Dongeng Kertas

Oleh Yudha25Patria

Di atas meja itu, kamu bisa melihat buku-buku berjajar rapi… tempat pensil, lengkap dengan pulpen, penghapus, dan penggaris bergambar kartun kucing. Di dalam laci meja itu, ada sebuah kotak terbuat dari anyaman bambu berwarna kecoklatan. Di dalamnya, ada setumpuk amplop berwarna-warni. Isinya surat.
Di pojok ruangan ini, ada sebuah dipan. Di atasnya, tertidur anak gadis yang sedang tidur pulas berselimut bed cover tebal. Mungkin dia sedang mimpi indah. Aku selalu memerhatikan dia dari sini. Setiap gerak-geriknya dari pagi hingga malam, aku tahu semua. Beberapa waktu yang lalu, misalnya. Begitu ia pulang sekolah, anak gadis itu buru-buru mengunci pintu kamar dan menaruh tas ransel warna merah muda ke atas kasur. Dia seperti mencari-cari sesuatu di dalam situ. Voila! Sebuah amplop biru muda, isinya surat.
Dibacanya isi surat itu. Aku juga ingin baca, tapi tidak bisa. Mungkin surat itu menyenangkan, karena tiap membacanya, anak gadis itu selalu tersenyum. Aku juga ingin membacanya. Mungkin aku harus belajar baca mulai dari sekarang.
Sejak pagi sampai malam, aku terus belajar membaca, tapi tak banyak yang bisa kupelajari. Sementara aku belajar membaca, anak gadis itu tumbuh semakin tinggi dari hari ke hari. Seingatku, kemarin dia hanya setinggi gagang sapu, tapi kini telah menyamai tinggi lemari. Bila dia semakin tinggi, akan setinggi apa anak gadis ini nanti?
Tik tok tik tok… Suara detik jam terdengar jelas sekali. Semuanya biasa saja, sampai aku sadar ada yang aneh terjadi di malam ini. Dari luar rumah tampak kilatan cahaya sesekali. Si anak gadis terbangun dari tidurnya. Ayahnya masuk ke dalam kamar, berteriak dengan suara keras sekali. Wajah anak gadis itu menjadi pucat pasi, lalu mereka berdua pergi meninggalkan ruangan ini . Apa yang terjadi? pikirku.
Kilatan cahaya itu muncul dan muncul lagi, lalu tiba-tiba suara letusan bagai guntur menggetarkan dinding dan kaca jendela. Aku takut. Suara letusan dan getaran terus beradu seperti tak pernah mau berhenti. Getarannya begitu hebat sampai akhirnya kaca-kaca jendela di ruangan ini pecah. Di antara suara letusan yang dahsyat itu, terdengar juga suara letusan yang lebih kecil dan berentet. “Trraattatatatattt… Dhuarr!!! Trrraaatatattatt… Dhuarr!!!” Aku bertambah takut. Demi apapun, aku berani bersumpah… aku tidak pernah merasa setakut ini. Aku terguncang oleh getaran. Aku jatuh ke lantai. Suara gedebrak yang keras menyambutku.
***
Ah, aku di sini lagi. Di ruangan ini lagi. Matahari itu lagi.
Ah, anak gadis itu lagi, dengan ayahnya berdua. Mereka tampak sedang bekerja di ruangan ini. Ayah nya kelihatan gusar mengosongkan lemari, memindahkan pakaian-pakaian ke dalam koper besar, sedangkan anak gadisnya membereskan barang-barang di meja. Anak gadis itu membuka laci, lalu mengambil kotak anyaman bambu dan memasukkannya ke kantong kain berwarna putih. Ia melakukannya terburu-buru, hingga surat-surat yang ada di dalam kotak itu berhamburan. Ah, ceroboh sekali! pikirku. Semuanya terburai di lantai ‘kan?
Ayahnya menarik lengan anak gadis itu. Dia meronta-ronta, tapi tangan ayahnya lebih besar dan kekar. Mereka berdua pergi begitu saja dari ruangan ini. Meja, lemari, dipan, aku dan surat-surat yang berceceran ditinggal dalam hening dan sunyi.
Di luar ruangan ini, samar-samar terdengar derap langkah yang banyak sekali. Asap dan debu pekat masuk lewat jendela yang sudah tak berkaca lagi. Kutunggu sampai malam tiba, anak gadis dan ayahnya tak kunjung kembali. Seluruh lantai berantakan karena pecahan kaca serta debu yang tak disapu. Kasur, bantal dan selimut yang biasanya wangi juga menjadi bau. Ke mana perginya kau, anak gadisku? Baru sehari saja ditinggal, aku sudah merasa rindu.
Ketika cahaya matahari kembali, seorang pria dengan topi besi berwarna hitam masuk ke ruangan ini. Dia berbadan tegap, jauh lebih tinggi dari anak gadisku… Aku takjub melihat benda panjang di bahunya. Terbuat dari besi dan kayu, tak pernah kulihat benda seperti itu sebelumnya. Pria ini yang membawa benda menakjubkan ini melihat seisi ruangan. Matanya tertuju pada amplop-amplop surat anak gadisku yang berserakan di lantai. Ia mengambil salah satu, lalu membaca isinya. Belum selesai membaca, ia meremas surat itu lalu membuangnya ke lantai. Ia mengambil satu amplop lagi, dan melakukan hal yang sama. Ia melakukan itu sampai semua surat di lantai berubah menjadi kertas yang tiada arti.
Setelah selesai, pria tegap itu melihat ke arahku. Alangkah baiknya pria ini padaku! Ia mengembalikan aku pada posisiku semula. Ia mengutak-atik diriku. Geli. Setelah selesai, ia tersenyum, lalu pergi meninggalkan ruangan ini.
Tik tok tik tok… Suara detik jam kembali terdengar di ruangan ini. Tik tok tik tok… Sekian lama aku menunggu, tak pernah anak gadisku kembali, tidak pula ayahnya, atau pria tegap yang menenteng benda menakjubkan di bahunya itu.
Tik tok tik tok… Aku memperhatikan kertas-kertas di lantai dengan iba. Mungkin kertas-kertas itu tidak memiliki nasib yang baik. Tik tok tik tok… Aku yang sudah pernah belajar membaca ini, hanya mengenali satu kata yang tertulis di atas kertas lecek itu.
“L’amour.”
Artinya: Cinta.
Suara detik berhenti. Dan ruangan ini kembali sepi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s