Prolog Money Management by Bu Sarra Risman

​Selama yang saya ingat, ibu saya super (duper duper duper) pelit pada anak-anaknya. Oh.. beliau super dermawan sama yang lain, tapi sebagaimana dulu beliau di besarkan oleh ayahnya, soal uang…ke anak.. di masa kami sekolah.. super pelit. Gak usah bahas sd, jaman saya SMP saja, uang jajan saya 20 ribu. Sebulan. BERDUA SAMA KAKAK SAYA YANG SMA.
Jaman baru kuliah, nggak punya komputer, motor, dan uang sebulan hanya 300 ribu. Itu sudah termasuk semua mua muanya (beli buku, ngerjain tugas di warnet, ngeprint, foto kopi dan tentunya…makan). 300ribu sebulan, katakan untuk makan saja, cuma 10rb sehari. Banyak anda bilang? Lha kan makan 3x. jadi perkali nya cuma 3rb. Iya sih di yogya. Iya sih hampir 20th yang lalu, tapi tetep deh, nggak ada makanan beneran (nasi beserta lauknya) yang bisa memenuhi perut anak kuliahan yang laperan mulu seharga 3rb rupiah. Belum kalau mau beli pulpen yang ilang mulu, dan segerobak pengeluaran tidak terduga lainnya. Transportasi? Nggak ada budgetnya. Ibu saya mencarikan kost yang dekat agar tidak perlu biaya transportasi. Dan dekatnya menurut ibu saya itu hampir 2 kilometer. Jadi saya harus jalan kaki pergi dan pulang kuliah. Mau naik bis? Boleh… tapi ya berarti nggak makan. Simple.
Ketika saya mendengar dari kakak saya bahwa gaji supir ibu saya berlipat-lipat-lipat dari uang bulanan kami, mulailah saya mencoba segala cara untuk meminta kenaikan gaji dengan menelpon beliau interlokal di wartel terdekat. Saya pikir, nggak papa lah abis uang untuk nelpon sebentar, siapa tau dapet tambahan bulan depan, kalau rayuannya berhasil. Apa jawaban ibu saya setelah saya memberikan penjelasan panjang lebar (dan mahal) itu? Ya kalau kamu mau uang sebanyak Pak Udin, sini,..kamu jadi supir mama saja. Dan tidak lama telpon di tutup. Uang bulanan naik nggak, bayar biaya telpon itu iya. Naas.
Ketika terbukti saya suvive dengan 300rb lulus mata kuliah satu persatu dan nilai semakin baik … baru pelan-pelan di beliin komputer di tahun kedua.. di beliin motor di tahun ketiga (karena saya harus mengaji ke sebuah pesantren yang berada di selatan yogya sedangkan saya tinggal di utara)..dan di belikan hape beberapa bulan sebelum wisuda, di tahun ke 4. Uang bulanan? Tetep 300rb. mau lebih? cari tambahan. ngajar kek.. ngapain kek.
Lalu, apakah karena saya sudah ‘merana’ sedemikian rupa jadi sekarang saya berikan anak anak saya uang jajan? Nggak mungkeeeen. karena kalo bgitu namanya dendam positif. Saya bayarkan catering 3x sminggu buat yang sulung karena sekolahnya sampai jam 3 dan kalau nggak makan sama sekali sampai jam 3 kan juga nggak bener. Tapi 2x seminggunya karena pulangnya jam 2, jadi biarlah dia lapar sedikit dan makan di rumah. Tapi no bekal, no uang jajan. Uang saku? Apalagi. Apa bedanya? Uang jajan untuk jajan.. uang saku nggak cuma untuk jajan.
Terus kalau dia minta jajan gimana? Saya tanya ke dia, manusia jajan menggunakan apa? Uang. Uang dapat dari mana? Ayah, katanya. Ayah dapat uang dari mana? Kerja. Jadi kalau kamu mau uang, gimana? Kerja. Sip. Lalu..kerja apa anak 10 tahun kelas 4 SD? Jualan. Jualan apa? Kalau anak saya, teh dan pudding (yang mudah, yang murah dan yang kalau nggak laku, kita semua mau menghabisinya dengan senang hati, hehehe). Terus pembagian uangnya gimana? Karena teh dan pudingnya saya yang beli, mbak di rumah yang bikin, dia hanya dapat ‘marketing fee’, 1000 rupiah per item yang terjual. Umumnya tidak lebih dari 12 item. Kenapa? Karena kalau lebih dari itu, terlalu banyak. Umurnya aja baru 10. Kalau terjual semua, dia dapat 12rb. Sisanya (dari hasil penjualan) di balikin ke saya sebagai pengganti modal dan di ksh sedikit ke mbak yang bikin pudding. Mau di pake jajan? Boleh. Dia bisa bagi 2rb sehari, setiap hari atau menghabiskan 12 ribu secara langsung tapi abis itu dia nggak punya uang lagi sampai hari jualan berikutnya. Kalau bersisa? Terserah dia. Mau di infaqkan boleh, di tabung boleh. Mau lebih? Bikin puddingnya. Atau putar uang keuntungan untuk di jadikan modal penjualan minggu berikut. Tapi, anak saya belum sampai ke perputaran uang. Nanti. Pelan-pelan. Kalau mau yang instan, goreng mie aja.
Duh, repot banget sih! Jadi ibu emang repot. Kalau nggak mau repot, nggak usah punya anak jeng. Bagi saya, lebih repot lagi kalau saya kasih uang terus ke dia, trus dia pikir hidup itu seperti itu: uang datang dan bisa didapatkan tanpa usaha. Enak banget kalau begitu, saya juga mau. Bahaya betul kalau mindset yang dia pahami (karena yang ibu tanamkan) adalah demikian. Dia harus tau nilai uang bukan hanya secara matematika nya (20rb kurang 4 rb berapa), tapi bahwa benda tersebut tidak didapatkan cuma-cuma. Kudu ada usahanya. Kalau nggak usaha belinya, usaha bikinnya atau usaha ngejualinnya. yang penting mah usaha.
Jadi, adiknya begitu juga? Belum. Adiknya baru juga 6 beberapa hari yang lalu. Dia baru di tahap mengerti bahwa uang itu alat tukar, dia belajar beli barang sendiri di pasar ataupun di gerai supermarket/mall, dan hal-hal sederhana lainnya. Jadi adiknya nggak pernah jajan dong? Hampir tidak pernah. Mereka hanya makan apa yang sudah saya belikan di rumah. Adiknya iri? Kadang, melihat kakak nya sudah punya tabungan di bank (uang hasil pemberian saudara-saudara) dan kartu atm. Adik nggak punya? Belum boleh. Money management baru diajarkan nanti ketika dia usai 7th di SD. Bagaimana? Ya kudu ada money nya dulu.. baru bisa belajar management nya. Lha kalau barangnya saja nggak ada, gimana mau di manage.
Ilmu money management ini luar biasa luas, penting dan panjang penjelasannya. Kalau ibu saya bikin seminar nya saja bisa ber jam-jam, jadi tidak mungkin di tulis smua di artikel ini. saya hanya ingin menghimbau agar para orangtua agar tidak dengan mudah memberi jajan pada anak tanpa usaha terlebih dahulu. Kita semua tau uang tidak jatuh dari langit, dan anak kita juga harus tau itu.
#sarrarisman

*jika dirasa manfaat, tidak perlu izin untuk membagikan artikel ini

** mohon agar TIDAK bertanya di bagian komen, sering ga kebaca, jadi tidak terjawab tanpa sengaja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s