Double Standart

Apa yang terjadi bila dalam sebuah agama, ada 2 sesembahan utama. Tuhan A bilang boleh makan babi, Tuhan B bilang tidak? Apa yang terjadi bila dalam sebuah negara jika ada 2 presiden. Presiden 1 bilang bensin naik, presiden 2 keukeuh bensin diturunkan harganya demi kemaslahatan rakyat? Apa yang terjadi bila dalam sebuah sekolah ada 2 kepala, Bapak Y bilang libur, Ibu X bilang masuk? Jawabannya sama dengan apabila di dalam sebuah rumah, ada 2 suara. ayah bilang A, ibu melarangnya. Atau ibu bilang tidak boleh B, nenek tetap melakukannya. Atau Mbak suruh C padahal anak tau ayah ibu tidak suka. 
Kebingungan jiwa ini menyebabkan kebingungan perilaku, sehingga anak bisa berperilaku berbeda di tempat-tempat yang berbeda. Bahasa sunda nya: Double Standard.

Double standard adalah di mana ada standar ganda, 2 peraturan yang kadang saling bersebrangan yang diberlakukan pada anak, oleh 2 orang yang berbeda (namun sama pentingnya dalam hidup anak) dalam 1 hal yang sama. Bingung? Saya tahu.
Saya kasih dua contoh:

1. Ada seorang anak berusia 4th mengambil bantal dan memukulkannya ke kepala neneknya. Di bentak oleh ayahnya. Di bela oleh ibunya dengan mengatakan anak tersebut belum paham karena masih kecil. Beberapa bulan kemudian, dia merampas dengan kasar kacamata yang sedang di pakai oleh om nya. Ayahnya kembali marah, ibunya kembali membela sambil memeluk-meluknya. Setahun kemudian, dia mengambil gagang balon yang tajam dan menusukkannya ke mata seorang anak yang sedang bertamu. Karena anak tamu itu sampai harus dilarikan ke rumah sakit, ayahnya begitu marah dan memukulnya. Ibu…? Kembali membela sampai nangis-nangis, memeluk-meluk anak tersebut sambil membentak2 ayahnya. 
2. Ibu memberlakukan peraturan ‘1 permen 1 hari’ untuk semua anak-anaknya dengan penjelasan panjang dan komprehensif mengenai diabetes dan semua bahaya yang bisa ditimbulkan oleh makanan-makanan manis. Dan di tutup dengan ‘mama ngelarang kamu karena mama sayang sama kamu’. Namun setiap wiken di rumah nenek, nenek kasih lebih dari 5 permen. Ketika sang ibu dari anak tersebut menolak dengan mengutarakan peraturan di rumahnya, si nenek menjawab ‘ah, ayahmu nenek kasih permen tanpa batas, nggak diabet tuh sampe sekarang’. 
Apa yang terjadi biasanya pada anak-anak yang diasuh dengan cara seperti kasus 1 adalah, dia akan menjadi manis di rumah, agar damai di bawah kekuasaan ayahnya, namun akan menjadi ‘iblis’ di luar rumah karena pada hakikatnya dia tidak mengerti sebetulnya berperilaku sopan atau menyakitkan orang itu boleh atau tidak? Karena selama ini, kalau dia berperilaku begitu, ibu selalu membela nya. Ibumu, ibumu, ibumu kan? Jadi nggak mungkin kan ibu membela kalau memang itu perilaku tidak baik. Jadi aslinya boleh kan nusuk-nusukin benda tajam ke mata orang.. wong ibu aja bela pas ayah marahin.
Mirip dengan kasus 2, anak akan bingung terhadap peraturan yang berlawanan itu karena dia juga diajarkan bahwa nenek menyayangi cucu nya. Tapi kok nenek kasih 5 permen? Dan ayah yang di besarkan tanpa batasan makanan manis, nggak diabet. Ini siapa aslinya nggak sayang? Karena nggak mungkin sama-sama sayang tapi peraturannya bersebrangan. apa mama bohong tentang diabet? Usia 5, soal permen. Usia 15.. dia jadi ragu akan larangan ibunya tentang pacaran, seks bebas, narkoba dan segambreng hal lainnya yang dihadapi oleh remaja seusianya. 
Diatas itu cuma contoh. Perbedaannya bisa soal apa saja: lama berlayar di gadget, soal main dengan tetangga dan apa saja yang bersebrangan dalam pengasuhan seorang anak. Bisa antar orangtua, bisa antar orangtua-nenekkakek, orangtua vs mba di rumah, atau siapa saja.
Lalu bagaimana?
Satukan suara. Hanya boleh 1 suara saja dalam pengasuhan. Pengasuhan bukan paduan suara yang kalau ada suara 1, 2, dan 3 malah justru lebih indah. Perbedaan peraturan bukan saja membuat otak anak bingung, tapi jiwa mereka juga. Jika anda berselisih paham dengan pihak lain (suami/istri/mertua/pembantu, dll) dalam pengasuhan anak anda, hal tersebut HARUS dipecahkan ‘dibelakang layar’. Sama seperti sandiwara, penonton hanya melihat hasil akhirnya saja. Perselisihan antara aktor dan sutradara tidak ikut di pertontonkan di atas panggung depan pemirsa. Lebih parah dari penonton sandiwara, anak-anak meniru. Mereka meniru perilaku kita sekarang, dan pengasuhan kita kelak ke anak-anak mereka pula.
Anak-anak berstandar ganda ini seperti orang munafik. Mereka lebih bahaya karena akan jauh lebih sulit di deteksi daripada anak-anak yang sudah jelas nakal di dalam dan di luar rumah karena mereka bermuka dua. Di rumah tampak baik-baik saja, di luar tidak terdefinisikan kata-kata.
Pastikan mereka tahu ‘who’s the boss’. Harus jelas bagi mereka peraturan siapa yang berlaku, dan peraturan tersebut berlaku di mana saja, kapan saja, sama. Sama seperti Allah dan Rasulnya yang ayat dan perkataannya saling mendukung dan melengkapi. Bukan yang satu suruh ke kanan, yang satu ke kiri. Hanya ada 1 raja, 1 presiden dan 1 kepala sekolah. Mereka yang dibawahnya semua satu suara. Jadi yang jadi hamba, rakyat dan murid tidak bingung harus bagaimana.
Jika saya dan suami saya berselisih pendapat, saya biarkan anak-anak mengikuti peraturan dia dulu, agar mereka tidak bingung, nanti setelah waktunya pas, saya tarik ayahnya ke kamar dan diskusi… agar lain kali tidak terulang, lalu kami harus menyamakan suara lagi. Bila berbeda prinsip dengan orangtua atau mertua saya cari cara untuk mengutarakan dengan sopan pada mereka tentang peraturan saya dan lalu saya dengan keras kepala memberlakukannya. Karena kalau kelak anak saya ‘rusak’, mereka tidak akan cukup usia untuk membantu membetulkan , bahkan belum tentu sempat melihat kerusakan yang mereka lakukan karena 2 suara. Kalau pembantu mah kan lebih mudah. Tegur saja. Kalau tidak mau ikut peraturan rumah.. ya berhentilah. Begitu pula dengan sekolah. Mungkin selain ibu ketua pomg, saya orangtua yang paling sering mampir menyatukan suara. 
Ngeri betul dampak pengasuhan ganda seperti ini, dan bila sudah kadung bermuka ‘multi’, khawatir tidak ada yang bisa dilakukan lagi.

Naudzubillahi min dzalik.
-Ambil nada…. Doooooo 

#sarrarisman

*jika dirasa manfaat, tidak perlu izin dalam membagikan tulisan ini

** mohon untuk TIDAK menuliskan pertanyaan di kolom komen, khawatir tidak terbaca sehingga tidak terjawab. Terima kasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s