Kegiatan Pengganti (#hari6 #komunikasiproduktif)

Hari ini Rabu pertama di bulan februari, jadwal akademik Akhtar berenang dari sekolahnya. Matahari tampak malu- malu memancarkan sinarnya di balik awan yang masih kelabu.


Sambil menyiapkan sarapan, saya memutar otak memikirkan cara bagaimana “menghalau” Akhtar supaya tidak berenang, karena 1. Baru beberapa hari dia sembuh dari radang batuk pilek, 2. Musim hujan dan Akhtar alergi udara dingin.

Saya tentu tidak ingin membuat dia kecewa, dari semalam Akhtar sudah semangat sekali esoknya akan pergi berenang.

Saya : “Kakak.. kakak happy ya hari ini mau berenang?”

Akhtar : “iya, nanti kakak mau berdiri dibawah ember raksasa, mommy jangan lupa kacamata kakak ya, biar mata kakak g perih”‎

Saya : “Baiklah.”

Setelah mandi dan hendak bersiap- siap saya ajak Akhtar pergi ke halaman belakang. Tiba- tiba gerimis kecil.

Saya : “Kakak.. sekarang gerimis dan udaranya dingin, kakak masih mau berenang?
Mommy kuatir kakak nanti bersin- bersin.
Kakak kan baru sembuh
Gimana kalau kita di rumah saja, main jual- jualan?
Berenangnya bisa lain kali”

Akhtar mengangguk setuju.
“Kakak di rumah saja mommy, kakak mau jualan pizza”‎

Akuurrrr.‎

Main jual-jualan ini merupakan sentra bermain peran. Akhtar tampak menikmati sekali berperan sebagai penjual pizza –  yang menerima orderan – membuat sendiri adonan pizza dengan playdough- sampai sebagai pengantar pesanan 😀

Jika saya tidak ingin dia pergi berenang, setidaknya saya harus menawarkan kegiatan pengganti yang dia bisa lakukan di rumah dan sama menyenangkannya. Daripada saya melarang, yang berujung pada rengekan atau bahkan tantrum.‎

Berikut adalah t‎ujuan dan fungsi bermain peran :

1. Main peran menunjukkan kemampuan berpikir anak yang lebih tinggi, karena anak sudah dapat menahan pengalaman yang didapatnya melalui panca indera dan menampilkannya kembali dalam bentuk perilaku pura-pura.
2. Main peran dipandang sebagai sebuah kekuatan yang menjadi dasar perkembangan daya cipta, tahapan ingatan, kerja sama kelompok, penyerapan kosa kata, konsep hubungan kekeluargaan, pengendalian diri, keterampilan pengambilan sudut pandang spasial, keterampilan pengambilan sudut pandang afeksi, keterampilan pengambilan sudut pandang kognisi. (Gowen, 1995).
3. Main peran sangat penting untuk perkembangan kognisi, sosial, dan emosi anak pada usia tiga sampai enam tahun (Vygosky, 1967; Erikson, 1963).
4. Main peran membolehkan anak memproyeksikan dirinya ke masa depan dan menciptakan kembali masa lalu.
5. Main peran diyakini sebagai terapi bagi anak yang mendapatkan pengalaman traumatik.
6. Kegiatan bermain peran merupakan kegiatan, dimana anak diberi kesempatan untuk menciptakan kembali kejadian kehidupan nyata dan kemudian memerankannya secara simbolik.

Sumber : https://paud-anakbermainbelajar.blogspot.com

Vivi Erma

1 Februari 2017

_Game Kelas Bunda Sayang_

Level 1

*TANTANGAN 10 HARI BERKOMUNIKASI PRODUKTIF*

#hari6

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s