Komunikasi yang Berhasil by Ayah Risman Musa

​Komunikasi yang berhasil.
“Mendingan nggak usah diomongin deh.. makin diomongin makin nggak karuan2. Mendingan saya diam saja”

“Karena dengan kita berkomunikasi kita makin saling menyalahkan, saling merasa benar, malah suaramu makin tinggi saja”, keluh seorang suami kepada istrinya. Mungkin juga terjadi sebaliknya, keluhan isteri pada suaminya.

Sensitifitas seperti ini banyak terjadi, bukan saja pada anak muda tapi juga pada kakek dan nenek.
Dalam beberapa budaya tertentu,menjawab untuk memberi penjelasan saja dianggap membantah,melawan. Maka sering kita lihat orang berkomunikasi itu bukan menambah kejelasan dan kesamaan pandangan, malah menambah runyam keadaan. Sering kali kita dengar bahwa persoalan antara suami isteri atau antara  orang tua dan anak adalah karena komunikasi tidak jalan dengan baik.  Sifat tinggi hati dan ingin menang sendiri adalah penyakit yang tidak menyenangkanbagi pasangan.

Siapapun pasangannya pasti akan tersiksa bila dalam jangka lama tidak mau berobah dalam cara berkomunikasi.
Menurut hemat saya kuncinya adalah dalam mendengarkan. Banyak kita mendengarkan tapi tidak sabar. Sabar mendengarkan tapi wajah menggambarkan ketidak senangan. Ternyata ada beberapa keharusan dalam mendengarkan. Antara lain, biarlah lawan bicara menyelesaikan pembicaraannya dulu. Jangan sedikit sedikit disela. Tapi kalau terlalu panjang boleh disela dengan “bijak”. Berikan kesempatan lawan bicara atau pasangan menjelaskan maksud dan tujuannya. Sekaligus biar jadi kanal emosi yang mungkin tertahankan selama ini.
Ekspresi dalam mendengarkan itu harus positif, wajah yang netral, bukan wajah yang sinis. Jika perlu tatap lawan bicara dengan rasa sayang bukan dengan kebencian.

Mendengar yang baik adalah mendengar untuk paham bukan untuk menjawab. Biasanya sikap kita langsung membela diri., menjawab dengan penjelasan yang  panjang.

Secara budaya kita sangat terbiasa mendengarkan untuk menjawab bukan untuk memahami. Bagi sebagian orang, terutama yang merasa sudah dituakan, atau sebagian suami sikap itu sangat mengganggu. Kita sangat terlatih dan terbiasa untuk menjawab. Sering sekali jawaban itu kerena pembelaan diri yang tidak perlu, terkesan jadi sombong. Kalau sikap ini terjadi sudah bisa dipastikan komunikasi terjadi bukan untuk mendinginkan tapi tambah merunyamkan.
Ingat, tidak semua percakapan butuh jawaban, butuh berpendapat. Apalagi pendapat itu yang kontraproduktif. Ayolah mendengar dengan hati, bukan sekedar dengan telinga. Jadi mendengar dengan hati, sambil merasakan dengan perasaan yang sungguh2. Sesuai dengan pepatah arab yang artinya:” Kalau perkataan itu keluar dari hati  maka hati pula yang akan menerimanya. Tapi kalau perkataan itu berasal dari otak, maka hanya sampai pada telinga”.

Marilah kita hindari sikap dalam berkomunikasi, bahwa kita paling senior, paling tahu, paling tinggi sekolahnya. 

Karena arti komunikasi itu sendiri adalah commun: sama. Jadi komunikasi adalah mencari persamaan dengan enak. Bukan mencari perbedaan dan menang menangan. 
“Muslim yang baik adalah orang yang membujat  kaum muslimin lainnya merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” ( HR. Bukhari dan Muslim)
Saya kutipkan dialog antara Muaz dengan Rasulullah: “Maukah engkau aku ajarkan kunci segala urusan?”Sabda Rasul kepada Muaz.  Spontan Mu’adz menjawab: “Tentu saja.” Beliau pun menujukan lidahnya dan berpesan: “Hendaklah kamu menahan anggota tubuh yang satu ini.” …. (HR.
Dalam kehidupan sekarang ini kita kerap mendengar Kekerasan verbal yang sebenarnya lebih menyakitkan dan berdampak panjang dari kekerasan fisik.                                                               

Dalam Islam peringatan tentang lisan yang sembarangan sangat diperhatikan  karena  lisan  merupakan bagian dari perbuatan yang   tidak akan yang luput dari catatan Rakib dan Atid yang harus  kita pertanggung jawabkan.
Mari kita bercermin salah satu resep berkomunikasi yang dinukilkan Allah dalam Alquran surat Thaha 44: “Maka bicaralah kamu berdua Musa dan Harun) kepada Firaun dengan lemah lembut dan enak didengar (Qaulan layyinan). Padahal Firaun jelas2 durhaka kepada Allah dengan mengatakan “Ana rabbakumul a’la” Saya Tuhan yang maha tinggi. Tetap saja Allah memerintahkan Musa untuk berdakwah kepada Firaun dengan kata2 yang baik dan santun.

Nah, orang tua, pasangan,adik,teman kita bukan Fir’aun kan?. Maka merilah kita berkomunikasi dengan lebih elok lagi supaya hasilnya sesuai dengan yang kita inginkan.
Bekasi, 14 Januari 2017

Risman Musa

#GrandParenting

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s