Aliran Rasa Komunikasi Produktif Kuliah Bunda Sayang

Baru- baru ini saya menonton sebuah film produksi Hollywood dengan judul ARRIVAL. Film yang dibintangi oleh Amy Adams dan Jeremy Renner ini berkisah tentang sebuah pesawat ruang angkasa misterius yang turun ke bumi. Kemudian untuk menginvestigasi pesawat ruang angkasa tersebut, dibentuk sebuah tim yang dipimpin oleh seorang dokter dan juga ahli bahasa, yaitu Dr. Louise Banks ( Amy Adams ) untuk menyelidikinya.

Sekilas ARRIVAL terlihat sebagai film tentang invasi alien. Namun sebenarnya film ini lebih dari sekedar invasi para alien tersebut. Film ini lebih menyinggung MASALAH KOMUNIKASI.

Jadi, on a lighter note, disini saya tidak akan mereview film ini dari sisi sinematrografinya,  karakter para pemainnya maupun plot yang unik. Silahkan googling atau tonton sendiri filmnya 😊 .

Saya akan membahas dari sisi teori komunikasi dan linguistik yang bisa kita pelajari untuk dikaji.

Masalah komunikasilah yang menjadi konflik dalam Arrival. Diceritakan pihak manusia kebingungan dan panik saat menghadapi kedatangan para alien itu. Ini di sebabkan para alien itu memiliki cara berkomunikasi yang berbeda. Mereka menggunakan simbol atau gambar sebagai sarana berkomunikasi. Di tambah lagi, mereka punya struktur dan perbendaharaan kata yang berbeda dengan manusia. Sehingga, apabila sedikit saja salah dalam mengartikan, akan menimbulkan persepsi yang berbeda bagi kedua belah pihak.

Teori komunikasi yang pertama adalah Uncertainty Reduction Theory (Teori Pengurangan Ketidakpastian) oleh Charles Berger.

Teori ini menyatakan bahwa manusia senantiasa menghindari ketidakpastian. Kita selalu ingin mendapat kepastian tentang orang lain. Pasalnya, ketika berkomunikasi, kita menyusun rencana komunikasi kita dengan orang lain berdasarkan pada informasi yang kita miliki tentang orang tersebut. Semakin kita merasa tidak pasti, kita menjadi semakin waspada dan cemas. Tingkat ketidakpastian yang lebih tinggi akan menciptakan jarak, tapi ketidakpastian yang dikurangi cenderung membuat kita nyaman dengan orang lain.

Teori ini penting dalam melihat bagaimana seseorang menjalin hubungan dengan orang asing. Karena tidak kenal dan sulit berkomunikasi, kaum manusia dalam film Arrival digambarkan diliputi kekhawatiran atas kedatangan alien tersebut. Akhirnya, mereka menggunakan apa yang disebut “strategi interaktif” untuk mengurangi ketidakpastian itu dengan mengirim penerjemah agar bisa mendapatkan informasi tentang para alien. Strategi interaktif mencakup interogasi dan pengungkapan diri. Itulah kenapa dalam menginterogasi para alien, Prof Banks juga harus memperkenalkan dirinya. Kita mengenalkan diri kita agar lawan bicara juga makin mudah untuk memperkenalkan dirinya.

Teori yang kedua adalah, Relativitas Linguistik.


Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf mengutarakan buah pikirnya bahwasanya bahasa sebuah budaya menentukan perilaku dan kebiasaan berpikir orang-orang dalam budaya tersebut. Cara kita memandang dunia dibentuk oleh susunan tata bahasa yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari.

Lalu, apakah mungkin memahami bahasa dari komunikan (penerima pesan) yang tidak kita ketahui sebelumnya memiliki konsep- konsep kehidupan yang sama?

Teori yang ketiga adalah Diferensial Semantik dari Charles Osgood menyebutkan bahwa penafsiran adalah cara untuk memahami pengalaman kita. Teori ini berhubungan dengan cara-cara mempelajari makna dan bagaimana makna tersebut berhubungan dengan pemikiran dan perilaku. Makna memang tidak harus dipelajari dari pengalaman langsung, tetapi rasanya harus dipelajari dengan asosiasi antara satu tanda dengan tanda lain. Misalnya, sebelum Louise bisa memahami simbolisasi “makan” dalam bahasa alien, bagaimana cara ia bisa tahu bahwa alien juga menganut konsep “makan” yang sama dengan manusia? Atau bahkan, apakah alien itu sendiri juga melakukan aktivitas makan?


Bukan cuma komunikasi dengan alien, Arrival juga menghadirkan konflik komunikasi antar negara yaitu permasalahan politik luar negeri. Pasalnya, 12 kapal alien itu dikisahkan turun tersebar di negara- negara berbeda. Problem menyeruak lantaran tiap negara punya kebijakan berbeda untuk merespons kedatangan alien itu.

Secara keseluruhan, teori- teori komunikasi dan linguistik yang mendasari film ini menarik sekali. Ketika tim bahasa harus menyampaikan pertanyaan tujuan para alien datang ke bumi, pertanyaan itu dikupas habis menjadi inti- inti yang harus dipahami pihak alien tersebut agar bisa memahami pertanyaan itu secara keseluruhan.

Menurut saya, sebetulnya kita ini alien bagi satu sama lain. Manusia yang saling berbeda pengalaman, pemahaman, latar belakang dan budaya, mencoba untuk saling berkomunikasi. Alienalien ini bisa berwujud pasangan, anak, bahkan orang tua, teman dsb.

Bahasa sebagai konsep itu sangat rumit—manusia bisa memahami begitu banyak hal sampai bisa berkomunikasi verbal dan non-verbal seperti sekarang. Situasi menjadi filosofis ketika kita harus menggali, apa yang membuat kita bisa memahami sesuatu dan bagaimana cara mentransfer pemahaman itu ke orang lain.


Sebagai seorang sarjana sosial, jurusan ilmu komunikasi, tidak serta merta menjadikan saya selalu lancar dalam berkomunikasi dengan orang lain. Meskipun mengenal teori- teorinya. Kepekaan dalam hal komunikasi ini justru saya dapatkan sejak mengikuti tantangan Komunikasi Produktif Kelas Bunda Sayang.


Selama sepuluh hari berturut- turut kami ditugaskan untuk menuliskan komunikasi yang terjalin pada diri dan keluarga. Selama sepuluh hari itu pula secara otomatis kita menganalisa, terlebih pada komunikasi yang gagal dibangun. Kenapa dan bagaimana seharusnya.


Keterampilan komunikasi produktif yang efektif merupakan elemen yang harus dijiwai setiap manusia. Berikut adalah empat prinsip dasar menjadi komunikator produktif :

Prinsip pertama: fokus pada solusi, bukan pada masalah

Ketika kita berinteraksi, sering kita sibuk mencari kambing hitam, menyalahkan pihak lain, dan melulu berfokus pada masalah.

Komunikasi kita akan jauh lebih produktif jika kita fokus pada solusi.

Mencari-cari kesalahan dan menyalahkan pihak lain memang mudah. Secara intuitif, orang menyukainya! Namun ini hanya membuang waktu.

Prinsip kedua: ganti kata-kata “tidak bisa” menjadi “bisa”

Misal : “Nak, kamu tidak akan naik kelas jika tidak belajar tekun.” Kalimat ini akan menjadi lebih elegan kalau kita ubah menjadi: “Nak, kamu pasti akan naik kelas jika rajin belajar.”

Para pakar psikologi menyatakan, semakin banyak kata “tidak” dan kata negatif lain yang kita ucapkan, secara tidak sadar akan mendorong perilaku kita ke arah negatif (tidak bisa, tidak mampu, dan seterusnya). Sebaliknya, dengan framing kalimat positif, dan ini dilakukan secara repititif, akan membuat perilaku kita lebih optimis dan kian produktif.

Itulah mengapa ada nasihat yang mengharapkan setiap kosa kata yang mengandung makna negatif (misal: tidak bisa, gagal, tidak mampu, tidak berpengalaman, tidak kompeten, dan lain-lain) sebaiknya dienyahkan dari perbendaharaan komunikasi kita sehari-hari.

Prinsip ketiga: katakan apa yang kita inginkan, bukan apa yang tidak kita inginkan

Prinsip ini mirip dengan prinsip kedua. Yakni mengajarkan kepada kita untuk selalu membuat frame kalimat positif ketika menyampaikan pesan. Misal, daripada mengatakan: “Mas, kalau nyetir mobil jangan ngebut”, lebih baik: “Mas, nyetir mobilnya hati-hati, ya.”

Prinsip keempat: fokus ke depan, bukan ke masa lalu

Kita mungkin sering mengucapkan kalimat : “Nah, apa saya bilang kan …” , terutama pada anak- anak. But, so what? Jadi, daripada fokus pada masa lalu, sebaiknya kita ucapkan: “Baik, kita ambil hikmahnya. Mulai sekarang dan ke depan, kita harus lebih …” Kalimat ini akan membuat lawan bicara kita mendapat respek. Juga akan membuat kita bisa fokus pada solusi dan maju ke masa depan yang lebih baik.

Demikianlah empat prinsip dasar komunikasi produktif. Semuanya, sejatinya sederhana dan praktikal. Namun sering kita lupa mempraktekkan dan malah mengabaikannya. Tidak ada salahnya jika poin- poin kunci tulisan ini kita print, lalu tempelkan di kamar. Siapa tahu dengan sering melihat kita bisa selalu ingat untuk menjadi insan lebih produktif dalam membangun komunikasi.

Ala bisa karena terbiasa

Dengan berlatih secara kontinue berkomunikasi produktif, kepekaan diri kita akan semakin terasah. Harapannya tidak akan lagi ada kendala komunikasi yang tidak bisa diselesaikan dan berakibat fatal. Dalam kehidupan berkeluarga khususnya, maupun bermasyarakat pada umumnya.



“Talkin’ talk is not just talk
Being there is half the walk
If you wanna stay with me
You gotta do the talkin talk”

  • D’Sound • Talkin’ Talk lyrics –

Sumber :

www.hipwee.com

Pengusahamuslim.com

#komunikasiproduktif

#bundasayang

#iip



Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s