​Yuk temukan dan ajarkan kembali : “Keterampilan yang Hilang” dari ananda.

Yuk temukan dan ajarkan kembali : “Keterampilan yang Hilang” dari ananda.
Bobby  : Niif… ayo Nif, jangan jadi pengecut dong kamu.. semua sudah coba tinggal kamu  doang yang belum..

Hanif    :Aku gak mau, mau apa kalian..? Kalau kalian mau ya udah..  pokoknya aku    nggak mau! 

Irfan    :  Heeh  Nif.. kalau kamu gak mau ganti aja deh namamu, jangan Hanif..hanifah aja sekalian!

Teman teman yang lain serentak ketawa..

Omar : Gini Nif, ini nih kejadiannya cuman sebentar.. tapi seru tahu gak loh. Soalnya lo bisa ngerasain bagaimana mati itu gak berasa apa apa apa dan “fly” gitu tahu!. Waktu bangun lagi lo gak sadar semua yang terjadi.. Asik khan ?
Hanif  : Terdiam dan memandang temannya satu satu

Jon Jon : Heh Nif, Omar bener .. kalau kamu gak coba pasti kamu penasaran khan? Cuman kamu doang yang belum nyobain ya khan?? Udahlah gak usah takut cuman sebentar aja..ya?!    

Teman yang lain bergantian : Hayoo hanif .ayo. … Hayoo Hanif.. Hayoo

Hanif mulai merasa tertekan dan kehabisan alasan, teman temannya ‘melihat’ hal ini.

Luthfi : Kita itung mundur aja ya Nif : disambut oleh teman yang lain dan mereka secara serentak mulai menghitung mundur 10-9-8-7-6 dstnya  SATU !!

Hanif yang lagi duduk jongkok dipaksa berdiri dan bersender didinding, lalu segera dua teman menekan dadanya ada yang satu orang berdiri disamping  menjaga jangan sampai dia terjatuh lansung kelantai dan mejaga kepalanya agar tidak terbentur. 
Teman teman tentu sudah dengar, sudah dapat foto dan mungkin juga video permainan ini bukan?

Ternyata “Skip Challenge” ini bukan saja sudah popular beberapa tahun yang lalu di US dengan nama “Choking Game” atau  “Pass Out Chellenge” tapi juga sudah pernah terjadi di Indonesia sekitar  20 -25 tahun yang lalu, menurut menantu saya.

Di US permainan ini telah merenggut nyawa seorang anak laki laki berusia 11 tahun dan seorang remaja David Nuno yang menghembuskan nafas terakhir setelah pendarahan hebat karena ia tak sengaja  membentur kaca, dan melukai dirinya sendiri. Setelah itu teman temannya melakukan kampanye anti permainan ini.
Permainan permainan seperti ini menurut hemat saya akan berkembang terus dan akan meningkat frekuensi kemunculannya dan juga tingkat kekejamannya.Hal ini tentu disebabkan oleh berbagai hal, termasuk mungkin kerusakan otak dan jiwa penciptanya  dan dipermudah serta diperluas penyebarannya oleh tersedianya internet dan social media.

 Dari sisi keluarga, berkurangnya waktu untuk bersama anak, komunikasi yang menjadi sangat terbatas, sehingga anak anak merasa  kesepian, lonely, tidak berharga, kehilangan ikatan dan kehangatan dan merasa tidak diperdulikan baik fisik apalagi perasaan mereka .

Keseluruhan keadaan ini membuka peluang besar bagi anak anak untuk mencari jalan”EXIT” dari beban rasa yang nyaris tak tertanggungkan dengan  menganiaya dirinya sendiri menggunakan : narkoba, melukai dan menyakiti diri dengan menyayat tubuhnya, pornografi bahkan bunuh diri.
Beberapa tahun yang lalu saya menghadapi beberapa anak  seperti tersebut diatas, antara lain  menyayat tangannya dengan pisau cukur ayahnya, lalu setelah keluar darah dikirimkan ke pacarnya untuk protes mengapa tidak membalas pesan yang dikirimkannya.Sesederhana itu dan  itu salah satu saja. Dari merekalah saya ketahui  bahwa kegiatan seperti ini  ada grup musiknya, ada lagunya dan ada support grupnya di internet. 

Jadi tidak lah salah kalau hampir bersamaan dengan permainan “Skip Challenge” ini, sos-med meributkan pula hal lain yang lebih gempar : yaitu  Game yang mengajak BUNUH DIRI!.

Seperti yang dilansir oleh salah satu portal berita Indonesia  beberapa hari yang lalu, game bunuh diri ini menjanjikan  anak anak yang mau mengikuti permainan selama 50 hari ini dapat mengakhirinya hidupnya dengan apa yang disebut penciptanya: ”Died Happy!”

Pembuat game ini yang sekarang tersangka di Rusia karena berhasil membuat 17 remaja bunuh diri, mengatakan bahwa anak anak itu bersedia melakukan bunuh diri karena dia meyakinkan anak anak ini  mereka  akan memperoleh  apa yang selama didunia ini tidak mereka dapatkan, yaitu : Warm, Understanding dan Connection!

Websitenya telah di ‘download’ lebih dari 100 juta kali. Bukan itu saja, kalau anak akan melakukan bunuh diri maka tugas akhirnya adalah memposting dulu gambar ikan yang jadi Icon dari games ini sebagai tanda dia akan melakukan tugas akhirnya :BUNUH DIRI!.

 

Jadi bagaimana dengan kita?.
Marilah kita menengok kedalam diri kita masing masing , bagaimana cara yang kita gunakan selama ini dalam  mengasuh anak anak kita.

Saya teringat penjelasan dari seorang penulis yang bukunya sangat mengejutkan jiwa saya 12 tahun yang lalu: 2005!. Buku itu berjudul : “The Epidemic”, yang ditulis oleh Robert Shaw MD. 

Dalam pengantar bukunya itu Dr Shaw mengatakan bahwa kondisi anak anak saat itu sudah merupakan epidemic  yaitu : Anak anak yang wajahnya  merengut atau cemberut, kesal, kesepian, sikapnya tidak menyenangkan, sarat beban  dan jelas nampak tidak bahagia..  Dr Shaw melanjutkan bahwa kondisi ini di temukannya diberbagai tempat, ya di toko, dijalan, direstauran, di rumah orang dimana mana .. 

Keadaan anak anak  ini menurut Dr Shaw  berada di tahap  awal apa yang dia sebut sebagai “serious epidemic” yang berisi anak anak yang “terganggu” yang diujung perkembangannya nanti  bisa saja menjadi penembak kawannya sendiri, seperti apa yang terjadi di Columbine High School, Litterton – Colorado 1999.
 Saat itu, saya sudah gusar, karena fenomena awal yang digambarkan Dr Shaw  itu bukan saja terjadi di Amerika, tetapi didepan mata,  disini di negeri kita!.
Mereka ini menurut Dr Shaw bukanlah suatu penyimpangan melainkan adalah hasil alami dari cara pengasuhan yang kita lakukan yang membuat anak hidup dalam kenyamanan atau ke’makmur’an /affluent.    
Sekali  lagi marilah kita menengok kedalam diri kita sendiri sebagai orang tua, apakah kita mengasuh anak kita seperti yang diungkapkan oleh Dr Shaw diatas?..Apakah kita telah memenuhi kebutuhan dasar anak kita  berupa: Perhatian, Kasih sayang, Kehangatan, Pengertian dan Kebersamaan… serta sejuta kebutuhan jiwa lainnya?.

Bukankah sipencipta games bunuh diri diatas  telah melakukan penelitian, sehingga menemukan kebutuhan dasar dari anak kita yang tidak terpenuhi  untuk dia gunakan menjual produknya?.
Tentu itu memerlukan waktu panjang untuk menemukan masalah masalah dalam keluarga kita masing masing, membicarakannya dengan pasangan dan memulai memperbaikinya pelan pelan.

Tapi, kita harus bersegera menghadapi masalah yang sekarang ini sedang berlangsung disekitar anak kita.

Berikut  saran saya.

1. Tingkatkan lah dialog lebih dulu. Mulailah dengan belajar membaca bahasa tubuh anak kita, menebak perasaannya dan namakan, seperti yang sudah berulang ulang saya tulis dan sampaikan dalam seminar seminar saya. Ini  salah satu cara paling efektif bagi  kita untuk mendekatkan diri pada anak anak.  

2. Ciptakanlah suasana yang santai mulailah percakapan dengan hal hal yang umum, khususnya dengan apa yang terjadi hari itu pada anak dan bicaralah seputar perasaannya.

3. Lanjutkan  bercerita tentang kasus diatas : “Skip Callenge”. Anda bisa mengatakan bahwa anda mendengar sudah  banyak anak anak disekolah atau disekitar tempat tinggal teman kantor  anda melakukannya. Tanyakan pengalamannya dan bagaimana perasaan dan sikapnya.

4. Apakah dia pernah diajak, dipaksa oleh temannya untuk melakukan hal serupa? Bagaimana dan apa yang dia lakukan?.

5. Kita sering menemukan bahwa anak kita sebenarnya sudah mencoba untuk bertahan dalam menghadapi teman temannya untuk tidak ikut ikutan melakukan sesuatu. Kemudian dia akhirnya menyerah seperti kasus Hanif diatas.Dalam hal inilah kita harus menemukan : Ketrampilan apa yang hilang pada anak kita sehingga dia menyerah.

6. Caranya adalah dengan melakukan dialog. Sebaiknya dialog ini dilakukan oleh ayah dari pada oleh ibu. Dengan perlahan kita membantu anak untuk menguraikan situasi dengan bertahap.Mulai dengan menanyakan awal kejadian sebelum semuanya terjadi. Misalnya: jadi dalam keadaan apa awalnya semua itu terjadi? Anak akan menjelaskan bahwa dia sedang bermain main dengan temannya dan kemudian ada beberapa anak memulai permainan tersebut, seperti yang digambarkan diatas. Sampai di titik dia dipaksa oleh semua teman temannya sehingga dia akhirnya menyerah.

7. Tanyakan mengapa dia menyerah, dan apa yang menurutnya harusnya dia lakukan dan mengapa dia tidak melakukannya. Jawabannya itulah yang kita sebut sebagai : “Ketrampilan yang hilang “. Pastikan dia memahaminya ada ketrampilan yang hilang dalam situasi itu yang seharusnya tidak boleh terjadi dan terulang dimasa yang akan datang.                                             Kemudian kita minta dia mengatakan ketrampilan itu sekali lagi, misalnya :”Seharusnya aku minta maaf baik baik dan berani lari, nerobos teman temanku  dan minta pertolongan orang dewasa yang ada disekitar situ, bapak  atau ibu guru, petugas sekolah atau siapa saja.

8. Sambut pernyataannya dengan anthusias dan katakan :”Nah itu yang harus kamu lakukan !” Pintar anak ayah .

9. “Role Play” kan!  

Banyak sekali orang tua kurang faham bahwa instruksi atau kata penyemangat saja bukan hanya bagi anak anak bahkan bagi remaja kurang KONKRIT dan tidak mudah diterapkan. Misalnya: “Kamu harus berani, nekad lari.. lapor guru atau siapa kek!”  Ditambah : “ Ayah yakin anak ayah pasti Bisa?” dalam otak anak :”Huh, bagaimana caranya ?.Gak tahu aja !”

Jadi PERAGAKAN – BUAT ROLE PLAYNYA .
Mengapa perlu Role Play?

1. Kita membangun kemampuan itu dalam diri anak karena kita tidak selamanya ada bersama mereka.

2. Seperti yang saya kemukakan diatas, kemungkinan hal serupa terjadi, dalam bentuk yang lebih beragam dan lebih kejam.

3. Anak harus memiliki “internal control” bukan external control.

4. Bila dialog dibuka, maka anak akan lapor apa yang dia alami sehingga kita bisa menindak lanjuti.
Bagaimana melakukan Role Play tersebut?

Caranya adalah dengan menciptakan situasi yang mirip dengan apa yang dihadapi anak. 

– Misalnya kita panggil ibunya, pembantu atau supir dan adik serta  kakaknya, untuk berperan sebagai teman temannya.

– Lalu kita ulang apa yang terjadi, dimana masing masing pemeran memainkan perannya dan mengucapkan kata kata seperti yang dilakukan teman temannya anak dalam dialog diatas.

– Minta anak untuk melakukan apa yang seharusnya dia lakukan yaitu : minta maaf dan menerobos serta melaporkan pada orang dewasa yang berada disekitar.

– Bila perlu anak melakukannya beberapa kali sehingga dia merasa yakin dan mampu

– Kita harus membantu meyakinkan bahwa dia bisa dengan kata yang positif dan menyemangati

– Kemudian membicarakan bagaimana kalau setelah itu dia di”tekan” oleh teman temannya. Prosesnya ulang semua dari awal lagi.
Begitulah teman teman, kita harus tetap berupaya untuk memantau perasaan dan pengalaman anak anak kita setiap hari. Semakin cepat kita  mendeteksi apa yang dia alami, semakin  cepat pula kita menemukan dan melatih bila aaketrampilan baru yang hilag atau yang belum dia miliki.

 

Perubahan terlalu cepat, mari berlari mendampingi anak anak kita dalam kehidupan yang semakin majemuk ini. Jangan lalai dan jangan abai, karena kita lah yang menerima amanah yang suatu hari nanti harus kita pertanggung jawabkan.
Bekasi, 12 Maret 2017

Elly Risman

# Parentingeradigital

Bila anda anggap bermanfaat, tak perlu minta izin bahkan saya mengucapkan terima kasih bila anda berkenan men-share seluas luasnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s