Menyandarkan Nikmat Kepada Allah (BiAS)

โ€‹

๐ŸŒ BimbinganIslam.com

Jum’at, 10 Rabi’ul Awwal 1438 H / 09 Desember 2016 M

๐Ÿ‘ค Ustadz ‘Abdullฤh Roy, MA

๐Ÿ“˜ Silsilah Belajar Tauhid

๐Ÿ”Š Halaqah 24 | Menyandarkan Nikmat Kepada Allฤh 

~~~~~~~~~~~~~~~
MENYANDARKAN NIKMAT KEPADA ALLฤ€H 
ุงู„ุณูŽู‘ู„ุงูŽู…ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุจูŽุฑูŽูƒูŽุงุชูู‡

ุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ูˆุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ู‰ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡
Halaqah yang ke-24 berjudul “Menyandarkan Nikmat Kepada Allฤh”. 
Termasuk keyakinan yang harus diyakini dan diingat oleh setiap Muslim bahwa kenikmatan dengan segala jenisnya adalah dari Allฤh. 
Allฤh berfirman:
ูˆูŽู…ูŽุง ุจููƒูู…ู’ ู…ูู†ู’ ู†ูุนู’ู…ูŽุฉู ููŽู…ูู†ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู
“Kenikmatan apa saja yang kalian dapatkan maka asalnya adalah dari Allฤh.” 
(QS An Nahl: 53)
Dan termasuk syirik kecil apabila seseorang mendapatkan sebuah kenikmatan dari Allฤh kemudian menyandarkan kenikmatan tersebut kepada selain Allฤh. 
Seperti mengatakan:
“Kalau pilot tidak mahir niscaya kita sudah celaka.”

“Kalau tidak ada angsa niscaya uang kita sudah dicuri.”

โ€ข “Kalau bukan karena dokter niscaya saya tidak sembuh.”
Ini semua adalah menyandarkan kenikmatan kepada sebab. 
Allฤh berfirman:
ูŠูŽุนู’ุฑููููˆู†ูŽ ู†ูุนู’ู…ูŽุชูŽ ุงู„ู„ู‘ู‡ู ุซูู…ูŽู‘ ูŠูู†ูƒูุฑููˆู†ูŽู‡ูŽุง
“Mereka mengenal nikmat Allฤh kemudian mereka mengingkarinya.” 
(QS An Nahl: 83)
Seharusnya dia sandarkan kenikmatan tersebut kepada Allฤh, Zat yang menciptakan sebab. 
Seperti dengan mengatakan:
โ€ข “Kalau bukan karena Allฤh niscaya kita sudah celaka.”

โ€ข “Kalau bukan Allฤh niscaya uang kita sudah hilang.”

โ€ข “Kalau bukan karena Allฤh niscaya saya tidak akan sembuh.”
Karena apa? 
Karena Allฤh-lah yang memberikan:
โœ“Nikmat keselamatan

โœ“Nikmat keamanan

โœ“Nikmat kesembuhan 
Sedangkan makhluk hanyalah sebagai alat sampainya kenikmatan tersebut kepada kita. 
Kalau Allฤh menghendaki niscaya Allฤh tidak akan menggerakkan makhluk-makhluk tersebut untuk menolong kita. 
Ini semua, bukan berarti seorang Muslim tidak boleh berterima kasih kepada orang lain. 
Seorang Muslim diperintah untuk mengucapkan syukur dan terima kasih kepada seseorang yang berbuat baik kepadanya karena mereka menjadi sebab kenikmatan ini. 
Bahkan diperintah untuk membalas kebaikan tersebut dengan kebaikan atau dengan do’a yang baik.
Namun, pujian dan penyandaran kenikmatan tetap hanya kepada Allฤh semata. 
ูˆุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฃุนู„ู… 
Itulah yang bisa kita sampaikan pada kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah yang selanjutnya.
ูˆ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู†ุจูŠู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆ ุนู„ู‰ ุขู„ ู†ุจูŠู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆ ุนู„ู‰ ุขู„ู‡ ูˆ ุตุญุจู‡ ุฃุฌู…ุนูŠู†. 
Saudaramu, 

‘Abdullฤh Roy
โœ’Ditranskrip oleh Tim Transkrip BiAS

โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s