Antara Ayah, Anak dan Ujian

Antara ayah, anak dan ujian 
Sebagian besar dari tulisan dalam artikel ini saya tulis lebih setahun yang lalu, moment nya sama yaitu ujian. Karena pekan ini pelajar SMA – MA di tanah air menghadapi UNBK,  maka ada baiknya kita mengulang hikmah dari ujian dalam hubungan antara ayah dan anak. 
Saya  teringat kenangan 20 tahun silam. Adalah guru saya, KH Ahmad Ghazali- Rahimahullah Ta’ala- yang setiap hari pertama ujian selalu mengulang cerita ayahnya para anbiya, Nabi Ibrahim AS dalam surah Al baqarah 124 :” Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.” Dia (Ibrahim) berkata, “Dan (juga) dari anak cucuku?” Allah berfirman, “(Benar, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.” .  Kisah Qurani yang inspiratif ini menceritakan keberhasilan Nabi Ibrahim AS menjalani beberapa ujian yang Allah berikan, dari mulai ujian dengan menghadapi ayahnya yang penyembah berhala, dengan penguasa yang zalim, ujian dengan istri dan anak, hingga ujian terbesar untuk mengorbankan anaknya tercinta (Ismail AS ).  Kisah ini pun kembali terngiang-ngiang di telinga saya beberapa minggu terakhir ini , ketika menyiapkan anak sulung saya untuk ujian akhir minggu depan. 

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia..” ( Al Mumtahah :4 ).  Suri tauladan yang diberikan ribuan tahun lalu, masih sangat bisa diaplikasikan oleh kita, para ayah hari ini, apalagi, seperti saya,  banyak ayah-ayah di negeri ini yang oleh Dorothy . A Miller ( 1981) , dikategorikan sebagai “sandwich generation” atau terjemahan sederhananya adalah generasi terjepit di antara 2 generasi, yaitu antara orang tua dan anak-anak. Kelembutan bicara dan kesabaran Ibrahim menghadapi ayahnya yang masih menyembah berhala, keberaniannya mengusung faham yang anti-mainstream dengan apapun resikonya, ketangguhannya menjalani bahtera keluarga, dan keberhasilannya membesarkan anak sebagai kader penerus risalah. Anak yang secara sukarela tanpa berdebat menyerahkan nasibnya di ujung pedang ayahnya dan bahkan meyakinkan sang ayah untuk menjalankan perintah Allah, walau nyawa jadi taruhan. 

Disadari atau tidak, inilah ujian kita para ayah saat ini, dari atas (orang tua atau mertua atau keduanya ), karier dan aktualisasi diri kita sendiri serta dari bawah anak-anak yang dalam tanggungan kita.  
Ayah sebagai nakhoda bahtera keluarga, harus mempunyai rencana jangka panjang untuk menghadapi ujian hidup, bukan hanya pada zaman ini, tetapi juga zaman yang akan datang, yang akan dilalui oleh anak cucu kelak. Ingatlah visi ayah para anbiya Ibrahim AS, yang ketika dinyatakan lulus ujian dan mendapatkan pengakuan dari Allah serta ditahbiskan sebagai Imam bagi manusia, beliau teringat nasib “dzurriyat “ ( anak cucu ) nya , seraya menanyakan masa depan  mereka kepada Allah.
Masih banyak di antara kita ayah-ayah yang belum move on dari“kegemilangan “ masa muda, masih lebih sering nongkrong di cafe dengan teman-teman lama dibandingkan duduk , mengobrol, dan menghabiskan waktu dengan anak-anak di rumah. Banyak di antara kita yang masih lebih tahu gossip selebriti terbaru hari ini, atau skandal apalagi yang menghiasi timeline laman sosmed kita, atau  senyum sendiri sambil menatap layar gadget kita karena sibuk chatting di group WA Nostalgia SMA dibandingkan dengan apa nama teman baru anak kita? Siapa guru favorit anak? Apa yang anak kita alami hari ini ? Ingat lah.. Masa-masa santai itu sudah berlalu. Generasi baru sudah lahir, dan gembiralah , bahwa generasi baru itu di amanatkan oleh Pencipta untuk menjadi penerus legasi keluarga anda. 

Terlepas dari pro kontra UN, kita tidak hidup di Finlandia yang sistem pendidikannya tidak ada ujian, pendidikan di negara kita masih ada ujian, maka momen ujian ini bisa jadi kesempatan bagi kita khususnya para ayah untuk menambah kedekatan kita dengan buah hati. Dekatkan diri dengan anak, tidak untuk menekan anak untuk meraih nilai tertinggi, tapi untuk membangun tradisi iqra, tradisi ilmu, di samping untuk menanamkan kepercayaan diri anak dan kejujuran anak. Banyak yang bisa kita pelajari dari musim ujian ini, seperti guru saya berpesan bahwa ujian itu untuk belajar bukan belajar untuk ujian, karena hakikatnya dunia ini penuh ujian, yang membuat kita belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik. 

Mari para ayah, temani anak-anak kita belajar karena sejatinya, sejarah kehidupan manusia mengajarkan hubungan antara ayah,  anak dan ujian. 

Selamat menemani anak-anak mempersiapkan diri untuk ujian nasional. 

Jangan lupa, untuk menyampaikan pesan tanggung jawab, kedewasaan dan kejujuran sebagai bagian pembelajaran dari proses ujian itu sendiri. 

Terakhir, lakukan semua itu dengan gembira, kurangi stress yang tidak perlu, meminjam ungkapan yang dipakai kawan saya pak Zaini Mustafa di Sekolah Islam Al Marjan Pondok Gede Bekasi :” Harap senang, sedang ujian.. “. 

#fatherhood #TarbiyahPubertas #UN #selfreminder

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s