I’m Sorry Goodbye (#hari8 #komunikasiproduktif)

Kali ini giliran saya berkomunikasi dengan diri sendiri 😀


Isu pertemanan ini telah lama berputar- putar dalam pikiran, tapi belumlah sempat menuliskan. Sampai hari ini, ada sesuatu yang terjadi, menarik kembali keping- keping puzzle untuk disimpulkan menjadi sebuah tulisan.

Aristoteles pernah menyebutkan istilah – Human is Zoon Politikon – yang menerangkan bahwa manusia dikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain.
Mau apapun tipe kepribadian manusia, ekstrovert maupun introvert tetap membutuhkan yang namanya bersosialisasi. Dengan kadar yang berbeda tentunya.

Saya termasuk tipe yang ekstrovert. Sepanjang yang saya ingat, saya selalu punya “gank“. ‎Jadi manusia yang memiliki sifat ekstrovert ini lebih cenderung membuka diri dengan kehidupan luar. Mereka adalah manusia yang lebih banyak beraktifitas. Mereka juga orang-orang yang lebih senang berada dalam keramaian atau kondisi dimana terdapat banyak orang, daripada di tempat yang sunyi.
Dari SD saya sudah aktif di Ekskul Pramuka, SMP di PMR, PBB (Pasukan Baris Berbaris) dan OSIS. Saat SMA saya sedikit mengurangi kegiatan dan hanya aktif di Paskibra dan Ekskul Jurnalistik. Jaman kuliah saya tertarik bergabung di Teater,HMJ, BEM, belum lagi beberapa organisasi yang lainnya, di dalam maupun di luar kampus.

Setelah menikah apakah saya berhenti?‎

Belum bisa 😀 Ada beberapa komunitas parenting yang saya ikuti, dan setahun ini saya mulai selektif fokus di beberapa saja. Belum lagi grup kajian disini dan disitu.

The point is, saya suka belajar sekaligus membina pertemanan. Saya sukaaaaa sekali punya banyak teman. Banyak teman menambah kans bertemu saudara baru. It’s true! 🙂

Komunitas saya setelah menikah mayoritas berbentuk online. Kami bertemu saat ada seminar, kajian atau playdate sekali dua kali. Malah kadang ada beberapa yang belum pernah bertatap muka sama sekali.

Tantangan berkomunikasi secara online adalah kita tidak bisa melihat ekspresi dari si komunikator (penyampai pesan), dan ini kerap menimbulkan kesalahpahaman. Belum lagi pilihan kata yang kurang luwes. Adanya bermacam emoticon membantu, tapi belum maksimal.‎
Saat terjadi “gesekan” pilihannya ada dua, meluruskan atau menghilang. Saat proses putus komunikasi sementara waktu, harapannya kita bisa berfikir lebih jernih.‎

‎”It has been said that time heals all wounds. The truth is that time does not heal anything. It merely passes. it is what we do during the passing of time that helps or hinders the healing process.”


Seiring bertambahnya usia, dan selayaknya diikuti dengan kematangan cara berfikir, seharusnya saya semakin lebih bisa memahami “keunikan” orang lain. Apalagi saya adalah seorang sarjana ilmu sosial jurusan Ilmu Komunikasi, sudah belajar teorinya.
‎Ternyata prakteknya tidak semudah itu, kawan! *eluselusijazah

Ketika perasaan sudah bermain – kemarahan, kesedihan dan sebagainya – menyebabkan konsentrasi dalam berkomunikasi terganggu.
Jika sudah begitu, saya biasanya menarik diri dari kerumunan, tapi tanpa menyisakan tanya. Dalam artian tidak langsung pamit tanpa prakata.
Adab pertemanan tetap harus dijunjung tinggi. Kita tidak tahu kedepannya, kan? Bisa jadi suatu saat kita membutuhkan bantuan dari orang yang pernah “bergesekan” dengan kita. Dan jika permasalahan menyangkut soal tersinggung perasaan, and this must be very personal, undur diri dari grup semisal, saya lebih memilih untuk “berbohong” dengan alasan HP hang, kepenuhan, karena kesibukan dsb, sehingga tidak menimbulkan polemik dan kesan- kesan tidak baik dari anggota yang lain.‎

“… Pergaulilah manusia itu dengan budi pekerti yang baik”. (HR. Tirmidzi)


Last but not least, Sebuah kutipan tentang pertemanan dari Hipwee.com,

Di akhir hari, kita akan sepakat bahwa pertemanan adalah soal siapa yang akhirnya bertahan — setelah dihadapkan pada berbagai keadaan.

Tidak semua orang beruntung ditempatkan dalam pertemanan yang membangun. Ikatan yang bukan cuma sekadar berisi kumpul-kumpul, tapi juga membuat otak dan semangat mengebul.
Pertemanan yang baik memberi kita ruang hangat baru selekat keluarga. Tempat kita bisa diterima, didorong, kemudian berkembang sebagai manusia. Tidak berlebihan rasanya jika kemudian pertemanan dilabeli sebagai ikatan keluarga yang bisa dipilih sendiri. Sebab di sini dukungan selekat saudara sendiri bisa datang dari berbagai sisi.

Vivi Erma

5 Februari 2017


Level 1

*TANTANGAN 10 HARI BERKOMUNIKASI PRODUKTIF*

#hari8

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif 

#kuliahbunsayiip

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s