Pola Berpikir dan Tarik Tambang

POLA BERPIKIR DAN TARIK TAMBANG

Oleh Dono Baswardono

Memberi teladan yang termasuk fundamental adalah teladan pola berpikir. Namun bagi banyak orang, memberi teladan ini termasuk paling sulit. Mengapa? Karena kita sendiri sering tidak menyadarinya, padahal sesungguhnya sangat mudah terlihat oleh orang lain; karena orang lain melihat dari jauh sehingga lebih dapat melihat polanya. Jika kita memiliki pola berpikir yang tidak runut, maka anak-anak kita juga akan cenderung berpikir tidak runut. 

Yang saya sebut sebagai “kita” ini bukan hanya orangtua, tetapi juga guru, tiap anggota masyarakat, tiap ulama dan pendeta, tiap yang menyebut diri ustad, bahkan para pemimpin daerah dan nasional. Tingkat kesulitan ini juga dipengaruhi oleh sosialisasi pola berpikir ini yang belasan tahun diajarkan oleh orangtua Anda kepada Anda — dan oleh kakek-nenek Anda kepada ayah dan ibu Anda.   
Sebagai contoh. 

“Saya ingin ikut kegiatan itu, tetapi sayang anak-anak masih kecil.” 

“Kami ingin kencan berdua saja, hmmm… anak-anak siapa yang menjaga?” 

“Alangkah asyiknya jika kita sekeluarga bisa berolahraga bersama setiap hari. Aduh, sayang sekali ayah dan bunda mesti berangkat bekerja pagi-pagi.” 

“Nek, cucumu ini hebat hlo sudah bisa makan sendiri. Cuma, dia makannya masih lambat.” 

“Ayah juga ingin karirnya menanjak. Seandainya saja dulu ayah menyelesaikan kuliah…” 

“Anak genius dari Indonesia, Joey Alexander, gagal meraih Grammy.” 

“Kita harus menjadi rahmat bagi banyak orang, karena itu kita mesti meluruskan mereka yang tersesat.” 
Apakah Anda melihat pola berpikir mereka? Apa kesamaannya? Ya. Pola berpikir yang arahnya ganda. Di satu sisi ingin menuju ke kiri, tetapi fokusnya malah ke kanan. Di satu sisi ingin berubah atau maju, tetapi fokus malah diarahkan ke segala hambatan dan kendala alias melihat ke belakang. Di satu sisi menghargai keberhasilan, tetapi mata hati tetap tertambat pada kegagalan. 

Pola berpikir itu semua persis seperti bermain tarik tambang. Yang satu menarik ke kiri, yang lain menarik ke kanan. Hasilnya? Bisa seimbang, tidak ke mana-mana. Tetapi juga bisa tertarik ke kiri, jika sumberdaya yang kiri lebih besar. Keinginan untuk maju dan berubah, ternyata malah membuat makin mundur ke belakang karena daftar kendala dan hambatan lebih banyak. Mari kita simak. 
“Saya ingin ikut kegiatan itu, tetapi sayang anak-anak masih kecil. Apalagi saya ini orangnya nggak tegaan. Dengar tangisan anak saja, saya sudah nggak bisa melakukan apa-apa.” 
“Kami ingin kencan berdua saja, hmmm… anak-anak siapa yang menjaga? Lagi pula, kencan berdua juga belum tentu membuat kami bis alebih harmonis. Kalau kami malah bertengkar lagi, bagaimana? Apa nggak rugi dua kali?” 
“Alangkah asyiknya jika kita sekeluarga bisa berolahraga bersama setiap hari. Aduh, sayang sekali ayah dan bunda mesti berangkat bekerja pagi-pagi. Belum lagi harus menyiapkan sarapan anak-anak dan pakaian mereka. Sementara ayahnya mesti memeriksa PR anak-anak.” 
“Nek, cucumu ini hebat hlo sudah bisa makan sendiri. Cuma, dia makannya masih lambat. Dan masih berantakan. Juga nggak mau makan sayur. Aduh, repot deh kalau sudah waktunya makan.” 
“Ayah juga ingin karirnya menanjak. Seandainya saja dulu ayah menyelesaikan kuliah, dan tidak suka keluyuran. Sebenarnya dulu mau dapat beasiswa, sayang umurnya lebih tua dua bulan.” 
“Kita harus menjadi rahmat bagi banyak orang, karena itu kita mesti meluruskan mereka yang tersesat. Kita mesti menghukum mereka yang berbuat dosa. Kita harus bersihkan noda-noda yang mengotori masyarakat dan dunia.”
Apa yang terjadi pada anak-anak, jika setiap hari mereka dimbombardir dengan pola pikir yang tidak runut seperti ini? Tentu saja, pikiran mereka juga sama-sama menjadi tidak runut pula. Silakan merekam pembicaraan anak-anak dan sebentar saja Anda akan mengetahuinya. 
Di dalam psikologi, pikiran itu mempengaruhi perasaan, perasaan membentuk perilaku. Dan perilaku memperkuat pikiran. Apa arti segitiga perilaku ini? 
Jika pikirannya tidak runut, maka perasaan-perasaan ambigu atau mendua yang timbul di hati. Perasaan bingung. Perasaan mendua. Perasaan kelabu, berkabut. Dan dengan perasaan semacam itu, maka perilaku yang dihasilkan pun akan serba berkebalikan. Tingkah laku yang bertentangan itu akan lebih sulit dimengerti oleh orang lain. Dalam jangka menengah dan panjang, perilaku yang bertentangan itu juga berpotensi menimbulkan berbagai gangguan: gangguan berpikir, gangguan emosi, dan berbagai jenis gangguan perilaku; bahkan akhirnya gangguan kepribadian. 
Pikiran yang tidak runut akan membuat siapa pun cenderung tidak sanggup mengekspresikan perasaan-perasaan primernya. Mereka hanya sangup mengungkapkan perasaan sekunder mereka; biasanya berupa kemarahan, jengkel, frustrasi, dan semacamnya. Untuk mengingatkan bagi Anda yang belum pernah membaca sederetan artikel saya tentang #KomunikasiPerasaan, contoh hubungan perasaan primer dan sekunder adalah sbb: Anda khawatir jika anak mendapat nilai buruk di sekolah, tetapi Anda terus marah-marah kepadanya. Jika perasaan primer Anda adalah khawatir, mengapa yang diungkapkan adalah yang sekunder berupa kemarahan? Atau Anda cemburu karena suami pulang kerja larut malam, namun begitu ia tiba di rumah Anda pun mengomelinya panjang lebar. Kalau perasaan primernya adalah cemburu, mengapa yang disampaikan malah perasaan sekunder berupa kejengkelan? 
Itu sebabnya, dari tahun ke tahun, kasus yang datang ke ruang praktik saya juga semakin berat. Tahun ini saja (baru beberapa bulan) kasus serangan panik pada orang dewasa sudah hampir penuh hitungan jari, kasus bunuh diri juga bertambah, dan sungguh makin banyak anak-anak yang bermasalah di sekolah, dalam pergaulan, maupun dalam hubungan dengan orangtua.  
Memperbaiki pola pikir akan mempengaruhi kemampuan kita dalam mengidentifikasi dan mengekspresikan perasaan primer, serta melatih kita untuk lebih mampu berempati pada perasaan dan pengalaman orang lain (pasangan, anak-anak, masyarakat). 
Bagaimana pola pikir yang runut? 

“Saya ingin ikut kegiatan itu, maka saya perlu membuat manajemen waktu yang lebih ketat agar tetap dapat mengikuti kegiatan itu sambil tetap mengasuh anak-anak.”  
“Kami ingin kencan berdua saja, anak-anak akan kami titipkan pada Oma dan Opanya karena ini juga demi kesejahteraan anak-anak dan keluarga besar.” 
“Alangkah asyiknya jika kita sekeluarga bisa berolahraga bersama setiap hari. Kami akan berolahraga di malam hari sepulang kerja.” 

“Nek, cucumu ini hebat hlo sudah bisa makan sendiri. Bunda yakin, sebentar lagi cucumu juga bisa makan dengan rapi.”  
“Ayah juga ingin karirnya menanjak. Jadi, karena dulu ayah belum menyelesaikan kuliah, maka sekarang ayah akan ikut kuliah di Universitas Terbuka saja, biar bisa tetap bekerja.” 
“Anak genius dari Indonesia, Joey Alexander, menjadi yang termuda sepanjang sejarah sebagai nominator Grammy.” 
“Kita harus menjadi rahmat bagi banyak orang, karena itu kita mesti berusaha terus menerus untuk menjadikan diri kita sendiri sebagai saluran berkat-berkat kasih Tuhan.” Dono Baswardono 
#ThinkingPatterns #CognitiveStyle #BehaviorTriangle #AffectiveCommunication #PrimaryFeelings #SecondaryFeelings

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s