Janji di Atas Ingkar

​#hari10 #komunikasi produktif

Saya rasa kita semua setuju bahwa janji yang diingkari itu tidak mengenakkan hati.


Dalam islampun disebutkan bahwa hukum berjanji adalah mubah, sementara hukum menepati janji adalah wajib, sehingga melanggar janji berarti suatu keharaman.

Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu.” (QS: Al-Ma’idah: 1)

Ibnu ‘Abbas, mujahid dan beberapa ulama lainnya mengatakan: “Yang dimaksud dengan akad adalah perjanjian.”

Janji itu harus ditepati, tak terkecuali pada anak- anak.

Orang dewasa (bisa orang tua sendiri atau anggota keluarga yang lain) kerap menjanjikan sesuatu namun secara tak sengaja harus mengingkari. Meskipun pada anak – anak, paling baik adalah kita sampaikan alasannya.

Menjaga janji bisa berpengaruh pada kepribadian anak- anak. Ketika kita menepati janji, sebenarnya kita membantu mereka mengembangkan pemahaman tentang kepercayaan. Sebagai orang tua atau orang dewasa di sekitar mereka, kita bisa memproyeksikan bahwa kita adalah sosok yang jujur dan bisa dipercaya. Ini bisa menciptakan rasa aman bagi anak- anak.

Melanggar janji sekali dua kali tidak masalah. Tapi jika dilakukan secara berulang berkali- kali, akan membuat anak , yang pertama, kehilangan kepercayaan kepada orangtua atau orang dewasa di sekitar mereka. Yang kedua, mereka bisa meniru karena berfikir tidak masalah jika janji diingkari begitu saja tanpa penjelasan apa- apa.

‎”Children have never been very good at listening to their elders, but they have never failed to imitate them.” – James A. Baldwin‎


Anak-anak tidak pernah mendengarkan perkataan orang yang lebih tua dengan baik, tetapi anak-anak tidak akan pernah gagal untuk meniru mereka . James A. Baldwin


Anak membangun pribadinya melalui proses belajar, termasuk meniru. Dan, sumber belajar yang paling dekat dan lekat untuk anak usia sekolah adalah orang tuanya, disamping lingkungan sekolah dan orang – orang terdekatnya. Karena orang tua sebagai sumber belajar bagi anak, mengingkari janji pada anak akan menyebabkan orang tua sulit menanamkan nilai pada anak.

Saat terjadi pada Akhtar dan Qaleef, seperti hari ini. ‎Awalnya mereka menagih janji kepada saya. Dan saat isunya dibatalkan, mereka bertanya – tanya kenapa. Jika saya tidak tahu jawabannya, buat apa saya berbohong mencari- cari alasan. Maka saya ‘giring‘ mereka untuk mendapatkan penjelasan dari si pembuat janji.‎ Walaupun semisal saya tahu jawabannya, mereka saya ajarkan untuk juga bertanya langsung kepada si pembuat janji. Menurut hemat saya, selain mengajarkan keberanian pada anak untuk bertanya, karena ini adalah hak mereka untuk mendapatkan penjelasan, hal ini juga mengajarkan si pembuat janji mempertanggungjawabkan janji yang telah mereka buat pada anak- anak.

Di lain sisi, iya saya setuju, bahwa janji yang gagal untuk dipenuhi juga sebetulnya mengajarkan nilai bahwa sekalipun orang lain memiliki niatan baik tetapi terkadang tidak bisa ditepati karena banyak hal tak terduga yang terjadi dalam hidup ini. Dengan belajar kecewa, mereka akan terbiasa dan akan membantu menghadapi kekecewaan yang lebih besar saat kelak dewasa.  ‎

‎Demikianpun saat anak menginginkan sesuatu dan kita belum sanggup untuk memenuhinya. Akan lebih baik jika berterus terang. Memberikan penjelasan yang masuk akal kenapa kita harus menolak permintaannya. Kalaupun terpaksa berjanji, berjanjilah sesuai dengan kemampuan, baik dari sisi biaya, waktu dan kondisi yang ada.

Semoga kita bisa menjadi orang tua yang lebih bijak pada anak.

Aamiin.

Vivi Erma,

Jakarta, 10 Februari 2017


_Game Kelas Bunda Sayang_
Level 1

*TANTANGAN 10 HARI BERKOMUNIKASI PRODUKTIF*


#hari10

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif

#kulkahbunsayiip


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s