Konsep Adil

Setelah bertahun-tahun memegang grup wa parenting, sering saya temui para orangtua bingung dengan satu konsep, terlebih ketika mereka mulai memiliki anak lebih dari 1, yaitu konsep adil. Sering sekali konsep ini diartikan sama rata, sama perlakuan, di waktu yang bersamaan pula. Itu sebabnya sering kita temukan di sekeliling kita orangtua yang membelikan barang atau mainan (yang sama ataupun tidak) ke masing-masing anak,dengan alasan klise: agar adil. Makanan satu seorang, biar adil. Kakak di cium di kening, adik juga di cium biar adil. Kakak beli sepatu, adik di beliin juga, biar? Adil. 
Salah.
Itu bukan adil. Itu keseragaman. Adil adalah memberikan sesuatu yang tepat, dalam jumlah yang cukup kepada yang membutuhkan di saat dibutuhkannya. Seorang presiden yang adil bukan berarti memberikan semua hal yang sama ke semuaaaaa rakyatnya, biar adil. Kalau begitu, orang yang di bawah jembatan di kasih raskin, keluarga Bakrie juga di kasih raskin gitu biar adil? (maaf pak Bakrie namanya di sebut-sebut. Mau sebut keluarga Uno nanti di kira kampanye :P) Adil dalam pernikahan poligami, ketika satu istri dapat giliran, semuaaa istri dapat di hari yang sama? Lha kalau salah satu di hari itu ada yang berhalangan, gimana? Adil dalam perlakuan pengasuhan, kakak di kasih kaos merah, adik juga di kasih kaos merah biar adil. Lha kalau kakak suka sekali warna merah, adiknya nggak suka sama sekali, justru mana keadilannya?

Kesalahpahaman akan makna keadilan yang di pegang teguh oleh (subhanallah) banyak sekali orang tua, membentuk konsep keadilan yang salah pada anak-anak, jadi mereka salah paham juga. Itu sebabnya ketika si adik dapet mainan baru, si kakak cemburu. Ketika si kakak di beliin celana panjang baru, gantian si adik yang cemburu.  Padahal kadang ada saat yang memang salah satu dapat, dan yang lain tidak, tanpa orangtua bisa mengantisipasi, misalnya seperti hadiah ulang tahun dari orang lain, atau piala kemenangan lomba yang di ikuti oleh salah satu saudara, tapi tidak di ikuti oleh saudara lainnya. Kalau adiknya ngambek karena kakak dapat hadiah ulang tahun dari nenek sedangkan adiknya tidak (secara emang bukan ultah adiknya), orgtuanya mulai kesal sendiri. Padahal, mereka yang salah mengajarkan konsep adil ini. Ironisnya, kesalahpahaman konsep ini, seperti halnya konsep pengasuhan lainnya, di turun temurunkan. Jadi masalahnya nggak kelar-kelar 7 turunan. Muter di situ-situ saja.
Sebelum membetulkan anak, orangtua harus membetulkan terlebih dahulu konsep ini di kepala mereka, lalu dalam perlakuan sehari-hari. Tidak perlu setiap saat satu dibelikan barang, satu lagi di belikan juga. Gak perlu supaya nggak ribut, ketika adik di belikan celana dalam baru atau si kakak di belikan tas baru, saudaranya dapat sekalian. Nggak perlu. Nggak perlu juga yang satu di cipika-cipiki, satu (atau lima) nya lagi diperlakukan yang sama. Siapa tau kakak mungkin suka di cium, adik suka nya di peluk, adiknya satu lagi sukanya di gelitikin, satu lagi cukup dengan di elus2 kepala nya sudah merasa di sayang. Justru, kalau semua dapat perlakukan yang sama, nggak adil. Wong adiknya nggak suka di cium. Masing-masing manusia memiliki preferensi yang berbeda-beda. Yang kembar saja kadang nggak sama, apalagi yang nggak kembar.
Jadi bagi yang sudah terlanjur, ayo berubah. Rubah cara perlakuan dan sempatkan waktu untuk membahas ini bagi anak-anak yang sudah keburu salah paham. Bahwa adil bukan semua diperlakukan secara sama atau di berikan hal yang sama, pada waktu yang sama, tapi di penuhi kebutuhannya, di saat butuh, dalam jumlah yang cukup. Apakah itu kaos dalam, biaya, juga waktu. Diberikan ketika butuh, dalam jumlah yang cukup. Kalau pas lagi nggak butuh, buat apa? Malah tidak terasa adilnya.

Tetep manyun? Tak apa. Itu konsekuensi bagi kita yang sudah mengajarkan konsep adil secara salah. Kalau kata bu elly kan tidak ada kata terlambat selama nafas masih di badan. Jadi luruskan, berlakukan, sebelum salah tujuh (belas) turunan. Yang punya anak satu, nggak perlu belajar konsep ini dong? Ya nggak juga, adil kan universal. Malah kita sering banget nggak adil sama pasangan. Sudah sama anak/kerjaan sepanjang hari, pasangan kita tidak dapat hak diri kita atas mereka . Padahal melalui kisah, Rasulullah pun sudah mengingatkan agar kita tidak melakukan hal ini.
Berpuluh-puluh ayat tentang keadilan ada di dalam al-quran seharusnya menjadi pengingat untuk kita agar terus menerus berlaku adil. “Hiduplah sedemikian rupa agar ketika anak kita berpikir tentang keadilan, kebaikan dan integritas, mereka akan mengingat kita” -Jackson Brown, Jr.
Berlaku adil lah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa (Q.S 5.8). Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang Adil (Q.S 5.42)
#sarrarisman

*jika dirasa manfaat, tidak perlu izin untuk membagikan artikel ini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s