Game Level 4 : Gaya Belajar Anak

🎗GAME LEVEL 4🎗

*📖 Gaya belajar anak 📖*

Setiap anak itu cerdas. Hanya saja kemampuan anak untuk mengerti hal yang berbeda tergantung pada gaya belajar anak. Bisa dominan hanya pada 1 gaya belajar saja, namun bisa juga gabungan dari beberapa gaya belajar dengan urutan belajar yang berbeda.

Dengan mengetahui gaya belajarnya anak akan  lebih mudah mempelajari sesuatu.

🔍Pengamatan mendalam terhadap keseharian anak bisa membantu orangtua mengenali gaya belajar anak
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

*Tantangan 10 hari level 4*

📝Bagi yang sudah mempunyai anak
1. Lakukan pengamatan terhadap anak pada saat kegiatan sehari-hari. Gunakan tabel untuk memudahkan pengamatan (tabel terlampir)
2. Tuliskan hasil pengamatan setiap harinya
3. Cermati gaya belajar anak berdasarkan hasil pengamatan

📝Bagi yang single dan belum punya anak lakukan pengamatan terhadap diri sendiri ataw orang terdekat

📝Bagi yang sudah berhasil menemukan gaya belajar anak dan diri sendiri bisa menuliskan hasil pengamatannya (dari mulai proses sampai berhasil menemukan gaya belajarnya)
#Tantangan10Hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP

 

IMG-20170420-WA0002

😇 Tanya – Jawab : 

1. 🙋 *Saroh – Solo*

Anak usia 10 bulan apakah sdh bisa terlihat gaya belajarnya ? Terimakasih

🙋 *Savira – Tangerang*

Ibu, mulai usia berapa anak bisa diketahui gaya belajarnya? Kalau untuk anak 15 bulan, apakah sudah bisa mulai terlihat gaya belajarnya?
[4/18, 08:42] Septi Wulandani IIP 02: 1⃣ mbak saroh dan mbak savira, Gaya belajar anak-anak itu akan mudah kita kenali ketika seluruh panca indra sudah berfungsi secara optimal. Kalau masih di bawah 2 tahun diperkaya dulu dg berbagai eksplorasi stimulus. Kalau terlalu kecil kita belum bisa mendeteksi gaya belajar anak. Ketika anak sudah banyak berinteraksi dan eksplorasi maka akan lebih mudah kita mengenali gaya belajarnya.

Tugas kita kalau memiliki anak yang masih di bawah 2 th, tulis saja pengamatannya terlebih dahulu dengan respon stimulus yg kita perlukan✅

2. 🙋 *Rima – Banyumas*

Bu adakah anak anak dengan gabungan dari ketiga gaya belajar tersebut?
Karena ada beberapa bagian yg cocok dari beberapa gaya tersebut.
Putra sulung saya sangat cepat menghafal dengan cara mendengarkan, tapi dia juga kinestetik. Hampir semua ciri2 kinestik cocok denganya.
Bagaimana baiknya cara menghadapi anak dengan gabungan ciri seperti itu bu?
[4/18, 08:48] Septi Wulandani IIP 02: 2⃣ mbak rima Belajar akan sangat menarik bila menggunakan sebanyak mungkin gaya. Bila hanya dijelaskan secara lisan, saya akan lupa, bila diberi contoh, saya akan ingat, bila diberi kesempatan untuk mencobanya, saya akan memahaminya, merupakan ungkapan yang sangat terkenal dalam proses belajar. Dalam belajar, yang ideal, caranya adalah mendengarkan, melihat, dan mencoba selalu dilakukan bersama-sama, bukan hanya menggunakan salah satu cara saja.

Cobalah cara kombinasi, jangan hanya mengandalkan cara belajar dengan mendengarkan. Cara kombinasi artinya menggunakan berbagai cara yang dimungkinkan sesuai dengan tuntutan. Otak akan berstimulasi melalui panca indra. Telinga, mata, dan kulit/anggota tubuh akan menstimulasi otak dengan cara yang berbeda. Dengan mengkombinasikan stimulasi yang berbeda, kita akan memberikan kesan yang lebih dalam ke otak.

Bagaimana cara melatihnya? Mulailah dari dominasi gaya belajar anak terlebih dahulu, kemudian kombinasikan dg gaya yg lain. Nanti kita akan melihat perpaduan mana yang paling tepat✅

3. 🙋 *Esme – Bogor*

Bagaimana dengan anak yg gaya belajarnya kombinasi antara visual dan auditori?

Kadang saya merasa anak saya bergaya visual. Dia senang mengamati hal2 yg baru ia lihat. Kadang ia bs betah bermenit2 mengamati serangga.

Ia juga begitu tertarik pada gambar hidup dlm video/televisi..namun di lain waktu saat saya mengajaknya bermain dengan alat peraga (boneka tangan, boneka jari, dll) dia tampak tidak tertarik.

Di sisi lain, saya sangat takjub karena dia sangat fasih menceritakan kembali semua buku yg saya bacakan untuknya.

Bagaimana metode belajar yg menarik untuk anak yg seperti ini? Usia anak saya 3 tahun
[4/18, 08:54] Septi Wulandani IIP 02: 3⃣ mbak esme, anak 3 tahun itu perkembangannya gaya belajarnya masih sangat mungkin berubah-ubah. Maka tugas kita jangan hanya memberikan satu atau dua gaya saja. Tapi perbanyak kombinasi gayanya. Kemudian catat, mana kira-kira yang membuat matanya berbinar, daya serapnya paling cepat.

Esok hari coba obyek belajarnya yg kita ganti, apakah masih tetap berbinar? Kalau iya catat “mungkin” ini kekuatan gaya belajar anak kita saat ini

Lanjutkan pengamatan tanpa pernah berhenti. Sampai anak menemukan sendiri gaya belajar yg dia rasa paling tepat itu yg mana.

4. 🙋 *Chika – Solo*

Dari melihat materi sepertinya anak saya shaw (4th) termasuk audiotory. Mudah sekali menghafal surat2 pendek. Tapi shaw tidak menyukai menulis, mewarnai dsb.

Padahal dr umur 2th sudah bisa memegang pensil dg benar dan menulis huruf a,o,i, kotak, segitiga tanpa diajari.

Saya mau tanya..
1. bagaimana cara yg tepat utk.menumbuhkan anak menyukai mewarnai,menggambar? Serta mengeblat ( menyambungkan garis2)

2. Perlukah saya khawatir dg hal ini? Mgkn ada kaitannya dg perkembangan yg kurang optimal? Apa memang audiotory seperti ini?

Terima kasih bu septi..
[4/18, 09:02] Septi Wulandani IIP 02: 4⃣ mbak chika, anak-anak 4 th belum suka menulis itu normal, dia sedang menyukai berbicara dan mendengarkan, shg wajar kalau gaya belajar auditorinya yg terlihat menonjol.

Stimulus lagi dengan menyiapkan satu ruangan di rumah yg temboknya boleh dicorat coret, sediakan juga alat tulisnya. Apakah ia senang mulai corat coret?

Kalau iya lanjutkan dg media lain, siapkan kertas, ajak jalan-jalan, dan biarkan anak menggambar apa yg dia lihat

Lakukan terus menerus sampai kita paham ternyata motorik halusnya terstimulus dengan cara yang seperti apa✅
5. 🙋 *Yani – Pacitan*

Bu Septi yg selalu menginspirasi, terkait dengan gaya belajar, anak saya saat kecil terlihat memiliki gaya belajar kinestetik. Tp setelah memasuki usia pre akhil baligh lebih condong ke auditori. Apakah memang gaya belajar ini akan mengalami perubahan seiring dengan bertambahnya usia?
Terima kasih
[4/18, 09:09] Septi Wulandani IIP 02: 5⃣ betul mbak yani, bisa berubah seiring respon yang kita terima terhadap stimulus dan lingkungan tempat kita belajar.

Contoh anak saya yang dominan auditory kinestetik, di awal tidak saya perbanyak kegiatan mendengar, berbicar dan bergerak, seiring berjalannya waktu mulai membaca dengan yg banyak gambarnya dulu, kemudian tulisan sedikit dan tulisan besar2, lama-lama sekarang senang membaca dengan cara memberikan warna warni di bukunya atau membaca e book di gadget, yg tidak terlihat tebal 😄✅
[4/18, 09:09] Septi Wulandani IIP 02: Ini saya sa.paikan beberapa cara kita belajar
[4/18, 09:11] Septi Wulandani IIP 02: 1. Pada saat mendengarkan ceramah, perhatikan penunjang visualnya.

Buatlah catatan dan diagram tentang yang telah Anda dengar. Lontarkan pertanyaan-pertanyaan dan berdiskusilah. Berpartisipasilah dalam memberi contoh atau pada pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang menunjang. Diskusikanlah masalah bersama-sama dengan instruktur. Gunakan warna-warna pada catatan Anda untuk menandai hal-hal penting. Hafalkan kata-kata kunci yang Anda peroleh di kelas. Berupayalah mengubah situasi pasif dengan hanya duduk dan mendengarkan menjadi suasana belajar yang menggunakan cara kombinasi.

2. Pada saat sedang membaca buku atau manual, berilah tanda pada informasi-informasi penting.

Buatlah catatan pinggir. Bacalah materi yang penting dengan bersuara. Untuk informasi-informasi baru, buatlah diagram. Sesekali, berdiri atau berjalan-jalanlah sedikit sambil menghafal kata-kata kunci dari materi yang baru saja dibaca. Tulislah informasi-informasi penting pada buku catatan Anda. Bila Anda bisa segera mencoba informasi yang baru Anda peroleh, lakukanlah; hal ini sangat efektif bila Anda membaca manual – baca, kerjakan; kerjakan dan baca. Jelaskan hal-hal yang telah Anda baca kepada siapapun yang mau mendengarkan. Bila mungkin, ajarilah orang lain tentang hal-hal yang telah Anda ketahui.

3. Pada saat mempelajari sebuah pekerjaan atau penugasan baru, perhatikan baik-baik demonya.

Bertanyalah. Bertanya sambil mencoba, mempraktikkan penugasan tersebut. Berupayalah melaksanakannya sesempurna mungkin. Mintalah kepada orang yang ahli untuk melihat dan mengkritiknya.

5. Bu, mau tanya.
Berarti gaya belajar pun masuk kedalam catatan portofolio ya baiknya?
[4/18, 09:14] Septi Wulandani IIP 02: Iya karena itu cara masuk paling ampuh sesuai fitrah anak
[4/18, 09:14] Septi Wulandani IIP 02: Tugas kita hanya mengamati, memperkuat, memfasilitasi
6. 🙋 *Leila – Jakarta*

1. Kalau gaya belajar kita berbeda dengan anak bahkan mungkin kita menganggap gaya belajar anak bikin tidak nyaman (bagi kita, sih), dengan mendengar musik misalnya, bagaimana cara menyiasatinya? Apakah cukup dengan pemakaian earphone? Mengganggu di sini bisa dalam arti value keluarga (dan mengarahkan selera musik anak misalnya dengan cara mengalihkan ke genre yang Islami misalnya, perlu waktu lagi) maupun mengganggu anggota keluarga lain yang juga sedang belajar dengan gaya berbeda (opsi pembagian waktu bisa jadi sedikit sulit karena keterbatasan waktu yang tersedia).
2. Disebutkan bahwa untuk anak kinestetik jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam. Nah, sejauh mana proses belajar bisa disebut dengan memaksa? Mengingat yang dibahas ini adalah anak kinestetik yang memang sangat aktif. Apakah jika diselingi break lalu kita ajak mulai belajar lagi (yang ‘lebih fokus’, tidak harus duduk diam juga sih), masuk ke memaksa karena inisiatif datang bukan dari anak sendiri?
3. Sedikit lebih teknis, saya biasa mencari tahu lebih jauh (meskipun kebanyakan hanya dengan cara googling) kutipan dalam materi IIP, khususnya kalau akan saya post ulang di blog, supaya lebih valid, tanpa mengurangi rasa hormat kepada tim penulis. Misalnya memastikan penulisan nama penulis tepat atau kalau ada dalam bahasa aslinya (misalnya bahasa Inggris) saya kadang ingin membaca versi sebelum diterjemahkan. Kali ini saya tertarik dengan perkataan Alvin Toffler yang diterjemahkan sebagai:
“Mereka yang dikategorikan buta huruf di abad 20 bukanlah individu yang tidak bisa membaca dan menulis, melainkan orang yang tidak mampu belajar, tidak mau belajar dan tidak kembali belajar.” Kalimat asli dari penulis yang saya temukan adalah “The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn, unlearn, and relearn.”
a. ‘Unlearn’ ini apakah tepat dialihbahasakan sebagai ‘tidak mau belajar’?
b. Yang saya tangkap dari teks aslinya, ketiganya merupakan satu rangkaian: orang yang tidak bisa “belajar kemudian melupakan/meninggalkan apa yang ia pelajari untuk lalu belajar lagi”. Barangkali setara dengan adab menuntut ilmu yang pernah dijadikan materi pembuka kuliah matrikulasi IIP dulu, membersihkan hati dan pikiran serta tidak merasa paling tahu ketika sedang belajar. Mohon koreksi jika saya salah.
[4/18, 09:26] Septi Wulandani IIP 02: 6⃣ mbak leila apabila gaya belajar kita ternyata berbeda dengan gaya belajar anak kita, maka tugas kita adalah tidak mengganggunya, atau tidak memaksakan gaya belajar kita ke anak-anak.

Apabila berseberangan value, maka cukup kita ajak bicara dengan mengubah konten musiknya saja, tanpa mengubah gaya.

Unt anak-anak kinestetik rentang konsentrasinya memang pendek. Saya pernah meneliti rata-rata anak rentang konsentrasinya itu 1 menit x umurnya. Anak kineatetik dg gaya belajar yg tidak pas dengan dirinya akanenjadi lebih pendek lagi.

Tetapi kita bisa mensiasatinya dengan setiap 5 menit break. Shg kalau belajar selama 30 menit, maka saya menyiapkan break permainan sebanyak 6 buah unt mengisi masa transisi konsentrasinya.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s