Lonely in A Marriage

Lonely in a marriage
Banyak sekali orang yang merasa terperangkap di dalam perkawinannya. Rutinitas yang itu itu saja, emosi yang tidak tersalurkan, merasa diabaikan. Apalagi orang seperti kami yang merantau. Ada kalanya sangat merasa homesick atau rindu kampung halaman. 
Baru saja minggu lalu, seorang dari murid saya bercerita bahwa ia menderitaa sakit yang tidak diketahui apa. Kadar hemaglobin dalam tubuhnya, sangat rendah. Ketika dokter menanyakan tentang pola makannya, maka ia baru jujur berkata, bahwa ia hanya makan satu kali. Yaitu jam 1 siang. Ketika saya tanya kenapa begitu, ia bilang terlalu sepi, membuat nafsu makannya hilang sama sekali. Saking kesepiannya, hingga sarapanpun tak mampu tertelan. Makan pagi jam satu siang. Makan siangnya adalah ketika keluarganya  makan malam. Ia tidak makan malam. Badannya ringkih, hatinya sedih dan yang terpenting, jiwanya lelah!
Sambil matanya berkaca-kaca, ia bercerita tentang bagaimana ia sangat merindukan untuk pulang. Bertemu bersama ibu dan sanak saudara, ketemu teman teman lama, makanan yang enak, kembali kepada lingkungan yang sudah sangat nyaman dan dikenal baik olehnya. Namun, apa yang bisa dikata? Pulang membutuhkan sekitar 60 juta baginya, itupun baru tiketnya saja !
Setiap hari, rutinitas yang sama berlangsung: suami yang berangkat pagi pulang petang. Anak anak yang sudah semakin dewasa dan meninggalkan rumah dengan waktu yang hampir sama dengan ayahnya. Mereka sudah mulai mandiri dan tidak lagi terlalu banyak membutuhkan bantuan sang ibunda. Rutinitas yang itu-itu saja, bersihin rumah, belanja, masak, dan pergi bersama keluarga di akhir minggu. Hal ini akan tambah berat dirasa, jika kita memiliki suami yang cenderung pendiam dan cuek. Bertambah-tambahlah penderitaan sang istri ini. Walau terkadang, tidak ada maksud suami demikian. Hanya kurang peka saja. Apalagi, yang memang pada dasarnya ngak perduli. Hhhh…
Ah, andai suaminya mau sedikit ‘membaca’ lebih dalam keadaan istrinya. Andai ia perduli lebih dalam dari sekedar menghantarnya ke dokter setiap minggu. Mungkin bendungan airmata di mata muridku ini, tidak sampai terlihat nyata. 
Saya ungkapkan dengan tegas padanya; kamu tidak sakit sis, kamu kesepian!  Semakin jelas kaca dimata itu, ia tertunduk sambil mencoba menyeka air yang mulai terasa di hidungnya. 
Ah, andai.. semua pasangan bisa peka. Apa saja keperluan pasangannya, terutama ketika usia perkawinan melewati batas 10 tahun pertama!
Baik istri maupun suami itu manusia. Mereka juga perlu perubahan, penyesuaian, sesuatu yang baru yang ‘mengairahkan’. Siapa yang tidak suka dikejutkan dengan sesuatu yang menyenangkan???
Situasi harus diubah! Pasangan harus pintar pintar melihat keadaan ini dan berusaha memberikan ‘penyedap’ kembali kedalam kehidupan rumah tangganya. Atau… memilih jalan yang tidak popular, dan akhirnya menemukan pasangan melalui depresi ataunpuber kedua. 
Saya yakin, banyak yang melalui fase ini. Entah sadar ataupun tidak. Yang lebih berat merasakannya justru adalah para istri-istri yang diajak merantau jauh dari rumah, untuk kurun waktu yang tidak sebentar. 
Jadi, apa solusinya?
Solusinya ; adakan perubahan, peka terhadap keadaan. Adapun bagi para pasangan yang terlepas melihat keadaan pasangannya dari hal demikian, boleh mulai untuk me-reevaluasi kembali keadaan perkawinannya. Apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki dan merubah keadaan?

Dan teruntuk ibu ibu diluar sana, yang sudah mencoba ‘menarik tangan’ suaminya agar mau paham keadaan jiwanya, namun belum mendapat respon yang menggembirakan;
1. Sadar akan keadaan ini

2. Tidak ada yg bisa merubah semua ini, kecuali kita membantu diri sendiri

3. Melihat jauh kedepan, karena kita perlu sehat jiwa raga dan juga mental, untuk menemani anak-anak kita dan mengantarkannya ke  gerbang kedewasaan. Visualisasikanlah mereka menikah dan bahagia, serta mengendong cucu cucu mungil dan lucu di buaian anda!

4. Dekatkan diri pada sang maha pencipta! Mengadulah hanya kepadaNYA. Sampaikan segala keluh kesah, mohon dibantu menguatkan jiwa. Siapalah penolong yang lebih baik daripada NYA?

5. Gembirakanlah diri anda! Lakukan hal-hal yang bisa menggembirakanmu! Walau sekali saja. You deserve to be happy!
Love and hugs to all the mommies in the world. 
The world will always miss your smile!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s