Selfie, Malu dan Perhatian

Selfie; malu dan perhatian. 
Pekan lalu linimasa dipenuhi diskusi  pro kontra pasal bertebarannya foto-foto selfie dalam kunjungan Raja Salman ke Indonesia. Dari mulai kesakralan protokoler yang makin lama makin lumer, keakraban hingga kontraversi kepatutan selfie di gedung parlemen yang semestinya berwibawa. 

Menurut info statistik dari situs infog.ram ada 1 juta foto selfie diunggah ke internet perhari,  tentu saja foto tersebut diambil di berbagai tempat dari kamar tidur, kamar mandi, pasar, tempat hiburan, tempat peribadatan hingga istana negara. 

Seorang psikolog Prancis Elsa Godart peneliti fenomena selfie atau di Kanada disebut sebagai “egoportrait” atau potret ego, mengatakan bahwa masyarakat modern saat ini terperangkap dalam dalam keadaan krisis keremajaan . Hal itu menurut Godart diindikasikan dari adanya 1 juta selfie yang diproduksi setiap hari yang menurutnya adalah salah satu tanda dari kegalauan dan sikap mempertanyakan identitas diri sendiri yang merupakan karakter anak usia remaja. Dan ternyata yang terjebak candu potret ego ini bukan hanya anak-anak usia belasan, tapi orang tua, bahkan ada yang sudah bergelar kakek ataupun nenek, orang tua yang mungkin terperangkap dengan peterpan dan cinderella syndrome . 

Kebanyakan hasil jepretan selfie tentunya akan menghiasi lini masa dan berlanjut ke pujian dari orang yang melihat foto selfie tersebut. Banyak orang lupa, bahwa disamping ajaran agama tentang menundukkan pandangan (ghaddul bashar), juga foto selfie yang sudah dipublikasikan di dunia maya bukan lagi milik si model, tetapi sudah menjadi milik umum dan jangan aneh kalau banyak foto selfie wanita bahkan yang berhijab sekali pun berpindah dari hp ke hp, berupa meme lucu, meme genit ataupun konyol sampai iklan produk, yang pastinya tanpa seizin si pemilik. 

Dalam keadaan yang lebih ekstrim, bahkan anak-anak umur belasan sudah banyak yang bertukar foto selfie nir busana dengan pacar masing-masing, yang berujung ke acting out. 

Apabila kita cermati lebih lanjut,  fenomena selfie bisa  dari dua krisis yang sangat mendasar:
Pertama : Krisis rasa malu. 

Betul apa yang Baginda Nabi Muhammad SAW katakan :” apabila engkau tidak malu, maka berbuat lah sesukamu..”. 

Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah menyatakan adanya keterikatan antara Al haya (malu)  dan Al hayah (kehidupan) karena hati akan hidup dengan adanya rasa malu, sebaiknya ia akan mati dengan punahnya rasa malu. 

Rasa malu ( al-haya ) yang merupakan ciri dari manusia beriman, lahir dari sebuah proses pengasuhan dan pendidikan yang panjang secara langsung maupun tidak langsung. 

Tentunya malu yang paling utama adalah malu kepada Allah, malu jika ketaatan yang didefinisikan hanya untukNya harus diumumkan di lini masa medsos, lengkap dengan selfienya. 

Orang yang terdidik rasa malunya akan malu untuk berbagi hal yang sangat pribadi dan intimate,  dan bentuk narasi apalagi visual. 
Pendidikan rasa malu berawal dari rumah misalnya dalam  berpakaian, atau dalam tontonan yang menjadi konsumsi seisi rumah. Hal ini sudah lama menjadi focus ajaran Islam, konsep aurat yang bisa dialih bahasakan dengan kemaluan ( private parts ) menjadi bimbingan dasar pembangunan sikap malu.  

Bahkan dalam hubungan antara orang tua dan anak AlQuran memberikan tiga waktu privasi yang melarang anak untuk masuk ke kamar orang tua, waktu tersebut adalah , sebelum shubuh, setelah zhuhur dan setelah ‘isya ( An Nuur 58). 

Tentu saja ada pengecualian dalam rasa malu yang kita bicarakan di atas, yaitu rasa malu untuk berkata benar seperti dicontohkan oleh Rasulullah SAW ketika menolak permintaan Usamah Bin Zaid RA yang ia cintai untuk meringankan hukuman seorang bangsawan . Tidak juga rasa malu dalam menuntut ilmu, sebagaimana Rasulullah SAW memuji Ummu Sulaim Al anshariyah RA yang bertanya pertanyaan sénsitif tentang kewanitaan. Ataupun rasa malu untuk memerintahkan yang baik dan melarang yang munkar. 

Kedua : krisis perhatian. 

Tidak bisa dinafikan, fitrah sebagai manusia adalah suka untuk dianggap, dipuji dan diperhatikan oleh orang tersayang.

perhatian adalah kehadiran secara fisik dan jiwa yang tidak bisa diganti atau dikompensasikan dengan apapun. 

Ketika seorang istri puas dipuji “cantik” oleh suami, atau seorang anak dipuji ganteng atau cantik, maka istri atau anak (khususnya anak perempuan) tidak akan mencari pujian dari orang lain. 

Maka tugas para ayah dan suami khususnya, untuk lebih memberikan perhatian dan pujian ke pasangan dan anak-anak sehingga di dunia maya mereka tidak mencari perhatian dan pujian dari yang lain, karena sudah terpenuhi di rumah. 

@faisalsundani 

#Fatherhood #TarbiyahPubertas 

#SelfReminder

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s