan sesuai usianya.

Sebagai catatan banyak PAUD hari ini yang berubah

menjadi SAUD (Sekolah Anak Usia Dini), dengan

melatih anak berbagai keterampilan membaca,

menulis dan berhitung sebagai persiapan masuk SD.

Usia Dini adalah usia paling kritis dan rentan namun

sangat menentukan masa depan anak, maka

pastikan AyahBunda urun hati, urun fikiran, urun

tangan dstnya.
Beberapa aspek fitrah yang membutuhkan kedua

orangtua turun tangan
1. Fitrah Keimanan. Usia 0-6 tahun adalah masa

emas untuk mendidik fitrah keimanan, dengan

keteladanan dan atmosfkr keshalihah untuk

memunculkan imaji2 positif ttg Allah dstnya. Anak

anak harus dibangkitkan gairah cintanya pada Allah

dan kedua orangtualah sosok teladan yang paling

berkesan untuk memberikan imaji imaji positif ini.

Jika fitrah imannya tumbuh paripurna, maka bunda

akan menjumpai ananda menyambut perintah sholat

dengan suka cita ketika usia 7 tahun. Jangan

lewatkan peran ayah bunda pada tahap 0-6 tahun
2. Fitrah Seksualitas. Anak usia 0-6 tahun

membutuhkan kelekatan ayah dan ibunya sampai

aqilbaligh, bahkan dilarang memisahkan anak dan

ibunya sampai mereka aqilbaligh. Usia 3 tahun,

ananda harus menyebut identitas gendernya dengan

jelas. Anak yg bingung identitas gendernya ada

kemungkinan salah satu sosok ayah atau ibu tidak

hadir secara utuh. Perhatikan bahwa banyak PAUD

gurunya hanya perempuan.
3. Fitrah individualitas. Anak usia 0-6 tahun sangat

ego sentris, jika tidak memahami ini maka mereka

akan dipaksa berbagi, dipaksa untuk mengalah

tanpa pertimbangan fitrah individualitasnya. Maka

kelak akan menjadi peragu, tidak pede bahkan pelit

dan pengecut. Dalam lingkungan persekolahan usa

dini yang seragam, maka umumnya individualitas

tak dihargai.

Sejalan dengan ini maka sesungguhnya anak usia

0-6 tahun belum membutuhkan bersosialisasi, tetapi

membutuhkan interaksi dengan alam. Sementara

sosialisasi terbaiknya pada usia ini adalah dengan

kedua orangtuanya.
4. Fitrah Belajar. Pada usia ini abstraksi dan imaji

anak sedang indah-ndahnya maka interaksi

terbaiknya di alam dan permainan imajinatif.

Kebanyakan PAUD mengenalkan permainan kognitif

dan lebih banyak bermain dalam ruangan. Gairah

belajar anak lebih wajib diumbuhkan daripada

mengejar kemampun calistung. Ingat bahwa anak

yang cepat bisa membaca belum tentu menyukai

buku dan belajar, sementara anak yang cepat bisa

berhitung belum tentu suka bernalar dan

berabstraksi.

Tugas orangtua adalah membangkitkan gairah

belajar anak bukan banyak mengajarkan. Ingat

bahwa anak yang terlalu banyak diajarkan akan

minta diajarkan sepanjang hidupnya.
5. Fitrah Bakat. Pada usia ini, bakat anak muncul

sebagai sifat unik, maka amati sebaiknya dan

buatlah dokumentasi anak yang menggambarkan

momen bahagia, momen kejutan atas sifat dan

perilaku yang unik. Ini memerlukan observasi atau

pengamatan yamg seksama, penuh empati dan

telaten, dan sejujurnya hanya kedua orangtua yang

ikhlash yang mampu melakukan.
6. Fitrah Estetika dan Bahasa. Pada usia ini anak

harus dikuatkan bahasanya dengan bahasa ibu

(mother tongue). Bahasa ibu adalah bahasa native

atau bahasa tutur yang digunakan ayah dan ibu di

rumah dengan fasih dan santun. Hindari

mengajarkan bahasa asing sebelum bahasa ibu

sempurna. Ukurannya adalah mampu

mengekpresikan perasaan, sikap dan gagasannya

dengan jelas dan baik. Kisahkan anak dengan kisah

kisah berkesan menggunakan bahasa ibu. Agak

sulit menguatkan bahasa ibu jika PAUD

menggunakan bahasa yang lain apalagi bilingual.

Kasus kasus anak mengalami bingung bahasa atau

mental block karena tak mampu mengekspresikan

bahasa sudah banyak terjadi.
Jika ayah bunda karena alasan yang darurat harus

memPAUD kan anak, maka pastikan

1. PAUD yang dipilih adalah yang mengoptimalkan

peran orangtua dalam proses

2. AyahBunda tetap bertanggungjawab pada

penumbuhan seluruh potensi fitrah, maka buatlah

personalized curriculum (PC). Komunikasikan dan

kerjasamakan PC dengan PAuD yang dipilih.

3. Manfaatkan waktu ketika bersama anak dengan

sebaik-baiknya
Salam Pendidikan Peradaban
#fitrahbasededucation

#pendidikanberbasisfitrahdanakhlak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s