Renungan Malam

Tulisan keren dari WAG
Renungan malam… Semoga bermanfaat…
Copas :
Dulu masa saya masih kecil, saya selalu dapat no 1 dalam kelas baik waktu sd, smp dan sma
Semua orang puji saya dan ibu saya pasti gembira dan peluk cium saya.
Dulu saya dapat nilai tertinggi kelulusan sma di kota saya
Semua orang puji saya dan ibu saya pun gembira dan peluk cium saya.
Dulu saya dapat tawaran masuk perguruan tinggi terkenal, bebas tanpa tes.
Semua orang puji saya dan ibu saya pun gembira dan peluk cium saya.
Dulu saya dapat nilai cumlaude di perguruan tinggi terkenal tsb.
Semua orang puji saya dan ibu saya pun gembira dan peluk cium saya.
Dulu saya dapat tawaran buat kerja di perusahaan terkenal.
Semua orang puji saya dan ibu saya pun gembira dan peluk cium saya.
Tapi bila saya buang semua keduniaan itu dan berikrar untuk turut berjuang menjadi kebanggaan Rasulullah, saya bawa tas dan merantau ke seluruh dunia, saya berhenti di Afrika untuk belajar ilmu agama, dan balik ke Negara saya dengan kesan-kesan Sunnah Rasulullah di badan saya.
Semua orang mencemoh dan memandang rendah kepada saya.
“Apa ada lulusan perguruan tinggi terkenal yang masuk pondok? masuk tahfiz? masuk tabligh? Dak takut dapat pekerjaan?, Nanti mau makan apa? Bodohnya. Memalukan orang tua, peluang besar jadi orang besar dilepaskan pulak…”
Kata mereka.
Tapi…
Pada suatu Subuh.
Saya pergi ke masjid bersama ibu saya di mana saya merupakan imam di masjid itu.
Saya bacakan surah Abasa.
Dan sy pun menangis ketika sampai ayat Abasa 80:34, 
Yaumayafirrul mar’umin akhih…..
Wa ummihi…wa Abih….
Selesai solat, semasa perjalanan pulang.
Ibu bertanya kenapa saya menangis ketika sampai di ayat itu?
Saya jelaskan.
Ayat itu menceritakan tentang huru hara mahsyar sehinggakan seorang manusia itu akan lari daripada saudaranya.
Ibunya.
Ayahnya.
Isterinya.
Anak-anaknya.
Saya katakan,
Di dunia ini, bila kita jadi kaya, orang puji katanya kita berjaya.
Bila kita gunakan dunia untuk mengejar akhirat, orang akan kata kita gila.
Sedangkan di mahsyar nanti, semua “kata-kata orang” itu langsung tak bernilai. karena ibu, bapak, anak, isteri, saudara yang di dunia ini dulu sangat dekat dengan kita pun, kelak di mahsyar mereka akan saling melarikan diri daripada berjumpa kerana takut dituntut.
Maka saya menangis karena saya risaukan apa keadaan saya di mahsyar kelak.
Pujian orang ramai selama berbelas-belas tahun itu langsung tak memberikan manfaat pada saya.
Kajian selama bertahun-tahun karena mengorbankan dunia demi agama juga tak bagi mudarat pada saya.
Lalu kenapa manusia masih mengejar pujian orang ramai dan takut dengan celaan mereka?
Ibu sekali lagi memeluk saya, tersenyum sambil menangis dan berkata.
“Sangat enak perasaan mamak mempunyai anak macam kamu nak…”
Maka itulah kali pertama dalam hidupku saya terasa sangat gembira akan “pujian” ibuku.
Berbagai pencapaian demi pencapaian yang saya dapat DULU, saya tidak pernah merasa gembira seperti ini walaupun dulu juga saya dipeluk,dicium ibu dan dipuji.
Wahai hamba Allah.
Apa sebenarnya yang kalian kejar?
Apa pula sebenarnya yang kejar kalian?
Mengapa kalian masih mengejar pujian sia-sia manusia?
Sedangkan malaikat maut pula tidak pernah lelah siang malam mengejar kalian?
Wahai saudaraku.
Apakah kalian sadar nafas kalian hanya beberapa saat lagi?
Sebelum lubang kubur kalian akan digali?
Apa yang aku dan kalian ada untuk Allah dan Rasul banggakan?
Fikirkan….. 😭

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s