Serunya Bermain Bersama Buah Hati

Bismillahrrahmanirrahim
☘Resume kulwap 21 Parenting United☘
πŸ—“Hari/Tgl: *Jum’at, 27 Jan 2017*

Waktu: *Pukul 14.00 Wib*
Tema: *Serunya Bermain Bersama Buah Hati*

Nara sumber: *Julia Sarah Rangkuti*
Profil Nara sumber :

Julia Sarah, terlahir di kota Jakarta, pada tanggal 7 Juli. Masa TK hingga SMA ia habiskan di ibu kota, kemudian ia melanjutkan studi sarjananya di Universitas Indonesia. Selama sekolah dan kuliah, ia aktif di berbagai kegiatan. 
Kesukaannya pada dunia tulis-menulis membuatnya didapuk sebagai editor serta Pemimpin Umum Koran Kampus yang diterbitkan oleh SALAM UI. Minatnya yang besar pada bidang pemberdayaan sosial, menggerakannya untuk bergabung di NGO Internasional, Dompet Dhuafa. Selain itu, ketertarikannya pada dunia parenting dan anak-anak juga sempat mengantarkannya menjadi guru TK di daerah Sawangan, Depok. Ia juga mengikuti program Diploma Montessori di Sunshine Teacher’s Training serta Akademi Keluarga, Parenting Nabawiyah di Depok di bawah asuhan Ust. Budi Ashari.
Kini, selain aktif menjadi full time mother bagi kedua buah hatinya, Kenzie Syafiq Arrash Rabbani (lahir pada 15 Juli 2013) dan Keysha Tsabita Arsya Rabbani (lahir pada 7 Februari 2015), Ia juga menyibukkan diri dengan menulis buku-buku berikutnya serta mengisi kuliah parenting, baik offline maupun online. Sarah, begitu ia akrab disapa, kini bersama suaminya-Agus Sugito, sedang menerapkan program home education untuk buah hati mereka. Ia juga mendirikan komunitas Rumah Main Anak sebagai sarana untuk mengajak para ibu di seluruh penjuru negeri agar turut berperan aktif dalam membersamai tumbuh kembang buah hatinya. Mengajak para ibu untuk berusaha optimal bermain dan belajar bersama putra-putrinya sesuai dengan tahapan tumbuh kembang anak. Buku pertamanya yang terbit Desember 2015 berjudul Rumah Main Anak telah sukses terbit dan hingga hari ini telah tersebar sebanyak 18.000 buku di penjuru Tanah Air, sedangkan buku Rumah Main Anak 2 telah tersebar lebih dari 8.000 buku sejak terbit Agustus 2016 lalu. Do’akan semoga buku-buku selanjutnya dapat segera terbit ya, Bunda 😊
Julia Sarah dapat dihubungi di Instagram: @juliasarahrangkuti 

FB: Julia Sarah Rangkuti atau melalui email:  sarahkenzie.js@gmail.com
Moderator : Ibu Tiena 

Co-moderator :Ibu Amelia Zen 

Peresume : Rachmatia
πŸ“–πŸ“– Materi πŸ“–πŸ“–
Serunya Bermain Bersama Buah Hati
Di kota Madinah, ada seorang anak kecil bernama Umair. Ia selalu bermain dengan burung pipit. Rasulullah saw menamai burung itu dengan al-nughair (anak burung pipit). Setiap kali melihat Umair, Nabi berkata, β€œWahai Umair, apa yang dilakukan oleh al-nughair?” Sampai suatu ketika Nabi melihat Umair sedang menangis. Beliau pun bertanya, β€œmengapa engkau menangis wahai Umair?” β€œYa Rasulullah, al-nughair telah mati,” jawab Umair. Maka Nabi saw duduk sejenak mengajaknya bermain. Para sahabat yang lewat melihat Rasulullah saw bermain dengan Umair. Beliau berkata pada mereka, β€œal-nughair telah mati, karenanya aku ingin menghibur Umair.” (HR Bukhari 6203)
Bunda, betapa indahnya akhlak Rasulullah saw. Beliau mengajarkan kita santunnya akhlak pada anak-anak. Sungguh hal yang luar biasa dan patutlah kiranya menjadi cermin bagi kita semua untuk meneladani sosok Beliau, bahwa MEMBERSAMAI si kecil dalam dunia bermainnya JAUH LEBIH PENTING daripada permainan itu sendiri.
Siapa di sini yang anak balitanya tidak senang bermaiiiin? Tidak ada, bukan? Semua balita pasti senang bermain. Sebab, bermain memang DUNIA mereka, Bunda.
Saat ini, banyak orangtua yang berusaha memberikan yang terbaik untuk buah hatinya, termasuk juga memberikan mainan terbaik. Sayangnya, masih banyak pula orangtua yang hanya berhenti pada titik tersebut. Anak dibelikan beragam mainan namun tidak didampingi saat memainkannya atau tidak diberikan rangsangan lebih, yang dapat menstimulasi perkembangannya. Padahal, melalui kegiatan bermain mereka, anak-anak sedang belajar banyak hal. Dan, kita sebagai orangtua pun bisa memasukkan banyak pelajaran melalui kegiatan bermain.
Bunda, pada tahap anak usia dini, anak-anak sangat peka terhadap penggunaan pancaindra untuk memahami dunia di sekitarnya. Pemberian materi pelajaran akan sangat efektif jika dilakukan secara konkret melalui berbagai alat peraga yang dapat disentuh, dilihat, dicium, didengar, ataupun dirasakan. Jadi, jangan heran Bunda jika anak bayi suka memasukkan segala benda ke dalam mulutnya, misalnya. Sebab, ia sedang memasukkan informasi tentang benda tersebut ke dalam otaknya.
Bunda, agar bermain tak hanya sekadar bermain, kita sebagai orangtua berperan penuh menjadikan kegiatan bermain anak menjadi penuh makna. Ada pembelajaran yang perlu dipahami si kecil. Ada hikmah yang perlu diantarkan ke dalam diri mungilnya. Itulah mengapa, selain anak-anak bermain bebas, orangtua juga perlu merancang kegiatan bermain anak. Jangan sampai setiap hari anak-anak kita hanya bermain gadget atau hanya bermain bola dan boneka setiap saat. Dengan menyiapkan berbagai kegiatan bermain, kita dapat menstimulasi tiap aspek perkembangan si kecil.
Tidak perlu mahal untuk bermain, Bunda. Misalnya, Bunda ingin menstimulasi motorik halus si kecil, Bunda bisa menggunakan kardus bekas, tali sepatu, dan puncher (pembolong kertas) untuk membuat anak belajar β€˜menjahit’. Jika Bunda ingin menstimulasi kemandirian anak, Bunda bisa menggunakan botol, corong, dan gelas untuk si kecil belajar menuang air. Dan banyak lagi benda-benda di rumah yang dapat dpergunakan untuk kegiatan pembelajaran si kecil dalam aktivitas bermainnya.
Apa yang kita butuhkan sebelum mengajak si kecil bermain? Tentunya ilmu perkembangan anak. Dengan mengetahui parameter perkembangan anak, kita dapat menstimulasi perkembangannya dengan lebih tepat sesuai dengan usianya. Contohnya, anak usia 2 tahun diharapkan telah mengenal warna dasar. Maka, kita dapat menstimulasinya dengan permainan matching colour dan sorting colour. Anak usia 4 tahun sudah mampu mengucapkan salam dan menjawab salam, maka kita dapat mengajaknya bermain peran dengan tema β€˜saat bertamu ke rumah nenek’, misalnya.
Lalu, apakah kita perlu merancang aktivitas harian anak? Betul, akan lebih baik jika Bunda menyiapkan minimal satu kegiatan baru untuk anak setiap harinya. Dengan menyiapkan kegiatan yang berbeda-beda, maka kesempatan untuk menstimulasi tiap aspek perkembangan anak bertambah luas.
Dari mana kita dapat mengetahui milestone ini? Bunda bisa googling atau membaca berbagai buku mengenai Child Development. Dalam buku Rumah Main Anak yang saya tulis, saya juga berusaha untuk menjawab pertanyaan para orangtua terkait perkembangan anak dengan  menyertakan parameter perkembangan anak 0-6 tahun, Kuisioner Pra Skrining untuk mengetahui apakah anak kita bertumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya, juga contoh jadwal harian bermain bersama anak. So, Bunda bisa membacanya juga di sana ☺ 
Sejatinya, sebagai seorang muslim tentunya kita ingin anak-anak kita pun menjadi generasi Rabbani. Anak-anak yang taat pd Allah swt dan mampu bermanfaat utk masyarakat. Maka, alangkah bijaknya jika kita tidak meng-sekularisasi agama dengan pendidikan. Islam adalah payung besar dalam segala aktivitas kita, termasuk juga belajar dan bermain bersama anak. Maka, buatlah juga aktivitas untuk mengenalkan agama Islam kepada anak2 dengan cara yg fun dan menarik.
Selanjutnya, kita diskusi saja yuk Bunda-Bunda pembelajar hebat ^^
Semangat Bermain!

@juliasarahrangkuti
πŸ’πŸ’ Sambutan πŸ’πŸ’
β“‚

Assalamualaikum wrwb Bu Julia
πŸ…Ώ

Wa’alaikumsalam wr. Wb Mba Tiena dan semua 😊
β“‚

Alhamdulillah bunJulia sdh bergabung bersm kita. 
Gmn kbr bun smga sehat selalu ya πŸ’
Sebelumnya kami terima kasih atas kesediaan dan kesempatan dr bunjulia bs sharing ilmunya ttg bermain kpd kami smua ibu2 muda warga PU  πŸ™
πŸ…Ώ

Alhamdulillah sehat Mba 😍😍
Terima kasih juga sudah mengundang singgah di grup ini. Semoga membawa manfaat dan berkah utk kita semua πŸ™πŸ½
β“‚

Aamiinnn.Salam kenal dr kami semua bundjulia.sy Tiena yg bertugas sbg momod hari ini dan bu amel sbgi co momod . U/ibu2 ketje warga PU seluruh indonesia yg sdh ada pertanyaan terkait tema & materi silakan disetor ke bu amel ya @ameli
Baiklah bunjulia kt mulai dgn bismillah dan  langsung masuk ke sesi pertanyaan ya bu ❀
πŸ…Ώ

Siap..

Bismillahirrohmanirrohiim..
β“πŸ’‘Tanya Jawab πŸ’‘β“
Pertanyaan 1⃣:

Apakah dibedakan permainan anak lelaki dan perempuan?terus apakah pendapat ibu tentang mainan edukasi yg ada di layar (hp dan vcd)

#Gita listyawati/PU banten#
Jawaban πŸ…Ώ:

Halo, Mba Gita..

sebenarnya permainan itu sendiri bersifat netral ya, Bun. Anak saya, Kenzie (lk), saat usia 1y sukaaa sekali ‘kitchen band’ sambil nemenin saya masak πŸ˜‹ tp skrg usia 3,5y sukanya main perang2an πŸ˜…
Yg perlu kita ketahui, anak usia satu tahun suka sekali mengimitasi sesuatu dr lingkungannya. Kalau yg sehari2 ia lihat ibunya asyik masak dengan panci, penggorengan, dll, ia pun ingin merasakan hal yg sama. Jika sehari2 temannya di sekitarnya bermain boneka, maka ia pun akan meniru. Jadi, dalam hal ini sebenarnya anak sedang bermain pura2 (pretend play). Yg perlu diperhatikan, pastikan bahwa ia tetap berperan *sesuai jenis kelaminnya*. Misal, saat anak laki2 main boneka, pastikan ia berperan sebagai AYAH, bukan sebagai ibu. Toh, Ayah juga boleh menggantikan popok anak2nya, menyuapi makan, dll. (Kita seringkali berharap suami kita melakukan hal ini, bukan? πŸ˜‚) Begitu pula saat main masak2an. Pastikan ia tetap menjadi laki2. Toh tukang nasi goreng yg lewat depan rumah juga selalu laki2 πŸ˜†
Begitu pula anak perempuan, boleh2 saja bermain mobil-mobilan juga bermain bola. Namun, agar anak tetap berperilaku sesuai gendernya, sebaiknya kita juga harus tetap memberikan mainan lain yg memunculkan sifat maskulin/femininnya ya. Jangan hanya main boneka setiap hari atau main masak2an setiap waktu utk anak laki2 atau hanya main bola, manjat2, mobil2an utk anak perempuan. Dan tetap berikan aktivitas lain yg bersifat netral sepertibermain puzzle, balok, lego, menuang air, sensory play, dll 😊
β“‚

Msh berlanjut ya bun jawabannya u/pertanyaan 1 ? Klo sdh final jawabannya tolong diberikan tanda πŸ‘πŸΏ ya bund 😘
πŸ…Ώ

Mainan edukasi yg ada di gadget boleh2 saja digunakan asalkan:

1. Anak telah mampu meregulasi dirinya dalam menggunakan gadget (anak usia dini biasanya masih belum bisa meregulasi dirinya seperti orang dewasa, mereka belum bisa “menstop” diri mereka sendiri, sehingga akan menangis jk gadgetnya diambil).

2. Adanya kesepakatan yg jelas ttg penggunaan gadget utk anak (apa yg boleh apa yg tidak). Orangtua juga perlu mengetahui berapa batas waktu yg baik ‘anak memegang gadget’ setiap harinya.

3. Under 2y menurut APA sebaiknya anak tidak terpapar gadget.

4. Gadget bukan satu2nya media yg digunakan utk anak bermain. Pada anak usia dini akan lebih baik jk mereka melakukan aktivitas “hand out”, belajar melalui hal2 yg bisa disentuh, dilihat, dirasakan, dicium, didengar oleh indra2 mereka.

5. Jangan jadikan gadget sebagai teman “pengalih” anak saat orgtua sibuk melakukan sesuatu atau saat anak merajuk. 
(Terkait penggunaan gadget bisa jd materi tersendiri nih 😬)

πŸ‘πŸ»
APA : American Psychological Association 
β–Ά Alhamdulillah sangat mencerahkan sekali…lebih baik anak bermain sendiri atau anak bermain dengan orangtuanya bu julia?
Eh maaf malah bertanya lg…untuk pertanyaan saya sudah cukupπŸ˜„
β“‚

Klo dr materi dr bunjulia td yg sdh dishare diawal *membersamai permainan* sepertinya bermain bersm ortunya cmiiw ya bunsarah
β†ͺπŸ…Ώ:

Dua2nya penting, Mba. Anak bermain dgn orgtua dalam rangka orgtua bisa melihat “kemajuan2 anak” juga memperkuat bonding. Terlebih jika jadwal bermain (sambil belajar) telah terstruktur maka materi pembelajaran bisa lebih beragam (tidak itu2 saja) sehingga membawa kemajuan yg lbh banyak utk anak.
Anak bermain sendiri pun penting dlm rangka meningkatkan kreasi, imajinasi, kreativitas, serta kemandiriannya. Anak2 juga butuh “space” utk melakukan kegiatannya sendiri sesuai dgn yg mereka ingin lakukan. 😊
β–Ά

😍😍😍😍
Pertanyaan 2⃣:

Assalamualaikum bu  julia,saya mau bertanya misal ibu dlm keadaan sakit dan tdk bs menemani anak bermain,apakah ada pengaruh nya apabila ke anak apabila tidak diberikan permainan2 edukasi atau montesori atau stimulasi dlm jngka wktu lama?jd shari2 anak hanya freeplay main mobil2an saja.sblmnya sring disiapkan mainan edukasi.

Lalu pertanyaan selanjutnya apakah misal anak langsung kita masukkan ke tk A pd usia 5..(sblm nya tdk pernah skolah) apakah anak akan tertinggal kemampuannya dg anak lain yg sdh biasa skolah di sebelumnya?(cowok,3tahun)terimakasih

#Annisa PU jatim#
Jawaban πŸ…Ώ: Wa’alaikumsalam wr. wb.. Mba Annisa
Saat saya sakit dan tdk bisa menemani anak bermain, maka anak2 akan lebih banyak bermain sendiri. Aktivitas utk mereka belajar sudah tersedia di rak belajar. Selain itu biasanya jk saya sdg sakit, kami lebih banyak menghabiskan waktu dgn kegiatan yg bisa saya lakukan di kasur, seperti membaca buku 😊
Anak2 saya tipikal yg masih suka belajar dengan dampingan orang lain sehingga jk terus-menerus belajar/bermain sendiri (terlebih jika mainannya itu2 saja) akan cepat ‘bosan’ 😷 Meskipun demikian, ada saatnya anak2 pun suka bermain sendiri, berimajinasi dgn mainan yg ada, berkreativitas dgn alat2 dan bahan yg ada di rumah (biasanya perlengkapan dapur).
Dengan demikian, meskipun saya sdg sakit anak2 bisa tetap belajar secara mandiri dengan pengawasan saya/Ayahnya.
Pengaruhnya jk HS kami tdk berjalan dgn baik ialah pembelajaran2 yg sudah saya susun menjadi stagnan 😬 Jadi “istirahat”nya ga boleh lama2 πŸ˜…
Tertinggal atau tidaknya seorang anak saat akan masuk sekolah tidak bisa hanya dilihat dr usianya. Tapi lebih pd persiapan dan kesiapan anak itu sendiri. Ada banyak hal yg harus diperhatikan saat anak akan sekolah..
Terkait perlu/tidaknya anak masuk PAUD (sekolah utk anak usia dini, apapun namanya), menurut saya sangat kasuistik. Bisa kita lihat dr hal2 berikut:
1. Orangtua (+lingkungan terdekat anak)

Jika orang tua (khususnya ibu) mampu mendidik anak2nya sendiri di rumah, maka akan lebih baik 5 tahun pertama usia anak ‘sekolah di rumah’ bersama orangtuanya. Sekolah di rumah bukan berarti anak hanya di rumah saja ya, tp bisa dikreasikan dgn bbg hal kegiatan: mengunjungi museum, taman, tempat ibadah, pasar, kantor pos, dll.
Namun, byk orgtua yg belum bisa/blm berani utk sepenuhnya memegang pendidikan 5 tahun pertama anaknya di rumah. Ada pula jenis orgtua yg *abai* pd pendidikan anak, tidak mau tahu, tidak peduli, tidak mau belajar, orgtua2 ini menyerahkan sepenuhnya proses pendidikan mereka pd sekolah. Maka, dlm hal ini akan lbh baik jk anak di sekolahkan jk memang ia *tidak akan terdidik di rumahnya sendiri* 
2. Sekolah

Pemilihan sekolah utk anak usia dini bukan hanya melihat bangunan fisiknya saja, tp juga semua stakeholder yg terlibat: guru, visi misi sekolah, kurikulum, metode, gaya, dan jg proses belajar-mengajar, kepala sekolah, penjaga sekolah, petugas kebersihan, dll.
Jika bangunan sekolah oke dan ramah anak, tp kurikulumnya ga ramah anak. Sebaiknya dipikir2 lg.
Ingat2..anak2 usia dini lbh membutuhkan hal2 yg bersifat stimulasi ‘leher ke bawah’ (baca: motorik, sosial-emosi, keterampilan hidup, dan yg penting *iman dan adab*) jd..jika sekolah yg ada ternyata hanya menstimulasi ‘kepala ke atas’ (baca: kognitif, bahasa), maka lebih baik dipikir2 lg. Rezeki itu jk kita bisa menemukan sekolah yg sesuai dgn visi misi keluarga, apalagi jk ramah kantong 😊
3. Kesiapan Anak

Orangtua mau nyekolahin, sekolah yg cocok udh ketemu, tp anaknya belum siap. Nahhh..jangan dipaksa. Tentu tidak fair utk anak *sedini itu* jk melakukan suatu hal krn dipaksa. Soundinglah dr jauh2 hari, libatkan anak dlm pemilihan sekolah, adaptasikan, siapkan! 
Orangtua perlu menyiapkan anak, terutama dalam hal2 kemandirian: sudah lulus TT, bisa merapikan buku, alat tulis, dll. Juga dlm hal2 kematangan emosi: menghargai teman, menghormati guru, tidak berkata kasar, memahami adab izin, dll
Tetap semangat βœ…
β“‚

Masya Allah πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ‘πŸΏ

Berbunga2 hati saya baca pencerahan dr bunjulia atas prtnyaan bu annisa .berasa dibuka pikirannya .smoga ibu2 ketje pu lainnya jg ya 😍
πŸ…Ώ

Aamiin 
β–Ά

Sangat jelas sekali…cukup..πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ‘πŸ‘πŸ‘
Pertanyaan 3⃣:

Saya dan suami hobi sekali mengajak anak2 jalan2 kalau weekend atau libur sekolah. Tujuannya bs kemana saja, spt taman, pantai, gunung, desert (krn kami tinggal di TimTeng), bhkn cm jalan2 naik kereta metro atau bis jg kami jalani. Pokonya lbh byk wisata alam drpd ke mall atau arena bermain spt timezone. Apakah itu termasuk bermain jg, bu? Mengingat anak kami keduanya laki2 dan aktif bergerak. Krn kami jrg membuat eksperimen/permainan edukatif bersama anak spt yg byk dilakukan org tua skrg. Biasanya kalau di rmh, anak2 bermain mobil2an sendiri atau buka2 buku, kdg minta dibacain kdg mrk cm lihat2 saja. Mnrt bu Sarah, permainan terbaik utk anak laki2 itu baiknya spt apa?

#-Dini PU Pusat
Jawaban πŸ…Ώ:

Hai Mba Dini.. seru sekali ya Mbaa bermai di alam langsung. Anak-anak mendapat banyak pelajaran langsung dr alam. Tentu bisa sekali belajar di luar rumah. Sambil main di pantai kita bisa belajar habitat, ekosistem, rantai makanan, binatang laut, kendaraan di laut, sensory play dgn bermain pasir, berenang, sharing mengapa air laut asin, bersosialisasi dgn banyak orang. Main di gunung bisa mentafakuri ciptaan Allah, mengenal jenis tumbuhan dan hewan yg ada di gunung, melatih kesabaran, kekuatan, dan kerjasama, dll. Di taman bisa belajar banyak dgn bermain ayunan, perosotan, dll. Belajar keseimbangan, gaya pegas, meluncur, dll 😍
Belajar tidak memulu harus dr rumah. Dimanapun kita bisa melakukan eksperimen. Di pantai bisa eksperimen “terapung-tenggelam” misalnya. Yg penting saat bepergian pun kita punya tujuan/rancangan terkait “pembelajaran apa yg bisa kita berikan utk anak2 kita.” Sehingga anak2 tidak hanya berlari2an saja sementara orgtua sibuk dgn gadgetnya..😭
Saya malah sepakat ini Mba, lebih banyak wisata alam drpd ke mall 😬

πŸ‘πŸΌ
Permainan terbaik utk anak, laki2 maupun perempuan adalah permainan yg dapat menumbuhkan rasa keingintahuan mereka, menstimulasi aspek2 perkembangan mereka (motorik, bahasa, kognitif, dll), permainan yg dapat mengasah empati mereka dan membuat mereka semakin dekat dgn penciptanya.
Tiap anak unik dan istimewa sehingga berbeda apa yg disukai dan dibutuhkannya. Berikanlah yg mereka butuhkan dan mereka sukai 😊
β–Ά

Ok , terima kasih bu Julia😊
πŸ…Ώ

Sama2 Mba Dinii
Pertanyaan 4⃣:

Assalammualaikum saya yani dari kramatwatu serang 26 tahun dengan 2 org anak 4tahun 8bulan perempuan dan baru lahir laki laki,saya mau bertanya selama ini saya selalu berusaha membuat anak nyaman main dirumah bersama saya tapi keberadaan teman2 yg setiap hari selalu nyamper anak sulung saya membuat konsentrasi si anak ingin selalu main keluar rumah mind setnya jadi sangat mengasyikan jika main di luar rumah.pertanyaan saya bagaimana cara mengalihkan kesenangan diluar itu agar anak betah main dirumah dengan saya dan gk merasa bete jenuh dan bosan seperti sering di utarakan si sulung ketika tidak di ijinkan main keluar rumah.terimakasih banyak

#Yani PU Banten
Jawaban πŸ…Ώ:

Wa’alaikumsalam wr wb
Haloo Bunda Yani. Jika boleh tahu alasan tidak membolehkan main di luar apakah Mba? πŸ‘€
Saat kita melarang anak melakukan sesuatu, pastikan kita sudah punya solusinya. Jika kita tidak menginginkan anak menghabiskan banyak waktu di luar rumah, maka kita harus bersiap menjadi ibu yg ready membersamai anak juga menyiapkan aktivitas2 yg menyenangkan. Nyaman menurut kita belum tentu demikian utk anak. Maka gali kembali hal2 apa yg membuat anak merasa antusias, happy, dan enjoy saat di rumah dan bersamailah 😊
Sesekali, boleh juga undang teman2nya utk bermain di rumah. Utk Bunda, hal ini jauh lebih baik drpd membiarkan anak bermain di luar rumah, bukan? Karena Bunda jg bisa mengawasinya secara langsung. Ada memang anak2 yg “on dan bersemangat” jk beraktivitas bersama-sama teman2nya. 😊
β–Ά

Maaf kepotong tadi saya mandikan bayi dan si sulung dulu,alasannya krna si sulung itu mudah sekali terpengaruh dengan lingkungan misal temennya masih belum jelas bicaranya anak saya ikutan ngomongnya jadi cadel,sekarang lebih suka main dengan anak lbh tua dan hasilnya terbawa pengaruhnya misalnya dia jadi tau soal acara televisi yg tidak mendidik sama sekali dan dapat kata2 kasar dan kotor dan tidak layak diucapkan anak dibawah 5 tahun itu alasan saya melarang anak bermain keluar. 
Jazzakillah semua untuk kulwap hari ini walau terpotong waktu tapi alhamdulillah bisa menambah ilmu di sore ini. 
β“‚

Msh ada 5pertanyaan lg bunjulia apakah boleh dilanjut atau kt cukupkan sampe pertanyaan 4 ?
πŸ…Ώ

Boleh mba dilanjut. Saya masih available sampai Ashar 😊
β“‚

Assyikk lanjutt.Baik. pertanyaan ke 5 ya bund 😍. 
Pertanyaan 5⃣:

Anak sy 27m sepertinya tipe yg harus ditemani klo main. Ketika sy tinggal sebentar dia psti membuntuti sy dan berhenti bermain.

Smntr klo tiap menemani bermain sy sulit fokus krn mikirin atau nyambi ngerjain kerjaan rmh lainny..

Atau megang hape buat online shop ataupun kebutuhan yg lain.

Sbnrny sy g mau begini.

Tp tipe permainan apa yg bs sy lakukan yg nantinya sianak bisa dilepas bermain sendiri y?

#Deen PU Pusat
JawabanπŸ…Ώ:

Dears Mba Deen..

Ada masanya memang kita harus menyediakan waktu lebih dr biasanya, terutama saat anak2 kita masih batita. Bukan karena mereka tidak bisa bermain sendiri, tapi memang ada masanya mereka belum bisa beraktivitas secara mandiri sehingga perlu kita temani.
Saat anak saya yg pertama seusia itu, biasanya saya berusaha mengerjakan pekerjaan2 rumah saat anak sedang tidur. Dengan demikian kita harus lebih cekatan. Mencicil pekerjaan sejak malam hari dan bangun lebih pagi utk beres2 πŸ˜‰
Jika pun ternyata anak2 membersamai kita dlm kegiatan rumah tangga, tdk apa2 (meski jadinya pekerjaan kita lbh lama). Misal, dulu saat saya masak anak saya juga maunya main penggorengan dan sodet beneran dgn potongan2 sayur yg tidak dipakai. Saat saya nyuci piring, anak mandi di “kolam” dgn pengawasan saya. Tp..saya tipikal yg lebih senang bekerja cepat sehingga berusaha selesai sebelum anak2 bangun 😊 sesekali gapapa sama anak. Kalau anaknya sudah besar, 3y ke atas malah bisa diajak bantu utk hal2 yg mudah: mencuci sayur, mengambil air, dll. Sekalian mereka belajar practical life skills 😊
Seiring dgn usia, perkembangan kognitif dan sosial-emosionalnya maka mereka pun akan ada masanya bisa bermain sendiri. Dalam milestone, anak usia 2y baru mulai suka bermain dgn orang lain. Jadi, 27m masih wajar jika blm bisa mandiri 😊

πŸ‘πŸΌ
β–Ά

πŸ‘πŸ»butin
Pertanyaan 6⃣:

Assalamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh
Ibu, saya ingin bertanya. Apa kelebihan permainan terstruktur dan terjadwal dibandingkan bermain bebas seperti zaman kita kecil dulu? 
Saya pernah mendengar seorang psikolog yang menyarankan anak usia dini untuk tidak disekolahkan salah satunya karena masa anak-anak itu untuk bermain bebas bukan terstruktur seperti di sekolah.Terimakasih. 

#Lathifah, PU Jabar#
Jawaban πŸ…Ώ:

wa’alaikumsalam wr wb
Hai Mba Lathifah..

Kelebihannya yaitu orangtua dapat lebih mengetahui perkembangan tiap anak dgn lebih detail dan runut, anak tidak hanya bermain “yang itu2 saja” sehingga akan mendapat pengalaman yg lebih bervariasi dgn aktivitas yg beragam, orgtua bisa menyampaikan hikmah tersirat yg belum mampu diketahui anak, dll.
Terkait sekolah utk anak usia dini bisa dicek kembali pd jawaban no. 2. Tidak disekolahkan bukan berarti tidak belajar πŸ™‚
Kegiatan di rumah tidak melulu harus terstruktur, silakan disesuaikan dgn “gaya” keluarga masing2. Kebetulan kami lebih cocok dgn yg sudah terstruktur 😊 Namun, banyak juga keluarga lain yg malah merasa “kaku” dan menjadi tidak menyenangkan utk anak jika ada jadwal yg terstruktur. Maka, silakan disesuaikan dgn kecocokan keluarga masing2 ya, Bun 😊
NB: dalam jadwal yg terstruktur pun anak tetap bisa bermain bebas 😊
Mungkin yg dimaksud psikolog kalau sekolahnya hanya “mendrill” anak, bersifat satu arah (guru ke anak). Kalau yg demikian pun saya juga tidak menyarankan utk dilakukan di rumah 😁
Dalam kestrukturan, kita bisa tetap beraktivitas dgn kegiatan yg disukai dan dibutuhkan anak. Yg penting semua fun dan bermanfaat 😊

πŸ‘πŸΌ
Rancangan aktivitas yg kita buat, baik secara struktur/tidak, membantu kita utk ‘menurunkan’ visi-misi pendidikan dlm keluarga kita. Misal, kita ingin anak kita mampu mengenal Allah dan Rasul2nya sebelum usia 5y, maka bisa kita rancang kegiatan sehari2 di runah yg berkaitan dgn hal tsb agar “tetap berada pada jalurnya”. Kita ingin anak kita menjadi hafiz, maka kita rancang aktivitas yg dapat menumbuhkan rasa cintanya pd Alquran. dll..
Bedanya kegiatan di rumah dgn di sekolah adalah pd “keluwesan” kita thd agenda struktural tsb. Boleh kita membuat jadwal utk membantu kita agar tetap berada pd ‘track’ visi-misi keluarga. Namun pd pelaksanaanya tidaklah sesaklek itu. Silakan disesuaikan dgn kondisi anak, kebutuhan anak, juga kenyamanan keluarga, baik waktu maupun aktivitas yg disiapkan tetap bisa fleksibel 😊
*sedangkan kalau di sekolah jadwal tetap harus sebagaimana mestinya ☺
Dengan keluwesan2 tsb anak tetap “bebas” dalam track yg kita buat lajurnya, sehingga bebas namun tetap dlm visi-misi keluarga 😊
β“‚

Sdh ashar bun KITA cukupkan ya ? Sisa pertanyaan bisakah kami japrikan bun. Sesempatnya bunda untuk dijawab πŸ˜˜πŸ™
πŸ…Ώ

Iya Mba Tiena πŸ‘πŸΌ
β“‚

Untuk ibu2 ketje yg pertanyaannya blm sempat terjawab dikarenakan waktu.ga usah kecewa .bunjulia bersedia menjwb nanti menyusul πŸ™. 
Alhamdulillah kulwap kt hari ini berjalan lancar dan tertib

Untuk bunjulia jazakillah khyran atas waktu dan ilmunya hanya Allah pembalas terbaik. 

Untuk buibu ketje solihah terima kasih byk atas partisipasi aktifnya πŸ’
Oh iya yg ingin mendapatkan buku bunjulia, Silakan dikontak bunjulia atau bs melalui kami dr admin PU pusat
Dibuku tersebut kita bs berselancar mengenai mainan anak2 dan keceriann warnawarninya. 
Sy tutup kulwap kt sore ini dgn alhamdulilla dan doa kafaratul manis. Sekali lg jazakunallahu khyran semuanya smga Allah selalu meridhoi dan merahmati kita semua. 

Assalamualaikum wrwb. Jangan kapok mampir dimari ya bundjulia  @6281284378584  πŸ˜˜πŸ’πŸ˜πŸ˜πŸ˜β€
πŸ…Ώ Jazakumulloh bu mimin, bu momod, dan semuanya. Mohon maaf utk segala kesalahan dan kekurangan ga πŸ™πŸ½. 

Wassalamu’alaikum wr wb. 
♦♦Pertanyaan yang dijawab offline ♦♦
Pertanyaan 7⃣:

Gimana mensiasati main sama anak2?..sementara saya ibu bekerja..berangkat sudah dari jam 7..nanti sampai rumah bersama anak2 lagi jam 5 sore..mohon share permainan edukasi yang singkat tetapi sedikit melelahkan.. ☺

#Echi PU Lampung#
Jawaban πŸ…Ώ:

Dears Mba Echi di Lampung. Beberapa ibu bekerja yg saya kenal sangat luar biasa dlm menyiapkan aktivitas anak2nya di rumah selama mereka bekerja. Silakan cek IG ibu dokter @niesha_mcmoore dan sahabat saya @dyaanasta sbg working mom yg selalu mempersiapkan diri dan kegiatan utk anak2nya 😊 Banyak sekali aktivitas edukasi yg tidak melelahkan dan tdk merepotkan yg bisa kita lakukan pd anak2 di rumah asalkan kita punya kekuatan hati dan kemauan insyaAllah ada jalan. Tetap semangat ya Bun 😊. 
Pertanyaan 8⃣:

Assalamualaikum bu julia,  apa permainan yang cocok untuk bayi usia 5 bulan diwaktu bayi bangun? 

Apakah bijak menyalakan tv pada saat bangunnya bayi agar bayi tidak gampang bosan? 

# Rari,  PU Jabar#
Jawaban πŸ…Ώ:

Wa’alaikumsalam wr wb Mba Rari. Ada baiknya jika usia 2y ke bawah belum terpapar gadget (tv, hp, komputer, laptop, dll). Paparan dr suara TV serta gambar yg terlalu cepat berubah kurang baik utk mata bayi usia 5bulan 😊
Utk 5 bulan bisa dibuatkan gantungan di atas kasurnya utk stimulasi indra penglihatannya, bermain kerincingan utk stimulasi indra pendengarannya, dan aktivitas lain utk stimulasi indra dan motoriknya. Lengkapnya bisa juga cek di buku Rumah Main Anak ya Bun :). 
Pertanyaan 9⃣:

Sebagai ibu muda yg baru belajar membesarkan anak, terkadang sy bingung, bagaimana mencari referensi yg tepat sebagai sumber acuan dlm membesarkan anak. Sebaiknya, sy belajar dr mana ttg permainan yg baik, dan bisa menstimulasi anak sy yg skrg usianya 11m+, kr masih sering bingung apa yg harus dilakukan sbg ibu#irma pu jatim#
Jawaban πŸ…Ώ:

HAalo Mba Irma.. selamat datang di dunia ibu2 😍😍
Menjadi ibu dan beraktivitas bersama anak di rumah insyaAllah menyenangkan 😊

Untuk anak 11m bisa pilih kegiatan2 yg menstimulasi motoriknya, baik motorik kasar (berdiri, berjalan, dll) maupun motorik halus (menjumput benda, memindahkan barang, art and craft, sensory play, dll). Juga bisa aktivitas yg menstimulasi perkembangan bahasa seperti menyetel murottal, membacakan buku, story telling, bernyanyi, dll.
Sumber bisa dicari dr buku (Rumah Main Anak misalnya 😁), pinterest, instagram ibu2 muda yg sering menstimulasi anaknya (cari saja dgn hastag #bermainsambilbelajar #kurikulumprasekolah #montessoridirumah, dll). Tetap semangat πŸ’ͺ🏼. 
Pertanyaan 1⃣0⃣:

Assalamu’alaikum. Bun mau tanya dong

Ada aplikasi (utk android) pembelajaran bersama anak yg direkomendasikan oleh bu julia ga?

# Restu PU Jabar# 
Jawaban πŸ…Ώ:

wa’alaikumsalam wr wb.

Mba Restu yg baik, utk aplikasi android terus terang saya tidak tahu krna memang biasanya saya mencari ide pembelajaran dr IG, pinterest, dan ggogling saja πŸ™πŸ½
πŸ‘†πŸΌkalau punya IG bisa cek aktivitas2 stimulasi utk bayi di IG teman saya, dr. @niesha_mcmoore 😊
Nb: bonding dgn anak2 tidak melulu dengan menyiapkan aktivitas permainan. Membaca buku, mengobrol, berdiskusi, menemani saat makan ataupun sikat gigi juga masuk dlm bonding dengan anak2.
Sebab kebersamaan kita dgn mereka (tanpa diganggu oleh gadget dan apapun) jauh lebih berharga drpd mainan apapun 😊. 
γ€°πŸ”šγ€°

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s