Menumbuhkan Disiplin Internal

Menumbuhkan disiplin internal
Banyak pertanyaan yang masuk ke saya, bertanya tentang bagaimana membuat anaknya sadar akan pentingnya ujian, tahu kapan melakukan apa, menerima dan jera akan sanksi terlambat kesekolah de el el. Dll. 
Saya seorang ibu juga, terutama dari dua anak usia sekolah. Satu SD dan satu SMP. Tentu saja, sebagai manusia biasa, saya juga masih harus berjuang dan bertungkus lumus ( bahasa malaysia utk bersusah payah dll ) untuk membiasakan buah hati saya untuk berdisiplin. 
Disipilin dan tanggung jawab dimulai diusia sangat muda. Karena sambungan wiring dalam otak akan membutuhkan waktu yang sangat lama, sehingga hal yang diajarkan akan menjadi sesuatu yang otomatis. Pengaplikasiannya harus terus menerus dan konsisten. Dimulai dari ketika anak itu sudah mulai pandai bicara dan perlahan lahan mengenal dunianya. 
Pertama-tama, tugas orang tua adalah mengenalkan dengan baik pada anak, set peraturan. Ketika peraturan itu dikenalkan, kedua orang tua atau support system yg ada ( mbak, nenek, kakek dll ) haruslah paham akan peraturan tersebut dan satu suara. Peraturan harus tegas. 

Peraturan harus dijelaskan kenapanya. 

Peraturan akan mempunyai konsekuensi. 
Kenapa? Bukankah si anak di masa depannya juga akan menghadapi konsekuensi dari suatu perbuatan? Suka atau tidak?  Jangankan dengan sesama manusia, dengan sang pencipta pun, konsekuensi itu ada, sangat tegas dan lugas dijelaskan di dalam kitab suci masing-masing. 
So, kenapa di rumah tidak?
Tentunya, semua disesuaikan dengan usia anak dan kematangannya. 
Tapi peraturan, sebagai fondasi kedisiplinan, wajib ada. 
Bukankah kita di dunia ini juga penuh dengan peraturan? Baik itu di masyarakat, dalam pergaulan, dalam pendidikan dan juga dalam agama. 
Saya, ibu yang tega. Jika anak sudah melewati usia 7 tahun ( dimana semua sambungan di otaknya sdh bersambungan secara sempurna dan juga berat otak anak sama dengan dewasa ), saya mulai tegas. Kenapa? Karena peraturan ini sudah dimulai lama, dijelaskan pentingnya apa untuk si anak bertahun-tahun lamanya. Konsekuensi juga telah diketahui, dan sebagian dirasakan. Maka sekarang, hal tsb mulai dipertegas. 
Contohnya ? Terlambat ke sekolah. Si anak santai nian, sementara ibunya gegap gempita mempersiapkannya agar tidak terlambat ke sekolah. Ibu setengah memekik, anak mandi 20 menit. Setelah itu, anak pakai baju dengan slow mode dan makan pagi seperti hari libur. Ibu panik sendiri. Jemputan sdh dtg dll , dll. 
Kenapa jadi ibu yang panik?

Karena kalau anak ngak sekolah, ibu juga yang repot kan?
Kalau saya, tidak. Mulai minggu ini saya memberlakukan ‘pagi tenang’. 

Ingatkan anak, cukup 3x baik-baik. Sisanya, biar ia menanggung konsekuensi dari perbuatannya?
Hasilnya?
Lumayan 😏
Jadi, kita sebagai orang tua, haruslah mampu membangun dalam diri anak disiplin internal. Dimana, anak tahu apa yg harus ia kerjakan, kapan dan kenapa. Karena jika disiplin itu tergantung pada orang lain, maka jika orang itu pergi, disiplin tersebut pergi bersamanya, dan si anak merasa orang terbebas di dunia!
Jadi, stop ambil alih konsekuensi anak. Buat lah peraturan, schedule, yang disepakati bersama. Diskusikan kenapa penting membuat schedule. Juga apa konsekuensinya. Sehingga, perlahan tapi pasti, akan ter-install dalam diri anak, disiplin internal dan bukan external. 
Toh, kita kan ngak selalu ada?

Juga tidak akan hidup selamanya?

Jadi, siapa yang mau menanggung anak, yang hanya disiplin jika ada faktor penggeraknya saja?
Semoga Allah memudahkan kita dalam mendidik titipanNYA. 

Yang penting, terus belajar dan terus berusaha. 
Wa billahi taufik wal hidayah
Wassalamualaikum wr wb 
Wina Risman

11April2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s