Tanaman Memiliki Perasaan

Family Project

#Day14

7707da09890a1552cc93b097158c7128

Tanaman Memiliki Perasaan.

Judul ini sukses menarik perhatian saya. Selain karena saya dan anak- anak sedang melaksanakan proyek yang berhubungan dengan tanaman. Tulisan ini diposting oleh sebuah blog dimana dia juga memperoleh dari laman fanspage bernama Petani Berdasi. Berikut yang saya kutip :

Petani Berdasi menyajikan fakta kuat mengapa kita seharusnya sebagai manusia harus lebih bisa menghargai tanaman maupun tumbuhan di sekitar kita. Oiya, I will make you remember it, istilah tanaman dan tumbuhan itu berbeda. Tumbuhan adalah keseluruhan flora yang ada di muka bumi atau istilah umum untuk menyebut anggota kingdom plantae, sedangkan tanaman adalah istilah spesifik untuk menyebut tumbuhan yang dibudidayakan oleh manusia, misal tanaman padi. It’s different but still give the same feel, karena kita tetap akan selalu membutuhkan mereka, ya sebagai sumber oksigen gratis untuk kita, sumber makanan dan berbagai peran lain yang mendukung unsur kehidupan di muka bumi.   

Tumbuhan hidup berdampingan dengan kita, dan secara khusus saya sebagai mahasiswa pertanian amat sangat familiar dengannya. Hampir setiap subject perkuliahan saya membahas secara detail kehidupan mereka, mulai dari metabolismenya, apa yang dibutuhkan mereka dan kelakuan mereka selama ini. Saking familiarnya mungkin kita sudah seperti teman sediri, but I realize that I might know they’re exist -they are a living thing during this time, but I don’t really put attention to them like we’re the same as the living thing (who having feels too). Saya tidak pernah berpikir jauh bahwa tumbuhan juga memiliki kesamaan dengan manusia selain dari apa yang saya perhatikan selama ini. Jauh lebih dalam ternyata mereka juga mampu merasakan sesuatu selayaknya manusia yang merasakan bahagia, marah, takut dan kesal dari hati, naluri maupun intuisi. Mungkin pula selama ini dalam diam dan lewat kata yang tak terdengar suaranya mereka selalu menaruh perasaan pada kita, selalu mencoba menjadi teman baik kita. Dan entah cinta, maupun kebencian yang mereka simpan, suatu saat kita akan merasakan apa yang selama ini meraka rasakan atas tindakan kita.

Saya kutip dari tulisan berjudul “Tanaman Memiliki Perasaan”.

Pada tahun 1966 Cleve Backster seorang mantan spesialis pendetektsi kebohongan CIA melakukan penelitian menggunakan lie detector untuk mengetahui respon suatu tanaman terhadap tanaman lainnya. Backster melakukan percobaan pada dua tanaman Dracaena miliknya dan menghubungkan salah satu dari mereka ke alat pendeteksi kebohongan (lie detector). Dia menyuruh seseorang untuk menginjak-injak tanaman satunya, di hadapan tanaman yang dihubungkan ke lie detector. Ketika aksi ini dilakukan, poligraf atau sensor pendeteksi menunjukkan tanaman yang menyaksikan temannya diinjak-injak seketika merasa ‘ketakutan’.


Backster mengambil tindakan lebih lanjut. Tanaman yang ketakutan tadi diuji lagi. Beberapa orang masuk ke ruangan tempat tanaman itu berada, termasuk orang yang telah menginjak tanaman lain tadi. Poligraf tidak menunjukkan reaksi terhadap orang lain, namun ketika orang yang telah menginjak tanaman lain itu masuk ke ruangan, tanaman itu kembali menunjukkan rasa takut. Tampaknya tanaman mampu mengenali orang yang melakukan tindkan buruk pada temannya tadi.


Backster juga menemukan bahwa tanaman mengalami perasaan bahagia ketika disirami, dan mereka bahkan memiliki kemampuan untuk membaca pikiran manusia. Suatu ketika, saat Backster tengah memikirkan percobaan apa yang akan ia lakukan berikutnya, ia memikirkan untuk membakar daun tanaman guna melihat reaksinya. Dan meskipun ia belum membakar daun tanaman itu, lie detector yang sudah tersambung pada tanaman, menampilkan reaksi ketakutan. Penelitian dan penemuan Backster ini ditulis rinci dalam bukunya bertajuk The Secret Life of Plants.

Dari penemuan dan tentunya fakta ilmiah tersebut saya kembali teringat dengan nasihat dosen pembimbing saya saat beberapa waktu lalu saya mulai mengerjakan penelitian untuk tugas akhir sebagai mahasiswa (skripsi). “Pas nanem, sambil diajak ngomong dek tanamannya… diajak ngomong juga cacing-cacingnya…”. Awalnya aneh memang, that seems so weird for me yang notabennya anak pertanian -apalagi dimata mereka yang non pertanian. Salah-salah orang lain justru akan mengira kita gila karena stress skripsi yang tak kunjung kelar revisinya. Tapi setelah beberapa waktu kemudian entah sejak kapan tepatnya, saya mulai terbiasa mengajak tanaman bicara bahkan pada living thing lain yang saya temui saat di lapang.

“Aaa kyeowo (imutnya)…. sini sayang main kesini saja jangan merembet kesitu….. cacing ganteng… astaga kamu (padi) langsing banget tapi tetep cantik, saya kapan bisa seperti itu ?” Berawal dari pembicaraan awkward layaknya seorang teman yang baru saling mengenalsedikit demi sedikit saya mulai merasakan jika mereka memang benar-benar ada dan selalu berbicara dengan kita (manusia). Because they are a living thing, an organism, living beside us in this earth not in another planets, they feel everything we’ve felt too, and its the time for us to realize its fact too. Hanya karena kita tidak mendengar suara mereka bukan berarti hak kita untuk mengacuhkan mereka ! Hanya karena mereka tidak menjerit menyuarakan aspirasinya, bukan berarti kita bebas membantai mereka bangga dengan sebutan baru yang didapat sebagai pembunuh tumbuhan.

They are alive ! Give your respect and proud being the part of agriculture. Seorang mahasiswa pertanian itu ibarat dokter, seorang teknisi, pakar gizi, juru bicara, bahkan tim hukum bagi tumbuhan yang ada di sekitar kita. Selayaknya saudara sesama makhluk hidup di dunia, kitalah yang paling dekat dengan mereka (tumbuhan/flora), dan bertanggungjawab lebih untuk memberikan kasih sayang pada mereka. Sayangi mereka dari hatimu yang paling dalam dan mulailah untuk having good manner dengan selalu meminta maaf atau meminta izin pada tanaman ketika hendak menginjak mereka dihalaman rektorat Universitas Sebelas Maret Surakarta saat perayaan wisuda maupun tempat lain yang disitu tumbuhan hidup tiap harinya terinjak-injak oleh kita 🙂

Terima kasih.

“The secret of improved plant breeding, apart from scientific knowledge, is love”

Luther Burbank


🌍 Sumber Bacaan : https://arianafhry.blogspot.co.id/2016/05/tumbuhan-juga-berperasaan.html


#loveyourplant #livelyhood

#respecttolife #respecttonature

#TantanganHari14

#Level3

#MyFamilyMyTeam

#KuliahBunsayIIP
AMATI, TERLIBAT, TULISKAN

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s