Melatih Anak Bersabar Menunggu

​Tantangan 10 Hari Apresiasi Kemandirian

#Day3

Ada suatu acara OPEN HOUSE di tempat kursus untuk anak- anak yang perlu saya datangi, “‎The Brain Tour : Parent’s Information Session.” And I have to choose one of my kids to go with me while the other one should stay at home. Setelah melalui proses negoisasi, si kakak bersedia untuk menunggu di rumah, dengan syarat ibu dan adeknya tidak pergi terlalu lama. Meski konsep waktu masih abstrak bagi si kakak. Saya berdoa mudah- mudahan dengan banyaknya kegiatan menarik di rumah bisa membayar kejenuhan menunggu.‎

Begitu sampai di tempat, Qaleef langsung menuju ke mini playground yang tersedia. Saya pamit padanya untuk masuk ke dalam kelas. Sesi berlangsung selama satu setengah jam. Ketika selesai dan saya menjemput Qaleef, dia masih asyik dengan beberapa mainan. ‎

Wow! batin saya. It’s really something!!

Qaleef sampaikan bahwa sebelumnya sempat mencari- cari saya ke dalam kelas. Karena tak menemukan saya, dia lalu kembali bermain. Rupanya dia membuka pintu kelas yang berbeda. Syukurlah dia tidak berteriak menangis seperti yang sudah- sudah.

Jangankan di mini playground dengan jumlah mainan terbatas, pernah suatu hari Qaleef didampingi neneknya pergi ke satu arena bermain yang menawarkan konsep sepuasnya, dan hanya bertahan setengah jam lalu mencari saya. Dia lebih tenang jika ditemani oleh saya, dan bisa betul- betul bermain sepuasnya jika saya ada di depan mata.

Satu setengah jam adalah rekor terlama Qaleef mau menunggu saya. Tanpa saya berada dalam jarak pandang dia. Tanpa tantrum.

Menurut saya, mau menunggu adalah salah satu latihan kemandirian juga. Kemandirian secara emosional, kita melatih anak untuk mengembangkan toleransi terhadap perasaan tak sabaran, dengan harapan mereka tidak akan bertindak impulsif ketika menghadapi perasaan semacam itu di masa depan.‎

Dari artikel yang pernah saya baca, jangan selalu memberikan semua hal segera sesudah si kecil meminta sesuatu. “Biarkan ia merasakan ketidaknyamanan menunggu karena hal itu adalah upaya yang harus ditempuh supaya anak berubah menjadi lebih baik,” kata Michael Osit, penulis buku Generation Text: Raising Well-Adjusted Kids in the Age of Instant Everything.‎

Dengan tidak memberikan susu secepatnya, misalnya, kita akan membantu mereka mengatasi ketidaksabarannya.

‎Kita bisa melatih si kecil sejak belia untuk memiliki sikap mental seperti ini dengan tiga cara :

1. Beri anak kesempatan latihan menunggu.

‎Menumbuhkan sikap sabar pada anak membutuhkan latihan terus menerus. Berikan kesempatan pada anak untuk berlatih sabar dan menunggu. Para peneliti menemukan bahwa anak yang sabar menunggu adalah mereka yang memiliki kemampuan mengalihkan perhatian dan memacu kreativitas. Misalnya, dengan bernyanyi atau melakukan berbagai aktivitas seru saat mereka harus menunggu sesuatu.

‎2. Beri kepercayaan anak bisa mengontrol sikapnya.‎

Kuncinya adalah berikan kepercayaan kepada anak. Yakinlah bahwa anak bisa bertanggung jawab. Hal ini juga perlu latihan. Bisa dimulai dengan cara-cara sederhana. Berikan contoh sesering mungkin pada anak. Misal, saat anak memetik buah anggur satu persatu dan menjatuhkannya ke lantai, tunjukkan kepada anak untuk mengembalikan anggur itu ke dalam mangkuk di atas meja. Tunjukkan caranya dan biarkan anak melanjutkannya merapikan buah anggur tersebut. 

3. Merespons anak dengan penuh kesabaran.

Orangtua juga harus bersabar untuk mengajari anak kesabaran. Misal, saat kita sedang di dapur memasak telur untuk sarapan, si kecil meminta kertas. Jelaskan secara perlahan, bahwa kita akan mengambil kertas dalam beberapa menit lagi. 

Saat kita sedang sibuk melakukan aktivitas, dan anak meminta sesuatu, tunjukkan kepada anak apa yang sedang kita lakukan dan minta ia melakukan hal yang sama. Cara ini akan membuat anak memahami dan belajar bahwa ia harus menunggu, sekaligus juga melatih anak untuk tidak merengek saat meminta sesuatu. 

Dengan merespons perilaku anak lebih tenang, kita sedang mengajarkan anak bahwa ia bukan satu-satunya pusat perhatian. Dengan begitu anak memahami bahwa ada hal lain di luar dirinya yang juga harus diperhatikan. Anak pun terlatih untuk tidak memaksakan keinginannya, belajar menunggu saat meminta sesuatu kepada orangtuanya yang sedang melakukan hal lain.‎

Daaannn, sebagai bentuk apresiasi saya kepada anak- anak karena sudah bersedia menunggu, saya membelikan makanan kesukaan mereka dalam perjalanan pulang.‎

#Level2

#KuliahBunSayIIP

#MelatihKemandirian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s