Anak Kita, Gadget dan sos – med 3 by Bu Elly Risman

​Anak kita, Gadget dan sos – med 3 .
Sebuah pesan singkat dari seorang ibu masuk ke hape saya dua pekan lalu, yang isinya seperti berikut :
“Ibu Elly, saya prihatin sekali bu melihat perkembangan yang sangat negative dari kelakuan remaja kita di Sosmed, apalagi si X dan Y itu bu… astagfirullaaah. Kelakuan anak laki laki dan perempuan sama saja menyimpangnya bu. Apa ibu ga bisa bantu untuk laporkan ke Menkominfo bu?.. Itu kan ditiru anak anak  dan sangat massive bu?” 

Saya tercenung sejenak..  Saya akhirnya menjawab singkat, bahwa saya sudah lapor dan membicarakan dengan beberapa teman sesama anggota Panel Penanganan situs  Internet bermuatan Negatif, tapi tak berkelanjutan.
Saya  berharap dengan menuliskannya disini dan menyampaikannya dalam seminar seminar saya, insha Allah akan lebih berarti  karena saya bicara dengan anda satu satu sebagai orang tua..
Mengapa anak dan  remaja sangat mudah terlibat hal yang negative di sosmed? 
1.Umumnya teman teman mereka semua menggunakannya.Awalnya karena berkaitan dengan pelajaran, kegiatan kelompok belajar dsbnya. Sulit sekali bila anak  tidak bisa bergabung dan “tidak sama “, mereka tidak sanggup menanggungkan resiko sebagai “anak yang beda banget”, “ aneh” atau “ ketinggalan” dan berbagai gelar lainnya yg segera mereka peroleh dari teman temannya.
2. Apa saja yang dilakukan di sos –med selain sangat menarik juga sangat menantang.
3.Kebutuhan untuk mendapat perhatian, jadi popular, pengen exist,  yang merupakan ciri khusus, remaja sangat mungkin terpenuhi disini. Apalagi bila anak atau remaja ini memang sering “terabaikan” sengaja atau tidak sengaja oleh orang tuanya. Kebutuhan dasar seperti perhatian, kasih , cinta dan dialog tidak didapatkan anak sehari harinya.
4.Kompetisi yang menaikkan adrenalin, memang di gemari remaja : Bagaimana caranya bisa lebih dari yang lain, menang  atau merasa hebat dan juara. Maka bila anak anak ini tidak mendapat hal hal mendasar yang kita bahas diatas dan dalam artikel sebelumnya, tidak heran bila seperti aduan ibu diatas tadi : kita tidak mengerti mengapa anak mampu melakukan hal hal yag tidak masuk akal sehat kita sebagai orang tua!. 
5.Keadaan menjadi lebih buruk bila dalam proses pengasuhannya, anak dan remaja tidak diajarkan untuk terbiasa BMM : Berfikir, Memilih dan Mengambil keputusan untuk dan atas nama dirinya sendiri. Yah ,dengan kombinasi  hal hal 1 -4 diatas kita faham, bila kemudian anak terhanyut dalam derasnya arus sos med ini… 
Bagaimana menghadapi anak dan remaja kita denga n sosmednya.
Riset yang dilakukan di YKBH menunjukkan yang menjadi follower dari tokoh tokoh remaja di sosmed yang heboh itu mulai dari berusia 8  – 19 tahun!.  Saya menjadi terusik jadinya untuk  mengetahui usia berapa anak anak tersebut  di beri HP?.

Jadi, beberapa langkah yang saya usulkan adalah sebagai berikut:
1.Kita ingat kembali usia anak mendapat Hape seperti yang sudah dibicarakan sebelumnya. Apakah sudah ada kesepakatan tentang  dan aturan serta konsekuensi. Bila belum hal ini lebih dulu yang harus ditegakkan kembali.
2.Semua hal,  baru bisa dibicarakan dengan anak bila komunikasi baik. Bila selama ini komunikasi merupakan kendala berarti mulai dengan memperbaikinya terlebih dahulu.
3.Bila  komunikasi sudah baik , maka kita bisa mendiskusikan sos med apa saja yang digunakan anak: BBM, Line, Wassap, FB, Instagram, Twitter, Path, You tube, Snap Chat, Musically, Ask FM,OMGLE  dll?
4.Memang ini sangat tidak mudah, apalagi untuk mengetahui apa yang mereka lakukan, dengan siapa mereka berkomunikasi dlsbnya. Hal ini juga sangat tergantung pada usia anak, kecerdasannya, kehidupan emosi, kehangatan keluarga, pengetahuan akan batasan agama tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam menggunakan semua fasilitas itudan tentunya kendali orang tua.
5. Orang tua harus mempuyai tekad untuk meningkatkan diri dan mengetahui mengenai semua hal diatas. Untuk mampu menghadapi, mendampingi  dan mengawasi  anak kita harus beajar dan pintar, walau tak akan mungkin setaraf dengan mereka.
6.Kita harus berupaya untuk memperoleh bantuan dari mereka yang lebih ahli agar kita bisa mengikuti apa kegiatan yang dilakukan anak kita di dunia maya. Semua dilakukan dengan meminta pertolongan Allah karena kita harus mempertanggung jawabkan anak kita kepada Nya.
7.Ayah adalah yang paling berusaha untuk membicarakan hal ini dengan anaknya. Apa saja hal yang positif  dan negative dari sos med ini.  Kalau ayah merasa sulit  karena gaptek , maka ayah bisa mengajak orang lain untuk membantu beliau membahasnya bersama dengan anak . Bila dicermati, anak anak yang menampilkan dirinya secara negative di sos med ini adalah anak anak yang terkesan  memang tidak sempat terperhatikan oleh orang tuanya seara seksama.
8.Kalau anak berusia diatas 10 th dan sudah mengenal sosmed, apalagi  juga mengenal  anak anak yang menjadi “tokoh negative” itu, maka tidak ada salahnya orang tua mengajak anak bicara dan membahas tentang ini. Lebih baik orang tua mendiskusikannya dari pada anak  kita di arahkan oleh orang lain dan tidak memperoleh pengarahan dari ortunya.  Kita bersama mencari tahu siapa orang ini, apa yang mereka lakukan, menggunakan media apa saja , apakah kira kira alasannya, mengapa kira kira mereka dibolehkan oleh orang tuanya, atau orang tuanya tidak tahu?.
9. Lalu kita juga bisa membahas dengan anak, apakah semua hal yang ditampilkan oleh orang tersebut sesuatu yang wajar atau tidak ? Benar menurut agama atau nilai budaya serta kesopan santunan atau tidak ?. Apakah mereka melakukannya sendiri atau ada oran lain yang ikut membantu. Kalau begitu ini sebuah usaha bersama dong? .Dengan sekelompok orang?. Perlu biaya atau tidak untuk melakukan semua itu ? Kira kira orang ini ingin mendapatkan keuntungan materil atau finasial tidak dari apa yang dilakukannya ?.Kalau begitu ini bisnis atau bukan? . Apakah benar memperoleh rezeki dari melakukan hal buruk dan membujuk atau mempengaruhi orang untuk melakukan sesuatu perbuatan maksiat itu benar atau tidak ? .Patut tidak kita ikut2an dan menjadikan cara hidup itu jadi gaya hidup kita?. Mengapa ? 
10.Banyak sekali orang tua menyangka, bahwa dengan menasihati anak sudah cukup. Keliru! Anak dan remaja sering tidak menyadari apa yang mereka kerjakan. Jadi faktor mengajarkan sering sekali hilang dalam pengasuhan. Termasuk didalamnya penggunaan kalimat bertanya seperti yg di contohkan diatas.
11.Mengapa  harus banyak menggunakan kalimat bertanya? Karena  bila seseorang bertanya pada kita, kita harus apa ? : Ya menjawab !. Untuk mampu memberikan jawaban, kita harus berfikir dan menengok kedalam diri kita sendiri. Jadi kalimat bertanya menimbulkan kesadaran diri!.

Ini yang penting. Kita membangun kesadaran diri anak kita tentang berbagai hal disekitar mereka. Karena kita tidak akan selalu bersama mereka.
12.Setelah semuanya kita bahas dan anak mengerti, baru kemudian kita masuk ketahapan berikutnya untuk  mengajarkan anak kita bagaimana menangani sos-mednya.Dibawah semua berita ataupun foto, selalu  ada tanda : Like, Comment dan Share. Kita ambil sebuah contoh tentu yang tidak vulgar lalu kita tanyakan  pada anak  apa yang patut dilakukan : Share, Comment atau kita share? Mengapa ?
13.Banyak sekali orang tua lupa mengingatkan dan  mengajarkan pada anaknya bagaimana agar tidak terlibat, ikut ikutan atau tidak terpancing atau  marah dengan ungkapan kasar, kotor dan menekan dari tokoh tersebut. Karena kalau kita terpancing emosi, balik mengatai atau membully orang tersebut, maka dia semakin popular dan senang.

  

14.Untuk itu kita memperkenalkan dan jelaskan satu persatu pada anak kita icon lain yang ada di sosmed walau kecil tandanya tapi tersedia dibagian atas, yaitu : Report, Block, Hide posting, dan Unflollow!.
15.Lalu kembali ke salah satu contoh berita atau gambar, tanyakan menurut pendapatnya, pilihan mana yang kita ambil ?: Report, Block, Hide posting, dan Unflollow.Mengapa ?..
16.Inilah yang harus terus menerus kita lakukan bersama dengan anak sehingga terbentuk kebiasaan baik dan sehatny bukan saja dalam menggunakan sos med, tapi juga insha Allah gaya hidup yang sehat  di Era digital..
“Cukuplah anak orang saja yang melakukan hal yang buruk, jangan anak kita!” 
Selamat berjuang, demi pertanggung jawaban pada Allah, kita pasti bisa!
Bekasi, 29 Agustus 2016, dini hari.
#ParentinggenerasiDigital.
Silahkan share bila dinilai bermanfaat!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s