Dia by Bu Wina Risman

​Dia
Iya, diaaa…

Yang kau jatuh cinta kepadanya beberapa tahun yang lalu

Yang kau pilih untuk menemani sisa hidupmu. 

Yang kau jadikan ayah dari anak-anakmu. 

Yang tak henti-hentinya kau coba merubahnya, sejak hari kesatu. 
Dia
Yang kau seret ke parenting event bersamamu

Yang kau harapkan memiliki lebih banyak waktu…

Untuk sekedar bercengkrama denganmu dan anak-anaknya..

Yang SANGAT TERAMAT sering kau limpahkan beban pengasuhan, di detik ketika sepatunya menapak depan rumahmu. 
Dia
Yang kau harapkan agak lebih sedikit mirip ayahmu. 

Yang kau ajukan metode-metode baru mendidik anak terkini

Yang terkadang bikin kau kesel dan keki

Yang kurang menolongmu mencuci piring hari ini 
Pernahkah ?
Engkau sedikit menata hati?

Melihat dari sisi si dia yang begitu engkau cintai?

Walaupun dia tidak di rumah sepanjang hari,

Kerjaannya cukup menguras akal dan energi. 

Pantaskah engkau meminta ganti? Karena menurutmu, engkau sudah letih sepanjang hari bersama si kecil dan si mungil yang tidak berhenti-henti…nya mengoceh sepanjang hari. Menumpahkan susu, menaburkan makanan, mengganti baju sampai lima kali???
Engkau ingin dia paham

Dia bertoleransi
Tapi engkau lupa, ia juga manusia, ia letih. 

Tahukah kau bahwa, ibunya tidak pernah membayangkan bahwa anak laki2 nya akan menjadi semandiri ini???
Iya, saya paham. 

Zaman sudah beganti

Laki -laki sudah bukan zamannya dilayani sepanjang hari. 
Zaman ini adalah zaman dimana ayah di elu-elukan perannya dirumah untuk samg buah hati. 

Zaman dimana ayah adalah faktor penentu yang penting dalam pengasuhan masa kini. 
Tapi, sekali kali saja…

Pernahkah? Engkau rasakan letihnya harinya? Transportasinya dari dan ke kantor utk ke rumah. Pekerjaannya yang tak kunjung habisnya? Bos yang terkadang menjengkelkan, namun ngak kemana diceritakan… karenaaaa….
Belum apa-apa, kau sambut ia dengan ‘cerita anak hari ini’, dengan si fulan dan fulanah yang begitu dan begini. Dengan rasa pegal di kaki, dan kaku di lehermu ini. 
Oh ya, kan kau masih punya sisa 7,000 kata lagi sehari???!
Sementara dia..

Hanya bisa menyunggingkan senyum ketika, anak berganti tangan.. Cerita mengalir bagaikan gerakan buaian, badan yang penat tidak lagi terasa…

Yang ada tumpukan daftar pekerjaan rumah yang hrs ia kerjakan sampai nanti menjelang anak ditidurkan. Tidak jauh beda dengan harinya tadi pagi dikantoran, sudah ditunggu oleh setumpuk kerjaan. 
Dia
Juga manusia

Juga lelah

Juga butuh tarik nafas

Juga pengen belajar pengasuhan, tapi jangan dipaksa

Cara belajarnya beda

Kata ibu saya “jika kamu berharap ia melakukan hal persis seperti dirimu, kenapa tidak kau pakaikan dia rok saja??”
Jleb
Dia, yang tersimpan rapi dihatimu penuh cinta…

Juga lelah sepertimu, namun tak ia rasa
Bolehkah sekali dalam seminggu, lau merasakan ‘memakai sepatunya’ ??
Jadi kau bisa sedikit bertoleransi, bertenggang rasa. 
Percayalah, ia hanya ingin yang terbaik untuk keluarganya. Yang damai, dan tentram, oleh sebab itu, ia lebih sering mengalah. 
Bolehkah atau bisakah kita mulai suatu tindakan kecil setiap harinya???
Sebelum tidur, bisikkan padanya:

“Terima kasih, sudah menjadi Ayah terhebat sedunia! Sudah menjadi Suami yang penyayang dan super siaga!!”

💋
Selamat malam, cintaa ❤️
P.S: silahkan dishare jika bermanfaat, dengan mencantumkan sumbernya. 
Wa billahi taufik wal hidayah,
Wina Risman

KL, 8 November 2016

💋

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s