Adil, Bukan Berarti Sama Rata (#hari7 #komunikasiproduktif)

Hari ini, sepulang Akhtar sekolah, kami mampir ke sebuah supermarket di dekat rumah. Saat mengantri di kasir, Qaleef melihat freezer ice cream merk terkenal dan meminta ijin saya untuk mengambil satu, saya perbolehkan. Sementara Akhtar telah keluar kasir terlebih dahulu bersama tantenya. Begitu melihat ice cream coklat yang dibawa adeknya, Akhtar mengambil paksa.

Dramapun dimulai.

Adeknya menangis meraung- raung, mengundang tatapan mata pengunjung supermarket. Mudahnya, saya tinggal masuk lagi dan membeli ice cream baru untuk adeknya, namun saya enggan, karena antrian di kasir kala itu super panjang.
Saya mencoba berbicara dengan mereka berdua. Saya minta ice cream itu dibagi dua, dimakan bersama. Karena toh biasanya seperti itu, dan tidak ada masalah, pikir saya.
Akhtar tidak mau, dia mau ice cream itu untuk dirinya sendiri. Qaleef masih belum berhenti menangis sambil meminta kembali ice cream yang dipegang kakaknya.
Hilang kesabaran, saya ambil paksa ice cream dari tangan kakaknya lalu saya berikan pada adeknya. Akhtar menangis tak kalah keras. Saya mengajak adeknya pergi menjauh untuk memakan ice cream beberapa suap, untuk kemudian diberikan kepada kakaknya.

Tanpa sepengetahuan saya, tantenya yang melihat Akhtar menangis jatuh iba. Ketika saya kembali membawa ice cream, Akhtar dan tantenya tengah mengantri di kasir. Akhtar memegang ice cream merk yang sama dengan rasa berbeda. Dan dia menghabiskan satu box kecil ice cream itu dengan lahap.
Saya marah. Tapi entahlah lebih tepat saya marah kepada siapa, kepada Akhtarkah, kepada tantenyakah yang tanpa koordinasi malah membelikan ice cream baru, ataukah saya marah pada diri sendiri karena kesalahan saya yang juga tidak berkoordinasi dengan tantenya saat meninggalkan Akhtar menangis, saya tidak menjelaskan terlebih dahulu tentang trik “berbagi ice cream” yang sudah saya rancang sedemikian rupa.
Saya menghela nafas. Akhtar merasakan tatapan tajam saya, dia tahu bahwa ibunya tengah marah, sekalipun dia terlihat cukup lega telah menikmati satu box ice cream, sendirian!
Dalam perjalanan pulang, saya jelaskan pada tantenya tentang maksud “berbagi ice cream”, semoga lain kali tidak terulang dengan menuruti kemauan anak- anak seperti tadi. We are like playing good guy and bad guy here. Harus ada satu komando. Alhamdulillah, tantenya mengangguk mengerti.

Saat sudah di rumah, saya bertanya pada Akhtar. Apakah tadi dia menikmati ice creamnya, rasa apa yang dia pilih dan apakah dia menghabiskannya.

Akhtar : “iya enak. Kakak kan suka rasa strawberry. Tadi kakak habis lo mommy!”

Saya : ” Kakak biasanya kan satu g habis, makan berdua sm dd, tadi dd mau kasih ke kk lo”

Akhtar : “Kakak kan sudah besar mommy, perut kakak masih lapar kalo hanya makan sedikit”‎

Ini yang menggelitik saya, ice cream box kecil yang Akhtar sanggup habiskan sendirian. Saya mungkin salah jika terus menerapkan konsep berbagi sama rata terhadap Akhtar dan Qaleef. Usia mereka memang tak terpaut cukup jauh, dan biasanya saya memang membagi dua segala sesuatu, SAMA RATA. Yang saya kurang sadari adalah Akhtar telah bertambah usianya, telah bertambah berat badannya, telah bertambah pula kapasitas perutnya 😀
Yang dulunya satu box ice cream bisa dibagi dua, kini dia sanggup habiskan satu untuk dirinya sendiri.

Adil itu tidak harus sama rata tetapi menyesuaikan dengan kebutuhannya. — quote of the day

Vivi Erma

2 Februari 2017
_Game Kelas Bunda Sayang_

Level 1

*TANTANGAN 10 HARI BERKOMUNIKASI PRODUKTIF*

#hari7

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif 

#kuliahbunsayiip

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s