Memperkenalkan Kematian pada Anak

Oleh : Sarra Risman

Setelah menerima kabar duka ba’da subuh dari suami saya yang sudah lebih dulu ke rumah sakit melepas ibunya ‘pergi’, saya langsung bersiap untuk ke rumah duka karena tahu akan banyak yang harus dikerjakan. Sambil nunggu semua anak bangun, saya menyusun kalimat bagaimana saya akan menyampaikan berita ini ke anak-anak, karena usianya jauh berbeda, daya pemahaman pun berbeda pula pastinya. Tapi karena mereka bangun pada waktu yang bersamaan dan waktunya mepet, dan tidak mungkin tidak dijelaskan karena mereka harus bolos sekolah dan menyusul ke rumah duka dengan ayah saya, saya memutuskan untuk focus menjelaskan di level Raia saja.
Setelah mereka mandi dan makan pagi, saya ajak duduk di ruang tamu dan membuka percakapan dengan kalimat…’semua yang hidup…apa rai?” “pasti akan merasakan mati”, jawabnya. Betul. Dan sekarang waktunya nena untuk kembali ke allah”. Percakapan berlanjut sekitar 15 menit, sekalian menjelaskan plan hari itu, apa yang harus mereka bawa ketika di jemput sm ayah saya untuk menyusul ke rumah duka, berapa lama kita disana, apa yang akan mereka lihat, apa yang akan saya lakukan, dan yang paling penting adalah bagaimana mereka harus bersikap selama di sana. Saya jawab semua pertanyaan-pertanyaan yang muncul dan saya pun pergi dengan menitipkan PR agar raia menghafalkan doa shalat jenazah untuk nanti menyolatkan neneknya.
Aslinya, saya tidak suka memperkenalkan kematian pada anak-anak. Bagi saya, dunia mereka seharusnya berisi yang indah-indah saja. Bahasa sunda nya ‘only rainbows and butterflies’. Tidak perlu di cat hitam dengan apapun yang menyedihkan, membingungkan, menyulitkan. Apalagi dengan konsep abstrak akan sesuatu yang nyata tapi belum bisa sepenuhnya mereka pahami, seperti kematian. Tapi alasan saya bukan hanya itu, sering sekali saya mendengar jawaban para orangtua ketika menjelaskan tentang kematian pada anaknya, sungguh tidak masuk akal, dan sering jatuhnya jadi berbohong seperti mengatakan bahwa yg meninggal kini sdh di surga. Tau dr mana mrk sudah di surga? Bkn nya surga blm Bs di masuki smp nanti? 
Karena ketidakmampuan orangtua menjawab dengan baiklah mengapa saya sering menyarankan untuk tidak memperkenalkan anak-anak mengenai apapun tentang kematian sampai usia berpikir konkritnya selesai, yaitu usia 7, kecuali dalam keadaan darurat. Ketika nenek saya meninggal beberapa tahun silam dan semua harus ikut kesana, Raia berusia 6th lebih. Dia sudah punya gambaran tentang makna mati jadi dia boleh melihat ketika jenazah sudah dikafani, tapi kaizan yang masih terlalu muda harus menunggu di luar sama ayahnya. Kini ketika neneknya meninggal di usia 6th, kaizan boleh juga melihat neneknya yang sudah dikafani, sedangkan si abang karena sudah jauh lebih tua, boleh ikut mengangkat keranda, menyolatkan, dan melihat prosesi penguburan.
Menjelaskan kematian pada anak, dan mengizinkan mereka melewati prosesi penguburan ada tahap-tahapnya tergantung usia, jenis kelamin, karakter, kedekatan anak dengan yang pergi, dst. Pemahaman mereka dan pengendalian emosi mereka tidak sama dengan kita yang sudah dewasa. Kadang mereka memiliki banyak sekali pertanyaan yang kadang kita tidak bisa menjawabnya, dan hal itu membuat frustrasi. Kefrustasian tersebut di tambah dengan hilangnya anggota keluarga bisa menyebabkan banyak hal seperti misalnya regresi (kemunduran kemampuan/ketrampilan) seperti dari yang sudah tidak ngompol, jadi ngompol lagi, yang biasanya tidak cengeng, jadi cengeng, yang biasanya sudah bisa makan sndiri, sekarang jadi harus disuapin lagi, dst.
Sehingga sampai kita mampu menjawab semua pertanyaan anak, saya tidak merekomendasikan mengenalkan anak pada kematian. Karena kalau tidak bisa menjawabnya dengan baik, kematian dan segala hal yang berhubungan dengannya menjadi sesuatu yang menakutkan, yang seharusnya tidak. Di usia yang tepat, topik ini memang justru harus di bahas dan diizinkan melewati prosesinya. Melalui kepergian nenna nya raia jadi belajar banyyaaaak sekali hal. Mulai dari hal-hal yang konkrit seperti sunnahnya jenazah di gotong di keranda yang tidak tertutup kain, sehingga orang yang melihat nya juga bisa mendapatkan ibroh tentang kematian, bahwa adzan tdk di kumandangkan ketika memasukkan jenazah ke Liang kubur, bahwa tidak ada taburan bunga, bahwa sebetulnya ‘rumah terakhir’ itu begitu sempit sampai kepemahaman bahwa mati hanyalah berpindahnya ruh ke alam yang berbeda. Dia jadi diingatkan bahwa tidak ada yang di bawa selain selembar kain putih dan amal ibadah. PR saya berikutnya adalah mempersiapkan Raia untuk bisa mengurus jenazah sesuai hukum syar’i nya, agar dia tau apa yang harus dilakukan ketika waktu saya tiba.
Kita tidak akan pernah memahami makna kematian yang sesungguhnya sampai kematian tersebut mengambil orang yang kita cintai. Semoga anak-anak kita sudah siap lahir bathin ketika kita harus kembali.
#sarrarisman

*jika di rasa manfaat, tidak perlu izin untuk membagikan artikel ini

**mohon untuk TIDAK menuliskan pertanyaan di kolom komen karena suka tidak terbaca oleh saya, khawatir tidak terjawab. Terima kasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s