Harkat Wanita

Harkat wanita 
Salah seorang kawan saya yang juga pemerhati issue​ gender Dr Henri Shalahuddin berseloroh tentang tradisi pawai hari Kartini di mana banyak anak-anak didandani seperti layaknya perempuan dewasa lengkap dengan make up yang agak tebal, dia mempertanyakan apa tujuan anak-anak dipermak dengan make up? Apakah untuk mengenalkan anak-anak dunia tabarruj?..
Pendapat sahabat saya mungkin terdengar keras, tapi jika difikirkan banyak benarnya. Bukankah kita pernah dikagetkan oleh Awkarin yang dalam usia sangat muda mengekploitasi kecantikan di dunia maya? Di satu sisi banyak di antara orang tua khawatir akan fenomena tersebut, tapi di sisi lain anak-anak perempuan sudah dibiarkan, diajarkan bahkan dibiasakan bersolek yang eksesif sejak kecil walau hanya sekali setahun di hari Kartini. 

Apakah ini yang dinamakan kebangkitan wanita? 

Bagi saya, jika kita ingin memperingati kebangkitkan wanita  adalah dengan mengembalikan wanita ke khittah mereka yang utama yaitu di rumah, mengababdikan diri membangun generasi dari dalam rumah. 

Betul… saya hanya ingin istri saya ditangani oleh dokter wanita jika sakit,  suka anak gadis saya diajari oleh guru wanita di sekolah, artinya kita masih memerlukan wanita-wanita di banyak lapangan pekerjaan, tetapi apapun karir yang diambil seorang wanita takdir dan fitrah sebagai istri dan ibu adalah yang utama. 

Harkat wanita juga perlu dinaikan dengan menghentikan ekplotasi kecantikan wanita, ya, sudah saatnya wanita lebih memikirkan untuk mempercatik diri dari dalam, berbekal ilmu dan dihiasi oleh iffah, menjaga kehormatan dari hal-hal yang diharamkan. 

Tetapi apapun, kembalinya wanita ke khittahnya harus didukung oleh dua aktor penting, yaitu ayah dan/atau suami yang keduanya menentukan hala tuju kehidupan wanita, baik sebagai anak ataupun istri. 
Seorang ayah dari anak perempuan harus mahir mengajarkan iffah, qanaah, dan betah di rumah. Membantu mempersiapkan anak gadisnya menjadi ibu di masa depan di sampai membekalinya dengan pendidikan yang tinggi. 

Seorang suami harus siap mencukupi kebutuhan rumah, sehingga istri siap untuk tinggal dan mengabdikan diri di rumah, di samping memenuhi kebutuhan sosial dan psikologikal istri yang bertugas 24 jam di rumah. Harus siap dihujani cerita pasangan tentang apa yang terjadi di rumah ketika kita tidak ada, walaupun tidak mudah, karena keadaan yang terkadang terlalu penat setelah seharian bekerja. 

Mengangkat harkat martabat wanita bermula dari rumah, dan adalah pekerjaan berjamaah kita semua. 
Untuk para ibu yang mengabdikan diri di rumah meski ijazah rapi tersimpan atau hanya indah dipajang, selamat menjadi inspirasi bagi anak-anak, dan semoga terus menjadi sekolah pertama bagi generasi yang akan datang. 
@faisalsundani 
#TarbiyahPubertas #Fatherhood

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s