Anak – Anak dan Rasa Ingin Tahunya by Bu Sarra Risman

​“Kok om nya pake kalung sih yah? Kan nggak boleh dalam islam laki-laki kayak perempuan”

“kakak itu kakinya kemana mah?”

“kok tante itu nggak pake jilbab? Kata mama wajib pake jilbab. Tante itu Kristen ya?”

“iiih, kok rumah ini kotor banget ya kamar mandinya, besok-besok kita jangan kesini lagi ya ma?” (ketika bertamu)

Dan yang paling fenomenal di lakukan oleh anak saya sendiri:

“Ma, kakek sudah mau mati ya? Kata mama kalau orang udah tua.. terus mati” depan si kakek

 daaaannn..

“Ma, itu hantu ya?” sambil nunjuk orang bercadar. 

Gubrak.
Walau ber-otak, anak-anak belum berakal. Dari lahir mereka masih menggunakan insting hewani yang juga ada pada manusia, yang penting makan, tidur, dan segala kebutuhan primer terpenuhi. Seiring mereka tumbuh, dan menyadari lingkungan sekitar, mereka mulai bertanya. Nonstop. Kadang bisa kita jawab, kadang tidak. Dan tidak apa untuk tidak bisa menjawab, tidak tahu jawabannya dan menundanya sampai waktu yang kita janjikan, namun tidak terlalu lama. Menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka yang tanpa henti muncul setiap hari membuat kita sering ragu akan kepintaran yang kita miliki dan baru menyadari bahwa ilmu yang kita pelajari selama puluhan tahun itu tidak berguna untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari mulut kecil mereka. Menjawab yang tidak dilontarkan depan orang saja udah suka bikin sesak nafas (entah karena nggak berhentinya, atau karena kita nggak tau jawabannya) apalagi pertanyaan yang diajukan depan muka orangnya. Duh, kayaknya kalau bisa tenggelam dalam bumi dan menghilang saat itu juga, mau deh.

Banyak orangtua tidak tahu bahwa anaknya bukan ingin membuat ibunya malu, tapi mereka benar-benar tidak tau. Otak mungil mereka juga belum siap untuk mengenali konsep abstrak seperti tersinggung, sopansantun, kapan boleh bertanya apa, depan siapa dan seterusnya. Kunci utama dalam situasi seperti ini bagi orangtua adalah BERSIKAP TENAAAAANGG. Nggak usah emosional, marah-marah karena malu, orang yang punya anak akan paham dan yang tidak paham tinggal dimintai maafnya. Kalau anda marah-marah ke anak anda, lama-lama mereka akan malas bertanya pada anda (karena mereka tidak tau pertanyaan mereka yang mana yang sopan/tidak, jadi mereka tidak tau pertanyaan mereka yang mana yang akan membuat ayah/ibunya marah atau tidak) dan ini yang bahaya, karena nanti mereka akan mencari sumber lain untuk bertanya, yang belum tentu baik dan benar.

Jadi.. 

1. Tenang. Ambil nafas. SENYUM.

2. Kalau orang yang di maksud mendengarkan pertanyaan ‘tidak sopan’ anak anda, minta maaf pada orang tersebut. Mohon anak anda dimaklumi 

3. Tegur anak anda dengan tegas di depan orang tersebut dan katakan bahwa itu tidak sopan ditanyakan

4. Jika anda bisa menjawab (BISA lho ya.. bisa berarti anda TAHU betul bahwa jawaban anda BENAR), dan anda nyaman menjawab nya depan orang tersebut, jawablah.

5. Jika anda RAGU akan kebenaran jawaban anda (kadang yang kita kira, suka salah. Belum tentu tantenya tidak tahu bahwa jilbab itu wajib, bisa jadi dia emang nggak mau aja pake jilbab, atau belum tentu kaki kakak itu tidak ada sejak lahir, bisa jadi karena kecelakaan, dst) maka pilihannya 2. Jika anda nyaman dan anak anda berani, anda boleh mempersilahkannya untuk bertanya langsung ke orang tersebut. Tapi jika anda tidak nyaman dan tidak berani, jujur katakan ada anak dan depan orang itu bahwa anda tidak tahu. Tidak tahu tidak membuat anda menjadi bodoh, justru orang yang mengakui dia tidak tahu ketika dia tidak tahu adalah pintar. 

6. Kalau anda tau jawabannya tapi benar-benar tidak bisa anda berikan disitu atau di depan orang tersebut, jelaskan pada anak, mama/ayah tidak bisa jelasin sekarang. Kasih deadline waktu yang pasti (jangan nanti kalau kamu sudah besar. BESAR??bukannya kalau dia tidak mau makan sndiri ayah/ibu bilang dia sudah besar?)

7. Ketika anda menjawab nanti, di luar radius pendengaran orang tersebut, setelah kelar dengan penjelasan yang memenuhi keingintahuan anak anda, pastikan kunci dengan…

‘lain kali… kalau nanya begitu, tidak di depan orangnya, orangnya sedih kalau denger kita bicara begitu. Kalau ada orangnya, dan (nama anak) mau bertanya lagi, bisikin saja di kuping mama/papa, jangan sampai orangnya dengar. Ngerti?’
Walau mereka jawab iya, mereka HAMPIR PASTI akan mengulanginya lagi sampai konsep sopan, tersinggung, dan memahami perasaan orang lain bisa dipahami oleh otak mereka di atas 7 tahun. Tidak perlu dimarahi, karena memang anak kecil pelupa. Allah ciptakan demikian agar bisa memaafkan semua kesalahan pengasuhan orangtuanya. Kalau mereka tidak pelupa, tidak mungkin mereka akan memeluk anda 5 menit setelah anda membentak dan memukulnya. 

Menghidupkan tombol ‘akal’ pada manusia memang harus sejak kecil, terus menerus, konsisten dan perlu banyaaakkk latihan, karena hanya dengan ini lah mereka belajar mengontrol apa yang keluar dari mulut mereka, kapan boleh dikeluarkan, apa yang boleh, depan siapa dan dengan cara apa. Tanpa di latih, verbal empathy ini tidak lantas bisa muncul dengan sendirinya. Sudah terlalu banyak bukti dari orang sekitar kita yang tampaknya seperti tidak pernah di latih. Dia bisa jadi pintar, sarjana, orang terkemuka, usia sudah dewasa, bahkan sudah menjadi orangtua, tetap tidak bisa mengontrol mulutnya (dan kalau zaman skarang, tidak bisa mengontrol jempolnya juga). Filter mulut (dan jempol) ini yang harus kita ajarkan ke diri kita dan anak-anak kita yang lahir di zaman social media ini. Pertimbangkan perasaan orang lain, tahu apa yang boleh diucapkan, kapan, kepada siapa dan dengan cara apa adalah ilmu yang jauh lebih penting untuk diajarkan dari semua rumus matematika. Tidak bisa matematika tidak bisa menjebloskan kita ke penjara, menghilangkan pekerjaan dan menyakiti hati orang, tapi tidak bisa memilih kata bisa menghancurkan segala.  
After it is said, words can only be forgiven. Not forgotten. -Unknown
#sarrarisman

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s