Perbuatan yang Diharamkan (BiAS)

🌍 BimbinganIslam.com

Senin, 04 Rabi’ul Akhir 1438 H / 02 Januari 2017 M

👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA 

📗 Kitābul Jāmi’ | Bab Al-Birru (Kebaikan) Wa Ash-Shilah (Silaturahim) 

🔊 Hadits ke-3 | Perbuatan Yang Diharamkan (bagian 3) 

—————————— 
وَعَنِ الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ رضي الله عنه عَنْ رَسُوْلِ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: “إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوْقَ الأُمَّهَاتِ، وَوَأْدَ اَلْبَنَاتِ، وَمَنْعًا وَهَاتِ، وَكَرِهَ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ.” مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Dari Al-Mughīrah bin Syu’bah radhiyallāhu ‘anhu, dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya Allāh Subhānahu Wa Ta’āla mengHARAMkan atas kalian: 

⑴ Durhaka kepada para ibu

⑵ Mengubur anak-anak perempuan hidup-hidup

⑶ Hanya sekedar bisa menuntut hak, sementara tidak menunaikan hak orang lain (banyak menuntut sesuatu yang tidak pantas dituntutnya) 

⑷ Mengatakan “katanya & katanya” (banyak menukil perkataan manusia) 

⑸ Terlalu banyak bertanya (meminta) 

⑹ Dan membuang-buang (menyia-nyiakan) harta.”

(Muttafaqun ‘alaih)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
PERBUATAN YANG DIHARAMKAN (BAGIAN 3)
بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu Wa Ta’āla, kita masih dalam hadits Al Mughīrah bin Syu’bah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu. 
Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyebutkan beberapa perkara yang haram, diantaranya adalah: 
■ PERKARA HARAM KETIGA
وَمَنْعًا وَهَاتِ
“Menahan dan meminta”. 
⇒ Arti “menahan” yaitu menahan perkara-perkara wajib yang harus dia tunaikan, seperti: 
⑴ Zakat, merupakan nya orang-orang miskin, yang seharusnya dia tunaikan tapi tidak ditunaikan.
⑵ Nafkah-nafkah yang wajib yang harusnya diberikan kepada orangtuanya, anak dan istrinya tapi dia tidak keluarkan haknya. 
⑶ Nafkah wajib kepada pekerjanya yaitu gaji, tapi tidak dia keluarkan. 
⇒ Arti “meminta” yaitu dia sukanya hanya meminta. Hak orang lain tidak dia berikan sementara dia menuntut haknya bahkan menuntut perkara-perkara yang bukan haknya. 
Oleh karenanya seseorang jangan hanya bisa menuntut saja namun tidak menunaikan kewajibannya. 
Dan banyak model orang seperti ini, yang dia hanya menuntut tapi lupa bahwasanya dia punya tanggung jawab yang harus dia sampaikan. 
■ PERKARA HARAM KEEMPAT 
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
وَكره لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ
“Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla benci bila kalian ‘qīla wa qāla’ (berkata hanya berlandaskan “katanya”).”
Dan ini peringatan kepada kita semua.
Di zaman sekarang, dimana begitu banyak media, berita-berita yang tersebar di internet, banyak sekali perkara yang belum tentu benar. 
Dan tidak boleh kita menyebarkan setiap berita yang datang kepada tanpa kita cek terlebih dahulu. Apalagi datangnya dari situs-situs/website-website yang tidak jelas ketsiqahannya. 
Bukankah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda: 
كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukuplah seorang (dikatakan) berdosa jika dia menyampaikan seluruh apa yang dia dengar.” 

(HR Muslim) 
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
Cukuplah seorang (dikatakan) berdusta jika dia menyampaikan seluruh apa yang dia dengar.” 

(HR Muslim) 
Karena kalau kita menyampaikan seluruh kabar, dan namanya kabar pasti ada tambahan; kekurangan atau dusta, belum lagi kabar-kabar yang berkaitan dengan ghibah, namīmah, maka kita ikut menyebarkan “katanya dan katanya” ini. 
Dalam hadits juga Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :
بِئْسَ مَطِيّةُ الرجلِ زَعَمُوا 
“Sungguh buruk (seburuk-buruk) tunggangan seseorang adalah perkataan ‘mereka menduga’.” 

(HR Abū Dāwūd) 
⇒ Maksudnya adalah seorang menukil berita namun tapi tidak jelas sumber perkataan tersebut (katanya begini, menurut/dugaan begini). 
Hal ini dilarang oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam. 
Ingatlah sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam : 
مِنْ حُسْنِ إِسْلامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَالا يَعْنِيهِ  
“Diantara keindahan Islam seseorang yaitu dia meninggalkan perkara yang tidak penting baginya.” 
(Hadits hasan, diriwayatkan oleh At Tirmidzi no. 2318 dan yang lainnya)
Oleh karena itu kalau ada kabar yang tidak jelas, tidak bermanfaat baginya & agamanya, masih diragukan maka tidak perlu dia sebarkan. 
Kalau sudah terlanjur dibaca maka tidak perlu di share, tidak semua kabar harus kita share karena masih banyak sekali perkara yang masih “katanya dan katanya”. 
Ingat, kalau kita sebarkan setiap berita padahal pada berita tersebut bermacam-macam isinya – ada isinya hanya kedustaan, ghībah, namīmah (perkara-perkara)- maka ini kita termasuk menyebarkan perkara-perkara dosa. 
Maka benar sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam “Cukuplah seorang dikatakan berdusta jika menyampaikan semua apa yang dia dengar.”
■ PERKARA HARAM KELIMA  
Perkara yang haram berikutnya adalah “banyak soal”. 
Suāl dalam bahasa arab bisa memiliki 2 makna ; 

• Makna ⑴ : pertanyaan

• Makna ⑵ : meminta
⇒ Dan keduanya ini dilarang, terlalu banyak bertanya dan terlalu banyak meminta. 
⇒ Terlalu banyak bertanya adalah bertanya hal-hal yang tidak bermanfaat, seperti bertanya tentang hal-hal yang mustahil terjadi atau pertanyaan yang tujuannya untuk mencari keringanan. 
Pernah seorang ustadz ditanya: 

“Ustadz, apa hukum makan daging dinosaurus?” 
Ini pertanyaan yang tidak bermanfaat. 
Dinosaurus sudah tidak ada, kalaupun dahulu ada maka siapa yang menyembelih dan siapa yang mau makan dagingnya? 
Atau pertanyaan lain: “Apakah dinosaurus pernah ada?”
Ini pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada manfaatnya. 
Contoh juga pertanyaan yang tidak ada kaitannya dengan dirinya, misal: 

“Ustadz, misal kalau saya di bulan, kapan saya shalat dzuhur?” 
Kalau pertanyaan berkaitan dengan seorang yang memang astronot maka tidak mengapa tetapi kalau kita bukan astronot dan hanya tinggal dirumah serta tinggal di bumi, maka untuk apa bertanya yang seperti ini? 
Ini dilarang oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, yaitu bertanya tentang suatu hal yang tidak ada faidahnya dan mustahil/jarang terjadi. 
Atau pertanyaan lain: “Kalau Ka’bah itu terbang, lalu bagaimana kaum muslimin shalat?” 
Hal ini siapa yang menerbangkan dan kapan terjadi? 
Intinya kalau ada permasalahan yang pelik, nanti ada saatnya para ulama akan membahas masalah-masalah tersebut. 
⇒ Makna terlalu banyak meminta, yaitu seseorang tidak dilarang untuk bekerja dengan dirinya sendiri dan tidak mengharapkan bantuan orang lain. 
Tapi kalau terlalu sering meminta tolong kepada orang lain maka hatinya akan kurang bergantung kepada Allāh Subhānahu Wa Ta’āla. 
Hendaknya seseorang bergantung hanya kepada Allāh Subhānahu Wa Ta’āla, berusaha menjaga kehormatan (‘izzah) dirinya. 
Dalam hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan : 
لاَ تَزَالُ الْمَسْأَلَةُ بِأَحَدِكُمْ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ يَوْمض الْقِيَامَةِ وَلَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ
“Senantiasa salah seorang dari kalian meminta dan meminta sampai dia bertemu Allāh di hari kiamat dalam kondisi wajahnya tidak ada dagingnya sama sekali.” 

(HR Bukhāri No. 1405 dan Muslim no. 2443) 
⇒ Artinya Allāh membalas perbuatan tidak tahu malu yaitu meminta-minta yang terus menerus (takatstsuran), yaitu sudah punya tetapi meminta lagi dan lagi. 
Adapun orang yang meminta karena butuh dan benar-benar tidak punya dan butuh bantuan maka tidak dilarang. 
Tetapi yang dilarang adalah jika sebenarnya dia bisa berusaha sendiri dan tidak terlalu perlu meminta tapi meminta-minta terus. 
Ini yang bisa menghinakan diri seseorang dihadapan manusia dan Allāh Subhānahu Wa Ta’āla. 
والله تعالى أعلم بالصواب

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

_____________________________ 
▪Mari bersama mengambil peran dalam dakwah…

Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah
1. Pembangunan & Pengembangan Rumah Tahfizh 

2. Support Radio Dakwah dan Artivisi

3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia
Silakan mendaftar di : 

http://cintasedekah.org/ayo-donasi/
*Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah*

🌎www.cintasedekah.org

👥 https://web.facebook.com/gerakancintasedekah/

📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q

——————————————
🌍 BimbinganIslam.com

Selasa, 05 Rabi’ul Akhir 1438 H / 03 Januari 2017 M

👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA

📗 Kitābul Jāmi’ | Bab Al-Birru (Kebaikan) Wa Ash-Shilah (Silaturahim) 

🔊 Hadits ke-3 | Perbuatan Yang Diharamkan (bagian 4) 

—————————— 
وَعَنِ الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ رضي الله عنه عَنْ رَسُوْلِ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: “إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوْقَ الأُمَّهَاتِ، وَوَأْدَ اَلْبَنَاتِ، وَمَنْعًا وَهَاتِ، وَكَرِهَ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ.” مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallāhu ‘anhu, dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya Allāh Subhānahu Wa Ta’āla mengHARAMkan atas kalian: 

① Durhaka kepada para ibu

② Mengubur anak-anak perempuan hidup-hidup

③ Hanya sekedar bisa menuntut hak, sementara tidak menunaikan hak orang lain (banyak menuntut sesuatu yang tidak pantas dituntutnya) 

④ Mengatakan “katanya & katanya” (banyak menukil perkataan manusia

⑤ Terlalu banyak bertanya (meminta) 

⑥ Dan membuang-buang (menyia-nyiakan) harta.”

(Muttafaqun ‘alaih).

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
PERBUATAN YANG DIHARAMKAN (BAGIAN 4)
بسم اللّه الرحمن الرحيم 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله 
Ikhwan & akhwat yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu Wa Ta’āla, kita masih dalam hadits Mughīrah bin Syu’bah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu tentang beberapa perkara yang diharamkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam. 
Diantaranya yang terakhir (ke-6) adalah: 
وَإِضَاعَةَ الْمَالِ
“Menghabiskan (membuang) harta dengan sia-sia.”
Sesungguhnya harta yang kita miliki ini hanyalah titipan dari Allāh Subhānahu Wa Ta’āla. Allāh Subhānahu Wa Ta’āla telah menyampaikan dalam Alqurān : 
وَآتُوهُم مِّن مَّالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ 
“Berikanlah kepada mereka dari harta Allāh yang Allāh berikan kepada kalian.” (QS An Nūr: 33)
Berarti, harta kita adalah harta Allāh Subhānahu Wa Ta’āla. 
Diantara bukti bahwasanya harta yang kita miliki adalah harta Allāh yaitu tatkala kita meninggal dunia maka kita tidak bisa seenaknya membagi harta tersebut sesuai dengan kemauan kita (misal kepada si fulan atau kepada anak kita sesuka kita). 
Tetapi begitu kita meninggal dunia, harta kita langsung masuk dalam aturan pemilik harta yang sesungguhnya yaitu Allāh Subhānahu Wa Ta’āla. 
Maka kita membagi harta setelah kita meninggal sesuai dengan aturan warisan yang telah Allāh tetapkan dalam Alqurān. 
Ini menunjukkan harta kita hanyalah amanah (titipan) dari Allāh Subhānahu Wa Ta’āla. 
Oleh karenanya, Allāh Subhānahu Wa Ta’āla akan memintai pertanggung-jawaban tentang penggunaan amanah ini. 
Dalam hadits yang shahih Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyebutkan: 
لن تزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسئل عن أربع : عن شبابه فيما أبلاه، وعن عمره فيما أفناه، وعن ماله من أين اكتسبه ، وفيما أنفقه (طب عن أبي الدرداء).
“Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam pada hari Kiamat hingga ditanya empat perkara: tentang masa mudanya untuk apa digunakan, umurnya untuk apa dihabiskan, hartanya dari mana didapat dan ke mana disalurkan.” 

(HR. Thabrāniy dari shahābat Abu Dardā)
Diantara 4 perkara tersebut adalah tentang hartanya; 

⑴ Dari mana dia dapatkan? 

⑵ Kemana dia habiskan? 
Pertanyaan ke-2 inilah yang akan kita bahas adalah وَفِيمَا أَنْفَقَهُ (dimana dia habiskan). 
Kita tidak boleh sembarang menghabiskan harta kita. Jika ternyata harta kita habiskan dengan sia-sia maka kita akan dihisab oleh Allāh dan diadzab dengan penggunaan harta yang sia-sia tersebut. 
Oleh karenanya para ulama rahimahumullāh membagi penggunaan harta menjadi 3 : 
■ Pertama | Penggunaan harta yang HARAM
Yaitu seseorang menggunakan harta pada cara-cara yang tidak dibenarkan oleh syari’at. 
Contoh: 

▫Menggunakan (menghambur-hamburkan) harta untuk perkara-perkara yang haram yang dibenci oleh Allāh Subhānahu Wa Ta’āla & Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. 
Dan ini terlalu banyak model penggunaan harta pada hal-hal yang haram. 
▫Membiarkan harta tersebut TANPA ada PENJAGAAN sehingga akhirnya harta tersebut rusak. 
Seseorang hanya mengumpulkan harta tetapi tidak dijaga, jika tidak butuh tidak dia berikan kepada oranglain. 
Hobinya hanya mengumpulkan harta sehingga harta tersebut nantinya rusak, dari barang-barang besar sampai barang-barang kecil. 
Contoh: 
● Hobi mengumpulkan mobil, setelah memiliki mobil banyak tapi tidak dijaga (dirawat) sehingga rusak. 
● Mengumpulkan beras banyak. Padahal ada tetangganya yang perlu tapi tidak dia berikan akhirnya beras tersebut rusak (sampai ada kutu/ulatnya), akhirnya tidak bisa dimanfaatkan.
● Membuang harta yang masih bisa digunakan. Terkadang seseorang merasa angkuh kemudian harta tersebut sebenarnya masih bisa digunakan oleh oranglain namun dia buang karena dia tidak perlukan. 
Ini seperti bentuk-bentuk mubadzir, misal makanan yang masih bisa dimakan tapi dibuang atau ada sesuatu yang masih bisa dipakai tapi dibuang. 
Ini semuanya contoh membuang harta dengan sia-sia. 
■ Kedua | Penggunaan harta yang MUSTAHAB (dianjurkan). 
Ini adalah menginfaqkan harta pada hal-hal kebaikan dan keta’atan yang disukai Allāh Subhānahu Wa Ta’āla.
Ini jalannya begitu banyak, seperti: 
• Mengeluarkan harta untuk membangun dakwah dijalan Allāh Subhānahu Wa Ta’āla. 

• Mengeluarkan harta untuk anak yatim dan fakir miskin

• Dan yang lainnya dari jalan-jalan kebaikan yang sangat banyak. 
■ Ketiga | Pengeluaran harta yang diBOLEHkan oleh Allāh Subhānahu Wa Ta’āla. 
Ini kembali kepada kondisi seseorang. 
Jika seseorang ternyata memiliki harta yang melimpah (kaya raya) dan kemudian dia juga sudah berinfaq dan sudah membantu orang miskin, maka tidak dilarang dia mengikuti gaya hidupnya yang wajar. 
Seorang yang kaya boleh dia membeli mobil mewah yang dia suka dan enak selama tidak sampai berlebihan dan tidak menghantarkan kepada kesombongan. 
Membeli mobil mewah adalah haknya, hartanya masih banyak. Dia sudah berinfaq dijalan Allāh, membantu orang miskin, membangun masjid, maka dia boleh makan makanan yang enak. 
Boleh baginya membeli mobil yang mewah yang tidak sampai pada derajat terlalu mahal, tidak, tetapi mobil tersebut mewah dan mahal karena enak untuk dipakai, bukan untuk bergaya atau sombong. 
Maka ini tidak mengapa, ini hak dia karena telah menjalankan kewajiban dan berhak menggunakan harta yang dia miliki untuk hal-hal yang dibolehkan oleh Allāh Subhānahu Wa Ta’āla. 
Adapun kalau kondisi orang tersebut ternyata tidak pas/sesuai dengan apa yang dia keluarkan, misalkan seseorang hartanya pas-pasan tetapi dia bergaya dengan gaya hidup mewah maka ini tidak diperbolehkan dan ini diharamkan oleh Allāh Subhānahu Wa Ta’āla. 
Ini semua kembali kepada ‘urf (tradisi). Kalau menurut tradisi merupakan perkara yang wajar bagi seseorang maka ini diperbolehkan. 
Tetapi kalau penghasilannya sedikit tapi hidupnya mewah maka ini contoh mengeluarkan harta tidak pada tempatnya. 
والله تعالى أعلم بالصواب

_____________________________ 
▪Mari bersama mengambil peran dalam dakwah…

Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah
1. Pembangunan & Pengembangan Rumah Tahfizh 

2. Support Radio Dakwah dan Artivisi

3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia
Silakan mendaftar di : 

http://cintasedekah.org/ayo-donasi/
*Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah*

🌎www.cintasedekah.org

👥 https://web.facebook.com/gerakancintasedekah/

📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q

——————————————

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s