Bunda Sebagai Agen Perubahan (Matrikulasi Sesi#9)

​_Matrikulasi IIP batch #2 sesi #9_

*BUNDA SEBAGAI AGEN PERUBAHAN*


Perempuan khususnya seorang ibu adalah instrumen utama yang sangat berperan sebagai agen perubahan. Dari sisi individu untuk menjadi agen perubahan adalah hak semua orang tidak berbatas gender. Karena semua memiliki potensi dasar yang sama berupa akal, naluri dan kebutuhan fisik. Sedangkan dalam konteks masyarakat, keberadaan ibu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan keluarga, dimana keduanya memiliki porsi prioritas yang sama.

Keberadaan Ibu di masyarakat akan meningkatkan kualitas pendidikan keluarga di rumah, demikian juga pendidikan keluarga di rumah akan memberikan imbas positif pada peningkatan kualitas masyarakat.

Maka berkali-kali di Ibu Profesional kita selalu mengatakan betapa pentingnya mendidik seorang perempuan itu. Karena 

*“mendidik 1 perempuan sama dengan mendidik 1 generasi”* 

Maka apabila ada 1 ibu membuat perubahan maka akan terbentuk perubahan 1 generasi yaitu generasi anak-anak kita. Luar biasa kan impactnya.

Darimanakah mulainya?

Kembali lagi, kita harus memulai perubahan di ranah aktivitas yang mungkin menjadi
 *“MISI SPESIFIK HIDUP KITA”*
Kita harus paham *JALAN HIDUP* kita ada dimana. Setelah itu baru menggunakan berbagai *CARA MENUJU SUKSES*.

Setelah menemukan jalan hidup, segera lihat lingkaran 1 anda, yaitu keluarga. Perubahan-perubahan apa saja yang bisa kita lakukan untuk membuat keluarga kita menjadi *CHANGEMAKER FAMILY*. 

Mulailah dengan perubahan-perubahan kecil yang selalu konsisten dijalankan. Hal ini untuk melatih keistiqomahan kita terhadap sebuah perubahan. 

Maka gunakan pola _kaizen_( Kai = perubahan , Zen = baik) Kaizen adalah suatu filosofi dari Jepang yang memfokuskan diri pada pengembangan dan penyempurnaan secara terus menerus dan berkesinambungan.

Setelah terjadi perubahan-perubahan di keluarga kita, mulailah masuk lingkaran 2 yaitu masyarakat /komunitas sekitar kita. Lihatlah sekeliling kita, pasti ada misi spesifik Allah menempatkan kita di RT ini, di Kecamatan ini, di kota ini atau di negara ini. Lihatlah kemampuan anda, mampu di level mana. Maka jalankan perubahan-perubahan tersebut, dari hal  kecil yang kita bisa.
*START FROM THE EMPHATY*
Inilah kuncinya.

 _Mulailah perubahan di masyarakat dengan membesarkan skala perubahan yang sudah kita lakukan di keluarga_. 

Sehingga aktivitas kita di masyarakat tidak akan bertabrakan dengan kepentingan keluarga. Bahkan akan saling mendukung dan melengkapi.

_Setelah EMPHATY maka tambahkan PASSION  , hal ini akan membuat kita menemukan banyak sekali SOLUSI di masayarakat_

KELUARGA tetap no 1, ketika bunda aktif di masyarakat dan suami protes , maka itu warning lampu kuning untuk aktivitas kita, berarti ada yang tidak seimbang. Apabila anak yang sudah protes, maka itu warning keras, LAMPU MERAH. Artinya anda harus menata ulang tujuan utama kita aktif di masyarkat.

Inilah indikator bunda shalehah, yaitu _bunda yang keberadaannya bermanfaat bagi dirinya, keluarganya dan lingkungan sekitarnya_.

Sehingga sebagai makhluk ciptaan Allah, kita bisa berkontribusi kebermanfaatan peran kita di dunia ini dengan “Rasa TENTRAM”.
Salam
 /Tim Matrikulasi IIP/
Sumber Bacaan :

_Masaaki Ima, Kaizen Method, Jakarta , 2012_

_Ashoka Foundation, Be a Changemaker: Start from the Emphaty,  2010_

_Materi-materi hasil diskusi keluarga bersama Bapak Dodik Mariyanto, Padepokan Margosari,  2016_

[12/13, 9:35 PM] Laksmira Bayuardi IIP: _Matrikulasi IIP batch #2_
_Nice HomeWork #9_
*BUNDA sebagai AGEN PERUBAHAN*
Bunda, kalau sudah menemukan passion (ketertarikan minat ) ada di ranah mana, mulailah lihat isu sosial di sekitar anda, maka belajar untuk membuat solusi terbaik di keluarga dan masyarakat.
Rumus yang kita pakai :
*PASSION + EMPHATY = SOCIAL VENTURE*
Social venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan.
Sedangkan social enterpreneur adalah orang yg menyelesaikan isu sosial di sekitarnya menggunakan kemampuan enterpreneur.
Sehingga bunda bisa membuat perubahan di masyarakat diawali dari rasa emphaty, membuat sebuah usaha yang berkelanjutan diawali dengan menemukan passion dan menjadi orang yang merdeka menentukan nasib hidupnya sendiri.
Hal ini akan membuat kita bisa menyelesaikan permasalahan sosial di sekitar kita dengan kemampuan enterpreneur yang kita miliki. Sehingga untuk melakukan perubahan tidak perlu menunggu dana dari luar, tapi cukup tekad kuat dari dalam.
Mulailah dari yg sederhana,  lihat diri kita, apa permasalahan yg kita hadapi selama ini, apabila kita bisa menyelesaikan permasalahan kita, dan membagikan sebuah solusi, bisa jadi ini menjawab permasalahan yg dihadapi oleh orang lain. Karena mungkin banyak di luar sana yg memiliki permasalahan yg sama dengan kita.
Setelah selesai dengan permasalahan kita sendiri, baru keluar melihat isu sosial yg ada di sekitar kita.
Bagaimana caranya? Isilah bagan-bagan di bawah ini:

Selamat menjadi agen perubahan
Karena
_Everyone is a Changemaker_ 
( Setiap orang adalah agen perubahan)
Sampai jumpa di perkuliahan Ibu Profesional selanjutnya untuk bisa lebih memahami secara detil matrikulasi IIP ini.
Salam,
/Tim Fasilitator IIP/

_Review NHW#9_

_Program Matrikulasi IIP Batch #2 Sesi #9_

Senin, 19 Desember 2016

Pemateri Bu Septi Peni Wulandani

Notulen Andi Sei Astiana , IIP SulSel
*BERUBAH ATAU KALAH*
_Barang siapa hari ini *LEBIH BAIK*dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang *BERUNTUNG*_
_Barang siapa yang hari ini *SAMA DENGAN* hari kemarin dialah term I long orang yang *MERUGI*_
_dan Barang siapa yang hari ini *LEBIH BURUK* dari hari kemarin dialah tergolong orang yang *CELAKA*_”

– HR Hakim
Berubah adalah sebuah keniscayaan bagi kita semua, karena kalau anda tidak pernah berubah, maka sejatinya kita sudah mati. Maka dengan membaca Nice Homework #9 ini, kami bangga dengan banyaknya ide-ide perubahan yang sudah teman-teman tuangkan dalam tulisan. Kebayang tidak, andaikata dari seluruh peserta matrikulasi Ibu Profesional ini menjalankan langkah pertama perubahan yang sudah dituangkan dalam ide-ide di NHW#9, akan muncul berbagai perubahan-perubahan kecil dari setiap lini kehidupan.
Andaikata hanya 10 % saja yang berhasil menjadikan ide perubahan ini menjadi sebuah gerakan nyata, maka sudah ada sekitar 100 lebih perubahan –perubahan kecil menjadi sebuah gerakan-gerakan positif baru yang memicu munculnya perubahan besar. 
Untuk itu kita perlu mencari yang namanya *_Tipping point_*agar perubahan-perubahan yang kita lakukan bisa memberikan impact  perubahan yang besar.
_*The Tipping point : the point at which a series of small changes or incidents becomes significant enough to cause a larger, more important change_* –Malcolm Gladwell
Tipping point adalah titik di mana usaha-usaha kecil yang dilakukan berakumulasi menjadi satu hal besar yang cukup signifikan untuk dianggap sebagai perubahan. Istilah tipping point sudah lama digunakan dalam bidang sosiologi, tapi baru populer setelah dibahas secara mendalam oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya yang berjudul _The Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference_
Tidak perlu orang banyak untuk menyukseskan gerakan yang akan anda lakukan. Kalau bisa dengan suami dan anak-anak sebagai satu team, itu sudah cukup. Namun apabila tidak memungkinkan, maka temukan beberapa orang yang satu visi dengan anda, meski dengan misi yang berbeda-beda, pasti akan bertemu.
Dalam ekonomi, ada Pareto Rule yang menyatakan bahwa 80% dari pekerjaan yang ada sebenarnya diselesaikan hanya oleh 20% orang, yang berarti gerakan kita harus punya 20% orang spesial ini untuk bisa mencapai tipping point. Di bukunya, Gladwell mengupas tentang tiga jenis orang yang menentukan kesuksesan adopsi sebuah ide atau gerakan.
*Connector*
Connector adalah mereka dengan kemampuan bersosialisasi luar biasa yang bisa menghubungkan orang dari berbagai bidang. Sepanjang yang kami tahu, suatu gerakan bisa jadi besar kalau bisa merangkul banyak orang untuk berkolaborasi. Inilah mengapa kita perlu tipe-tipe connector di komunitas atau gerakan apapun. Mereka adalah jenis orang yang secara natural selalu percaya diri untuk lebur dan bersosialisasi.
Tidak hanya sekedar gaul dan kenal banyak orang,  Connector juga harus punya sensitivitas untuk bertanya, 
“Siapa ya yang saya kenal yang bisa membantu gerakan ini?” 

atau 
“Bagaimana cara menghubungkan si A dari bidang ini dan si B dari bidang itu untuk berkolaborasi?”.
*Maven*
Maven adalah mereka dengan pengetahuan sangat luas yang senang mengakumulasi informasi dan membagikannya. Bisa dibilang maven adalah orang-orang yang sangat senang belajar. Tidak hanya jadi nerd yang menyimpan semua ilmunya sendiri, maven senang membagikan temuan-temuan barunya kepada orang lain. Orang-orang seperti maven yang punya antusiasme dalam berbagi bisa menarik orang-orang ke sebuah gerakan, melalui api mereka dalam menyebarkan insight bermanfaat.
*Salesman*
Salesman, tentu, adalah mereka yang punya kemampuan persuasi luar biasa. Salesmen tentu saja dibutuhkan untuk “menjual”apa sebenarnya misi yang dibawa, dengan kemampuan mempersuasinya yang sangat hebat. Tanpa berniat menjual pun, orang-orang yang gifted sebagai salesman selalu bisa bikin orang tertarik dengan apapun yang dibicarakannya.

Kebanyakan dari sebuah gerakan memiliki kemampuan salesman, tapi tidak punya connector dan maven untuk mengimbangi. Maka sejatinya kita perlu 3 orang saja di awal membangun sebuah gerakan perubahan di sekitar kita, ada salesman yang bisa menjual gagasan kita ke pihak lain,  ada connector yang berpikir strategis untuk menghubungkan pihak A dan B, serta maven yang pinter dan senang berbagi.
Setiap orang punya tipping point. Titik dimana persepsi, kebiasaan, bahkan hidup seseorang berubah secara mendadak, dan efeknya cukup dahsyat terhadap kehidupan kita semua. Oleh sebab itu, tipping point bukan titik balik, tetapi titik perubahan. Ia merupakan titik kritis dari kondisi A ke kondisi B.
Selamat berkolaborasi untuk menemukan tipping point teman-teman semua dengan ide-ide perubahan yang sudah dituangkan dalam bentuk NHW#9
Lihatlah potensi kekuatan di keluarga kita terlebih dahulu,  baru merambah ke luar.
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/
_Sumber bacaan_:
_Malcolm Gladwel, Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference , 2000_
_Materi Matrikulasi sesi #9, Ibu Sebagai Agen Perubahan, 2016_
_Hasil Nice Homework #9 para peserta matrikulasi Ibu Profesional batch #2, 2016_
Tanya Jawab :

1⃣ Tri Putri – Iip Malang
Ibu, kalau di bahasan TM Abah Rama connector, Maven sama salesman punya bakat minat apa saja Bu?

➡️1⃣ Mbak Putri, kalau connector itu berarti memiliki bakat -bakat di bahasan TM Abah Rama kurang lebih  sbb :

a. CONNECTEDNESS, senang mengaitkan peristiwa yang satu dengan peristiwa lainnya dan lebih percaya bahwa setiap kejadian pasti memiliki alasan/sebab daripada kebetulan.

b. DEVELOPER, senang mengenali dan menggali potensi yang terdapat pada diri orang lain dan mendapatkan kepuasan dari setiap kemajuan masing-masing individu

c.HARMONY, dapat bekerja sama secara baik dengan orang lain.

d. INCLUDER/INCLUSIVENESS, kecenderungan untuk menerima semua orang dan selalu berusaha agar semua orang mempunyai rasa memiliki dalam kelompok.

e.RELATOR, Menikmati hubungan yang dekat atau erat dengan orang lain secara pribadi dan menemukan kepuasan mendalam dalam bekerja keras dengan teman-temannya untuk mencapai tujuan.
Sedangkan MAVEN akan memiliki bakkat-bakat sbb :

a. INTELLECTION, senang berpikir, mawas diri dan lebih menyukai diskusi-diskusi yang bersifat intelektual.

b. LEARNER, senang mempelajari sesuatu dan selalu tertarik lebih terhadap proses

mempelajari sesuatu dibandingkan bidang, materi atau hasil pembelajaran tersebut.

c.MAXIMIZER, fokus pada kekuatan-kekuatan yang ada sebagai cara untuk merangsang keunggulan pribadi dan kelompok dan cenderung untuk mengubah sesuatu baik dan membuatnya menjadi jauh lebih baik lagi.

d. INPUT, memiliki hasrat untuk mengetahui lebih jauh dan lebih banyak serta senang

mengumpulkan atau mengkoleksi dan mengarsip segala macam informasi.

e. STRATEGIC, mampu memilah-milah masalah yang ada dan menemukan jalan yang

terbaik untuk solusinya. Cara pikir dan perspektif yang berbeda memungkinkannya dapat melihat garis besar akan sesuatu secara keseluruhan
SALESMAN memiliki bakat-bakat sbb :

a. SIGNIFICANCE, senang menjadi pusat perhatian, dikenal, didengar, diakui serta dihargai banyak orang atas keunikan atau keistimewaan yang dimilikinya.

b. WOO (Winning Others Over), senang akan tantangan untuk bertemu dengan orang

baru atau orang yang belum dikenal dan menjadi akrab dengan mereka.

c.EMPATHY, mampu merasakan perasaan orang lain disekitarnya seakan-akan

mengalaminya sendiri
2⃣ Ratih — Iip Jepara
Assalamu’alaikum Bunda Septi
Apakah ada indikator/ciri yang nampak dari tipe connector, maven dan salesman? Selain yang telah dijelaskan bunda diatas.
Berarti untuk melakukan perubahan diawal kita mengajak 2-3 orang yang telah kita identifikasi memiliki ciri tersebut, atau menawarkan teman yang berminat dan melihat seleksi alam?

➡️2⃣ Mbak Ratih, indikator bisa dilihat di atas ya, kemudian untuk memulai perubahan, kita bisa mengajak 2-3 orang yang memiliki bakat-bakat di atas. kalau bisa dengan suami kita itu bagus karena akan menguatkan hometeam anda, kalau tidak berarti cari teman yang satu visi dengan kita✅
3⃣ Assalamualaikum Ibu,

Saya Lulu IIP Bekasi…
Bu boleh kami diberikan contoh dari penerapan tipping point? Agar lebih mudah memahaminya…
Lalu, Pertimbangan dalam memilih action kecil yg bisa berdampak besar apakah dari connector, maven n salesman bu?
Terimakasih banyak bu

➡️3⃣Mbak Lulu, saya berikan contoh komunitas Ibu Profesional saja ya, tahun 2008 saya dan pak dodik mulai mengemukakan gagasan Ibu Profesional ini. Kemudian masyarakat belum meresponnya, tapi kami terus berjalan dan terus bergerak mengkampanyekan gagasan Ibu Profesional. Pak Dodik berperan sebagai MAVEN nya dan saya berperan sebagai CONNECTOR, kemudian kami berdua menjalankan peran SALESMAN, mulai menyampaikan gagasan/ide kami kemana-mana. Perubahan-perubahan kecil mulai kami jalankan, dengan program 7 to 7 yang saya jalankan sendiri di rumah, menyusun kurikulum pembelajaran saya sebagai ibu dan selalu didiskusikan dengan pak dodik. Sampailah pada titik perubahan (tipping point) kami adalah ketika di akhir tahun 2011, mulai membentuk forum belajar hanya dengan 1 ibu waktu itu, konsisten kami lakukan setiap rabu, dan akhirnya berkembang menjadi ratusan ibu, akhir tahun 2012, momentum datang dan IIP menjadi boom dikenal oleh masyarakat. Masa inkubasinya sudah matang, dan lingkungan mendukung, sehingga ketika dengan sedikit action mengunggah konsep IIP di dunia online, maka merebaklah seperti sebaran sebuah virus.
Peran connector, maven dan salesman harus bekerja semuanya✅
4⃣ Siti
Intinya klu actionnya terburu2 atau dipaksakan hasilnya mlah ggl atau hancur, gitu kan bu??

➡️4⃣ Mbak Siti, intinya semua yang dilakukan dengan terburu-buru itu pasti hasilnya kurang memuaskan.✅
5⃣ shanty
Perubahan bukan bertahap tapi langsung besar. Misal orang ngetop krn unggah sesuatu di you tube? Orang ternama yg pakai sesuatu lalu jd trend setter? Apakah seperti itu madsudnya? Jd tdk perlu menunggu waktu lama untuk capai perubahan/menularkan virus. Kalau saya yg biasa ini apakah bisa?

➡️5⃣ Bukan  mbak Shanty, perubahan itu artinya setahap demi setahap secara berkesinambungan. Nah ketika masa inkubasinya matang, lingkungannya kondusif, perubahan-perubahan yang sudah kita lakukan ini akan maka akan menjadi perubahan besar tepat di tipping poinnya. Seperti yang dicontohkan teh Ratih radi, bahwa virus itu kecil, apabila mendapatkan lingkungan yang kondusif dan masa inkubasinya tepat, maka dengan action kecil saja bisa menjadi wabah besar yang menyebar luas. Itulah analognya. Sehingga kuncinya tidak boleh berhenti dan tidak boleh menggegas, semua ada waktunya masing-masing✅
6⃣ hani — iiptangsel
Bu Septi, 

1. Apakah _tipping point_ sama dengan  _klimaks_ ?  Tlg diluruskan bila pemahaman saya keliru.

2. Jika pada beberapa kesempatan kita merasa mendapat _momentum tipping point_ tersebut, namun pada proses berikutnya, titik kritis itu tidak mampu berlanjut _break the goal_ karena selalu dihadang *_mental block_* yang besar dan sulit diatasi. Bagaimana cara mengikis/meruntuhkan _mental block_ dengan efektif dan konsisten.

➡️6⃣ Mbak Hani,  Tipping Point adalah saat ajaib ketika sebuah ide, perilaku, pesan, dan produk menyebar seperti wabah menular. Di saat itulah titik awal kita menjadi besar menuju klimaks, setelah itu harus disadari yang namanya anti klimaks. Maka kami menetapkan yang namanya “High energy ending”. Berhenti saat dipuncak, agar kita masih kuat membuat momentum-momentum perubahan berikutnya. 
Tipping point itu erat kaitannya dengan persepsi diri kita, sehingga sejatinya setiap orang pasti memiliki tipping point atas perubahan-perubahan kecil yang dijalankannya secara kontinyu. Ada yang ikhlas menerima sehingga bisa membesar dan ada yang menolaknya sehingga justru menjadi kerdil.
maka untuk menghilangkan mental block penolakan diri menjadi jiwa yang besar adalah, selesaikan masa lalu kita, kemudian accepting, forgiving dan up grading.  Ketakutan itu hanya akan bisa hilang dengan menghadapinya.✅
Diskusi Lepas,

Ratih : Kesan yang melekat kuat pas baca tipping point itu kerja keras sebelumnya.
Teori 10ribu jam juga di buku ini kah bu?

➡️tepat mbak Ratih, jadi tahapan-tahapan NHW kita sebelumnya itu mengarah kepada sebuah proses yang berkesinambungan, bukan dengan instan cara pencapaian kita. Maka kalau teman-teman tidak pernah menemukan KM 0 nya, maka tidak akan pernah ketemu tipping point ini, karena mau jalan dimana saja kita bingung. 
Kalau 10 ribu jam ada di buku Outliers
Noni : Izin bertanya bu Septi… 
Apakah dalam *Berubah* atau *Kalah* harus menjadi orang besar, hebat dan famaous…

➡️ Mbak Noni, menjadi hebat, besar dan terkenal itu bonus dari sebuah kesungguhan dan tidak harus seperti itu. 
Contohnya saya dan pak Dodik, mendiskusikan dari awal sejak kami memulai KM 0 secara bersama, siapa nanti yang akan dikenal publik? semua by design dan disadari dengan segala konsekuensinya. Ketika kami memutuskan saya sebagai connector, maka konsekuensinya sayalah yang dikenal publik pertama kali, pak Dodik sebagai Maven memutuskan untuk di belakang layar melihat berbagai keadaan dengan jernih, dan tidak direpotkan dengan “ketenaran” sehingga kami berdua masih bisa menjaga keseimbangan dan kewarasan hidup hehehehe.
Noni : Jadi kalo iti skalanya kecil pun sebenernya gpp juga yaa bu…

➡️justru harus dimulai dari hal kecil tapi berpikir besar, kami berdua mengistilahkannya sebagai GO LOCAL, THINK GLOBAL. Dulu yang kami mulai adalah hal kecil, tapi saat itu kami berpikiran, masalah ini sepele, tapi menjadi permasalahan ibu rumah tangga se Indonesia, sehingga kalau kita sendiri bisa menyelesaikan permasalahan sepele ini, kemungkinan akan menjadi solusi besar bagi ibu seluruh Indonesia.
bahkan dulu ketika kami berkutat di urusan matematika yang sepele, tambah, kurang, kali dan bagi ( matematika yang sangat dasar sekali), saat itu kami berdua mikir, ini hal rmeh temah sebenarnya, tapi tidak banyak ibu yang memiliki skill mengajarkan kepada anaknya dengan sangat baik. Kami memulai masa inkubasi dengan anak-anak selama 3 tahun, setelah itu memutuskan siapa yang akan jadi ambassadornya. Saya memilih pak Dodik karena urusannya logika dan teknis. Pak Dodik bilang tidak seksi, karena beliau seorang lulusan ITB, pasti orang menganggapnya yaaa pantes kalau bisa, shg membuat sesuatu yang mudah menjadi terkesan sulit. Maka akhirnya diputuskan sayalah yang bukan seorang lulusan ITB dan berprofesi sbg ibu rumah tangga untuk menjadi ambassador jarimatika, memberikan solusi para ibu di urusan kali bagi tambah kurang. Ini pertama kali kami merasakan tipping point, setelah itu menjalankan perubahan-perubahn terus dan mengalami berkali-kali tipping point
Noni : Seandainya perubahan itu ternyata ga significant berkembangnya apa harus selalu ganti arah atau boleh tetap lanjut..

➡️Tidak signifacant? ubah strateginya mbak, karena kalau tetap lanjut dengan cara yang sama nanti bakalan jadi insanity. Doing the same things over and over again, and expecting the different result.
Noni : Nasihatnya dong bu Septi… Apa kunci untuk Berubah…

➡️If You Can CHANGE  YOUR SELF, you can CHANGE ANYTHING and you can CHANGE THE WORLD.
Hani : Saya asumsikan penjelasan ibu, sebagai sikap *_’hijrah’_*.. Apakah dalam kondisi khusus, harus dibarengi dengan hijrah fisik, jika memang terjadi situasi doing the same things over and over again, while outsiders expecting the different results ?

➡️jawaban untuk mbak hani :
Hijrah itu syaratnya adalah TAAT TOTALITAS, tidak ada hijrah yang sukses dengan setengah-setenga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s