Konsentrasi Belajar& Sensitifitas Sosial

​Konsentrasi belajar dan sensitifitas sosial
Mungkin anda familiar dengan ungkapan:”… nak yang penting kamu konsentrasi belajar aja,  urusan rumah dan lain-lain gak usah di fikirin..” atau “… nak kewajiban kamu cuma belajar dan mengejar cita-cita, semuanya sudah ada yang menguruskan “.. Atau sebangsanya.  Dalam bahasa Sunda ada istilah” peupeuriheun bapak ” yang mungkin maknanya yang sesuai dalam bahasa Indonesia adalah ”  jangan sampai  kayak bapak yang dulu tidak mampu.. “. Banyak yang seperti itu dalam khazanah narasi ayah ke anak atau ibu ke anak dalam tradisi kita yang intinya menekankan bahwa tugas anak hanya belajar dan belajar. 

Betulkah? 

Betulkah seorang anak tidak perlu untuk disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan pengurusan rumah?, keterampilan hidup?, tanggungjawab?, keberdikarian secara ekonomi?, time management?, kesensitifan sosial? 

Kita lupa bahwa kehidupan seorang anak bukan hanya di aspek intelektualitas, seorang anak tidak hanya bisa menghadapi masa depan “hanya”  berbekal ilmu. 

Mungkin masih banyak di antara kita yang merasa impian akademisnya masih belum terlaksana,  sehingga mewariskan impian itu ke anak-anak. Atau mungkin lupa bahwa suatu saat kita sebagai orang tua akan dipanggil terlebih dahulu olehNya,  sehingga lupa bahwa anak kita harus belajar untuk hidup mandiri apalagi zaman yang akan ia hadapi lebih kompleks dan lebih gila dari zaman yang kita hadapi saat ini. 

Bila kita buka lembaran biografi ulama-ulama sukses terdahulu,  mereka juga belajar sambil bekerja, bahkan Imam Nawawi diriwayatkan bahwa ia menjaga warung orang tuanya, atau bahkan Syeikh Albani yang bekerja sebagai tukang servis jam tangan sementara beliau menggali ilmu hadist. 

Anak-anak harus diajarkan cara membagi waktu, karena hidup bukan hanya akademis, dan masa depan penuh memerlukan orang yang bisa membagi waktu dengan baik. 

Ketrampilan hidup, ketrampilan keluarga, tanggungjawab, berdikari maupun kesensitifan sosial tidak bisa tumbuh begitu saja tanpa dilatih. 

Bagaimana anda ingin menumbuhkan kesensitifan anak, jika anak dibiarkan untuk berada di kamar yang ber a/c tanpa rasa bersalah sementara ibunya berpanas-panas di depan kompor menyiapkan masakan untuk keluarga?, atau ayahnya susah payah membetulkan saluran air yang mampet?. 

Bukankah kita semua suka mempunyai menantu perempuan yang terampil di dapur juga pandai membagi waktu, atau menantu lelaki yang meringankan beban istri di rumah?. Ingatlah anak-anak kita kelak akan menjadi suami, istri,  menantu dan bahkan orangtua. 

Wahai ayah dan ibu, anak anda tidak akan terganggu cita-citanya menjadi seorang ilmuwan hanya karena waktu belajarnya terpotong satu dua jam untuk membantu ibu di rumah,  atau bahkan ayah di tempat kerja.  Memberikan anak-anak privilege waktu murni untuk belajar tanpa tanpa diganggu tugas apapun hanya akan menghasilkan kaum intelek yang hidupnya hanya di lembaran-lembaran buku jauh dari kesensitifan sosial. 

Sama seperti tanggung jawab seorang anak terhadap perintah agama dan juga intelektualitas, sensitifitas perlu diasah dan terus  dilatih satu paket dalam pendidikan pubertas anak. 

Ini adalah sebuah #SelfReminder bagi saya,  semoga bermanfaat buat yang lain. 
@faisalsundani

#SelfReminder #TarbiyahPubertas #Fatherhood

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s