Mertua Idaman by Bu Sarra Risman

​Ketika kita menikah, masing-masing kita memiliki se-set ‘prasyarat’ yang kita inginkan (harus) ada pada calon pasangan kita. Biasanya kriteria umum pertama minimal seagama. Mimpinya sih kalau bisa lebih alim dari kita, kalau bisa masuk kriteria shalih-shalihah, kalau bisa hafal qur’an, ngerti hadits, bisa tafsir dan bisa Bahasa arab. Lalu berikutnya kriteria-kriteria fisik, yang tidak boleh pendek, harus tinggi semampai, langsing, mancung, putih..endesbre..endesbre. belum kriteria-kriteria kepribadian yang harus punya sense of humor, cerdas, kreatif, tidak mudah menyerah, dan semua sifat ideal lainnya. tentunya kalau bisa sudah punya mobil, rumah dan mas kawin berpuluh gram logam mulia. wah, pokoknya kl bisa sempurna. (dan mungkin bersayap kyk malaikat. secara mana ada laki-laki sesempurna itu, hehehe)
Kalau untuk orang yang super picky kayak saya, saya bahkan mempunyai prasyarat kriteria dari universitas mana dia belajar, bentuk kuku nya bagaimana, jumlah maksimal saudara sekandung, jenis kelamin saudara kandungnya, lokasi tempat tinggal, dan segerambeng kriteria super duper detail yang saya inginkan padanya. Sebelum menikah saya harus melihat bagaimana dia marah, saya harus mendengar caranya mengaji, saya harus tau dia ok dengan rencana saya untuk meneruskan studi ke jenjang yang lebih tinggi walau saya ‘hanya’ akan berada di rumah saja dan saya harus memastikan dia adalah orang yang open-minded dan bisa di ajak kearah kebaikan.
Di usia menikah, ketika memilah-milih pasangan, kita sibuuuuk sama apa yang kita inginkan ada pada pasangan tersebut…dan lupa untuk memilih apa yang kita inginkan ada pada orangtuanya. Padahal, kalau lah kita naudzubillah cerai dengan laki-laki itu, orangtuanya akan selalu menjadi orangtua kita, karena dalam islam tidak ada ‘mantan’ mertua. Jadi bagi saya, memilih mertua tidak kalah penting dalam proses menuju pernikahan. Seperti halnya memilih pasangan, saya pun mempunyai segerambeng persyaratan dalam memilih mertua, antara lain dia harus di berjilbab, harus ibu rumah tangga dan sederet persyaratan lain yang tidak bisa saya sebutkan disini satu-persatu dan masyallah tabarakallah, saya mendapat 80% dari apa yang saya ingin dan doakan.
Menghandle beberapa grup wa parenting dari beberapa tahun silam sampai hari ini, hampir tidak berhenti saya mendapatkan kasus clash antar menantu dan mertua, umumnya menantu perempuan dan mertua perempuannya. Setelah saya telaah, saya menemukan sumber masalahnya adalah jarang sekali kita sempat (atau kepikiran) untuk menseleksi mertua, sehingga ketika sudah menikahi anaknya, seringkali kita tidak tahan dengan orangtuanya. padahal mah kan menikahi satu orang, kita otomatis ‘menikahi’ keseluruhan keluarganya kan? buktinya sering sekali, bukan hanya mertua, kl ipar bermasalah saja kita ikut pusing. 
Ketika baru menikah dulu, karena belum punya rumah sendiri dan suami saya berprinsip suami yang harus boyong istrinya, maka kami sepakat untuk tinggal di rumah mertua saya on weekdays, dan nginep di rumah orangtua saya on weekends. Menjelang kelahiran anak pertama, saya mengajukan proposal untuk tinggal di 1 rumah orangtua saja dan orangtua yang satu lagi hanya di ‘visit’ beberapa jam di akhir minggu, karena jika sering-sering pindah menginap maka anak tidak akan punya konsep ‘rumah’ yang jelas, permanen dan tetap…dan itu berbahaya. Suami saya sepakat dan memilih rumah orangtuanya sebagai tempat tinggal ‘permanen’ kami. Berharap dia akan memilih rumah orangtua saya dan ternyata tidak, saya sungguh kecewa dan sedih. Melihat kesedihan saya, ibu mertua saya memanggil kami berdua dan menjelaskan bahwa tidak baik menantu perempuan tinggal di rumah mertuanya. Apalagi kalau dia dan mertua nya di rumah seharian, tidak bekerja. Dua perempuan yang tinggal di bawah 1 atap sepanjang hari, akan lebih rentan clash di banding 2 laki-laki tinggal bersama, karena perempuan main perasaan dan sensitif. Apalagi kalau menantu dengan mertua yang baru ketemu gede. Lha wong anak perempuan dengan ibu kandungnya sendiri saja bisa (dan beberapa bahkan sering) clash. Sedangkan kalau menantu laki-laki kan umumnya bekerja di luar rumah. Di pagi hari cuma sempat sarapan sebentar dan sudah ngantor. Pulang kantor, mandi dan basa basi waktu makan malam sebentar, sudah bisa masuk kamar tanpa keluar lagi, sedangkan menantu perempuan nggak mungkin bisa begitu. Dengan nasihat yang panjang lebar dan masuk akal, akhirnya suami saya memutuskan patuh sama ibunya dan pindah ke rumah orangtua saya sampai kami memiliki rumah sendiri.
Kalau dulu kita tidak sempat memilih mertua, pastikan itu menjadi kriteria penting ketika anak kita memilih calon pasangannya nanti, terutama kalau anak anda anak perempuan. Pastikan mertuanya memiliki cara yang sama dengan cara dia mau mengasuh kelak, samakan prinsip-prinsip dasar yang di anut, sesuaikan kepribadiannya. Mau perfect banget, ya nggak mungkin lah. Kan yang jadi menantu nggak perfect-perfect banget juga. Menurut saya yang terpenting juga adalah mertua harus ngerti agama. Karena dengan itu, jika dia adalah mertua dari pihak perempuan akan paham bahwa anak perempuannya akan ‘hilang’ karena kini anaknya harus lebih patuh pada suaminya. Dan mertua dari pihak laki-laki akan tau bahwa anaknya juga akan ‘hilang’ karena dia sadar bahwa serumah dengan menantunya yang perempuan lebih banyak mudharatnya daripada sebaliknya. Kalau kedua belah pihak ikhlas, alangkah lebih indah dan mudahnya hidup. 
Bagi yang kini mendapat mertua idaman maupun yang sedang di uji dengan mertua yang tidak pas dengan dirinya, semoga bisa dijadikan pelajaran agar kita kelak menjadi mertua yang menantu kita inginkan. 
#sarrarisman

*jika dirasa manfaat, tidak perlu izin untuk membagikan artikel ini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s