Nak, Mommy Pergi Dulu Sebentar Ya… (#hari3 #komunikasiproduktif)

Urusan pamit pada anak ini PR banget buat saya. Seperti pagi ini, ada seminar yang saya harus ikuti, meski kids corner tersedia, saya urungkan niat membawa anak- anak, karena mereka tetap akan mau bermain ditemani oleh saya. Jadi meninggalkan mereka berdua dirumah dibawah pengawasan papa, tante dan neneknya saya rasa merupakan jalan terbaik.

Dari kemarin dalam obrolan malam sudah saya singgung bahwa hari Sabtu, ibunya akan pergi tanpa mereka, jadi mereka harus baik- baik dirumah sampai ibunya datang. ‎

“Mommy mau kemana? Mommy tidak boleh pergi!” ujar si Sulung dan si Bungsu hampir bersamaan.‎

Saya selalu menjelaskan dengan sebenarnya alasan kepergian saya, dan terpenting adalah alasan saya tidak bisa membawa serta mereka, dengan bahasa yang sebisa mungkin dapat mereka pahami.

Ketika tetap memaksakan untuk pergi, biasanya pada akhirnya harus tega mendengar tangisan mereka. Tapi setidaknya saya pergi dengan sepengetahuan mereka, bukan dengan membohonginya.‎

Meninggalkan anak tanpa pamit membuat saya seringkali tak tenang. Meninggalkan mereka secara sembunyi-sembunyi seperti mencoba lari dan menganggapnya sebagai beban yang membuat saya jadi kepikiran.

Ada seorang psikolog yang menyarankan, jangan pernah tinggalkan anak tanpa pamit, apalagi dengan menangis, karena kita tidak akan pernah tahu umur sampai berapa. Tahu- tahu kita pergi saat itulah terakhir kita jumpa dengan anak- anak, takutnya yang mereka ingat adalah suasana sedihnya karena ditinggalkan tanpa pamit, apalagi dalam balutan drama deraian airmata.

Semua berproseslah ya, kemarin- kemarin beberapa kali anak- anak saya tinggal dengan air mata, meski tidak selalu, dan alhamdulillah frekuensinya semakin berkurang dari waktu ke waktu. Ini seiring perkembangan kematangan psikologis mereka juga saya rasa.

Pagi ini sesaat sebelum berangkat seminar, anak- anak bangun lebih pagi dari biasanya, saya sudah deg-degan jika harus melewati drama sebabak duluan. Saat mobil jemputan datang, MasyaAllah tabarakallah, ‎ saya naik mobil dalam damai, tanpa ada tangisan atau rengekan. Sesaat saya pergi, saya pastikan lagi dengan bertanya pada orang rumah melalui WhatsApp, alangkah leganya saat dijawab semua baik- baik saja. Fyuuhhh…

Menurut saya pamit pada anak adalah sebuah tindakan baik. Seringkali kita menganggap mereka hanya anak-anak yang tak mengerti apa-apa. Padahal mereka juga adalah seorang manusia seperti kita.‎

Pamit adalah salah satu upaya membangun kepercayaan antara kita dan anak- anak, dan membiasakan itu penting. Pamit pada anak membuat anak merasa dihargai keberadaannya. Bahwa ia juga memiliki kesetaraan untuk mendapatkan penghormatan dari orang tuanya sebagai seorang manusia yang memiliki rasa.

Saya percaya dengan pendekatan yang baik, cara bicara yang santun, anak akan belajar mengerti dengan lebih mudah. Ada proses yang akan dilalui, penolakan mungkin akan menyertai, tapi tetap perhatikan cara berkomunikasi kita dengan mereka secara konsisten. Bahwa pamit pada mereka menjadi salah satu bekal langkah kita. Bahwa ayah ibu mulai belajar mengakui keberadaannya sebagai individu.

Jakarta, 28 Januari 2017
Vivi Erma‎

_Game Kelas Bunda Sayang_


Level 1
*TANTANGAN 10 HARI BERKOMUNIKASI PRODUKTIF*

#hari3
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s