Penting! Urgent! By Bu Wina Risman

​Penting! Urgent!
Mengamati beberapa pertanyaan yang masuk, baik di group fb, messenger, japri via wa, saya dan keluarga sepakat, bahwa banyak sekali dari pertanyaan pertanyaan tersebut yang sangat mendasar, sehingga rasanya sebetulnya si penanya tahu akan jawabannya. 
Hanya saja, kami merasakan ‘keresahan’ pengasuhan yang mereka alami sehingga apa yang mereka fikirkan sebagai jawaban, sepertinya hanya bsia berharga jika sudah mendapat validasi dari orang lain yang dianggap lebih mumpuni, atau pakar. 
Ketidak nyamanan atas pemikiran sendiri, kurangnya percaya diri dan atau tidak tahu harus berbuat apa pada kejadian-kejadian sehari-hari yang ditemukan oleh banyak ibu ibu, terutama yang muda, membuat saya merenung dalam. 
Apa yang terjadi pada daya fikir kita?

Mengapa hal ringan pun, seakan tidak ada kemampuan untuk memutuskan apa dan bagaimananya? Bagaimana kelak kita harus membesarkan anak dengan daya fikir yang kritis dan kreatif, jika kita sendiri belum memiliki ‘peralatan’ untuk itu dalam diri kita sendiri?
Padahal, skill berfikir ini, mutlak harus dimiliki oleh generasi berikutnya, dalam mempermudah mereka melalui masa depan yang semakin kesini, semakin tinggi tantangannya. 
Oleh sebab itu, kali ini saya mau sedikit membahas tentang istilah yang di populerkan oleh team YKBH, “BMM= Berfikir, Memilih dan Memutuskan.”
Mungkin, karena saya dibesarkan dengan cara yang sangat sarat dengan BMM ini, didalam alam bawah sadar saya, saya juga membesarkan anak anak saya dengan cara yang sama. Ditambah dengan sedikit ilmu thinking skills yang saya perolehi, Masha Allah Tabarakallah, hari hari saya dipenuhi dengan kesepakatan-kesepakatan yang penuh tarik ulur antara saya dengan, baik yang paling kecil maupun kakak sulung. Dari hal sepele sampai dengan keputusan besar. 
Saya penganut metode parenting yang cenderung agak lunak, dengan segala konsekuensinya. Oleh sebab itu, saya membolehkan anak-anak saya menyampaikan pemikirannya, perasaannya dan jika menurut saya tervalidasi, bisa saja merubah suatu keputusan yang sudah disepakati bersama. 
Contohnya?
Jika si kecil meminta dibelikan jam. Sementara di rumah, dia sudah memiliki 4 jam (2 habis batre, dan dua berfungsi) dan dia sebetulnya dia belum mengerti cara kerja jam. Saya menolaknya. Dengan alasan dia sudah memiliki 4 jam tangan tersebut. Dia merengek dan cenderung menangis. Lalu saya mendekat dan bertanya ‘ Jika Ukasha bisa menjelaskan sama mama, kenapa Ukasha perlu dibelikan jam lagi, padahal sudah punya 4 di rumah, mungkin mama akan mempertimbangkan’, jelas saya. 
Ya, mempertimbagkan! Bukan membelikan. Tergantung, jika usaha dia berfikir menghasilkan alasan yang bermunasabah untuk saya membelikannya jam ke 5. 
Ukasha kecil (4.5th) pun memutar otak. Setelah menyampaikan beberapa argumentasi, yang dengan mudah saya patahkan. Ia pun saya ajak untuk menyetujui bahwa pembelian jam saat ini, belum perlu. Kendati kesal, ia sudah lebih bisa mengontrol diri. 
Hal ini terjadi ratusan kali, sebelum sampai ke titik ini. Saat ini pun terkadang, walau sudah sampai pada pemahaman bahwa ‘jam belum perlu dibelikan lagi’, masih ada rengekan dan tangisan karena kecewa. 

Ngak papa. Orang kan perlu waktu, itu reaksi orang kecewa. 
Pada abangnya yang lebih besar (7th), delayed gratification lebih ditekankan.. 

Apa itu delayed gratification? Pemberian yang tertunda. Bahasa mudahnya ‘belajar sabar.’ Tentang menjelaskan alasan kenapa ia memerlukan sesuatu, ia sudah pakar. Sekarang saya harus menjelaskan perbedaan antara keinginan dan ada keperluan, dan bahwa uang tidak jatuh dari langit. 

Diatas itu, ketika ia bersabar atas sesuatu yang ia inginkan, yang belum tercapai, jika ia ikhlas dan ridho atasnya, sesungguhnya, Allah senantiasa menunjukkan padanya, bahwa sabar itu dibayar sempurna!

Masha Allah. 
Contohnya adalah ketika kami baru saja makan diluar kemarin. Tiba-tiba di dalam lift yang sama hari ini sepulang sekolah, ada pengantar delivery pizza yang baunya cukup mengundang selera. Pas jam lapar lagi!  Setelah pak delivery keluar dari lift, ia pun memberanikan diri bertanya ‘ma, boleh ngak kita order pizza?’. Walau ia hampir 100% yakin dengan jawaban ‘tidak’ dari saya. Maklumlah, namanya juga usaha. 😏

Seperti yang ia prediksi, jawaban saya ‘tidak, karena kemaren baru saja makan diluar’.

Saya tahu ia kecewa, tapi hidup ngak selalu senang. Kecewa dan sabar adalah hal yang perlu dilatih dan dihadapi dalam hidup. Ia pun terdiam. Biasanya, ngak sampai satu minggu, ia akan mendapatkan pizza dari satu atau tempat lainnya, entahlah itu ditraktir orang, atau ada class party atau saya belikan. 

Moment itu, adalah golden moment buat saya menjelaskan konsep sabar dan delayed gratification. 

Kepada si kakak (11th) lain lagi levelnya, karena ia yang sudah menjelang dewasa, punya lebih banyak keinginan dari keperluan, dan juga adalah pendebat ulung. Kalau menghadapi yang ini, saya pastikan saya sudah siap ‘amunisi’ penuh.😊
Intinya, saya mengajak kita semua, untuk memperbaiki pola dan proses berfikir kita. Dimulai dengan diri sendiri. Jika kita menghadapi sebuah masalah, baik dengan diri sendiri maupun dengan anak, coba fikir, cari solusi yang terbaik untuk saat itu. 

Beri waktu untuk otak agar mendapat keputusan yang baik. Coba lakukan dulu hasil keputusan, jika tidak baik, fikir lagi. Coba lagi. Ngak bisa? baru tanya. 
Begitu juga pada anak, izinkan mereka berfikir, lalu memilih dan memutuskan. Tentunya bukan tanpa arahan. Jika si anak mencapai sebuah hasil atau keputusan, ia akan lebih siap bertanggung jawab atas segala konsekuensi dari keputusan tersebut. 
Bukan kah itu yang kita inginkan untuk mereka?
Mampu berfikir untuk dirinya?

Bisa memilih mana yang baik dan yang tidak?

Memutuskan apa yang terbaik untuknya dan siap bertanggung jawab atas keputusan tersebut?
Baik ada kita maupun tidak. 
Ketrampilan berfikir adalah proses. Yang butuh waktu dan latihan. Seperti halnya ketrampilan ketrampilan lainnya dalam hidup kita. 
Jika tidak dimulai sekarang, lalu kapan?
*silahkan share jika dirasa bermanfaat
Wallahu a’lam bis shawab
#winathethinkingcoach

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s