Dimana Ada Pertemuan, Pasti Akan Ada Perpisahan (#hari5 #komunikasiproduktif)

Di mana ada pertemuan, pasti akan ada perpisahan. Di mana ada awal, pasti akan ada akhir. That’s life. Ketika akhir sebuah perjalanan akan menjadi awal perjalanan yang lain, dan sebuah perpisahan akan menjadi pertemuan dengan sesuatu yang baru. And that’s more about life.

Di dalam hidup, banyak orang yang datang dan pergi
Allah telah menjumpakan kita dengan orang-orang yang Dia telah gariskan dalam catatan takdir
Mereka pun datang silih berganti
Ada yang melintas dalam segmen singkat, namun membekas di hati.
Ada yang telah lama berjalan beiringan, tetapi tak disadari arti kehadirannya
Ada pula yang begitu jauh di mata, sedangkan penampakannya melekat di hati.
Ada yang datang pergi begitu saja seolah tak pernah ada.
Semua orang yang pernah singgah dalam hidup kita bagaikan kepingan puzzle
yang saling melengkapi dan membentuk sebuah gambaran kehidupan
Maka sudah fitrah, bila ada pertemuan pasti ada perpisahan..
Di mana ada awal, pasti akan ada akhir.
Akhir sebuah perjalanan, ia akan menjadi awal bagi perjalanan lainnya,,,
Sebuah perpisahan,  ia akan menjadi awal pertemuan dengan sesuatu yang baru…  well, That’s life must be
Ketika akhir sebuah perjalanan akan menjadi awal perjalanan yang lain, dan sebuah perpisahan akan menjadi pertemuan dengan sesuatu yang baru. And that’s more about life.
(Sumber : https://rumaysho.com)

Sore ini, saya dan Qaleef mengantar ibu saya ke Gambir. Ibu saya hendak pulang ke Malang – Jawa Timur, setelah lebih kurang empat bulan lamanya berada di Jakarta. Ngang Ngang – begitu panggilan Akhtar dan Qaleef untuk Eyangnya.
Qaleef melepas kepergian eyangnya dengan pandangan bertanya- tanya : “kenapa dd g boleh ikut mommy? Dd mau naik kereta”

Saya balik bertanya bahwa eyangnya naik kereta sendiri tanpa ibunya, apakah dia masih tetap mau ikut. Qaleef menggeleng.
Saya tidak serta merta melarang Qaleef saat ingin ikut pergi dengan eyangnya. Saya ingin mulai mengajarkan dia untuk BMM : Berfikir – Memilih dan Memutuskan. 
Sedikit demi sedikit dia dilatih untuk memahami konsekuensi. ‎

Setelah di mobil, Qaleef mengajukan pertanyaan kenapa eyangnya ditinggal di stasiun. Saya jelaskan lagi bahwa eyangnya akan pergi naik kereta ke Malang. Nanti insyaAllah suatu hari eyangnya akan datang berkunjung lagi. Qaleef kemudian menimpali bahwa dia tidak ingin ikut pergi ke Malang, dia maunya sama ibunya saja. Jadi tidak apa- apa eyangnya ditinggal di stasiun 😀 ‎

Sesampainya di rumah, Akhtar (si sulung) yang tidak ikut mengantar ke stasiun karena sedang tidur siang tadi, rupanya sudah mendapat cerita dari tantenya bahwa ibu dan adeknya mengantar eyangnya ke stasiun. Akhtar belum banyak bereaksi sampai pada obrolan malam ibu dan anak sebelum tidur.

Saya bercerita bahwa tadi mengantar eyangnya, yang disambut anggukan oleh adeknya. Saya bertanya bagaimana perasaan Akhtar ditinggal eyangnya pulang. Dia menjawab sedih. Saya tanya kenapa. Akhtar menjawab, “nanti tidak ada yang mengantar jalan- jalan naik mobil dan rumah menjadi sepi.”
Pertanyaan saya beralih ke si bungsu, apakah Qaleef sedih? Qaleef menjawab tidak. Saya bertanya alasannya, “Kan nanti kapan- kapan Ngang- ngang datang lagi”. Saya tersenyum dalam hati. 

Jika kakaknya cenderung melankolis, rupanya adeknya lebih plegmatis.

Vivi Erma
31 Januari 2017

_Game Kelas Bunda Sayang_

Level 1

*TANTANGAN 10 HARI BERKOMUNIKASI PRODUKTIF*

#hari5
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s