“Bela Negara” itu dari Rumah ! By Bunda Elly Risman

​“Bela Negara” itu dari Rumah ! 
Rumah kami ini masih dalam wilayah Angkatan Udara, yaitu Pondok Gede. Anak anak saya dulu sekolah di SD dan SMP Angkasa.

Suatu hari beberapa tahun yang lalu, Pimpinan PIA Ardhya Garini yang tugasnya antara lain adalah membawahi sekolah sekolah yang ada didalam lingkungan Angkatan Udara, mengundang saya untuk berbicara dalam pertemuan orang tua murid dan guru di Sekolah Menengah Kebangsaan yang mereka miliki.Saya sangat terkejut, bangga dan haru. Saya baru tahu Angkatan Udara punya SMU Kebangsaan.Mungkin juga ada di tempat atau lingkungan lain, tapi bagi saya inilah sekolah Kebangsaan yang pertama kali saya kenal. Saya langsung meng “iya” kan dan dengan  bersemangat menyiapkan materi presentasinya. Saya ingat betul bagaimana pada hari H, selain menyampaikan pujian, saya  mengajak audience untuk meneriakkan yel yel, guna membangun semangat.

Kurikulumnya bagus, dan bila diterapkan dengan benar pastilah akan menimbulkan dan menanamkan kecintaan anak didik pada bangsanya melebihi yang dimiliki oleh sekolah umum lainnya.
Kemudian, setelah saya renungkan dan lihat kebelakang dalam pengalaman hidup saya, menurut hemat saya kecintaan pada tanah air  sepatutnya dibangun dari dalam setiap keluarga dari setiap rumah tangga.

Dalam tulisan saya yang lalu, pernah saya kisahkan bagaimana ayah saya memarahi saya karena pulang kerumah dari  demo yang telah menelan korban karena  tembakan. Beliau memerintahkan saya kembali dan mengatakan bahwa beliau lebih bangga kalau anaknya mati di tembak peluru dari pada mati dikamar digigit nyamuk.

Kisah itu hanyalah sepenggal kenangan dari kisah panjang bagaimana ayah saya membangun kecintaan pada negeri, dalam skala kecilnya “Cinta Aceh!”
Mula mula, ayah saya bercerita bagaimana kami sebagai orang Aceh Selatan ( sebelum pengembangan wilayah) sering disebut atau di gelari sebagai Aceh Ketinggalan. Karena kemajuan didaerah kami itu sangat lambat. Sebagai contohnya adalah  kurangnya jembatan, sehingga untuk sampai kekampung kami dari Medan, bus bus antar kota , truk dan kendaraan pribadi harus menyeberangi 5 sungai besar dengan menggunakan rakit. Tidak jarang terjadi kecelakaan dimana bus bus tersebut tenggelam kekedalaman sungai, padahal banyak orang yang  berada didalam bus tertidur atau malas turun. Tak sedikit anak anak yang diantaranya ada keluarga kami yang mati hanyut.

Saya diajak pulang oleh ibu saya untuk mengalami semua itu, sebelum ayah saya meminta saya nanti kalau kuliah pilihlah jurusan Tehnik Sipil agar bisa bantu bangun jembatan, agar korban tidak berjatuhan  serta Aceh Selatan tak di gelari lagi sebagai Aceh Ketinggalan.
Hari berlalu, lewat diskusi diskusi  yang secara rutin memang  dilakukan oleh ayah saya, saya menyampaikan kepada beliau, bahwa saya merasa tidak tertarik dan tidak berbakat untuk menjadi insinyur dan meneruskan usaha ayah saya dalam bidang kontraktor tersebut. Saya  menyampaikan pada ayah saya bahwa saya ingin membangun yang lain saja yaitu, membangun jiwa. Saya ingin masuk faultas Psikologi yang sudah ada pendahulunya, abang sepupu saya Hasan Basri dari UGM. Lama… prosesnya untuk akhirnya ayah saya  setuju.Tapi permintaan dan harapan sekarang berubah bunyinya :” Jangan pernah tinggalkan Aceh, dan tetaplah di dunia pendidikan, karena hanya pendidikan yang memanusiakan manusia !”   
Beliau mulai menjual semua hartanya yang dikumpulkan sedikit demi sedikit selama 30 tahun dan merintis Dayah (Bahasa Aceh :Pesantren) Modern Terpadu Subulussalam,di desa Jontor –Kecamatan Simpang Kiri – Aceh Singkil. Tahun ini berusia 30 tahun.
Ketika saya kecil, ibu saya mengasuh saya dengan mendendangkan ayat Qu’an, shalawat, doa dan berbagai lagu perjuangan. Saya ingat betul, bila ibu saya rapat dengan teman temannya sesama Aisyiah, kalau mereka sudah capek saya naik keatas meja dan menyanyikan lagu lagu perjuangan yang diajarkan ibu saya dalam 3 bahasa: Indonesia, Jepang dan Arab.
“Lullaby” atau lagu mendendangkan anak orang Acehpun sangat heroik. Rasanya ingin saya dendangkan buat anda. Intinya lagu lagu tersebut berupa pantun dengan dua baris pengantar/sampiran dan dua baris isi. Semuanya rhyme nya dua kali :ditengah dan dibagian akhir, itu khususnya lagu Aceh.Ini contohnya:
Oi si doda..doda idi.                                                                                                     Seunayang  blang ka putoh talo (Kedua baris ini sampiran :tak bermakna)  

Beu reujang rayeuk muda sidi  – Cepatlah besar anakku sayang                                                                                 Tajak meuprang ta bela nanggroe – Kita pergi berperang membela negara

Bek ta takot keu darah ile  – Jangan takut darah mengalir                                                                                    Umpama mate, poma ka rela  – Umpama mati – mama pun rela
Bisa di bayangkan?, bagaimana nggak orang Aceh sanggup lawan Belanda  beratus tahun, lagu mendendangkan anaknya saja begitu!.

Begitu jugalah saya mendendangkan anak anak saya, sebagaimana dulu ibu saya mendendangkan saya, anak anak saya dan  anak adik adik saya didendangkan sama oleh ibu kami. 
Saya pernah bekerja paruh waktu sebagai juru masak seorang bangsawan Perancis yang kaya raya di Tallahasse Florida, dan kabarnya dari garis ibunya beliau  masih punya kaitan  dengan Winston Churchill. Beliau anggota tim penyelam tingkat dunia. Hasil beliau menyelam itu dibukukan dan diletakkan diruang tamunya, judulnya?: Ligitan dan Sipadan!.Subhanallah indahnya  bawah laut kedua pulau itu.

Saat itu, kedua pulau itu baru saja lepas ketangan Malaysia. Saya pinjamlah buku itu, bawa pulang dan saya ceritakan pada anak anak saya, terutama si bungsu yang suka alam dan pencinta terumbu karang.

Lama sekali dia memendam keinginan  untuk menjadi ahli terumbu karang dan mempelajarinya sampai SMP dan kemudian menyimpan cita cita sebagai ahli hukum kelautan agar bisa mempertahankan pulau pulau terluar Indonesia..   

Allah menentukan jalan hidup seseorang, ujung ujungnya anak saya mengikuti jejak ibunya, walau  hasrat kecintaan pada Indonesia dan alamnya tetap menyala.
Begitulah, pelan pelan lewat kajian agama,cerita dan  diskusi, kami membangun kecintaan anak anak kami pada negerinya. Mulanya mereka tidak habis pikir bahkan menentang, mengapa kami tetap ingin pulang setelah sekian lama hidup diluar negeri, padahal menurut mereka  hidup di negeri orang itu sudah sangat nyaman dibandingkan negeri sendiri. 

Kami selalu mengatakan dan memahamkan pada mereka, kalau kita diluar negeri kita menolong orang yang bukan bangsa kita. Padahal keluarga dan saudara kita sesama Indonesia membutuhkan dari  sedikit apa yang kita ketahui.
Walau tidak sehebat anak orang, alhamdulillah masing masing anak anak kami punya cita cita untuk negerinya. Ada yang tetap menginginkan suatu  waktu mampu melakukan perubahan dalam  program TV, menjadi psikolog yang menolong orang dan mendirikan sekolah yang unik, menjadi pemerhati dan  pejuang penyelamatan  terumbu karang, serta membantu mengembangkan pendidikan yang diwariskan kakeknya untuk Aceh  dll. 

Tetapi kini anak anak kami sedang menjalankan “musim” mereka menjadi istri dan menjadi ibu dan yang dapat mereka lakukan adalah  belajar berkontribusi semampu yang mereka bisa dalam grup ini.Semoga ada manfaatnya.
Kami yakin, anak anak anda insha Allah  jauh lebih hebat dari anak anak kami. Marilah mulai dengan tauladan. Ajarkan prinsip prinsip agama dalam mempertahankan dan membela Negara. Berceritalah tentang negeri kita yang indah dan kaya luar biasa. Tapi kekayaan itu terancam bukan mereka pemiliknya.                                                                                                    Dendangkan bersama lagu lagu perjuangan dan kecintaan pada alam dan tanah air Indonesia. Bangun rasa haru dan bangga dalam jiwanya . Walaupun mulanya  mereka tidak faham maknanya, Misalnya Rayuan Pulau Kelapa.. Kok Pulau Kelapa di rayu.. Rayuan apa? Pulau Kelapa apa? Tapi karena mereka sudah senang mereka mendendangkannya.   

Nyanyikan bersama  lagu lagu yang menghaluskan budi dan membakar semangat perjuangan dalam jiwanya. Kalau mereka sudah diatas tujuh tahun mulailah berdiskusi tentang masalah Negara yang sederhana dan mudah mereka cerna..
Kalau bukan kita yang mengajarkan kecintaan pada Negara ini, lalu siapa? Bagaimana mereka menjadi pembela Negara dan mempertahakankan kedaulatannya, kalau tidak ada yang terus meneruskan mengajarkannya ?

Semoga keadaan negeri kita yang sangat  memprihatinkan sekarang ini bisa jadi penyemangat bagi kita memulai menanamkan pada anak anak kita  : BELA NEGARA dan BELI (produk ) INDONESIA.

Tanamkan padanya  seperti syair  sebuah lagu : Aku bangga menjadi .. ANAK INDONESIA!!!
Bekasi, 9 Januari 2017, dini hari

Elly Risman 

#Parentingeradigital

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s