Hakikatnya Kita Ini Sendiri

​Hakikatnya kita ini sendiri.
Iya kan?, walaupun kita kembar dan kembar berapapun, kita lahir kedunia ini satu satu, sendiri!. Jadwal kita dipanggil pulang juga masing masing. Mungkin bisa bareng dalam satu peristiwa, tapi masing masing sebenarnya. Nanti ketika di hisab apalagi, masing  masing karena pertanyaannya ada yang panjang ada yang pendek…

Contoh konkritnya, bagi anda yang sudah berumah tangga. Apakah anda sekarang masih tinggal serumah dengan orang tua atau terpisah?Kalau anda serumah dengan orang tua anda bersyukurlah  masih bisa bertemu setiap hari dan mungkin masih bisa mengurusi beliau, ngobrol  dan bercengkrama.

Tapi bagi anda yang sudah pisah rumah, bahkan mungkin anda pisah kota atau pisah negeri, bagaimana ceritanya ? Berapa lama sekali anda bersua dengan orang tua sendiri ?. Bagaimna pula dengan saudara sekandung anda? Apakah kalau ada kabar orang tua anda sakit, semua pulang serentak atau giliran. Bahkan ketka mungkin orang tua anda berpulang, apakah anda dapat rezeki merawat dan rezeki mata, atau anda bagian yang tidak beruntung , mendapatkan tanah merahnya saja ?.
Jadi begitulah hidup ini, hakikatnya kita benar benar sendiri, datang sendiri – pulang sendiri!

Jadi bagaimana degan peran kita sebagai orang tua?. 

Anak anak kita nanti, insha Allah kurang lebih seperti kita juga. Dia tidak akan selamanya bersama kita, sehatkah kita atau sakitkah kita. Harapan dan doa kita tentu disaat saat terakhir kita, mereka bersama. Tapi takdirkan bukan kita yang menentukan. Jalan hidup seseorang hanya Allah yang tahu.

Contoh sederhana apa yang saya alami pekan pekan terakhir ini. Sebagai nenek nenek biasalah, kurang sehat dan banyak yang dirasa dibadan.Kenyataannya nasib anak kami , satu dibawa suaminya tinggal di KL, seorang lagi diboyong suaminya pula ke  Madinah. Seorang di Jakarta tapi dibawa tinggal oleh suaminya berjarak sekitar  40 km dari kami . Anaknya yang sulung pulang sekolah  jam 2.30.Adiknya pkl 11, dan bungsu :bayi 1th.Kalau dia memaksakan diri menengok saya atau ayahnya, berarti kedua anaknya bolos sekolah, karena jarak perjalanan akan memakan waktu 5-6 jam pp. Kalau gangguan kesehatan yang kami alami tidak serius benar, kami yang menghalanginya datang. 
Jadi,  teman teman menjadi orang tua itu harus tak bisa lari dari kenyataan ini, anak kita akan tidak bersama kita sepanjang hidupnya dan kita pun belum tentu akan bersama dengan dia.

Oleh sebab itu ini lah tips yang ingin saya usulkan bagi anda sebagai garis besar pengasuhan anak anak kita.
1.Sebaiknya, kita punya perencanaan untuk punya anak berapa. Patokannya bukan uang atau alasan ekonomi, karena kalau kita hidup lurus dan penuh ketakutan pada Allah, insha Allah Dia akan memenuhi  hajat hidup kita.Tapi yang dijadikan bahan pertimbangan utama adalah ketentuan Allah tentang menyusui (2:233)dan mengatur jarak kelahiran (46:15). Yang berikutnya: usia kita, masih bisa untuk mempunyai berapa orang anak dan terakhir :kehidupan emosi!, kita mengukur diri sanggup membesarkan berapa orang anak. Yang terakhir ini jarang sekali dijadikan bahan pertimbangan..
2. Apakah ayah dan ibu sepakat keduanya terlibat penuh bagi perkembangan  fisik, spritual, kecerdasan, emosi, sosial, dan seksualitas?
3. Anak anak itu bukan pilihan dia pemberian, amanah. Kita gak bisa milih anak kita harusnya seperti ini dan seperti itu, dan anak apa lagi ,lebih lebih gak bisa milih orang tuanya (28:68)(42:49-50).

Jadi apapun anak kita, kita syukuri. Berarti kita lelaki dan perempuan pilihan yang pantas diberi amanah.Banyak banget orang yang punya sperma dan sel telur tapi tidak dipercaya. Jadi syukuri!, nikmati anakmu!(31:12).                               Sejauh yang kami bisa ingat kebelakang:kami sangat menikmati anak anak kami, Masha Allah Tabarakallah. Soal bentuk, warna kulit, dan seluruh isi jiwa sudah dilukis Allah dengan kekuasaanNya dan kebijaksanaanNya . Dia tahu anak itu”pas”buat kita (3:6). Makanya kalau marah jangan sampai nanya: “ Ya Allaaaaah, anak siapa sih kamu ini?” 
4.Siapa yang diberi amanah, berarti merekalah ‘Baby sitter”nya Allah.Maka sempurnakanlah penyusuan (2:33 dan 46:15). Secara psikologis dan neurologis, ini sangat diperlukan. Bayangkanlah kalau anak tumbuh dan besar tanpa atau sangat rendah kelengketannya dengan ibunya.Modal utama jadi orang tua adalah Tawakkal pada Allah. Tawakkal  pada Allah itu perlu iman dan ilmu (64:16). 
5. Jadi orang tua itu gampang, 5 saja  syaratnya: 1. Menyembah hanya Allah saja,2. Berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin 3. Kalau berkata kata pada siapa saja termasuk dengan pasangan dan anak anak :Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia 4. Dirikanlah shalat dan 5.Tunaikanlah zakat.Masing masing aspek ini tentunya perlu di elaborasi. Kalau ini dilakukan oleh setiap orang tua, cukuplah ia jadi teladan bagi anak anaknya.(2 :83)
6.Mengasuh anak tak mungkin tanpa kata kata. Riset kami menunjukkan bahwa ngomong kita itu banyak sekali korupsinya. Maka ikutilah perintah Allah dalam berkata2: Bicara lemah lembut (Qaulan Layyinan 20:44)

Bicara menyenangkan (Maisuura 17:28)

Bicara baik baik (2:83) 

Bicara benar (Qaulan Saadiida 4:9)

Bicara yg tepat (Qaulan Baliigha 4:63)

Bicara baik baik (Ma’ruufa (4: 5)

Mengajar bicara (Arrahman:4)

Lunakkan suara (31:19)

Perkataan yg mulia (Qaulan Kariima 17:23)

Jangan palingkan pipi ketika bicara (31:18). Kalau terasa berat dan sulit meneraopkannya, hubungi YKBH dan mendaftar untuk ikut pelatihannya selama 2 hari!
7. Tujuan utama pengasuhan anak adalah menjadikannya Hamba Allah yang taqwa: yang menyembah hanya Allah saja dan ber Akhlak mulia, terutama terhadap kedua orang tuanya. Berarti kita adalah tauladan anak, itu mengapa kita harus selalu mengontrol diri kita. Setiap mau tidur malam, tanyakan pada diri sendiri :”Apa yang dipelajari anakku ya hari ini dari ibunya/ayahnya?”.Buat catatan dalam jiwa, untuk memperbaiki nya esok hari. Bukankah hari esok lebih baik dari hari ini?
8.Anak diajarkan berbagai hal sesuai dengan usia dan kemampuan otaknya bekerja, termasuk mengajarkannya untuk beribadah. Jangan maksa, jangan pakai standard orang dewasa, Mengajarkan anak agama patokannya harus Suka bukan Bisa,mengapa? Karena yang berkembang duluan adalah bagian otak yang merupakan pusat perasaan.Yang dibangun itu adalah RASA beragama, logikanya belakangan. Beda nggak orang suka masak dengan bisa masak ? Jadi stel Kendo.
9.Kukuhkan sholatnya, bagi anak laki laki biasakan sholat berjamaah lima waktu kemesjid. Kalau ayah tidak ada ibunya harus berkorban menemaninya

Contohkan beramal sholih. Tanamkan pada anak bahwa perbuatan baik sekecil apapun pasti akan dibalas Allah (31:16)
10. Didiklah mereka untuk tidak sombong dan angkuh dan berbangga bangga diri. Berjalan harus biasa dan bila bicara merendahkan suara…(31:18-19)  Masha Allah alangkah indahnya kepribadian anak kita .
11. Jadi bukankah semua yang diuraikan diatas lebih penting dari hanya sukses secara akademis semata tapi yang lain terabaikan dan gak kepegang?. Jadi apa anak kita nantinya?
12.  Siapkan anak memasuki usia pubertasnya dan hidup di era digital. Gagal dalam hal ini dan semua yang diuraikan diatas, kawatir kita tak bisa menikmati hari tua kita karena anak bukan hanya menjadi permata hati tapi menjadi musuh (64 :14). Jangan kecintaan kita yang tak pakai logika membuat anak kita jadi sumber bencana.
13. Terakhir jangan lupa bahwa semua dilakukan bertahap dan langkah demi langkah, jangan tergesa gesa.
14. Jadi santai, nikmati anakmu dan sewajarnya saja. Jangan mengurus anak menguras jiwa dan emosi apalagi sampai menunda shalat dan mementingkan mereka dari segalanya, sehingga lalai mengingat  Allah (63:9)

Sejauh kita mematuhi perintah Allah,tak ada yang perlu dikawatirkan.Yang penting kita ingat:Jauh dari menjalani perintah Allah, hidup akan sangat terasa sempit dan susah, bahkan bisa terasa dalam kegelapan yang pekat dan naudzubillah dikumpulkan dihari kiamat dalam keadaan BUTA! (20:124).
Dan yang paling jangan dilupakan : Hakikatnya kita ini SENDIRI!
Bekasi, 7 Mei 2017

Elly Risman 

#Parentingeradigital

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s